| Kesiapan Mental Pejabat Publik |
|
|
|
| Kamis, 05 Juli 2012 03:23 | |||
|
Era reformasi dan demokratisasi telah membuka banyak peluang bagi setiap anak bangsa untuk menjadi pemimpin dan pejabat di berbagai sektor publik. Tapi sayangnya peluang yang berhasil mereka manfaatkan itu tidak diikuti dengan kesiapan mental untuk menjadi pejabat publik yang bersungguh-sungguh melayani publik. Kebanyakan mereka akhirnya tersandung dengan berbagai kasus mulai dari mengkhianati kepercayaan rakyat seperti merampok uang rakyat, menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan kelompok, sampai dengan terlibat skandal moral dan berbagai perbuatan tercela lainnya. Kita bisa memberikan bukti berapa banyak bupati, walikota, gubernur, anggota DPR/D dan berbagai pejabat publik lainnya yang bermasalah dan akhirnya berujung di balik terali besi karena ulah perbuatan mereka sendiri yang tidak mengerti secara hakiki untuk apa gunanya jabatan.
Belum lagi perbuatan-perbuatan tercela yang sering membuat hati nurani rakyat menjerit seperti perlakuan terhadap rakyat kecil yang sewenang-wenang, main gusur, main gempur dan akhirnya semua babak belur. Padahal sebelum menjadi pejabat mereka mengemis-ngemis minta suara rakyat kecil, sering mendatangi mereka dan berjanji dengan mulut manis mereka akan memperjuangkan nasib rakyat kecil seperti pemulung, pedagang kaki lima, pengemis dan rakyat miskin lainnya tapi setelah terpilih dengan sangat arogan mereka menindas rakyat kecil itu. Dari waktu ke waktu kita menyaksikan di berbagai kota dan tempat hampir di seluruh pelosok negeri, pedagang kecil yang histeris menangis karena mata pencarian mereka diobrak-abrik oleh petugas tramtib. Ironisnya, menjadi pejabat bukannya berusaha berpikir kreatif dan inovatif untuk memecahkan persoalan dengan cara yang santun, cerdas dan win-win solution tapi lebih mengedepankan otot dan kekuasaan, sesuatu yang sangat kita cela sebagai warisan Orde Baru tapi tetap dilakukan dengan gagah di zaman Orde Reformasi ini. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang kita cela di zaman Orde Baru itu? Atau malah pejabat publik itu berkompensasi dengan otot dan kekerasan karena tidak mampu memberikan kesejahteraan minimal seperti yang dilakukan oleh penguasa zaman Orde Baru; harga-harga stabil, kebutuhan terpenuhi, tidak ada antri sembako, barang kebutuhan mudah didapat, dan suasana aman. Memberikan kesejahteraan minimal saja tidak mampu kepada rakyat lalu diikuti lagi dengan berbagai perilaku yang membuat mual rakyat. Lalu apa yang bisa dibanggakan dari pejabat seperti ini? Mental Sejatinya ketika seseorang mempunyai obsesi untuk menjadi pejabat publik maka hal pertama yang harus dipersiapkannya adalah ketangguhan mental, karena dia akan berhadapan dengan segala macam jenis tekanan dan harapan. Di samping itu sorotan terhadapnya akan datang dari segala arah dan penjuru karena dia berada di tempat yang tinggi, semakin tinggi pohon maka akan semakin kencang tiupan angin. Sebagai pelayan publik dia harus mempunyai kelebihan, bukan hanya sekadar populer, karena kelebihannya itulah nanti yang bisa dijadikan senjata untuk menunjukkan bukti bahwa dia layak dipilih memimpin. Sayangnya, banyak pejabat publik yang secara mental sebenarnya belum siap menjadi pejabat. Sedikit saja dia disorot atau dikritik telah membuatnya marah dan mengeluarkan pernyataan yang justru semakin mengerdilkan dirinya dan memperkeruh suasana. Kematangan seorang pemimpin bisa dilihat ketika ada masalah, dia mampu menyelesaikannya dengan bijak tanpa membuat suasana menjadi keruh. Bukankah mumpuninya seorang pelaut dapat dinilai ketika menghadapi dahsyatnya gelombang badai dan lamunan ombak? Pada era keterbukaan sekarang sulit bagi seorang pejabat publik untuk menyumbat arus informasi atau berpura-pura tuli dalam suatu masalah apalagi kalau masalah itu menyangkut hajat orang banyak. Karena apa? Karena pers sebagai kekuatan ke empat di samping eksekutif, legislatif dan yudikatif akan terus melakukan kontrol dan menyampaikan suara dan nurani rakyat ke ruang publik. Jadi seorang pejabat yang suka marah-marah dan menuduh berbagai pihak sebagai sumber masalah tanpa melakukan introspeksi jujur pada dirinya, kembali menunjukkan betapa parahnya pembinaan mental seorang pejabat publik. Semakin dia memusuhi pers maka akan semakin sulit bagi dia untuk berkembang karena hakikatnya pers adalah media pembelajaran yang kalau diperlakukan secara obyektif akan menjadi guru yang paling baik. Pers tidak punya kepentingan dengan pejabat publik mana pun tapi mereka punya kepentingan dengan suara dan nurani rakyat. Memusuhi pers sejatinya adalah memusuhi guru kehidupan dan memusuhi rakyat. Tidak Ada Jalan Pintas Kepemimpinan dalam level apa pun kembali memberikan pelajaran bahwa tidak ada kepemimpinan yang sukses dengan jalan pintas. Proses jatuh bangun adalah bagian terpenting dalam menata mental seseorang sehingga yang bersangkutan akan menjadi pemimpin yang berempati, stabil dan tidak arogan. Kita bisa mencontoh pengalaman presiden legendaris Amerika Serikat Abraham Lincoln, dari seorang anak petani miskin yang untuk makan saja susah tapi menata dirinya dengan keras untuk mencapai cita-citanya menjadi sarjana hukum dan anggota senat. Proses jatuh bangun, duka nestapa, kegagalan tiada henti menjadi cambuk baginya untuk kukuh konsisten dengan cita-citanya. Ketegarannya dalam mengikuti proses menjadikannya bukan hanya terpilih menjadi senator tapi juga membuka peluang baginya menuju kursi kepresidenan. Sejarah membuktikan bahwa sesuatu yang didapat dengan mudah juga akan pergi dengan mudah. Berbeda dengan Lincoln, lima kali Lincoln berusaha dengan sungguh-sungguh untuk merebut hati rakyatnya agar terpilih menjadi pemimpin, pelayan rakyat, empat kali gagal dan baru kali ke lima dia berhasil menjadi presiden Amerika Serikat. Era kepemimpinannya ditulis dengan tinta emas dalam sejarah Amerika Serikat. Seorang pemimpin yang lahir dari pembinaan mental yang dahsyat dan dia mampu menyerapnya menjadi kekayaan kalbu yang berimplikasi kepada tindakan, cara pandang, dan hubungan dengan segala lapisan yang membanggakan. Negeri ini begitu banyak menghasilkan pemimpin kerdil yang lahir dari rahim jalan pintas sehingga mereka sejatinya belum layak untuk jadi pemimpin yang akhirnya tidak mengabdi dengan tulus dan ikhlas untuk melayani rakyat. Ketika mereka berkuasa maka yang muncul adalah arogansi, ujub (bangga diri), lupa daratan, merasa diri paling benar, tidak mau menerima kritik, takut kehilangan jabatan, menganggap pers sebagai musuh, suka menyalahkan orang lain, picik, sempit dada, dan tidak mau belajar. Maka adalah tugas kita bersama mempersempit peluang kepada setiap pemimpin yang merasa dirinya besar padahal kerdil. Sudah saatnya partai-partai sebagai ujung tombak perkaderan yang akan menduduki jabatan pemimpin di ranah publik mulai memperhatikan secara serius stabilitas mental mereka yang digadang-gadang untuk itu. Menempatkan seseorang di berbagai medan heterogen dengan tantangan dan tekanan tinggi tentu adalah pembelajaran yang baik sebelum seseorang berada di level tertinggi seperti menteri misalnya. Banyak pejabat publik mengalami cultural shock karena tidak siap menghadapi kultur yang heterogen, dinamika dan tantangan yang hebat serta tuntutan atas bawah yang tinggi. Semuanya itu bisa dilalui dengan proses pengalaman dan pembelajaran.
IHSAN M. RUSLI (Wasekjen PB Persatuan Tarbiyah Islamiyah)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 281 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


