Rabu, 19 Juni 2013
Madrasah, Rumah, dan Ziarah PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 05 Agustus 2012 02:11

Madrasah

Semuanya berjalan sendiri-sendiri. Usia. O, be­gi­tulah masa silam. Seperti mujair di jernih sungai, seperti dua burung yang terbang di pagi hari. Bahwasanya diri ini seperti tak habisnya mem­bayang  semacam ketenangan di jalannya yang rimbun itu. Ada yang selalu menggelitik bagai deras air di pincuran tepi bukit membasahi kaki-kaki yang telanjang. Dirimu, oh, perempuan yang tabah itukah? Perempuan yang ke­rap mencium jidat seorang perempuan yang selalu mem­bimbingmu bagai meniti di jembatan lapuk. Meman­dangi wajah ayumu di jenjang kayu setiap pagi yang bersih, pagi kemilau cahaya dari bulir-bulir doanya di bilik seder­hana.

Di jenjang kayu itu, kau senantiasa mengucap salam takzim. Alangkah lapang sebuah jalan panjang di pelupuk matamu. Subuh, kau telah terbangun, sembahyang, mengaji, dan hentakan batu giling itu, juga bunyi kukuran kelapa, betapa kau mengeja usia dengan begitu bersahaja. Menolong emakmu di dapur, kau menurut begitu saja. Tekun. Dan selalu memandang iba wajah emakmu yang se­nan­tiasa dibenamkannya dalam asap tungku itu. Asap tungku yang saban hari me­mang sebuah keniscayaan. Jika emakmu tak sakit, maka segala rempah dan bahan masak yang kau beli di pasar dan kau petik di kebun kecil  belakang rumah, senantiasa diolah menjadi penganan ringan. Pisang goreng, jagung goreng,  dan bakwan, adalah bagian dari usia emakmu. Dan tentunya juga kau. Betapa sangat beruntungnya kau memiliki emak yang sabar dan perhatian: kepandaiannya memasak, pengalaman berju­alan penganan, dan berbagai suluh hidup yang sangat berarti, sungguh membuatmu mafhum menjalani usia. Termasuk tentang sebuah peribahasa, enau memanjat sigai. Tentu kau tak ingin. Ya, tentu tak ingin. Kau mencoba menghargai diri sendiri. Kau punya impian seperti halnya perempuan lain yang meng­geng­gam dua jalan penerang di dadanya.

Kau memang perempuan yang gigih. Kehilangan ayah­mu saat kau menginjak usia tiga belas tahun, memang kehi­langan yang membuatmu sangat sedih. Ada lengang yang memanjang di kedala­man usiamu yang licin itu. Menatap wajah  emak dan tiga adikmu, sungguh ada debar, ada masa-masa meng­hentak yang kau bayang di hari depan yang menelikung tajam. Dengan tas yang kau sandang di punggung, kayuhan sepeda di pagi yang gigil, kau pun berangkat menuju mad­rasah penuh warna itu. Tak lupa penganan ringan yang dimasak emakmu di dapur. Teman-temanmu, dan guru-guru senantiasa membeli penganan yang tak jarang membuatmu menitikkan air mata sendirian di dalam kamarmu yang sempit itu.

***

Aku begitu tertegun mena­tap madrasah itu. Madrasah yang begitu jernih, begitu lapang bagimu untuk mencari diri yang sederhana dan bersahaja. Di sebuah denyut pagi yang penuh semburat cahaya. Saat kabut pagi masih tempias, dan aroma embun yang menyeruak dari sela ilalang, entah kenapa, jalan menuju madrasah itu selalu saja ada sesuatu yang indah berkelindan dalam ingatan. Apakah itu tentang cinta? Ah, memang terlalu jauh jarak kita untuk menyatu dalam sebuah persuaan. Aku hanya membayang wajah ayumu. Begitu jernih, begitu teduh bagi bocah-bocah kecil yang begitu patuh mendengar kata-katamu, saat bermain sekolah-sekolahan yang kau beri nama Alam Takambang Jadi Guru di beranda rumah.

“Ini ibu Budi.”

“Ini ibu Budi…”

“Ini ayah Ani.”

“Ini ayah Ani…”

Di lain waktu.

“Alif.”

“Alif…”

“Ba.”

“Baaa...”

“Ta.”

“Taaa...”

Sungguh, itu membuatku begitu kagum padamu. Dan tentunya juga emakmu. Betapa sangat berhati-hatinya kau meniti jalan yang mulai banyak berlubang, berliku, dan penuh kerikil tajam itu. Tak seperti teman perempuanku yang membuat malu orangtuanya. Ia hamil sembarangan. Ia dihamili seorang jantan yang sangat ia cintai. Sekolahnya menjadi berantakan. Dan tak lama berselang, beredar kabar ia tak malu-malu mengumbar coret di keningnya. Ia begitu betah bersama malam. Bersama aroma alkohol dan rayuan liar di tempat yang begitu suram. Tempat yang sangat-sangat suram.

Rumah

Sungguh pertemuan yang tak akan pernah terlupakan olehku. Wajah ayumu, bahwa di balik wajah itulah kutemukan sebentuk ketenangan jiwa. Penyejuk mata. Ya, betapa dalamnya kumaknai tulang rusukmu bagi hidupku. Di kedalaman matamu, ada sesuatu yang senantiasa kumaknai sebagai musim. Sebuah dunia sunyi dengan segenap alunan indah. Suara kita, keceriaan kita, dan kesedihan yang bersetubuh dalam satu ikatan yang suci itu. Oh, tibalah masa itu bagi kita. Aku berpakaian adat, kau pun berpakaian adat. Betapa meriahnya sebuah pesta sederhana dengan tenda, pelaminan, dan marawa yang terpancang sebagai pertanda sebuah helat.

Aku tentu tak melupakan masa-masa awal kita tinggal satu atap. Ah, begitulah adanya lelaki yang hadir dalam hidupmu. Lelaki yang sederhana. Lelaki yang hanya bisa memberimu sebuah rumah kontrakan dari hasil jerih payah sebagai karyawan kecil di sebuah penginapan. Perabotan yang seadanya, yang di tiap sudut rumah tak ada kemewahan yang bisa membuatmu  bangga. Berbeda jauh dengan kebanggaan istri tetangga yang berkecu­kupan­nya sungguh tak sekalipun kau ceritakan dan keluhkan.

Begitulah, mata ini senan­tiasa berkaca-kaca melihat kesederhanaanmu. Begitu manja, begitu tabah dalam menjalani hidup. Tak jarang, aku pun dengan senang hati menolong pekerjaanmu. Men­cuci piring, menyapu, mema­sak, dan lain sebagainya. Dan di saat-saat seperti itu, kau senantiasa berucap kata-kata romantis padaku. Bahkan katamu, cinta kita lebih romantis dibanding kisah romantis Syamsul Bahri dan Siti Nurbaya. Ah, betapa terharunya diriku. Meskipun aku tak terlalu tahu apa hakikat romantis itu sebenar­nya, tapi begitulah aku me­mak­nai usia. Di balik jendela, kau memandang pagi yang cerah dan burung-burung yang berterbangan mencari makan. Kau mendengus saat kupeluk. Kupeluk perutmu yang mulai membuncit itu.

“Ini anak kita ingin dipe­luk, Kak.” Kau mencoba memantik semangat keaya­hanku. Ya, kita memang calon orangtua dari janin yang kau kandung. Kuelus bulatan perutmu sambil memandang bocah-bocah yang berangkat ke sekolah itu.

“Jika ia hidup dan tumbuh dengan baik, suatu saat  ia akan seperti mereka itu.”

“Ya, Kak. Tapi itu masih lama. Ini saja masih sekitar tiga bulan lagi lahirnya.”

Kau pun tersenyum. Tersenyum dengan melihatkan wajah yang berseri padaku. Wajah yang kehadirannya bagiku seperti birahi hujan pada tanah-tanah gersang dan terbelah. Saat tatapan kita bertemu dengan penuh cinta, pikirku, betapa senangnya Tuhan melihatnya. Selalu diri ini merasa kecil saat melihat rakaat kebahagiaan itu bermekaran. Aku yang berkunjung, dan bertanam di ladangku yang subur.

“Perempuan yang berkacamata dan  manja ini sungguh seperti ikan di air yang jernih. Ikan yang jinak di negeri yang dingin bagai pagi berkabut di tepi-tepi ladang.”

Langsung saja kau mencubit pinggangku dengan lembut setelah mendengar kata-kata itu. Sebuah pujian. Sebuah perumpamaan yang kuberikan padamu.

“Ah, begitu puitis,” katamu sambil melepas cubitan di pinggangku. “Jadi teringat dengan kampung. Dengan emak dan adik-adik.”

Aku pun mafhum. Kampung, dengan segala masa kecilmu yang berlari mengurai usia. Dari musim ke musim, selalu ada saja cerita yang berlompatan dari rumah-rumah mereka itu. Saban hari, di dusun yang dingin dan dipenuhi kabut-kabut putih,  senantiasa terdengar  hentakan batu itu. Hentakan batu para perempuan di dapur saat menggiling segala bumbu rempah, atau  bunyi  mesin kukuran kelapa itu. Bunyi yang timbul tenggelam terdengar dari luar, dari jalanan setapak menuju ladang-ladang lengang yang selalu saja dikunjungi puluhan primata yang mencari makan.

Ya, kita memang kerap saling bercerita tentang masa kecil masing-masing. Bermacam yang kau ceritakan padaku. Tentang musim manggaro, tentang menjajakan penganan, tentang prestasimu di madrasah yang pernah ikut randai.

Lain pula dengan ceritaku. Aku punya banyak cerita untuk kuceritakan padamu. Tentang masa-masa mengembala sapi  di kampung bako, tentang musim layang-layang dan melukah belut, tentang sengketa tanah pusaka antara ibuku dan mamakku, hingga tentang almarhum kakekku yang seorang veteran masa bagolak. Kakekku itu, banyak bercerita tentang masa penjajahan dan masa PRRI padaku. Sampai kepada bahasa Belanda, memang kerap kupancing untuk terucap dari mulut kakek.

***

Kemudian datanglah ma­sa-masa yang penuh ujian itu bagi kita. Harus tahan ban­ting, begitulah orangtua sering berpesan pada anaknya. Kita seperti terasing. Terasing dalam kebahagiaan kita sen­diri (bagaimana pun susah, tetap aku menamainya seba­gai kebahagiaan). Pagi itu, memang merupakan pagi terakhir di rumah kontrakan yang kita huni selama tiga tahun. Kau saat itu, masih sempat meminumkan seteguk teh ke mulutku. Kau men­dengus saat kupeluk perutmu yang mulai membuncit: bakal anak kita yang kedua.

“Maaf, Anda harus mencari tempat tinggal yang lain.” Ah, begitulah geramnya aku terha­dap perkara tanah pusaka (aku teringat dengan ibuku yang tak berdaya melawan mamakku yang semena-me­na). Penuh sengketa dan rawan tumpahan darah. Pemi­lik rumah itu bersengketa dengan sesama keluarga besarnya. Mereka saling perang mulut tentang pembagian tanah pusaka. Hingga rumah kontrakan yang kita tempati pun kena getahnya. Rumah yang harus dirubuhkan untuk dibangun baru.

“Sabar, Sayang.” Aku mencoba menguatkanmu. Aku mencoba meyakinkanmu bahwa ini adalah bagian dari proses hidup.

“Kita akan buka toko grosir sederhana dari tabungan tersisa.” Suaraku terucap lemah saat kau menanyai apa pekerjaanku selepas di-PHK oleh pimpinan penginapan. Kesusahan kita, kesusahan yang menurutku tak seberapa dibanding kesusahan temanku, seorang Pariaman. Karena menikah dengan selain perempuan Pariaman, ia menjadi terasing dari keluarga besarnya. Ia tak mendapat restu kedua orangtuanya. Di Solok, ia hidup serba kekurangan dengan istri yang sangat ia cintai.

Dan lebih menyedihkan lagi dengan apa yang dialami oleh Riman, teman semasa kuliahku. Istrinya menderita lumpuh total. Badan istrinya sulit digerakkan. Sehingga untuk biaya pengobatan, ia luntang-lantung mencari pinjaman karena harta bendanya telah habis terkuras. Tak ada keluarga yang bisa membantu. Mereka sama-sama anak semata wayang. Dan telah ditinggal mati oleh kedua orangtua masing-masing.

Ya, kita pun harus pergi dari rumah kontrakan itu. Kupandangi wajah yang berusaha untuk selalu tabah. Kuseka peluh yang bercucuran di wajahmu. Betapa sangat letihnya tubuhmu ketika mengemasi barang-barang yang akan diangkut  dengan mobil sewaan. Meskipun awalnya aku telah melarangmu, tapi kau malah berkata mesra padaku di balik daun pintu.”Anak kita ini harus diajari bekerja keras, Kak.” Mendengar yang demikian, aku pun mengalah. Ah, wajahmu itu, wajah yang seperti pohon berbuah ranum.

Ziarah

Bagiku, tak ada yang lebih menyedihkan dibanding kesedihan saat kehilangan orang yang sangat kucintai. Begitu cepat, begitu tak kusangka kebahagiaan itu pergi menyisakan luka mendalam. Sebuah pisau hidup yang menusukku tiba-tiba, oh, betapa  begitu ngilunya terasa. Di sore itu, kutatap pipit pinang yang terbang dari sarangnya. Langit mendung, dan gerimis turun dengan lamban. Di bawah pohon kedondong itu, saat menatap nisan yang terbujur kaku, aku pun menangis, Rasya. Sungguh, aku tak akan melupakan masa-masa indah yang kita rawat bersama. Mencintaimu siang dan malam, hingga akhirnya, demam panas yang kau derita itu sungguh keniscayaan dari Tuhan yang tak bisa dimundurkan barang sedetik pun. Di saat anak-anak kita sangat membutuhkan kasih sayangmu, di saat itu pula kau harus pergi begitu cepat menghadap-Nya. Sedih. Sungguh sangat sedih aku membayangkan segenap masa lima tahun denganmu, Rasya. Aku pun mafhum, bahwa dalam hidup itu ada saat pertemuan, dan ada saatnya harus berpisah.

“Mari kita doakan beliau, Kak.” Istriku yang merupakan adikmu yang lebih muda tujuh tahun darimu, tiba-tiba menyentakkan lamunanku. Rasna, betapa di pandam pekuburan kaumnya, ia begitu sedih menatap kubur  kakak yang sangat dicintainya. Dalam kondisi yang tengah hamil muda, ia begitu lembut menuntun tanganku saat menabur mawar di atas kuburmu. Disekanya airmata di pipiku. Betapa ia sangat begitu sayang padamu dan dua anakmu. Juga padaku.  Keseharian dengannya  adalah masa-masa membangun babak kehidupan baru yang penuh warna. Dari rumah kontrakan kita, dari toko grosir kita, dan kolam ikan yang kubuatkan untukmu, kelak akan lahir makna-makna lain di kenyataan berbeda, di sebuah masa yang berbeda. Anak-anak yang tumbuh besar, meski harus memilih jalan hidup antara kampung halaman, dan tanah-tanah rantauan yang penuh liku dan kerikil tajam.

 

 

Cerpen Oleh: BUDI SAPUTRA

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: