| Jetrada, Merawat Keberagaman dari Bangku Sekolah |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Sabtu, 30 Juni 2012 04:02 |
|
“Kegiatan ini untuk memberikan pengalaman kepada peserta berinteraksi dengan kebudayaan sebuah suku bangsa dengan tinggal dan terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat dengan tujuan meningkatnya pengetahuan peserta tentang keragaman budaya di Indonesia. Sehingga muncul kesadaran peserta untuk saling menghargai perbedaan budaya antarsuku bangsa, terbangunnya komitmen bersama untuk melestarikan kebudayaan daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional,” kata Zusneli Zubir, Ketua Panitia kepada Haluan, Rabu (27/6) di Balai Pertemuan Ratu Samban. Kegiatan yang digelar BPSNT Padang kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara itu dibuka Imron Rosyadi, Bupati Bengkulu Utara, di Aula Pertemuan Ratu Samban. Hadir pada saat itu, Gendro Nurhadi, Direktur Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Nurmatias, dan Kepala BPSNT Padang. Dalam sambutannya Gendro Nurhadi mengatakan, perbedaan budaya yang ada bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk dipersandingkan. “Indonesia dikenal sebagai negara dengan kebudayaan yang beragam. Meskipun begitu, kita harus menjunjung tinggi toleransi, persatuan, serta kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bhinneka Tunggal Ika,” ulasnya. Sementara itu, Bupati memaparkan bagaimana gambaran wilayah dan keberagaman budaya dan agama yang ada di Bengkulu Utara kepada para peserta. “Di sini berkembang tradisi seperti tari Kejai. Sementara itu agama terdiri dari Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Meskipun begitu, kerukunan beragama tetap terjaga. Dan untuk wisata, Kabupaten Bengkulu Utara memiliki banyak tempat wisata alam dan budaya, di antaranya Tapak Balai di Palik, Batu Layang, Pantai Kota Agung, Pantai Urai, Pantai Putri Hijau, Makam Panglima Ratu Samban, Sawah Kemumu, dan Palak Siring yang merupakan salah satu habitat bunga Rafflesia. Objek wisata lainnya yang tak kalah menarik adalah Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebelat di Putri Hijau,” ucapnya. “Lalu peserta mendapatkan pembekalan oleh Badan Musyawarah Adat dan Direktur Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi tentang Benda Cagar Budaya dan Keragaman Budaya Sebagai Wahana Pendidikan dan Pembentukan Jati Diri Bangsa,” tutur Ketua Panitia. Selain itu, panitia memberikan semacam pengetahuan untuk persiapan observasi lapangan. Peserta dibagi dalam tujuh kelompok, antara lain Kelompok Kehidupan Beragama, Keberagaman Budaya, Kuliner dan Kerajinan, Objek Wisata, Kedurai Agung, Tari Kejai, dan Benda Cagar Budaya. “Nanti pemutaran filmnya seputar budaya yang berkembang di Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan, yang mana merupakan wilayah kerja BPSNT Padang,” ulas Zusneli Zubir. (Laporan Allia Sepvonni)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 188 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


Jejak tradisi daerah (Jetrada) yang digelar tahun ini oleh 2012 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang melibatkan peserta dari siswa SMA sederajat dan guru yang jumlah mencapai 120 orang yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.
