Jumat, 24 May 2013

Warning: substr() expects parameter 3 to be long, string given in /home/harianha/public_html/components/com_jomcomment/views.jomcomment.php on line 264
Membumikan Pendidikan Kejujuran PDF Cetak Surel
Senin, 02 Juli 2012 02:24

Persoalan serius dan men­dasar yang dihadapi dunia pendidikan pada saat ini adalah masalah degradasi nilai-nilai kejujuran.

Ini bukan saja masalah dunia pendidi­kan an sich tapi juga masalah yang melilit bangsa secara keseluruhan. Langkanya keju­ju­ran ber­implikasi luas pada berbagai penyakit moral yang  berujung kepada terpuruknya  kita dalam berbagai persoa­lan yang tak berujung.

Kita bisa membuat daftar panjang tentang indikator ketidak jujuran di berbagai bidang dan sisi yang sudah menjadi rahasia umum tapi yang lebih memprihatinkan di dunia pendidikan hal itu juga menjadi kebiasaan umum. Mulai dari rekrutmen pendidik, lalu kenaikan pang­kat, sertifi­kasi, ujian nasional dan berba­gai perilaku sehari-hari praktisi pendidikan yang semuanya diwarnai ketidak jujuran.

Orang sering bertanya mana buktinya? Kalau kita hanya berteori dengan landa­san hukum formal yang selalu menuntut bukti hitam diatas putih tentu ini bisa dijadikan apologi tapi mari selamilah dunia pendidikan dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan seterusnya maka kita akan berkata alangkah sulitnya menemukan kejujuran. Sis­tem­kah yang salah? Atau manusianya atau budayanya atau gabungan kesemuanya?

Ujian nasional misalnya, yang pemerintah tetap bersi­keras untuk terus melaksana­kannya padahal berbagai suara nyaring telah diteriak­kan oleh praktisi pendidikan, bahwa ujian nasional itu hanyalah pameran kolektif untuk membangun mental ketidakjujuran. Berbagai cara dan usaha dilakukan oleh setiap kepala sekolah untuk meluluskan anak didiknya, kalau tahun lalu dengan membocorkan kunci jawaban, kerjasama dengan setiap pengawas maka sekarang dengan mengangkat nilai anak didik sesempurna mungkin karena kelulusan ditentukan oleh 60% hasil ujian nasional dan 40% hasil ujian sekolah.

Para guru tutup mata de­ngan kemampuan anak didik, entah bodoh, sedang atau pintar tapi yang jelas diberi nilai sesempurna mung­kin, sembilan dan sepuluh. Ini untuk mengantisipasi kalau ujian nasional dapat dua atau tiga.

Para guru pun sulit untuk memelihara kejujuran karena tekanan eksternal dan inter­nal. Ada satu atau dua yang me­nyuarakan kebenaran maka dianggap berbeda dari main­stream dan ditertawakan bahkan dikucilkan. Jadi, dunia memang sudah terbalik, yang jujur diter­tawakan dan yang tidak jujur menjadi anutan kolektif.

Jadi bisakah kita ber­harap kepada para pendidik di negeri ini untuk menan­capkan bendera kejujuran dan menularkannya kepada anak didik sementara mereka sen­diri berlumurkan ketidak jujuran?

Padahal sejatinya kepada dunia pendidikan inilah kita harusnya mempunyai harapan terakhir untuk mendidik generasi masa depan yang terbebas dari virus kemuna­fikan dan kepalsuan kolektif. Karena bidang-bidang yang lain tidak kalah seramnya memelihara budaya ketidak jujuran. Inilah juga menjadi alasan utama mengapa pe­nyim­pangan, korupsi, dan manipulasi begitu sulit dibe­ran­tas di negeri ini. Paradigma sesat yang dipelihara adalah ketidak jujuran adalah hal yang biasa karena itu sudah menjadi budaya bersama.

Ingatan kolektif setiap orang di negeri ini telah dirasuki oleh paradigma sesat tersebut dan celakanya karena semua orang mengerjakannya maka dianggap sebagai suatu kebenaran. Ini mengingatkan kita pada teori pembiasaan dalam ilmu jiwa bahwa se­suatu yang sudah biasa dila­kukan akhirnya akan menjadi suatu kebenaran.

Orang biasa memberikan uang terima kasih, bahasa halus untuk menyogok dalam urusan yang terkait dengan sertifikasi, kenaikan pangkat, keluarnya NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan), inspeksi penga­was dan sebangsanya, maka ketika ada yang mengingatkan budaya itu tidak baik, yang mengingatkan menjadi bahan tertawaan. Kejujuran akhirnya menjadi “terdakwa” yang pantas dikasihani, hari gini masih ada yang jujur? Ka­sihan deh lu!

Mulai dari Mana?

Menanamkan sifat kejuju­ran kepada peserta didik saat sekarang mungkin seperti menggantang angin. Tapi kalau tidak ada yang menggelorakan dan memulainya dari seka­rang maka sampai kapan negeri ini akan berkubang di lembah kedustaan dan ketidak jujuran kolektif? Mungkin persoalan-persoalan yang tidak kunjung selesai serta berbagai masalah bangsa yang tak ada solusinya berawal dari rendahnya kemauan untuk membumikan kejujuran.

Sumber daya manusia masa depan ditentukan oleh proses pendidikan yang mere­ka jalani saat ini. Proses pendidikan yang membangkit­kan semangat dan motivasi untuk membumikan sifat-sifat utama harusnya segera diim­plementasikan dari sekarang.

Harus dimulai membangun strategi pendidikan yang berbasiskan kepada moral di mana sifat-sifat utama seperti patriotisme, kejujuran, keren­dah hatian, malu kalau ber­buat salah, terpercaya, gigih dan ulet serta yang lainnya menjadi landasan utama dalam pendidikan kita. Atau meminjam istilah Bung Karno membangun pendidikan ka­rakter.

Membangun pendidikan karakter adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya yang sehat jasmani, ruhani, intelektual, dan moralnya. Membangun kecerdasan holis­tik yang bertumpukan kepada moral dan budi pekerti luhur. Wacana yang berkembang selama ini tentang perlunya pendidikan budi pekerti harus­nya segera mengetuk pintu hati para pengambil kebija­kan di bidang pendidikan terutama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar segera memulai pendidikan budi pekerti atau pendidikan ka­rakter di semua tingkatan pendidikan.

Negeri ini tidak kekura­ngan orang yang ahli dalam merancang kurikulum dan silabus pendidikan karakter. Sinergi antara pendidik yang kompeten dengan peserta didik lalu orangtua dan masyarakat membuncahkan optimisme akan munculnya paradigma baru bahwa sifat-sifat utama yang dipraktekkan secara konsisten akan membuat negeri ini maju dan mempu­nyai karakter yang kuat, mampu bersaing secara fair dengan negara lain, berpres­tasi, dan makmur sejahtera.

Masyarakat dan keluarga harus memulai gerakan mem­bumikan kejujuran di mana saja dan kapan saja, untuk mendukung pendidikan yang telah didapatkan oleh anak didik di bangku sekolah mere­ka. Dengan demikian paradig­ma yang harus secara konsis­ten dibangun adalah kejujuran itu mulia dan membawa mujur.

 

IHSAN M RUSLI
(Praktisi Pendidikan dan Wasekjen PB Persatuan Tarbiyah Islamiyah)

Comments (1)Add Comment
0
JUJUR DI DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA ? Itu hanya Mimpi di Siang bolong.....................................!
written by string, Juli 02, 2012
smilies/cry.gifKejujuran memang sudah hancur di dunia pendidikan di negara ini. Semuanya palsu. Tiap saat setelah hasil dari UN diumumkan, pihak-pihak yang tidak paham dengan masalah pendidikan di sekolah ikut-ikutan latah menanggapi hasil UN yang diperoleh oleh banyak sekolah; mereka memuji-muji sekolah yang anak-anaknya lulus 100%, memperoleh nilai UN tinggi dan menghujat lembaga pendidikan yang memiliki 1, 2 atau beberapa orang siswa yang tidak lulus. Mereka mempertanyakan bagaimana cara belajar anak-anak di sekolah tersebut dan guru-gurunya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di sekolah, namun berlagak seperti orang yang ahli dalam masalah pendidikan disekolah.
smilies/cool.gif Mereka tidak pernah berpikir, kenapa "prestasi untuk hasil UN" setiap tahun selalu jatuh pada sekolah "yang tidak dikenal" atau sekolah-sekolah yang tidak pernah diperhitungkan kualitas input-nya dalam kancah pendidikan di negara ini; mereka tidak pernah berpikir, kenapa prestasi itu tidak diperoleh oleh mereka yang tamat dari sekolah-sekolah yang dikenal sebagai sekolah unggul seperti SMA Nusantara di Magelang, MAN Insan Cendikia dan sebahgainya; padahal semua tahu input kedua jenis sekolah itu tidak ada lawannya di negara ini; kenapa tidak mereka yang gemilang dalam perolehan hasil UN ? Jika mereka ada memakai pikiran mereka dalam menyikapi apa yang terjadi, mereka tidak akan pernah merendahkan sekolah yang mempunyai beberapa siswa yang tidak lulus tersebut. Mereka semuanya asal ngomong...
smilies/angry.gif Mereka tidak tahu, kalau banyak sekolah yang mencoba untuk mendongkrak nilai Ujian Sekolahnya (dalam hal ini termasuk mendongkrak nilai rata-rata rapor siswanya dan nilai hasil ujian akhir di sekolahnya) agar anak didik mereka bisa aman dengan segala kemungkinan nilai murni yang mereka peroleh pada UN; mereka tidak tahu kalau banyak kepala sekolah dan pejabat-pejabat diatasnya yang berusaha menekan guru-guru agar juga mendongkrak KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)mata pelajaran yang mereka pegang untuk mensukseskan UN ini -- dan untuk yang satu ini guru-guru terpaksa menurut, walaupun semua itu bertentangan dengan hati nurani mereka -- walau mereka tahu sebenarnya kemampuan rata-rata siswa mereka tidak akan bisa mencapai KKM yang ditekankan tersebut; namun dengan alasan untuk menyelamatkan nama baik sekolah, mereka dengan berat hati mengikuti saja semua tuntutan tersebut walaupun sanmgat bertentangan dengan hati nurani mereka. Sampai nanti kepada proses rekayasa nilai seperti yang tersebut diatas....
smilies/angry.gif Silahkan anda bayangkan semua ini, jika anak didik yang dihasilkan oleh kebanyakan sekolah pada masa sekarang di negara ini seperti itu (kalau tidak terlalu ekstreem kalau saya katakan hampir sedmua sekolah), jelas semua itu sudah menghancurkan semua idealisme pendidikan yang telah dibangun oleh sesepuh pendidikan di negara in i di masa lalu. Disatu sisi, guru dipaksa untuk menjadi orang curang, dan disisi lain penghargaan anak didik ikut-ikutan hancur pada sosol guru; mereka tahu mereka pasti akan diselamatkan oleh pihak sekolahnya dengan berbagai cara.
smilies/cool.gifSekali lagi saya sampaikan,penghapusan UN itu adalah harga mati. Untuk mengembalikan citra guru ke tempatnya. Keberadaan UN telah merobek sendi idealisme dunia pendidikan di negara ini. Semua itu karena mereka yang mengambil kebijakan UN ini yang mungkin dulunya pernah atau sering gagal dalam karir pendidikan mereka. Sehingga mencoba mencari cara-cara untuk membantu orang-orang seperti mereka. Dan mereka mengambil dalih peningkatan kualitas pendidikan di negara ini, namun ternyata semua itu hanya semu.
smilies/cool.gifUN ini sarat dengan kepentingan. Saya paham itu. Banyak pihak yang akan kehilangan mata pencarian atau inmcome ekstra jika UN ditiadakan, sehingga mereka berusaha mempertahankan keberadaan UN dengan segala cara. Ingatlah kalian (yang telah membuat kebijakan UN itu dan yang berusaha untuk mempertahankannya)ikut menanggung dosa dari kehancuran pendidikan ini.
Jika kalian masih ingin UN diadakan, rubah total format yang ada sekarang; beri kebebasan penuh kepada semua lembaga pendidikan untuk menentukan sendiri standar kelulusan untuk tamatan mereka. Kemudian, adakanlah UN pada level sekolah kemana dia akan melanjutkan studi (Seperti sistim SPMB untuk perguruan tinggi). Artinya, UN untuk tamatan SD diselenggarakan oleh SMP, dan UN untuk SMP diselenggarakan oleh SMA. Hasilnya nanti akan lebih fair. Dan hanya mereka yang akan menyambung-lah yang harus mengikuti UN macam ini, yang tidak tentu tidak perlu.

Write comment

busy