Sabtu, 25 Oktober 2014
Peristiwa 27 Juli, Sebuah Pelajaran Bagi Bangsa Ini PDF Cetak Surel
Jumat, 27 Juli 2012 03:07

Hari ini tanggal 27 Juli pada 16 tahun silam adalah hari-hari getir di Jakarta dan terepresentasi ke sluruh tanah air. Hari-hari genting, kondisi politik nasional yang makin buruk bersamaan dengan memburuknya ekonomi di bawah pemerintahan orde baru.

Sebelumnya rakyat yang mulai gerah dengan berbagai tekanan penguasa merasa akan ada hal melegakan tatkala Megawati Soekarnoputri memenangkan Kongres Partai demokrasi Indonesia (PDI). Karena ia dianggap bisa menjadi simbol pembebasan.

Tapi nyatanya kemudian dengan berbgai cara ia dijatuhkan dan dikalahkan. Kubu Soerjadi yang didukung pemerintah naik kembali untuk berkuasa.

Pendukung Mega tentu saja tidak puas. Meski berkali-kali pemerintah menyatakan tidak ikut campur dalam kongres PDI yang memenangkan Soerjadi kembali, tapi itu sulit ditutupi.

Maka puncaknya Sabtu pagi, 27 Juli 1996. Kantor Pusat DPP PDI di jalan Diponegoro, Jakarta, diserbu gerombolan bersenjata; gabungan dari aparat beserta preman yang menggunakan atribut PDI. Beberapa orang yang berada di bangunan itu berhasil melarikan diri melalui atap. Namun sebagian besarnya ditumpas. Mereka yang menyerbu menghendaki kantor PDI itu diserahkan kepada PDI versi Megawati.

Sesungguhnya itu tidak mungkin bisa disebut sebagai sejarah sebuah partai (PDI) saja. Tetapi merupakan bagian dari sejarah bangsa karena sejak itu perlawanan terhadap pengausa yang amat depresif menjadi makin meluas. Semangat untuk membebaskan bangsa dari belenggu kekuasaan yang sudah dinilai overdosis terus membubung dan dicipicu oleh peristiwa 27 Juli itu. Peristiwa berdarah tersebut memiliki dampak yang sangat luas di masyarakat, sehingga tidak dapat dipandang sekedar sebagai sejarah PDIP.

Berbagai orasi yang disampaikan menjelang peristiwa itu di sekitar Jl Diponegoro telah mennajdi berita-berita hebat dalam berbagai halaman suratkabar (meskipun waktu itu memuatnya dengan sangat ekstrahati-hati)

Sayangnya penguasa waktu itu belum menyadari bahwa saat kejatuhan sudah dekat sehingga mereka tetap menjawabnya dengan kekerasan. Mesiu, gas air mata, pentungan, peluru semuanya menyatu di Jl Diponegoro untuk menghambat lajunya emosi rakyat. Ini membuat rakyat jadi makin murka.

Sejak 27 Juli itu pula b erbagai elemen perjuangan mulai berteriak. Dari mulanya di Jakarta, akhirnya meluas samopai ke seluruh ibukota provinsi di Indonesia. Semua menghendaki perubahan. Bahasa menjadi sama ketika itu: Reformasi!

Soeharto memang akhirnya ambruk bersama ordebaru nya, barisan reformis mulai berada di depan dan menggerakkan perlawanan memperjuangkan demokrasi yang lebih luas. Tokoh-tokoh seperti Amien Rais, Megawati, Sri Bintang Pamungkas, Gus Dur maju ke depan.

Gegap gempita suara mereka memang berhasil menggerakan publik memenuhi geduang parlemen mendesak MPR bersidang mengganti Soeharto.

Suara Rakyat Suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei) memang berlaku agaknya. Apa-apa yang dituntut rakyat akhirnya terjadi, Soeharto dengan terpaksa mundur dan menyerahkan jabatannya kepada Habibie.

Suara Rakyat, begitu semua elemen reformasi menyebut tuntutan yang diarahkan kepada pemerintah orde baru. Memang suara rakyat yang sedang di punacaknya itu akhirnya memilih PDI Perjuangan sebagai pemenang Pemilu yang dilaksanakan 1999.

Tapi siapa pemimpin yang dipilih sebagai Presiden? Ternyata tidak Megawati. Justru yang menjadi pilihan rakyat adalah Gus Dur. Gus Dur memang tidak mengendalikan pertai secara langsung seperti Megawati, tapi lewat kekuatan NU dia memang terpilih jadi Presiden. Yang menjadi the king maker adalah Amien Rais. Sedang Mega kalah dalam pemilihan, hanya menduduki kursi Wakil Presiden.

Rakyat badarai setuju saja. Tapi kemudian lagi-lagi ‘pilihan rakyat’ itu dijatuhkan oleh ‘rakyat’. Gus Dur dijatuhkan lagi seperti menjatuhkan Habibie sebelumnya. Megawati maju menggantikan. Ia menjadi Presiden tanpa wakil. Kemudian ketikas diadakan pemilihan lagi pada Pemilu berikutnya Mega kalah. Amien Rais tokoh reformasi itu pun tak juga dipilih rakyat untuk jadi Presiden. Sri Bintang Pamungkas yang amat lantang suaranya menjelang reformasi, tak pula dilirik.

Jadi apa sebenarnya yang diinginkan rakyat?

Tidak banyak: ketenangan dan kedamaian serta kesejahteraan. Ketika zaman orde baru semua pada tertekan, eknomi cukup baik. Reformasi menghendaki agar tidak ada penekanan, lalu diperjuangkan dan berhasil.

Tapi nyatanya rakyat tidak ingin yang hingar bingar, heboh-hebohan, keras-kerasan. Rakyat hanya ingin yang damai, yang tenang, tapi bersih dan bebas dari korupsi. Makanya ketika dicitrakan SBY seperti keinginan rakyat, maka ia dipilih, bahkan sampai dua kali. Tapi akhirnya dicari juga bagaimana caranya mengalahkan SBY atau partainya.

Kita tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan rakyat setelah ini, setelah semua skenario politik dijalankan oleh pemain-pemain politik. Semoga peristiwa 27 Juli itu jadi cemeti, bahwa suara keras dan gelegar pidato belum menjamin.***

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy