Selasa, 21 Oktober 2014
Pesantren Ramadan, Perlu Dievaluasi Total PDF Cetak Surel
Senin, 16 Juli 2012 02:35

Pelaksanaan Pesantren Ramadan tahun ini sudah akan memasuki yang ke delapan kalinya sejak dicanangkan tahun 2005 yang silam oleh Pemko Padang. Dan tahun ini kegiatan tersebut akan diikuti oleh 150.577 pelajar mulai dari tingkat SD dan sederajat hingga SMA sederajat.

Ide dasarnya Pesantren Ramadan itu dilaksanakan untuk memberikan pendidikan agama dan akhlak kepada para pelajar selama bulan puasa. Disamping itu juga agar semua masjid dan mushala menjadi lebih makmur dan semarak selama bulan puasa.

Menurut rencana sebagaimana ditetapkan Pemko Padang, Pesantren Ramadan 1433 Hijriah sendiri akan dimulai pada 22 Juli 2012 dan berlangsung selama 20 hari. Jam belajar untuk SD, SMP, dan SMA sederajat akan dibedakan mulai dari sahur hingga masuknya waktu berbuka puasa setiap harinya kecuali Jumat yang ditetapkan sebagai hari libur.

Tahun ini akan tercatat jumlah peserta tingkat SD sebanyak 50.577 orang, SMP 45.830 orang, SMA 53.606 orang, Madrasah Ibtidaiyah 1.701 orang, Madrasah Tsanawiyah 6.642 orang, dan Madrasah Aliyah 2.557 orang. Ini berdasarkan data yang dimiliki Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang serta Kantor Kemenag dimana madrasah-madrasah bernaung.

Selain itu 1.388 pengurus masjid dan mushalla sebagai pengelola juga akan terlibat penuh bersama guru-guru yang tinggal di sekitar masjid dan mushala.

Keterlibatan semua pihak dalam penyelenggaraan Pesantren Ramadan, sangat menentukan suksesnya pelaksanaan Pesantren Ramadan tahun ini terutama peran guru-guru yang tinggal di sekitar tempat pelaksanaan Pesantren Ramadan.

Jadi, walaupun selama bulan Ramadan proses belajar mengajar siswa dipindahkan dari sekolah ke Masjid dan Mushalla, bukan berarti para guru bebas dari tugas mengajar. Tetapi disinilah peran aktif guru dituntut lebih besar lagi.

Sejak tahun 2010 pelaksanaan Pesantren Ramadan telah diperkuat dengan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) bagi semua tingkatan. Dan memasuki tahun 2011 pembelajaran dimantapkan dengan menyediakan bahan ajar, yang diharapkan guru pengajar lebih maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan.

Jika pada dua tahun terakhir ini materi Pesantren Ramadan lebih ditekankan pada pendalaman kandungan Asmaul Husna, maka pada tahun ini secara terstruktur difokuskan pada penanaman, pengembangan, dan pembiasaan karakter berbasis Al Quran.

Jadi dengan demikian semestinya Pesantren Ramadan sudah bisa menjadi salah satu instrumen untuk membentuk akhlah anak-anak. Selama Ramadan, mereka bisa dibentuk menjadi pribadi-pribadi yang menuju akhlaqul qarimah.

Tapi itu masih sebuah hal yang ideal. Belum ada yang meneliti seberapa jauh dampak Pesantren Ramadan di Kota Padang ini terhadap perkembangan akhak anak-anak. Seberapa bisa ia menjadi instrumen pembentukan karakter yang baik dari para siswa.

Karena itu sudah semestinya ada penelitian atau evaluasi total terhadap Pesantren Ramadan. Maksudnya jangan sampai gagasan yang bagus ini tidak menemui hasil yang maksimal karena pelaksanaannya yang tidak sempurna.

Yang terutama dievaluasi tentu saja kurikulum dan silabusnya. Banyak metode sebenarnya yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kurikulum Pesantren Ramadan ini. Ornstein danHunkins (1985) misalnya menawarkan evaluasi kurikulum yang bersifat kualitatif dan model kuantitatif.

Terserahlah mana yang akan dipakai. Tetapi satu pertanyaan yang banyak mengganjal kita adalah apakah dengan pemberlakuan Pesantren Ramadan untuk membentuk akhlak siswa se Kota Padang, berarti kurikulum nasional yang dilaksanakan di sekolah-sekolah selama 11 bulan (di luar Ramadan) sudah tidak mampu lagi mencetak siswa-siswa yang berakhlak?

Ataukah dengan Pesantren Ramadan ini sekaligus memper­tontonkan bahwa kurikulum regular di sekolah-sekolah sudah gagal total membentuk pribadi yang berkarakter, beraakhlak mulia?

Sebenarnya pertanyaan untuk evaluasi ini tidak ada masalah. Justru semua kita wajib mempertanyakan apakah memang Pesantren Ramadan akan mencetak pribadi yang berakhlak?  Apakah ia akan menjadi substitusi dari kurikulum regular di sekolah-sekolah untuk membentuk pribadi yang berakhlak? Ini penting untuk dikunyah-kunyah oleh penyelenggara dalam hal ini Pemerintah Kota Padang.

Jika memang demikian, kurikulum regular gagal dan bisa diganti dengan kurikulum Pesantren Ramadan, kenapa tidak ini saja yang diperjuangkan sampai ke tingkat pusat agar Pesantren Ramadan masuk dalam kurikulum regular secara nasional. Tidak hanya di Padang.

Kalau tidak, berarti sebaiknya kurikulum Pesantren Ramadan ditujukan untuk meramaikan masjid dan menyemarakkan kegiatan Ibadah Ramadan.***

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy