Selasa, 23 September 2014
Aspek Manajemen Logistik dalam Menghadapi Bencana PDF Cetak Surel
Selasa, 10 Juli 2012 03:08

Beberapa waktu yang lalu, Gubernur Sumater Barat menge­luarkan surat edaran yang menginstruksikan peme­rintah kota/kabupaten untuk bersiap siaga menghadapi bencana gempa dan tsunami yang berpo­tensi terjadi di beberbagai kawasan Sumatera Barat. Substansi dari surat ini adalah agar pemda mening­katkan kewaspadaan serta melakukan berbagai persiapan yang diper­lukan seperti me­nyiap­kan petugas yang bekerja 24 jam, pemantauan perkem­bangan gejala alam, memper­siapkan peralatan dan fasi­litas penang­gulangan bencana baik dalam bentuk logistic, tempat pengung­sian maupun selter-selter.

Tulisan ini mencoba me­ngu­las tentang aspek mana­jemen logistik di dalam pena­nganan bencana alam, khu­susnya gempa dan tsunami.

Masalah utama dalam periode pasca bencana adalah perihal logistik. Dari penga­laman berbagai kejadian bencana sebelumnya kita ketahui bahwa masalah logis­tik adalah masalah yang sangat pelik. Kejadian bencana Merapi Jogjakarta 2010 seba­gai contoh. Terdapat  235.858 jiwa pengungsi yang tersebar di 735 titik pengungsian (BNPB, November 2010).

Barang bantuan tersedia, namun distribusinya rumit dan tidak merata. Terjadi mismatch antara jumlah ban­tuan dengan jumlah pengungsi di masing-masing pengung­sian. Sebe­lumnya, ketika dilanda gempa besar tahun 2006, sistem logistik keben­canaan di wilayah ini juga tidak efektif, bahkan sampai hari ke 4 pasca ben­cana, masih terdapat lokasi pe­ngung­sian yang belum tersen­tuh bantuan.

Pada saat terjadi bencana gempa di wilayah pantai Barat Sumatera beberapa waktu lalu, kerumitan masalah logistik juga terjadi. Bantuan untuk korban tsunami di Mentawai menumpuk di Sika­kap. Bantuan sulit mencapai tujuan karena tidak bisa melalui darat, sementara cuaca cukup ekstrim membuat penyaluran dengan helikop­terpun juga tidak dapat dila­kukan.

Manajemen Logistik: Masa­lah di Mana-mana

Sejatinya, kesulitan dalam penanganan logistik bencana bukan hanya terjadi di indo­nesia saja. Saat terjadi gempa bumi yang melanda Haiti, media banyak yang menyoroti kurangnya respon memadai bahkan dari organisasi kema­nusian terhadap kebutuhan para korban gempa. Media mencoba mengingatkan, seha­rusnya organisasi kema­nusiaan telah mengambil banyak pelajaran dari bencana- bencana besar sebelumnya, seperti tsunami tahun Aceh 2004 dan Badai Katrina tahun 2005. Namun kembali penanganan logistik pasca bencana berjalan tidak efektif.

Pengalaman dari Badai Katrina di Amerika Serikat. Badai ini melanda wilayah tenggara Amerika Serikat pada tanggal 24-31 Agustus 2005. Peringatan akan da­tangnya badai telah diu­mumkan jauh hari sebe­lumnya. Badai ini menye­babkan kerusakan yang sangat besar, yang meliputi lebih dari 200.000 km2 wilayah tenggara Amerika Serikat. Daerah yang terpengaruh termasuk Loui­siana, Mississipi, Alabama, Florida dan Georgia. Nilai kerusakan yang ditimbulkan mencapai US$200 milliar dan menyebabkan setidaknya 1289 orang telah meninggal dunia.

Penanganan pengelolaan pasca terjadinya bencana ini ditangani oleh FEMA (Federal Emergency Management Agen­cy), yang merupakan bagian dari US Departement of Ho­me­land Security. Meskipun berbagai persiapan sudah dilakukan, dengan personil yang terlatih, ternyata FEMA be­lum siap menghadapi ben­cana ini,  khususnya yang berhubungan dengan masalah pendistribusian logistik pasca bencana. FEMA ternyata menunjukkan ketidak­mam­puan dan kurangnya persiapan untuk menghadapi bencana Badai Katrina tersebut.

Sebagaimana disampaikan Sekretaris Departement of Homeland Security Chertoff,  “Meskipun FEMA telah me­mi­liki personel, asset dan sumber daya yang besar dan telah dipersiapkan sebelum terjadi Badai Katrina, ter­nyata saat ini kita sama-sama mengetahui bahwa FEMA kewalahan meng­ha­dapi badai besar tersebut. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan apakah FEMA me­miliki kemampuan dan alat yang me­reka butuhkan untuk me­la­kukan pekerjaan dengan be­nar. (Special Report of The Com mittee on Homeland Secu­rity and Governmental Affairs, 2006).

Aspek Manajemen Logis­tik Bencana untuk Sumatera Barat

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa persoalan manajemen logistik selalu menjadi titik kerumitan da­lam penangan pasca bencana. Dalam konteks ini sepertinya kita harus melakukan per­siapan yang sangat serius menyiapkan aspek manajemen logistik di wilayah pantai Barat Sumatera. Mengingat potensi bencana gempa yang diikuti tsunami - sudah sama difa­hami - sangat besar ke­mun­kinannya terjadi di wila­yah ini.

Edaran yang disampaikan Gubernur Sumbar ini hen­daknya dimaknai dengan melakukan evaluasi dan monitoring atas kesiapan menghadapi bencana itu sendiri. Terkait dengan ini, aspek manajemen logistik bencana perlu mendapatkan perhatian serius.

Monitoring dan evaluasi ini meliputi: aspek peren­canaan dan pendistribusian logistik, evaluasi atas ke­cukupan sistem dan prosedur yang diperlukan, kajian ke­siapan wilayah sekitar untuk mendukung logsitik, keter­sediaan dan kesiapan sumber daya manusia, sarana dan prasarana distribusi, infor­masi, sistem pergudangan dan pengelolaan persediaan serta ketersediaan dana.

Monitoring dan evaluasi rutin atas kesiapan meng­hadapi bencana ini setidaknya akan dapat mengurangi kesu­litan dan resiko yang timbul pascaterjadinya bencana.

 

 

HENMAIDI
(Doktor Teknik dan Manajemen Industri, Dosen Teknik Industri Unand)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy