Jumat, 24 May 2013
Beternak Sapi, Jadikanlah Sebagai Gerakan di Sumbar PDF Cetak Surel
Jumat, 29 Juni 2012 02:34

Gagasan untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai sentra sapi Indonesia Bagian Barat bukan kali ini saja. Tapi lima atau enam tahun yang silam hal itu sudah mengapung juga. Tetapi kemudian berbagai peristiwa seperti bencana alam gempa dan tsunami membuat berbagai program penyiapan Sumatera Barat sebagai sentra produksi sapi baik sapi perah maupun sapi pedaging menjadi terkendala.

Kalau kini muncul kembali wacana menjadikan Sumatera Barat sebagai sentra sapi nasional, itu adalah bagian dari gagasan sebelumnya yang sudah lama mengendap di Kementerian Pertanian khususnya di Direktorat Jenderal Peteranakan.

Bagi kita tidak penting benar apakah itu gagasan lama atau baru. Sama tidak pentingnya itu di saman Gubernur yang lama atau gubernur yang sekarang. Yang terpenting adalah bagaimana mewujudkan gagasan yang sangat strategis itu.

Apabila daerah ini menjadi sentra sapi, maka kiblat peternakan bisa tidak satu atau dua kutub saja. Selama ini kalau bicara sapi, senantiasa ingatan sampai ke Bali atau Lampung. Padahal daerah ini (Sumatera Barat) memiliki peluang yang tidak kalah hebat dengan kedua provinsi itu. Ada lahan yang luas dengan iklim yang mendukung, maka tinggal kesungguh-sungguhan semua pihak untuk menjadikan sub sektor peternakan sebagai salah satu soko guru perekonomian daerah ini.

Menilik kepada apa yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan ketika membuka acara kontes ternak di Padang belum lama ini, bahwa Sumatera Barat dipertimbangkan menjadi sentra produksi susu sapi untuk Indonesia wilayah barat.

Banyak alasan kenapa Sumatera Barat sangat berpotensi untuk menjadi sentra sapi nasional atau Indonesia Bagian Barat itu. Antara lain yang dimiliki Sumatera Barat adalah alamnya yang memungkinkan untuk peternakan sapi. Baik sapi untuk penggemukkan maupun sapi untuk diperah susunya.

Selama ini, Sumatera Barat juga sudah tidak asing dengan program penggemukan sapi. Pernah ada proyek besar yang dibiayai oleh Pemerintah Jerman (d/h Jerman Barat) di Air Runding Pasaman Barat. Lalu juga ada pusat pembibitan sapi di  Padang Mangateh Kabupaten Limapuluhkota. Sebuah pasar ternak besar yang sangat terkenal juga ada di Muara Panas Kabupaten Solok. Pada beberapa Kabupaten juga terdapat pasar ternak yang dibuka sekali sepekan.

Kemudian jika melihat kepada potensi pasar yang tersedia, sungguh sangat terbuka lebar. Jangankan untuk diekspor, kebutuhan daging nasional saja belum terpenuhi oleh produksi daging nasional.

Konsumsi susu nasional misalnya, belum berbanding lurus dengan sentra produksi dalam negeri. Kini sentra susu murni di Indonesia sekitar 85 persen terdapat di Pulau Jawa, tapi tidak pula semua kabupaten yang mengembangkannya. Misalnya di Jawa Barat, seperti di Lembang dan Pengalengan, dan di Jawa Tengah seperti Banyumas, serta ada beberapa daerah di Jatim. Untuk wilayah di luar pulau Jawa, masih terbatas dan tidak bisa andalkan tingkat produksi susu murninya, artinya pengembangan sapi perah ada tetapi belum fokus.

Oleh karena itu, untuk menjaga hak-hak anak usia sekolah untuk bisa minum susu, sebaiknya sentra sapi perah lebih menyebar di luar Pulau Jawa. Sumbar sudah mulai mengarah pada pengemba­ngan produksi susu murni untuk menjadi minuman, makanya pantas untuk dipertimbangkan menjadi sentra produksi.

Hal lain adalah terhamparnya lahan yang luas untuk peternakan. Daya tampung lahan Sumbar masih mampu untuk sekitar 3,5 ternak (sapi, kerbau dan kambing) tetapi kondisi lingkungan menjadi pertimbangan, karena sapi perah sensitif dibandingkan dengan sapi potong, artinya dalam pemeliharaannya lebih manja dan mahal.

Kalau ingin produksi susu berkualitas bagus, tentu sapi perah harus sehat. Sebaliknya, jika sapinya kurang sehat dan tak sesuai pola pemeliharaan atau lingkungannya tentu berdampak terhadap susu yang dihasilkan. Disamping itu saat ini di Sumatera Barat pun ada program Satu Sapi Satu Petani. Itu termasuk menjadi pendukung dan pendorong terwujudnya Sumatera Barat menjadi sentra sapi nasional.

Masalahnya sekarang kapan ini akan menjadi kenyataan dan apa saja yang mesti disiapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat?

Semua ini sangat tergantung kesiapan dari pelaksana fungsi peternakan di Sumbar. Antara lain polulasi sapi dapat ditingkatkan lagi dan ketersediaan pakan hijau.  Jika saat ini pemerintah pun melalui APBN 2012 sudah mengucurkan  dana Rp4,5 miliar untuk pengadaan sapi perah dan APBD Sumbar menyediakan dukungan dana Rp750 juta untuk pengadaan pejantan unggul (bull) sebanyak 5 ekor dari Australia, maka diperlukan satu gerakan yang benar-benar bisa menjawab sebuah sentra sapi. Jadi jangan hanya program, tetapi beternak sudah harus dikembangkan menjadi sebuah gerakan di Sumatera Barat.***

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy