Jumat, 24 May 2013
Menyanggah Raja Zalim PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 29 Juli 2012 01:56

Sekarang, jika membaca status di media jejaring sosial, mengikuti seminar maupun diskusi, serta menyimak berbagai aktivitas keseharian, kita tersentak dan tersentuh melihat betapa makin lan­cangnya masyarakat meng­krtik tajam tak terkecuali melecehkan pemimpinnya di depan publik.

Yang juga sering terlihat para demonstran begitu gam­pangnya membakar, mengin­jak-injak dan mampaulahkan foto gubernur, menteri sampai presiden, sekaligus memaki dengan kata-kata kotor dan vulgar.

Adalagi yang melempari pimpinan dengan telur busuk, memboikot kehadi­ran­nya sampai-sampai membakar rumah dinasnya.

Sepertinya pemimpin ti­dak lagi dihormati, begitupun forum para pemimpin berupa acara-acara resmi kenegaraan tidak sakral lagi. Sebagai contoh sidang wakil rakyat yang semestinya tertib dan sopan sering diwarnai kega­duhan.

Hal demikian walaupun belum dapat dikatakan ber­laku masif, tetapi terlihat semakin cendrung ke arah itu.

Padahal pemimpin adalah sosok yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat komunal. Setiap komunitas bahkan komunitas terkecil sekaipun seperti sebuah kelu­arga perlu pimpinan, ko­munitas tanpa pimpinan bagaikan anak ayam kehi­langan induk, ciok-cioki tak terurus, tak punya tempat kemana harus mengadu. Dan pada komunitas tanpa pim­pinan akan berlaku hukum rimba yang mengerikan, dima­na warganya saling terkam menerkam!

Pimpinan adalah orang hebat dan terpandang, primus interpares, memiliki kelebihan dan berwibawa, entah itu didapat karena keturunan, kepandaian, kebaikan, kebe­ranian, kekayaan, kelicikan dan sebagainya.

Malah sejumlah filosof dan ahli tata negara seperti Shangyang menyebut pim­pinan sebagai wakil dewa atau Tuhan di muka bumi, sehingga muncullah negara dengan sistem pemerintahan dimana pemimpinya turun temurun.

Karena begitu hebat dan urgennya keberadaan seorang pemimpin dia dihormati de­ngan berbagai cara seperti dengan mencium tangan, menundukan kepala, berbicara sopan, memberikan penga­walan, berdiri ketika dia lewat, menyambut dengan upacara yang disertai kesenian, “tari galombang” segala, memberi pakaian khusus, menyediakan tempat dan fasilitas yang lebih bagus sekaligus makanan yang lebih enak, memberi hak prerogatif dan sejumlah to­leransi.

Dulu pada kerajaan-kera­jaan yang pernah ada di nusantara ini seorang raja sangat dielu-elukan oleh rakyatnya.

Sehubungan dengan tole­ransi dan elu-elu terhadap pimpinan orang minang me­nga­takan, “Sasampik-sampik balai anak rajo lalu”.

Begitupun semua pera­daban dan agama mengan­jurkan masyarakatnya untuk  menghormati pemimpin. Filo­sof Cina, Composius yang juga dianggap sebagai “nabi” agama Konghucu, sangat mengan­jurkan setiap orang menghor­mati pimpinan dan antar sesama.

Bagi umat Islam menghor­mati pemimpin merupakan sunah rasul. Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dalam sebuah hadist, “Saat nabi Muhammad SAW duduk ber­sa­ma kaum Anshar Madinah tiba-tiba, Saydina Saad, salah seorang pemimpin dan tokoh masyarakat Madinah datang menghampiri mereka, lantas nabi memerintahkan kaum Anshar. Berdirilah untuk menghormati pemimpin kali­an”.

Menurut pandangan Islam pimpinan yang baik dan terhormat itu harus memiliki sifat, Sidiq (benar), Amanah (dipercaya), Fatanah (cerdas) dan Tabligh (menyampaikan).

Kaum politisi menyebut pemimpin sebagai seseorang yang harus menyandang sifat yang hebat-hebat, harus kafa­bel, akseptabel, solutif, ins­piratif, merakyat, gagah berani dan sebagainya.

Esensi tugas pemimpin adalah menyelenggarakan perlindungan, kecerdasan, kesejahteraan dan kehar­monisan hubungan antar umat yang dipimpinnya, se­hing­ga tercapai masyarakat adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo, baldatun thai­batun warabun gafur yang dicita-citakan itu.

Pemimpin dalam menye­lenggarakan tugas mulya tersebut tentu saja harus meghilangkan sifat individu­alistis dan egoistis, harus mendahulukan kepentingan orang banyak  dari pada kepentingan pribadi maupun golongan berdasarkan regulasi yang disepakati.

Memang sangat berat tugas seorang pemimpin, apalagi hari-harinya tersita oleh urusan pelayanan terha­dap rakyat, tetapi tugas berat itu sangat mulya.Karena itu pulalah seorang pemimpin layak mendapat kehormatan.

Namun kenyataannya ba­nyak pemimpin yang dicaci maki, malah disiksa dan dibunuh. Banyak pemimpin yang hidup seperti mendaki gunung, dimana setelah sam­pai di puncak harus mengha­dapi jurang terjal yang harus dituruni dengan tertatih- tatih bahkan sampai  jatuh tunggang langgang dan banyak pula pemimpin yang seperti pesawat naas, take off-nya mulus, landingnya tergelincir.

Betapa jayanya dinasti Louis di Perancis selama berabad-abad memimpin negara itu, namun generasi terakhirnya Louis ke VI harus mengakhiri hidup ditebas  “guilotin” arus dahsyat revolusi. Begitu juga Sah Iran Reza Pahlevi, Ferdinan Marcos, terakhir Gadafi dan Hosni Mubarak mengakhiri kepemimpinannya dengan kondisi menyedihkan karena dilabrak oleh rakyatnya sen­diri.

Tak terkecuali pemimpin di Indonesia juga banyak yang mendapat cercaan dan mengakhiri kepemimpinannya secara mengenaskan, malah ada rakyat yang berpesta pora dan melakukan sujud syukur ketika sang pemimpinnya berhenti memimpin.

Kata sang pujangga dan ulama besar kita, Hamka, biarkan orang ketawa ketika kita lahir dan biarkanlah orang menangis ketika kita meninggal.

Dianalogikan dengan ke­pemimpinan, hendaknya rakyat merasa senang, memuja dan menghormati pemim­pinnya ketika memimpin dan merasa sedih bila pemimpin­nya berhenti memimpin atau meninggal.

Namun hal itu hanya akan terwujud jika pemimpinnya menjalankan tugas dengan baik, sesuai adagium, “raja adil raja disembah raja zalim raja disembah”.

Jadi, dihormati tidaknya seorang pemimpin tergantung kepada pimpinan itu sendiri dan rakyat menilai pemim­pinnya berdasarkan apakah pemimpin telah menjalankan amanah atau tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.

Jangan salahkan sistem demokrasi yang memberikan kebebasan kepada rakyat untuk berekspresi sebagai penyebab melemahnya kehormatan pemimpin.

 

KASRA SCORPI

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy