| Persiapan Kota Padang Menyambut Alek 2013 |
|
|
|
| Kamis, 26 Juli 2012 02:52 | |||
|
Menanggapi tulisan saya kemarin di Harian Haluan mengenai “Bentuk Nyata Politik Indonesia.” Saya ingin memberikan pandangan saya mengenai pesta demokrasi yang akan Kota Padang laksanakan tahun depan. Kota Padang diketahui akan memilih pimpinan mereka pada 2013 untuk masa bakti 2014-2019. KPUD Kota Padang telah merencanakan tanggal 23 Oktober 2013 sebagai hari pemilihan. Pesta demokrasi rakyat ibukota Sumatera Barat ini diperkirakan akan memakan anggaran sebesar 36 Milyar Rupiah dan anggaran ini dialokasikan untuk dua putaran.Data yang ditunjukan oleh KPUD Kota Padang pada tahun 2008 ada sekitar 539 ribu warga yang terdaftar sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang mempunyai hak pilih untuk berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah Kota Padang 2008 -2013. DPT Kota Padang naik sekitar 553 ribu pemilih ketika Pemilihan Kepada Daerah Sumatera Barat tahun 2010 lalu. Saya perkirakan ada sekitar 580 ribu pemilih yang akan memiliki hak politik nya pada 2013 nanti. Pada tahun 2008, dari sekitar 539 ribu warga, tercatat ada sekitar 220 ribu warga tidak menggunakan hak pilih atau memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam Pilkada. Hasilnya seperti yang sama kita ketahui, pasangan Incumbent menggunguli pasangan lain dengan perolehan suara sekitar 156 ribu atau sebesar 51.53% total suara sah. Saya tidak akan menuliskan kebaikan atau keburukan pemimpin yang menjabat saat ini, atau mengkritisi kebijakan dan persiapan yang direncanakan oleh KPUD Kota Padang. Yang ini saya bahas dan kritisi ialah sudah bisakah rakyat kota Padang menggunakan akal dan hati nurani nya dalam pemilihan tahun depan. Persiapan Kota Padang dalam menyambut alek 2013 saya nilai bukan dari kesiapan perangkat KPUD atau banyaknya jumlah calon nantinya. Saya akan menilai kesiapan warga dari sudah sejauh apakah warga bisa menilai seorang calon pemimpin mereka. Setahun menjelang Pemilihan sudah pasti banyak muka-muka baru yang muncul keranah publik. Muka baru yang sebelumnya tidak pernah kelihatan mulai sering muncul di berita, sering muncul diacara rakyat dll. Mungkin ada sebagian pembaca yang berpikir saya juga termasuk golongan itu. Belum pernah menulis tiba-tiba sering menulis. Jangan khawatir, saya masih 23 tahun, baru saja menyelesaikan study saya dan setahun kedepan saya akan banyak terlibat di kegiatan akar rumput karena saya baru saja terpilih untuk mejadi salah satu Pengajar Muda yang akan dikirimkan kedaerah untuk mengabdi. Tulisan saya ini kurang lebih berniat untuk melatih diri saya sendiri untuk bisa menyampaikan ide dan pendapat saya didepan publik, dan mungkin juga bisa disebut sebagai tulisan yang ingin menjadikan warga Padang sebagai warga yang kritis terhadap calon pemimpinnya. Warga Kota Padang sudah harus bisa dari sekarang menganalisa kira-kira pemimpin seperti apakah yang warga inginkan. Jakarta baru-baru ini terkena euphoria pemimpin yang tidak mempunyai potongan pemimpin akan tetapi bisa menjembatani dan menyalurkan aspirasi rakyat. Pemimpin yang dicintai oleh kota asalnya, dipilih oleh 91% warganya. Setiap keputusan beliau didukung oleh warganya, bahkan DPRD dan Gubernur setempat tidak bisa berbuat / bertindak melawan pemimpin tersebut karena beliau didukung penuh warganya. Pemimpin yang bisa mendengarkan rakyat tanpa harus memaksakan kehendak. Pemimpin yang berhasil memindahkan ratusan PKL tanpa ada kekerasan. Coba bayangkan jika ada pemimpin yang bisa memindahkan PKL di Pasar Raya dan Jalan Permindo tanpa ada adu mulut atau adu otot antara PKL dan pamong praja! Pemimpin yang lebih mementingkan pengembangan dan perawatan pasar tradisional dan bukan menambah jumlah mall dikota nya. Warga Solo dan Jakarta sadar mereka butuh pemimpin yang bisa mendengar sekaligus bisa memimpin mereka. Jika harmoni antara pemimpin dan rakyat tercipta, Penjahat-penjahat kecil justru akan terkucilkan dalam suatu lingkungan. Padang butuh pemimpin yang dekat dengan rakyat setiap saat dan bukan hanya ketika kampanye. Padang butuh pemimpin yang mementingkan pemerataan pembangunan disegala bidang dan bukan yang mementingan pembangunan kampung sendiri. Padang tidak butuh pemimpin yang egois dan bertindak menyelamatkan diri sendiri. Padang tidak butuh pemimpin yang mengandalkan pencitraan. Padang butuh pemimpin yang turun bersama rakyatnya untuk membangun kota Padang sesuai nilai – nilai kedaerahan. Padang mempunyai kelebihan banyak dibandingkan kabupaten / kotamadya lainnya di Sumatera Barat. Akses yang dekat ke Airport, Ibukota Provinsi, Padang punya pelabuhan, tempat berdirinya salah satu Universitas terbaik di Sumatera bahkan di Indonesia. Padang sudah punya potensi, Padang belum punya penggerak yang bisa mengarahkan potensinya. Syarat utama yang dibutuhkan calon pemimpin Padang nanti ialah kepercayaan yang didapat dari rakyatnya. Kepercayaan ini didapat dari kepekaan, pengetahuan seorang pemimpin akan kebutuhan dan keinginan warganya. Rakyat sendiri juga harus pintar membedakan pemimpin yang berbulu domba atau pemimpin yang benar-benar ingin berkorban demi rakyat. Rakyat sendiri harus tau ekspektasi apa yang diinginkan dari seorang pemimpin. Apa yang rakyat harapkan seorang pemimpin capai dalam masa pemerintahannya. Tanpa koneksi antara rakyat dan pemimpin mustahil harmoni dan keinginan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dapat tercipta. Sekarang bola ada ditangan rakyat, warga Padang bisa berpartisipasi dalam terciptanya pembangunan masyarakat ideal di kota Padang. warga bisa bertindak sebagai pengawas akan kecurangan-kecurangan pemilu, warga juga bisa bertindak mengawal demokrasi yang sesungguhnya untuk mendapatkan pemimpin yang mendekati criteria warga. Perkiraan saya disamping calon independent, ada maksimal 3 calon yang akan bertarung di pemilihan nantinya. Ini diakibatkan oleh kurang meratanya kursi di DPRD hasil pemilihan legislatif lalu. Partai Demokrat memiliki 17 suara di DPRD, yang mana PD bisa mencalonkan wakil sendiri. Dan ada kemungkinan 8 partai lain yang memiliki suara di DPRD akan melakukan kontrak politik kerjasama dalam pemenangan nantinya. Dalam sejarahnya, Walikota Padang berasal dari Partai, menarik jika ada calon independen yang bisa menyuarakan suara rakyat tanpa terikat akan kebusukan dan kejelekan partai politik. Ten tunya calon ini harus dekat dengan rakyat dan mempunyai program jelas tanpa terikat akan kepentingan pribadi dan hanya terikat akan hutang dengan warga. Percayalah, jika warga sudah cukup dewasa untuk memilih kepada siapa kepercayaan suara politiknya akan diberikan, maka Padang akan bisa mengurangi permasalahanya tanpa menimbulkan permasalahan yang baru. Harmoni dan koneksifitas antara warga dan pemerintah akan sangat dibutuhkan jika ingin menciptakan masyarakat yang damai. Harmoni ini justru akan meningkatkan kerjasama rakyat dan pemerintah untuk menjaga, merawat, melindungi dan mensejahterakan Kota Padang. kedua pihak sadar kebutuhan masing-masing demi kemajuan kota kedepannya. Perubahan yang akan warga rasakan pada 2014-2019 diawali oleh keinginan yang kuat oleh warga kota Padang untuk berubah dan berbenah agar bisa merawat kota Padang secara bersama dan manusiawi. Kritislah warga!
* Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan pandangan kelompok / golongan tertentu
SUGIT SANJAYA ARJON
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 380 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


