Senin, 20 May 2013
Jetrada, Merawat Keberagaman dari Bangku Sekolah PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Sabtu, 30 Juni 2012 04:02

Jejak tradisi daerah (Jetrada) yang digelar tahun ini oleh 2012 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang melibatkan peserta dari siswa SMA sederajat dan guru yang jumlah mencapai 120 orang yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.

Tujuan program ini sebagai pendidikan dan pembentukan jati diri bangsa melalui kebe­ragaman budaya yang dilaksanakan di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, 25-28 Juni 2012. Selama kegiatan, peserta mengunjungi beberapa tempat yaitu Desa Gunung Selan, Rama Agung, Kemumu, Taba Tembilang.

“Kegiatan ini untuk memberikan pengalaman kepada peserta berinteraksi dengan kebudayaan sebuah suku bangsa dengan tinggal dan terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat dengan tujuan meningkatnya pengetahuan peserta tentang keragaman budaya di Indonesia.

Sehingga muncul kesadaran peserta untuk saling menghargai perbedaan budaya antarsuku bang­sa, terbangunnya komitmen bersama untuk melestarikan kebudayaan daerah sebagai bagian dari kebu­dayaan nasional,” kata  Zusneli Zubir, Ketua Panitia kepada Ha­luan, Rabu (27/6) di Balai Per­temuan Ratu Samban.

Kegiatan yang digelar BPSNT Padang kerja sama dengan Pe­merintah Kabupaten Bengkulu Utara itu dibuka Imron Rosyadi, Bupati Bengkulu Utara, di Aula Pertemuan Ratu Samban.

Hadir pada saat itu, Gendro Nurhadi, Direktur Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Nurmatias, dan Kepala BPSNT Padang. Dalam sambutannya Gendro Nurhadi mengatakan, perbedaan budaya yang ada bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk diper­sandingkan.

“Indonesia dikenal sebagai negara dengan kebudayaan yang beragam. Meskipun begitu, kita harus men­junjung tinggi toleransi, persatuan, serta kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan berne­gara. Bhinneka Tunggal Ika,” ulasnya.

Sementara itu, Bupati me­maparkan bagaimana gambaran wilayah dan keberagaman budaya dan agama yang ada di Bengkulu Utara kepada para peserta.

“Di sini berkembang tradisi seperti tari Kejai. Sementara itu agama terdiri dari Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Meskipun begitu, kerukunan ber­a­gama tetap terjaga. Dan untuk wisata, Kabupaten Bengkulu Utara memiliki banyak tempat wisata alam dan budaya, di antaranya Tapak Balai di Palik, Batu Layang, Pantai Kota Agung, Pantai Urai, Pantai Putri Hijau, Makam Pang­lima Ratu Samban, Sawah Kemu­mu, dan Palak Siring yang merupa­kan salah satu habitat bunga Rafflesia. Objek wisata lainnya yang tak kalah menarik adalah Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebelat di Putri Hijau,” ucapnya.

“Lalu peserta mendapatkan pembekalan oleh Badan Musya­warah Adat dan Direktur Pem­binaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi tentang Benda Cagar Budaya dan Keragaman Budaya Sebagai Waha­na Pendidikan dan Pembentukan Jati Diri Bangsa,” tutur Ketua Panitia.

Selain itu, panitia memberikan semacam pengetahuan untuk per­sia­pan observasi lapangan. Peserta dibagi dalam tujuh kelom­pok, antara lain Kelompok Kehidupan Bera­gama, Keberagaman Budaya, Ku­liner dan Kerajinan, Objek Wisata, Kedurai Agung, Tari Kejai, dan Benda Cagar Budaya.

“Nanti pemutaran filmnya seputar budaya yang berkembang di Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan, yang mana merupakan wilayah kerja BPSNT Padang,” ulas Zusneli Zubir.  (Laporan Allia Sepvonni)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy