Warning: substr() expects parameter 3 to be long, string given in /home/harianha/public_html/components/com_jomcomment/views.jomcomment.php on line 264
| Membumikan Pendidikan Kejujuran |
|
|
|
| Senin, 02 Juli 2012 02:24 | |||
|
Persoalan serius dan mendasar yang dihadapi dunia pendidikan pada saat ini adalah masalah degradasi nilai-nilai kejujuran. Ini bukan saja masalah dunia pendidikan an sich tapi juga masalah yang melilit bangsa secara keseluruhan. Langkanya kejujuran berimplikasi luas pada berbagai penyakit moral yang berujung kepada terpuruknya kita dalam berbagai persoalan yang tak berujung.Kita bisa membuat daftar panjang tentang indikator ketidak jujuran di berbagai bidang dan sisi yang sudah menjadi rahasia umum tapi yang lebih memprihatinkan di dunia pendidikan hal itu juga menjadi kebiasaan umum. Mulai dari rekrutmen pendidik, lalu kenaikan pangkat, sertifikasi, ujian nasional dan berbagai perilaku sehari-hari praktisi pendidikan yang semuanya diwarnai ketidak jujuran. Orang sering bertanya mana buktinya? Kalau kita hanya berteori dengan landasan hukum formal yang selalu menuntut bukti hitam diatas putih tentu ini bisa dijadikan apologi tapi mari selamilah dunia pendidikan dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan seterusnya maka kita akan berkata alangkah sulitnya menemukan kejujuran. Sistemkah yang salah? Atau manusianya atau budayanya atau gabungan kesemuanya? Ujian nasional misalnya, yang pemerintah tetap bersikeras untuk terus melaksanakannya padahal berbagai suara nyaring telah diteriakkan oleh praktisi pendidikan, bahwa ujian nasional itu hanyalah pameran kolektif untuk membangun mental ketidakjujuran. Berbagai cara dan usaha dilakukan oleh setiap kepala sekolah untuk meluluskan anak didiknya, kalau tahun lalu dengan membocorkan kunci jawaban, kerjasama dengan setiap pengawas maka sekarang dengan mengangkat nilai anak didik sesempurna mungkin karena kelulusan ditentukan oleh 60% hasil ujian nasional dan 40% hasil ujian sekolah. Para guru tutup mata dengan kemampuan anak didik, entah bodoh, sedang atau pintar tapi yang jelas diberi nilai sesempurna mungkin, sembilan dan sepuluh. Ini untuk mengantisipasi kalau ujian nasional dapat dua atau tiga. Para guru pun sulit untuk memelihara kejujuran karena tekanan eksternal dan internal. Ada satu atau dua yang menyuarakan kebenaran maka dianggap berbeda dari mainstream dan ditertawakan bahkan dikucilkan. Jadi, dunia memang sudah terbalik, yang jujur ditertawakan dan yang tidak jujur menjadi anutan kolektif. Jadi bisakah kita berharap kepada para pendidik di negeri ini untuk menancapkan bendera kejujuran dan menularkannya kepada anak didik sementara mereka sendiri berlumurkan ketidak jujuran? Padahal sejatinya kepada dunia pendidikan inilah kita harusnya mempunyai harapan terakhir untuk mendidik generasi masa depan yang terbebas dari virus kemunafikan dan kepalsuan kolektif. Karena bidang-bidang yang lain tidak kalah seramnya memelihara budaya ketidak jujuran. Inilah juga menjadi alasan utama mengapa penyimpangan, korupsi, dan manipulasi begitu sulit diberantas di negeri ini. Paradigma sesat yang dipelihara adalah ketidak jujuran adalah hal yang biasa karena itu sudah menjadi budaya bersama. Ingatan kolektif setiap orang di negeri ini telah dirasuki oleh paradigma sesat tersebut dan celakanya karena semua orang mengerjakannya maka dianggap sebagai suatu kebenaran. Ini mengingatkan kita pada teori pembiasaan dalam ilmu jiwa bahwa sesuatu yang sudah biasa dilakukan akhirnya akan menjadi suatu kebenaran. Orang biasa memberikan uang terima kasih, bahasa halus untuk menyogok dalam urusan yang terkait dengan sertifikasi, kenaikan pangkat, keluarnya NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan), inspeksi pengawas dan sebangsanya, maka ketika ada yang mengingatkan budaya itu tidak baik, yang mengingatkan menjadi bahan tertawaan. Kejujuran akhirnya menjadi “terdakwa” yang pantas dikasihani, hari gini masih ada yang jujur? Kasihan deh lu! Mulai dari Mana? Menanamkan sifat kejujuran kepada peserta didik saat sekarang mungkin seperti menggantang angin. Tapi kalau tidak ada yang menggelorakan dan memulainya dari sekarang maka sampai kapan negeri ini akan berkubang di lembah kedustaan dan ketidak jujuran kolektif? Mungkin persoalan-persoalan yang tidak kunjung selesai serta berbagai masalah bangsa yang tak ada solusinya berawal dari rendahnya kemauan untuk membumikan kejujuran. Sumber daya manusia masa depan ditentukan oleh proses pendidikan yang mereka jalani saat ini. Proses pendidikan yang membangkitkan semangat dan motivasi untuk membumikan sifat-sifat utama harusnya segera diimplementasikan dari sekarang. Harus dimulai membangun strategi pendidikan yang berbasiskan kepada moral di mana sifat-sifat utama seperti patriotisme, kejujuran, kerendah hatian, malu kalau berbuat salah, terpercaya, gigih dan ulet serta yang lainnya menjadi landasan utama dalam pendidikan kita. Atau meminjam istilah Bung Karno membangun pendidikan karakter. Membangun pendidikan karakter adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya yang sehat jasmani, ruhani, intelektual, dan moralnya. Membangun kecerdasan holistik yang bertumpukan kepada moral dan budi pekerti luhur. Wacana yang berkembang selama ini tentang perlunya pendidikan budi pekerti harusnya segera mengetuk pintu hati para pengambil kebijakan di bidang pendidikan terutama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar segera memulai pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter di semua tingkatan pendidikan. Negeri ini tidak kekurangan orang yang ahli dalam merancang kurikulum dan silabus pendidikan karakter. Sinergi antara pendidik yang kompeten dengan peserta didik lalu orangtua dan masyarakat membuncahkan optimisme akan munculnya paradigma baru bahwa sifat-sifat utama yang dipraktekkan secara konsisten akan membuat negeri ini maju dan mempunyai karakter yang kuat, mampu bersaing secara fair dengan negara lain, berprestasi, dan makmur sejahtera. Masyarakat dan keluarga harus memulai gerakan membumikan kejujuran di mana saja dan kapan saja, untuk mendukung pendidikan yang telah didapatkan oleh anak didik di bangku sekolah mereka. Dengan demikian paradigma yang harus secara konsisten dibangun adalah kejujuran itu mulia dan membawa mujur.
IHSAN M RUSLI Comments (1)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI



Jika kalian masih ingin UN diadakan, rubah total format yang ada sekarang; beri kebebasan penuh kepada semua lembaga pendidikan untuk menentukan sendiri standar kelulusan untuk tamatan mereka. Kemudian, adakanlah UN pada level sekolah kemana dia akan melanjutkan studi (Seperti sistim SPMB untuk perguruan tinggi). Artinya, UN untuk tamatan SD diselenggarakan oleh SMP, dan UN untuk SMP diselenggarakan oleh SMA. Hasilnya nanti akan lebih fair. Dan hanya mereka yang akan menyambung-lah yang harus mengikuti UN macam ini, yang tidak tentu tidak perlu.