| Menyanggah Raja Zalim |
|
|
|
| Ditulis oleh Teguh |
| Minggu, 29 Juli 2012 01:56 |
|
Sekarang, jika membaca status di media jejaring sosial, mengikuti seminar maupun diskusi, serta menyimak berbagai aktivitas keseharian, kita tersentak dan tersentuh melihat betapa makin lancangnya masyarakat mengkrtik tajam tak terkecuali melecehkan pemimpinnya di depan publik. Yang juga sering terlihat para demonstran begitu gampangnya membakar, menginjak-injak dan mampaulahkan foto gubernur, menteri sampai presiden, sekaligus memaki dengan kata-kata kotor dan vulgar.Adalagi yang melempari pimpinan dengan telur busuk, memboikot kehadirannya sampai-sampai membakar rumah dinasnya. Sepertinya pemimpin tidak lagi dihormati, begitupun forum para pemimpin berupa acara-acara resmi kenegaraan tidak sakral lagi. Sebagai contoh sidang wakil rakyat yang semestinya tertib dan sopan sering diwarnai kegaduhan. Hal demikian walaupun belum dapat dikatakan berlaku masif, tetapi terlihat semakin cendrung ke arah itu. Padahal pemimpin adalah sosok yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat komunal. Setiap komunitas bahkan komunitas terkecil sekaipun seperti sebuah keluarga perlu pimpinan, komunitas tanpa pimpinan bagaikan anak ayam kehilangan induk, ciok-cioki tak terurus, tak punya tempat kemana harus mengadu. Dan pada komunitas tanpa pimpinan akan berlaku hukum rimba yang mengerikan, dimana warganya saling terkam menerkam! Pimpinan adalah orang hebat dan terpandang, primus interpares, memiliki kelebihan dan berwibawa, entah itu didapat karena keturunan, kepandaian, kebaikan, keberanian, kekayaan, kelicikan dan sebagainya. Malah sejumlah filosof dan ahli tata negara seperti Shangyang menyebut pimpinan sebagai wakil dewa atau Tuhan di muka bumi, sehingga muncullah negara dengan sistem pemerintahan dimana pemimpinya turun temurun. Karena begitu hebat dan urgennya keberadaan seorang pemimpin dia dihormati dengan berbagai cara seperti dengan mencium tangan, menundukan kepala, berbicara sopan, memberikan pengawalan, berdiri ketika dia lewat, menyambut dengan upacara yang disertai kesenian, “tari galombang” segala, memberi pakaian khusus, menyediakan tempat dan fasilitas yang lebih bagus sekaligus makanan yang lebih enak, memberi hak prerogatif dan sejumlah toleransi. Dulu pada kerajaan-kerajaan yang pernah ada di nusantara ini seorang raja sangat dielu-elukan oleh rakyatnya. Sehubungan dengan toleransi dan elu-elu terhadap pimpinan orang minang mengatakan, “Sasampik-sampik balai anak rajo lalu”. Begitupun semua peradaban dan agama menganjurkan masyarakatnya untuk menghormati pemimpin. Filosof Cina, Composius yang juga dianggap sebagai “nabi” agama Konghucu, sangat menganjurkan setiap orang menghormati pimpinan dan antar sesama. Bagi umat Islam menghormati pemimpin merupakan sunah rasul. Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dalam sebuah hadist, “Saat nabi Muhammad SAW duduk bersama kaum Anshar Madinah tiba-tiba, Saydina Saad, salah seorang pemimpin dan tokoh masyarakat Madinah datang menghampiri mereka, lantas nabi memerintahkan kaum Anshar. Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian”. Menurut pandangan Islam pimpinan yang baik dan terhormat itu harus memiliki sifat, Sidiq (benar), Amanah (dipercaya), Fatanah (cerdas) dan Tabligh (menyampaikan). Kaum politisi menyebut pemimpin sebagai seseorang yang harus menyandang sifat yang hebat-hebat, harus kafabel, akseptabel, solutif, inspiratif, merakyat, gagah berani dan sebagainya. Esensi tugas pemimpin adalah menyelenggarakan perlindungan, kecerdasan, kesejahteraan dan keharmonisan hubungan antar umat yang dipimpinnya, sehingga tercapai masyarakat adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo, baldatun thaibatun warabun gafur yang dicita-citakan itu. Pemimpin dalam menyelenggarakan tugas mulya tersebut tentu saja harus meghilangkan sifat individualistis dan egoistis, harus mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan pribadi maupun golongan berdasarkan regulasi yang disepakati. Memang sangat berat tugas seorang pemimpin, apalagi hari-harinya tersita oleh urusan pelayanan terhadap rakyat, tetapi tugas berat itu sangat mulya.Karena itu pulalah seorang pemimpin layak mendapat kehormatan. Namun kenyataannya banyak pemimpin yang dicaci maki, malah disiksa dan dibunuh. Banyak pemimpin yang hidup seperti mendaki gunung, dimana setelah sampai di puncak harus menghadapi jurang terjal yang harus dituruni dengan tertatih- tatih bahkan sampai jatuh tunggang langgang dan banyak pula pemimpin yang seperti pesawat naas, take off-nya mulus, landingnya tergelincir. Betapa jayanya dinasti Louis di Perancis selama berabad-abad memimpin negara itu, namun generasi terakhirnya Louis ke VI harus mengakhiri hidup ditebas “guilotin” arus dahsyat revolusi. Begitu juga Sah Iran Reza Pahlevi, Ferdinan Marcos, terakhir Gadafi dan Hosni Mubarak mengakhiri kepemimpinannya dengan kondisi menyedihkan karena dilabrak oleh rakyatnya sendiri. Tak terkecuali pemimpin di Indonesia juga banyak yang mendapat cercaan dan mengakhiri kepemimpinannya secara mengenaskan, malah ada rakyat yang berpesta pora dan melakukan sujud syukur ketika sang pemimpinnya berhenti memimpin. Kata sang pujangga dan ulama besar kita, Hamka, biarkan orang ketawa ketika kita lahir dan biarkanlah orang menangis ketika kita meninggal. Dianalogikan dengan kepemimpinan, hendaknya rakyat merasa senang, memuja dan menghormati pemimpinnya ketika memimpin dan merasa sedih bila pemimpinnya berhenti memimpin atau meninggal. Namun hal itu hanya akan terwujud jika pemimpinnya menjalankan tugas dengan baik, sesuai adagium, “raja adil raja disembah raja zalim raja disembah”. Jadi, dihormati tidaknya seorang pemimpin tergantung kepada pimpinan itu sendiri dan rakyat menilai pemimpinnya berdasarkan apakah pemimpin telah menjalankan amanah atau tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Jangan salahkan sistem demokrasi yang memberikan kebebasan kepada rakyat untuk berekspresi sebagai penyebab melemahnya kehormatan pemimpin.
KASRA SCORPI
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 252 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI



