Kamis, 02 Oktober 2014
Cara Rasulullah Menegakkan Hukum PDF Cetak Surel
Jumat, 18 Februari 2011 02:24

Suatu hari Rasulullah SAW baru saja mengerjakan salat berjemaah bersama para sahabatnya, beliau menyempatkan diri bercengkrama dan berdialog dengan mereka. Tiba-tiba datanglah Maiz bin Malik, laki-laki itu memohon kepada Rasulullah SAW, mengadukan dosa yang telah diperbuatnya.

“Ya Rasulullah,  saya telah berzina,” ujar Maiz setelah Rasulullah SAW berada di hadapannya. Dia berharap Rasulullah SAW segera me­nang­gapinya. Namun nyatanya tidak. Bahkan Rasulullah SAW memalingkan mukanya, seakan- akan  tidak mendengarnya.

Maiz kemudian mengulangi pengakuannya, tetapi Rasulullah SAW tetap memalingkan mu­ka­nya hingga Maiz mengulangi pengakuannya, bahkan bersum­pah sampai empat kali di hadapan orang banyak. Rasu­lullah SAW Menatap wajah Maiz seolah tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Kemu­dian beliau bertanya, “Apakah engkau sudah gila?”

Maiz menjawab: “Tidak ya Rasulullah”. Rasulullah berta­nya lagi: “Apakah engkau sudah menikah?” Maiz menja­wab ringan: “Sudah ya Rasu­lullah”? “Kalau begitu  bawalah dia  dan rajam sampai mati,” perintah Rasul kepada para sahabat lainnya.

Sekilas kisah ini menge­sankan seolah-olah Rasulullah SAW tidak peduli dengan pengakuan Maiz. Seakan-akan Rasulullah tidak ingin mene­gakkan  hukum atas kesalahan sahabatnya itu. Benarkah demikian? Apakah orang tersebut karena sahabatnya.

Maiz adalah manusia keba­nyakan. Bahkan seorang Badui, suku Arab yang saat ini diang­gap  paling terbelakang. Maiz tidak ada hubungan sedikitpun dengan Rasulullah SAW. Ka­lau­pun ia masih ada hubungan ke­rabat, beliau pasti tidak akan bersikap diskriminatif dalam menegakkan hukum. Di hada­pan hukum semua orang sama. Tidak ada perlakuan istimewa sedikitpun terhadap anggota ahlul bait sendiri. Rasulullah bersabda: “Seandainya Fatimah putri Muhammad yang men­curi, pasti akan kupotong tangannya.”

Rasulullah SAW bukannya mau mengabaikan pengakuan Maiz. Tapi karena mulanya dosa orang tersebut masih bersifat pribadi, belum dike­tahui oleh  orang banyak  dan tidak terkait dengan hak orang lain. Namun ketika perbuatan itu sudah diketahui oleh umum, maka hukum pun harus ditegakkan. Jika tidak, supre­masi hukum akan menjadi korban dan tatanan masyarakat menjadi kacau.

Oleh karena itu, pada hakekatnya suatu kesalahan itu bisa atau tidak bisanya dimaaf­kan dibagi menjadi empat kriteria, yaitu, dosa yang dian­jurkan untuk dirahasiakan, yakni dosa seorang mukmin yang menzalimi dirinya sendiri, belum diketahui oleh masya­rakat umum serta tidak ada kaitannya dengan hak orang lain secara langsung. Sedangkan pelakunya sendiri tidak ingin orang lain mengetahui aibnya. Bahkan, ada gejala pelaku bersungguh-sungguh untuk bertaubat.

Dalam hal ini, kita diperin­tahkan untuk menutupinya. Allah SWT berjanji akan menutupi aib orang yang merahasiakan aib saudaranya. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.”

Dosa yang dibolehkan mem­­­bongkarnya, yaitu kesalahan yang berkaitan erat  dengan orang banyak. Jika perbuatan tersebut tidak dibuka akan berakibat buruk bagi kehidupan umat. Dalam hal ini, menutupi aibnya sama halnya dengan membahayakan kepentingan orang banyak. Ajaran Islam membolehkan kita membuka aib seorang demi kemaslahatan umum. Misalnya dalam menentukan kedhaifan perawi hadis, per­jodohan, memilih calon pe­mimpin, dan dalam rangka menghindarkan orang lain dari bahaya yang akan ditimbulkan oleh seseorang ketika ber­muamalah dengannya.

Dosa yang dimaafkan, yaitu dosa yang hanya terkait dengan hak kita sendiri, sebagai orang yang dizalimi kita boleh mem­balas atau memaafkannya. Tetapi Allah SWT me­ngan­jurkan, memberi maaf itu lebih baik dan lebih dekat kepada takwa.

Dosa yang tidak boleh dimaafkan, yaitu kesalahan  yang merugikan orang lain dan belum dimaafkan oleh yang bersangkutan, atau dosa yang ada hukumnya dan sudah diketahui oleh umum, seperti yang terjadi pada kasus Maiz di atas.

Berkaitan dengan jenis terakhir, jika kesalahan tersebut dimaafkan dan tidak ada  pe­nega­kan hukum bagi orang yang dizalimi, berarti tidak adil. Allah yang Maha Pe­ngampun saja tidak akan me­ngampuni dosa-dosa seseorang yang ada hubungannya dengan hak orang lain, selama yang bersangkutan belum memaaf­kannya. Begitu juga bila tidak ada penegakan hukum atau masalah yang menjadi rahasia umum, sama saja dengan membunuh hukum itu sendiri.

Agama Islam itu memang tegas dalam menegakkan hu­kum dan keadilan, karena hukumlah menjadi jaminan ke­seimbangan sosial. Sedangkan keseimbangan adalah garansi eksistensi semua makhluk Allah SWT. Di jagad raya ini, termasuk manusia. Namun dalam penegakan hukum tidak boleh dilandasi  dengan rasa belas kasihan. Allah berfirman, “Dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya menghalangi kamu dari me­negakkan agama Allah, apabila kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat.” (An-Nur:2)

Di sisi lain, dalam mene­gakkan hukum tidak boleh terseret oleh emosi kebencian sehingga berlaku tidak adil. Bahkan bisa menyebabkan munculnya sikap over acting yang menjadi arena balas dendam. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu me­negakkan kebenaran karena Allah. Menjadi saksi dengan adil, dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. QS.Al-Maidah 8.

Dosa-dosa para elit politik dan ekonomi yang telah meru­gikan rakyat-maka yang berhak memaafkannya hanyalah rakyat itu sendiri. Karena rakyatlah yang paling dirugikan. Sehingga kalau ada kesimpulan penye­lesaian politis dianggap lebih bijaksana, maka harus dita­nyakan  terlebih dahulu kepada rakyat.

Keinginan sementara pihak untuk untuk memaafkan dosa-dosa para koruptor, apalagi disertai dengan kesepakatan rahasia, jelas-jelas mengkhianati nurani rakyat. Begitu juga, jika ada kelompok tertentu yang ingin melaksanakan kehendak supaya dosa seseorang dimaaf­kan hanya karena dia berasal dari kelompoknya, jelas meru­pakan kezaliman yang sangat besar. Mereka telah melawan hukum yang menyebabkan kehancuran tata aturan ber­bangsa dan bernegara.

Akhirnya, hukum memang harus ditegakkan. Agenda perbaikan  harus dituntaskan. Jika tidak, sama artinya kita menciptakan tradisi buruk buat anak bangsa ini. Kita akan terus menerima kiriman dosa selagi perbuatan itu dikerjakan di negeri ini. Sebaliknya, marilah kita gunakan kesempatan yang sangat mahal ini sebagai mo­men titik balik sejarah  yang baik untuk melakukan peru­bahan yang berarti untuk bangsa ini ke depan.

Pada saat yang sama, mari­lah kita ciptakan tradisi yang baik atau Sunnah hasanah yang akan menjadi amal jariyah buat generasi penerus bangsa ini. Rasulullah mengatakan, “Ba­rang siapa menciptakan tradisi yang baik, maka baginya pahala dan pahala siapa saja yang mencontohnya. Dan barang siapa  menciptakan tradisi yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa siapa saja yang men­contohnya.”  Allahlah yang le­bih mengetahui semuanya.

 

NIZAR LUBIS

Comments (1)Add Comment
0
...
written by string, Agustus 08, 2011
apa hukumnya bila saya meminta maaf kepada seseorang atas kesalahan saya kepada orang tersebut,namun orang tersebut tidak pernah menjawab permintaan maaf saya???
dan apakah saya masih tetap berdosa kepada orang tersebut?? atau apakah orang tersebut juga berdosa karna tidak memaafkan saya???
mohon penjelasannya???

Write comment

busy