Sabtu, 25 May 2013
Surau Pura Menjadi Musala Singapura PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Selasa, 24 Juli 2012 02:43

Apa yang Anda bayangkan saat mendengar nama Singapura? Bisa jadi ingatan kita berkelebat sejenak ke negara kecil namum makmur itu? Tapi tunggu dulu. Kini, nama itu melekat pada nama sebuah rumah ibadah di Ketaping. Namanya Musala Singapura. Lokasinya persis berada di kawasan  Ketaping, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Padang. Lintasan jalan raya menuju kampus Unand Limau Manis.

Menurut orang tua di sekitar Ketaping itu, nama Singapura itu berasal dari “Surau Pura”.  Ya, nama ini adalah nama yang diberi­kan orang tua-tua dulu untuk musala ini. “Orang dulu memberi nama hanya bersifat asal-asalan tidak seperti orang sekarang, yang mem­berikan nama musala sesuai nama-nama yang ada dalam Al­quran,” ujar Baniar, yang kerap melak­sanakan salat berjamaah di musala ini kepada Haluan, Senin (23/7).

Disebut nama Singapura, kare­na bunyi “Surau” sudah diperhalus oleh orang dulu, yang akhirnya menjadi “Singapura”. Bentuk musala ini pun diperkirakan sudah berbeda dari bentuk awalnya. Menurut Bainar, awalnya musala ini terbuat dari kayu. Kayu yang digunakan diambil langsung dari bukit, sehinga bentuk­nya sangat besar. Atap musala terbuat dari daun rumbia yang dianyam 4 lapis. Tikar yang digu­nakan pun tikar dari daun pandan.

Menurutnya, musala ini didiri­kan oleh orang yang bernama Pakiah Itam, yang juga menjadi nenek moyang Bainar. Kapan berdirinya pun tidak diketahui, namun dirinya bisa memastikan musala ini sudah ada sebelum dia lahir. Bainar sendiri  lahir sekitar tahun 1930-an.

Seperti kebanyakan musala pada zamannya, Surau Pura juga digunakan untuk mengaji bagi anak-anak kampung. Kegiatan mengaji pun dimulai pada malam hari. Ketika pulang muridnya akan menyediakan suluah yang terbuat dari daun kelapa. Anak laki-laki pun pada waktu itu menggunakan musala ini sebagai tempat tinggal sesuai tradisi yang berlaku pada waktu itu.

Surau ini pada masa itu, mam­pu melahirkan  guru-guru agama dan mubaligh yang handal.

“Jadi ketika disebut berasal dari Suaru Pura, orang di luar Padang, sudah langsung tahu lokasi musala tersebut,” kisah Baniar.

Di musala ini, bagi murid yang sudah tingggi tingkatannya akan belajar meggunakan kitab gundul, artinya tidak diberi baris. Orang yang terakhir mengajar menggu­nakan kitab tersebut adalah Mak Itam atau Latif.

“Sehabis wafatnya Mak itam, kitab itu pun dimusnahkan,” ujar  Baniar.

Dirinya pun sewaktu mengaji, juga belum pernah belajar meng­gunakan kitab tersebut.

Kondisi musahal ini memang berbeda dengan dulu. Sekarang yang menyelenggaraan shlat jamaah di sini hanyalah orang-orang tua. Jumlahnya pun tidak sampai 10 orang. Musala ini lebih dipriori­taskan digunakan sebagai tempat mengaji. Tentang nama, menutut Baniar, banyak generasi sekarang yang tidak mengenal asal-usul nama Surau Pura. (Laporan Eni Rahmadhani)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy