Sabtu, 25 May 2013
PCA, Radio Pendidikan Mitigasi Remaja Padang Panjang PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Senin, 09 Juli 2012 03:17

Sekitar awal 2007 para pengurus radio PCA mendengar berita ada radio kontainer yang akan dipindahkan ke Afrika. Padahal kontainer itu ada di Aceh. “Jauh-jauh dibawa dari Belanda ke Aceh kenapa dibawa lagi ke Afrika? Kan sayang, padahal kita membutuhkannya di sini,” ujar Fakhruddin Tieja, salah satu pengurus dan juga pencetus Radio PCA (Prinses Catharina-Amalia) di Padang Panjang.

“Kami ingin sekali memberikan pengetahuan tentang mitigasi gempa, karena daerah Tanah Datar, Padang Panjang ini, bisa dikatakan potensi bencana gempa tektonik dan vulkanik itu besar sekali,” jelasnya.

Karena letaknya di tengah “Patahan Semangko” (bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Patahan inilah membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat Sumatera ini.

Patahan Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Kota Bukittinggi), maka sering terkena gempa seperti gempa tahun 2007 yang menghantan Kota Padang Panjang.

Wilayah Bencana

Mendengar bahwa radio kon­tainer yang disumbangkan oleh Radio Nederland diperuntukkan untuk wilayah bencana, maka Fakhruddin Tieja bersama teman-teman berusaha mencari cara bagaimana mereka bisa men­dapatkan kontainer tersebut.

Di Jakarta akhirnya mereka bertemu dengan Han Harlan, regio manager RNW dan berusaha meya­kinkan mengapa kontainer itu harusnya dipindahkan ke Padang Panjang dan bukannya Afrika.

Setelah survei dan mengundang Han Harlan dua kali ke Padang Panjang, mereka tidak mendengar kabar kurang lebih enam bulan. Yang menjadi kendala terbesar, mereka belum menemukan tempat untuk menaruh radio kontainer tersebut. Tempatnya harus strategis dan harus bisa dinikmati rakyat banyak. Itu tujuan utama Radio PCA.

Lewat Anak Muda

Akhirnya mereka menemukan tempat yang bagus, di halaman sekolah SMA Negeri I Padang Panjang, yang merupakan SMA unggulan di Sumatera Barat. Kebetulan Fakhruddin Tieja bersa­ma beberapa pengurus lainnya adalah alumni SMA tersebut.

Mereka meyakinkan kepala sekolah bahwa untuk mengajarkan mitigasi gempa yang terbaik adalah lewat anak muda. Mulanya sekolah masih agak ragu, dan merasa aneh, tetapi kemudian usulan ini diterima.

Menariknya SMAN I Padang Panjang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Gedungnya punya arsitektur khas Belanda dan ada satu dua tulisan Belanda masih ditemukan di gedung tersebut. Didirikan tahun 1903 sebagai sekolah guru dan namanya “Nor­maal School”.Selain itu SMA ini juga punya asrama pelajar putra dan putri, untuk siswa yang datang dari luar Padang Panjang.

Kendala kedua adalah biaya. Fakhruddin Tieja dan rekannya menemui pemerintah daerah. Reaksi pertama sang walikota adalah, sudah banyak radio di Padang Panjang, apa gunanya dan apa kelebihan radio baru ini?

“Setelah meyakinkan pemda dan walikota datanglah bantuan. Pertama ijin siaran lalu tempat untuk kontai­ner tersebut. Pemda membangun tempat yang bersih dan aman di halaman samping SMAN I Padang Panjang,” jelas Fakhruddin Tieja.

Penyiar

Masalah berikut yang harus diselesaikan adalah mencari pe­nyiar untuk radio baru tersebut. Mitigasi gempa jika diajarkan ke orang-orang tua efeknya mungkin tidak banyak, karena itu harus anak-anak sekolah. Mereka me­ngajak murid-murid SMA untuk mencoba tantangan baru ini.

“Paling tidak mereka belajar untuk bicara. Akhirnya yang mau banyak juga. Di awalnya semua penyiar adalah anak SMAN I, mereka diajarkan menyiar oleh orang-orang yang juga tidak punya pengalaman menjadi penyiar radio.”

Pak Tieja melanjutkan, “kami belajar sama-sama bagaimana menjadi penyiar radio. Dan seka­rang tiap tahunnya ada dua atau tiga orang alumni penyiar yang mengajarkan kepada para calon baru trik-trik radio.” Radio PCA mem­butuhkan tiap tahunnya 12 orang penyiar. Karena kebanyakan penyiar­nya adalah anak sekolah mereka hanya bisa bekerja sampai sore.

Karena itulah saat ini penyiar PCA adalah pelajar SMA atau perguruan tinggi sehingga mereka bisa bergilir bekerja.

Saat ini yang boleh mendaftar menjadi penyiar adalah murid kelas 1 dan 2 SMA. Apabila mereka naik kelas 3 mereka harus berhenti. Fakhruddin Tieja menakankan menyiar adalah pelajaran sampi­ngan, karena itu kalau naik kelas 3 anak-anak harus punya cukup wak­tu mempersiapkan diri untuk ujian akhir dan masuk perguruan tinggi.

Siaran Khusus BMKG

Pengertian dasar mengenai mitigasi mereka dapatkan dari BMKG Sumatera Barat yang sela­ma dua tahun pertama secara rutin memberikan pengetahuan tentang hal tersebut. Setiap minggu ada siaran khusus dengan BMKG. Salah satu tema yang dibahas misalnya, karena Padang Panjang letaknya di Patahan Semangko, bagaimana masyarakat harus hidup sehingga tidak panik dan tetap tenang? “Kita kan tidak mungkin pindah karena itu kita belajar bagaimana me­nyikapi bumi ini dengan baik.”

Radio PCA menyiarkan semua acara Radio Nederland siaran In­donesia. Karena itu sangat kehila­ngan setelah tanggal 29 juni ini, siaran Ranesi dihentikan sama sekali.

“Terutama siaran warta berita dan aktualita jam 6 pagi dan sore banyak didengar. Padahal itu jam-jam sulit, tapi toh banyak yang mendengarkan. Kami membutuhkan acara-acara bahasan politik yang singkat dan up to date. Mereka sangat kehilangan. Pada jam-jam ini bukan anak-anak pendengarnya, tapi masyarakat Padang Panjang. Dan ini tidak tergantikan dengan siaran BBC atau pun VOA.”

(Sumber: Fediya Andina/http://www.rnw.nl)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy