Jumat, 25 April 2014
Jalan Tol dan Pembangunan Ekonomi PDF Cetak Surel
Sabtu, 07 Juli 2012 02:38

Tahun ini, ramai terdengar kabar tentang pembangunan jalan tol di kawasan Sumatra. Sebelumnya, hanya ada satu jalan tol di kawasan ini yakni di Sumatera Utara, belawan-medan-tanjung morawa, atau lebih familiar disebut Bel­mera. Jalan tol tersebut mulai beroperasi sejak tahun 1986.

Namun, sekarang ada harapan baru untuk pembangunan terkait jalan tol trans Su­matra sejak adanya Master­plan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indo­nesia (MP3EI). Untuk jangka panjang, Sumatera akan dihubungkan dengan satu jalan tol yang melintas dari Nanggro Aceh Darussalam hingga Lampung. Seiring dengan itu, juga sudah santer terdengar pembangunan jalan tol dila­kukan di area propinsi suma­tera barat.

Jalan tol ini setidaknya akan membutuhkan investasi se­kitar Rp10 triliun, belum termasuk alokasi dana pem­bebasan lahan dan pem­bangunan kawasan ekonomi  yang akan menghabiskan anggaran  sekitar Rp1,2 tri­liun. Untuk pembebasan la­han  Rp400 miliar, dan pem­belian kawasan  perekonomian Rp800 miliar.

Investasi sebanyak itu men­capai empat kali lipat dari total APBD Sumbar 2012 yang hanya 2,6 triliun. Meng­apa ? Dengan jumlah ang­garan sebanyak itu sebe­narnya tidak memiliki man­faat ekonomi yang banyak untuk jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang dan kepentingan yang lebih luas.

Penyediaan jalan seperti ini mungkin penerapannya adalah hal baru bagi masyarakat Sumbar. Memang benar bah­wa ada sebagian pendapat mengatakan bahwa penye­diaan jalan berbayar kurang pas untuk kategori masya­rakat Sumbar yang hanya memiliki pendapatan per kapita yang 20, 17 juta per orang per tahun (2011) yang jauh dari rata-rata pen­dapatan per kapita nasio­nal sebesar Rp30,8 juta se­hingga mungkin akan mem­beratkan untuk rakyat sum­bar. Tapi, Saya yakin bahwa ini hanya­lah analisis yang dangkal dan lebih berten­densi emosional, bukan ilmiah.

Tapi, kita tunggu saja apa hasil Analisa Mengenai Dam­pak Lingkungan (AMDAL). Pandangan saya mengatakan bahwa hasil analisis amdal pembangunan jalan tol itu akan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah karena amdal dibuat terakhir, bukan di awal yang menjadi alasan dilakukannya pem­bangunan jalan tol sehingga hasil akhir dari AMDAL rasanya akan selaras dengan harapan pemerintah.

Nilai Manfaat

Barangkali ada yang bertanya apa saja nilai manfaat dari pembangunan jalan tol ter­sebut? Apakah itu sebuah kebanggaan ketika jalan tol dibangun di sebuah daerah dan mengindikasikan bahwa daer­ah itu sudah mengalami kemajuan? Sektor apa sajakah yang akan berubah? Mari kita diskusikan beberapa hal berikut ini. Setidaknya pada tulisan ini ada dua manfaat utama terkait pembangunan jalan tol di Sumbar.

Pertama, revitalisasi dan merancang ulang kawasan objek wisata. Sumbar mungkin saja selamanya tidak akan prospektif untuk dunia ind­ustri karena memang letak geografis kita tidak men­dukung untuk itu. Selain itu, fasilitas untuk sebuah ka­wasan industri pun tidak pernah dipersiapkan dengan baik. Kawasan industri pa­dang yang dimulai dibangun sekitar tahun 1996 hingga sekarang dalam perjalanannya tidak menunjukan perkem­bangan yang menggembirakan. Semua pihak yang terlibat pada pengelolaannya juga tidak diketahui eksistensinya kecuali Irman Gusman yang masuk ke ranah politik.

Kembali kepada sektor pariwisata, Untuk menarik wisatawan sebenarnya tidak perlu infrastruktur yang baik. Bila pemerintah tidak cukup dana untuk pembangunan fisik, cukup investasi pada sektor non fisik seperti budaya sadar wisata saja sudah cukup. Para turis tidak untuk menikmati jalan yang mulus atau hotel yang mewah di sumbar, karena semewah-mewahnyanya hotel bintang lima di sumbar pun masih kalah baiknya daripada fasi­litas hotel kelas melati di jerman, begitu ketika atase pendidikan Indonesia di Jer­man pernah bicara dalam suatu diskusi yang saya juga ikut hadir di dalamnya. Wisa­tawan hanya ingin melihat bagaimana wajah dunia lain selain negara mereka. Jadi, sangat lazim memang ketika paket wisata perkampungan kumuh di Jakarta pun laku di jual oleh tangan-tangan kreativ di sektor pariwisata. Saya pikir ini salah satu alasan mengapa pentingnya kesiapan non-fisik di kawasan wisata menjadi penting.

Pengalaman saya sebagai pelaku pariwiata professional di Pulau Bali beberapa tahun lalu, cukup membuat saya paham bagaimana karak­teristik objek wisata yang disukai oleh turis manca­negara. Bali tidak mena­warkan fasilitas bintang lima di setiap objek wisata mere­ka. Bali hanya menyediakan fasilitas yang “layak” untuk ditempati oleh wisatawan. Nah, standar layak itu men­jadi relatif bila kita mencari segmen wisatawan mana yang akan kita garap.

Kedua, pembangunan jalan tol akan menunjang percepatan ekonomi di kawasan yang di lalui jalan toll. Pihak swasta akan semakin mudah mela­kukan ekspansi usaha yang sesuai dengan karakteristik daerah Sumbar. Bila ternyata industri pariwisata yang akan dinilai paling menarik, maka pembangunan unit bisnis yang seperti itulah akan marak di Sumbar nantinya.

Percepatan ekonomi di Sumbar tidak bisa dilakukan dengan cara yang konvensional atau familiar di sebut dalam MP3EI sebagai slogan Busi­ness not as usual. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi, maka harus di du­kung dengan kesiapan dan kemauan dari semua pihak. Untuk urusan pendanaan, maka akan ada solusi yang tampak ketika kemauan dan kesiapan telah dilakukan dengan baik.

Kita semua pasti tau bahwa pembangunan jalan tol ini lebih dominan didanai oleh pihak swasta. Kabarnya, pemerintah daerah hanya membebaskan lahan. Ini tampak bahwa pendanaan yang minim tidak meng­halangi niat baik untuk me­ma­jukan daerah.

Oleh karena dana yang digu­nakan untuk investasi jangka panjang dan bersifat mul­tiplier effect ini begitu banyak, maka dukunglah ini sebagai kebijakan yang tepat. Jangan biarkan proyek ter­besar di Sumbar ini hanya lewat begitu saja tanpa menda­patkan dampak eko­nomi yang nyata untuk rakyat sum­bar. bila pemerintah mem­persiap­kan infrastruktur fisik menuju daerah ber­kategori maju (developed) maka rakyat harus memper­siapkan pem­bangunan non-fisik berupa men­talitas yang siap mendukung berkem­bangnya daerah itu. Tidak ada daerah yang maju pera­da­bannya bila tidak di­dukung oleh pem­bangunan non-fisik. Majulah terus Ranah Mi­nang!***

 

AZIZUL MENDRA
(Peneliti Bidang Ekonomi Politik dan  Editor Pada Perusahaan Media Monitoting BINOKULAR)

Comments (7)Add Comment
0
sambungan (5)
written by string, Juli 09, 2012
jadi, sangat penting pembenahan non fisik, seperti penerapan konsep sadar wisata. saya pikir bapak tahu apa itu konsep sadar wisata. nah, apakah bapak merasa itu sudah benar-benar diterapkan? contoh kecil dari penyimpangan konsep sadar wisata (sapta pesona) itu ada ketika tarif parkir di lokasi objek wisata yang diatur oleh preman parkir bukan pemerintahnya. bila ini ditertibkan, maka itu lebih penting dari mengejar pembenahan infrastruktur.

Penyimpangan di lapangan tentu saja ada, dan saya setuju itu harus dibenahi. Namun juga jangan melupakan hal-hal positif yang ada seolah-olah masyarakat kita pasif. Apalagi jika ukurannya konsep sadar wisata yang notebene dirumuskan secara “formil” oleh birokrat pariwisata—yang bagi Pak Mendra tampaknya menjadi “ruh” (nonfisik) pariwisata. Banyak misalnya penduduk di suatu daerah wisata menjadi penunjuk jalan gratis bagi turis atau menjadi sumber informasi budaya, mesti harus diapreasiasi. Dengan mengakui dan mengapresiasi dua contoh kecil ini, sebenarnya saya hendak mengatakan bahwa nonfisik wisata penting dibenahi, namun kunci untuk “menyentuh” nonfisik itu tak ada lain adalah keadilan infrastruktur!

Salam,
Raudal Tanjung Banua
0
sambungan (4)
written by string, Juli 09, 2012
bila bapak mengandalkan infrastrukur yang maju, sampai seratus tahun lagi pun dengan keuangan pemerintah indonesia tidak akan menyamai infrastrukur kawasan wisata di eropa, seperti prancis, inggris, dll.

Sekarang kita balik: bila bapak mengandalkan (semata-mata) cara menjual atau memasarkan potensi pariwisata, sampai seratus tahun lagi pun, dengan kemampuan sehebat apa pun, tidak akan menarik minat wisatawan Eropa ([sich!]) seperti Prancis, Inggris, dll. Setidaknya untuk datang kedua kali!
Ketahuilah, mindset saya bukanlah Eropa, kecil saja pinta saya: infrastruktur yang memadai (untuk ukuran orang Indonesia): jalan raya mulus bukan dengan aspal murahan, jembatan diperlebar, ada jalur-jalur alternatif yang memudahkan kita menjangkau tujuan, moda transportasi tersedia, cukuplah! Atau konkritnya untuk Sumbar: ada keadilan infrastruktur, bukan hanya jalan Padang-Riau yang terus diperbesar (kini jalan tol?), perhatikan juga daerah pesisir (Pessel) yang bahkan untuk menambah seruas jalan ke Solok Selatan saja terus dipermainkan. Wujudkan lapangan udara (perintis) seperti diwacanakan akan dibangun di Payakumbuh. Benahi pelabuhan beserta kapal-kapalnya ke Mentawai. Ini semua bukan hanya akan menghidupkan dunia pariwisata Sumbar, tapi juga membantu segala aspek kehidupan rakyat Sumbar!
0
sambungan (3)
written by string, Juli 09, 2012
Saya sering bertemu wisatawan di sejumlah ibukota propinsi yang menginginkan ke suatu objek wisata, tapi batal karena terkendala infrastruktur. Di Palangkaraya misalnya, ada banyak turis yang berencana ke Tanjungputing terpaksa membatalkan niat atau mengubah jalurnya ketika menyadari tempat itu tak gampang dijangkau. Di Surabaya, turis yang hendak ke sejumlah pantai di wilayah selatan mengeluh karena jalan ke situ tak mudah, meski mereka tahu bahwa pantai di sana sangat indah. Bahkan di Bali pun, seperti pernah saya singgung, banyak paket ke Taman Nasional Bali Barat (TNBB) tak terisi karena jalan ke sana tidak semulus jalan-jalan di Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan (Sarbagita).
Kalteng, mungkin memang protetipe daerah yang infrastruktur jalan rayanya masih terbatas (meski sekarang pembangunannya sangat gencar dan baik), sementara jalur sungai kurang dikembangkan; tapi masih beruntung bahwa daerah ini punya sejumlah lapangan terbang perintis—infrastruktur lain yang tak kalah penting. Sementara itu, Jawa Timur dan Bali (yang satu di Pulau Jawa, tempat menumpuknya infrastruktur; yang satu lagi ikon pariwisata tanah air), masih saja mengalami tekanan atau kendala riil dari keberadaan infrastruktur, apalagi Sumbar atau Sumatera umumnya, yang keberadaan infrastrukturnya sudah lama dikeluhkan?
Masih tak percaya? Lihat saja jalan Lintas Sumatera atau penyeberangan Selat Sunda yang kian hari bukannya tambah baik penanganannya, malah semakin turun mutunya!
Sebelum saya tutup bagian ini, saya ingin sedikit bernostalgia tentang jalur pariwisata tanah air tahun 80-90-an. Dulu, wisatawan asing turun dari Penang ke Medan, lalu menyebar ke Aceh atau Sumbar, lalu dengan menyusuri Jalan Lintas Sumatera terus ke Jawa, lalu Bali, dst. Tentu ini bukan jalur satu-satunya, tapi jelas jalur ini termasuk yang sangat potensial. Ketika infrastruktur umum menumpuk di Jawa dan infrastruktur pariwisata jor-joran di Bali, praktis jalur Sumatera terlupa! Bukan karena insan pariwisata Sumbar atau Sumatera tidak kreatif, tapi dihukum oleh keadaan. Lha, insan pariwisata Sumbar yang kemudian (terpaksa) pindah ke Bali kan sangat banyak dan terbukti mampu berkiprah kok!
Oya, Pak Mendra katanya juga pernah berkiprah di Bali? Mudah-mudahan bukan karena itu Bapak menjadi sangat Eropa sentris!



0
Sambungan (2)
written by string, Juli 09, 2012
Jangan lupakan bahwa sekecil apa pun usaha memasarkan pariwisata Sumbar tetap dilakukan. Tour de Singkarak, apa bukan bentuk usaha itu, walaupun mungkin belum seberhasil ditargetkan? Jangan pula bapak bandingkan dengan Tour de Paris! Apa bapak lupa upaya luar biasa yang dilakukan walikota Sawahlunto dalam menghidupkan kota arang yang mati suri pasca era tambang? Di Pessel ada Festival Langkisau (jangan bapak bandingkan pula dengan Festival Pasadenna), sekali lagi, meski belum maksimal, bukankah itu sebuah upaya? Tapi apa yang dapat dilakukan Pessel lebih jauh jika jalan ke sini saja tumbal-sulam, sementara Padang (ibukota propinsinya) menganggapnya tak lebih pintu belakang? Jangan lupakan pula bahwa Bukttinggi pernah jaya dengan pariwisatanya, tapi belakangan redup; sekali lagi, tanpa menutup mata kurangnya terobosan pemasaran, faktor utama menurut saya tetap infrastruktur! Lihat saja fasilitas objek wisata, stagnan; jalan ke Maninjau dan objek sekitarnya juga tak dapat disebut mulus-mulus amat. Lebih jauh, tahukah kita bahwa Danau Toba sekitar tahun 80-an sangat hidup dengan aktivitas wisatanya, tapi sekarang berantakan karena hancurnya infrastruktur? Bagaimana pula misalnya, Barus, kota pelabuhan penting sejak abad ke-15 sekarang benar-benar dilupakan hanya karena tak pernah mendapat seutas jalan yang layak sehingga wisatawan yang berhasrat ke sana (jangan bilang jumlahnya tidak banyak) menjadi ciut nyali?
0
.....
written by string, Juli 09, 2012
Hancurnya potensi pariwisata karena tidak bisa menjual, memasarkan, dll. dari potensi yang ada, bukan kelemahan insfrastruktur.

Tanpa bermaksud menutup mata bahwa insan pariwisata Sumbar belum maksimal menjual/memasarkan potensi pariwisata di daerah ini, saya melihat keberadaan infrastruktur tetap menjadi persoalan laten dalam pariwisata Sumbar! Jika infrastruktur hancur, apa yang hendak dijual dan bagaimana harus menjual? Apakah harus menjadi pariwisata banal dengan “menjual” kemelaratan, sebagaimana yang Pak Mendra apresiasi dari insan pariwisata Jakarta yang menjual “eksostisme” perkampungan kumuh Jakarta—yang bagi saya sangat sangat salah kaprah dan menghina itu? Atau seturut pola pikir Pak Mandra yang percaya bahwa “(...) para turis tidak untuk menikmati jalan yang mulus atau hotel yang mewah di sumbar, karena semewah-mewahnyanya hotel bintang lima di sumbar pun masih kalah baiknya daripada fasi-litas hotel kelas melati di jerman ([sich!])?
Logika yang sangat bias! Tentu saja niat seorang wisatawan tidak untuk menikmati jalan mulus atau hotel mewah, tapi siapa bilang jalan mulus atau hotel mewah (saya lebih suka menyebutnya hotel yang layak) tidak mendukung niat seseorang untuk sampai dengan “selamat-sentausa” ke distinasi yang diinginkan, serta mendapat tempat yang nyaman untuk menikmatinya? Apa iya, tanpa jalan raya yang memadai wisatawan tahan “menyiksa diri” dan mau menghabiskan waktunya “hanya” karena terpikat oleh pemasaran atau paket wisata yang “hebat”? Mungkin memang ada jenis wisatawan yang tetap tabah dan bertahan sampai “titik darah penghabisan”, katakanlah mereka yang punya waktu panjang, tapi bagaimana dengan wisatawan lain yang punya waktu terbatas atau wisata keluarga? (bersambung)
0
...
written by string, Juli 07, 2012
Hancurnya potensi pariwisata karena tidak bisa menjual, memasarkan, dll. dari potensi yang ada, bukan kelemahan insfrastruktur.
tahukah bapak bahwa tour and travel di sumbar lebih banyak sebagai agen penjual tiket pesawat atau menjual paket wisata negara lain ?
mereka tidak pandai menjual potensi yang ada di daerahnya. cuma bisa dihitung dengan jari tour and travel profesional di sumbar dari ratusan yang ada.

bila bapak mengandalkan infrastrukur yang maju, sampai seratus tahun lagi pun dengan keuangan pemerintah indonesia tidak akan menyamai infrastrukur kawasan wisata di eropa, seperti prancis, inggris, dll.
jadi, sangat penting pembenahan non fisik, seperti penerapan konsep sadar wisata. saya pikir bapak tahu apa itu konsep sadar wisata. nah, apakah bapak merasa itu sudah benar-benar diterapkan ? contoh kecil dari penyimpangan konsep sadar wisata (sapta pesona) itu ada ketika tarif parkir di lokasi objek wisata yang diatur oleh preman parkir bukan pemerintahnya. bila ini ditertibkan, maka itu lebih penting dari mengejar pembenahan infrastruktur.

penjelasan ini akan panjang, pak. tapi saya batasi sampai di sini dulu. dalam tulisan lainnya saya akan bahas lebih banyak. perlahan2. mohon maaf bila belum terpuaskan.

regards,
mendra
0
.....
written by string, Juli 07, 2012
Untuk menarik wisatawan sebenarnya tidak perlu infrastruktur yang baik. Bila pemerintah tidak cukup dana untuk pembangunan fisik, cukup investasi pada sektor non fisik seperti budaya sadar wisata saja sudah cukup. Demikian saya cuplik dari tulisan Pak Azizul. Pertanyaannya, apakah jalan tol yang sedang dibahas di sini bukan termasuk infrastruktur? Jika tidak dibutuhkan infrastruktur yang baik, untuk apa rencana pembangunan jalan tol di Sumbar diwacanakan? Lagi pula saya tidak sepakat bahwa infrastruktur tidak memegang peranan dalam pariwisata, terlepas dana pembangunannya dari mana (pemerintah/swasta). Hancurnya dunia pariwisata di Sumatera (termasuk Sumbar) dan Indonesia secara umum (kecuali Bali) saya rasa karena ketiadaan infrastruktur yang memadai, atau lebih tepat disebut ketidakadilan infrastruktur. Lihatlah potensi Danau Toba yang dulu sempat mendunia, namun karena tidak diikuti perkembangan infrastruktur yang memadai, kini merasai. Apalagi Sumbar, jangankan infrastuktur pariwisata, infrastruktur berupa jalan raya utama saja boleh dikatakan porak-poranda. Dalam situasi itu, apa mungkin potensi wisata yang berada di "pelosok" Sumbar misalnya dapat dijangkau oleh wisatawan, sekalipun pemerintah daerah atau pihak terkait mati-matian mengembangkan potensi non-fisiknya? Kecuali mungkin oleh dua jenis wisatawan: pertama, wisatawan berkantong tebal yang mungkin saja bisa menyewa kendaraan khusus (bisa via helipad, jika ada) atau kedua, wisatawan "petualang" yang melihat dunia lain sebagai kantong eksotisme belaka; atau seperti yang Pak Azizul bilang: Wisa­tawan (yang) hanya ingin melihat bagaimana wajah dunia lain selain negara mereka--sebuah pola pikir yang salah kaprah.
Menariknya lagi ketika Pak Azizul menyinggung pariwisata Bali yang konsep dan segmennya jelas, menurut saya tetap ditentukan oleh keberadaan infrastruktur. Mungkin memang tidak semuanya dalam bentuk hotel berbintang, namun juga jalan raya yang mendukung. Itulah sebabnya, pariwisata Bali Barat dan Bali Utara tidak akan pernah bisa berkembang karena infrastrukturnya (baik jalan maupun hotelnya) tak pernah diperbaruhi; yang diperbaruhi menumpuk di Bali Selatan. Jadi sebagus apa pun Kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dengan akomodasi dan penginapan Menjangan Resort misalnya, tetap saja pengunjung dapat dihitung dengan jari karena akses ke sana memang tak mudah. Butuh waktu minimal 2,5 jam dari Denpasar via jalan darat (yang juga pada rusak), tanpa ada terobosan akses lain seperti laut atau udara, sementara wacana jalan tol Gilimanuk-Padang Bai belum-belum sudah jadi pertentangan yang alot!
Salam

Write comment

busy