Sabtu, 25 May 2013
Pemberontak Suriah Dikhianati Amerika PDF Cetak Surel
Kamis, 09 Agustus 2012 01:03

AL-BAB, HALUAN —Saat revolusi berdarah Suriah terus merenggut nyawa, membunuh dan ketegangan meningkat, sentimen anti-Amerika juga kian mengeras di kalangan rakyat Suriah yang berjuang meng­gulingkan Bashar Al Assad.

Sentimen itu bisa jadi me­nim­bulkan konsekuensi nyata dalam negara itu pascaera Assad seandainya kepe­mim­pinan Bashar benar-benar berakhir nanti.

Amerika, dulu dipandang oposisi Suriah sebagai teman alami dalam perjuangan untuk kebebasan lebih besar melawan rezim yang memiliki hubungan aneh dengan Barat. Namun kini AS secara meningkat dipan­dang curiga dan timbul pen­olakan atas kegagalan mena­warkan bantuan nyata alih-alih dukungan verbal terhadap revol­usi.

Pada hampir 17 bulan sejak Suriah bergabung dalam gera­kan perubahan yang menyapu Timur Tengah tahun lalu, Rakyat Tunisia, Mesir, Libya sudah menyalurkan suara di pemilu, memilih presiden baru dan menerimanya meski dalam situasi transisi demokrasi yang masih kacau.

Kontras dengan Suriah, rakyatnya kian tenggelam dalam konflik yang masih tak kelihatannya ujungnya. “Dan semua yang kita dapatkan hanya kata-kata,” ujar juru bicara dalam salah satu batalion Tentaran Pembebasan Suriah, Yasser Abu Ali, yang berada di kota Al-Bab, 40 kilometer lebih dari timur Aleppo

Para pemberontak menya­takan mereka tak menginginkan campura tangan militer langs­ung dalam bentuk tentara di darat. Namun mereka berulang kali mendesak bantuan zona nonterbang yang juga telah membantu pemberontak men­ggulingkan Moammar Qaddafi di Libya tahun lalu.

Juga, pasokan senjata berat untuk menghadang kekuatan bersenjata rezim yang jauh lebih superior. Bila rezim jatuh, akhir yang diyakini oleh si juru bicara, Rakyat Suriah tidak akan melupakan permintaan bantuan mereka yang tak terjawab. “Amerika akan membayar harga untuk ini,” ujarnya. “Amerika akan kehilangan pertemanan dengan rakyat Suriah dan tidak a­da seseorang yang akan mem­percayai mereka lagi. Kita sudah tidak mempercayai mereka sama sekali,”

Bisa jadi tak sepenuhnya akurat bahwa AS tidak mela­kukan apa pun untuk mem­bantu oposisi Suriah meski juga tak cukup jelas, menurut penga­mat, apa yang biasa dilakukan untuk membantu dan seha­rusnya. Debat terjadi di dalam peme­rintahan Obama mengenai apa­kah mendesak dan cukup bera­lasan untuk melangkah men­dukung langsung para pembe­rontak, mengingat upaya solusi diplomatik lewat PBB telah gagal.

Presiden Obama sudah menginstruksikan bantuan pemberian barang-barang non-mematikan kepada oposisi termasuk peralatan satelit dan komunikasi. Departemen Luar Negeri juga telah mengontak para penentang Assad di Suriah dan mengidentifikasikan sebagai sekutu potensial dan menerima bantuan dan panduan.

Tokoh-tokoh oposisi Suriah mengatakan mereka telah menerima bantuan keuangan untuk membeli persenjataan dari sekutu AS, Arab Saudi dan Qatar. Anggota NATO, Turki juga mem­fasilitasi gerakan pemberontakan di sepanjang 885 kilometer lebih dalam kawasan Turki yang berbatasan dengan Suriah, termasuk, menurut pengakuan Suriah, pengiriman senjata.

Namun bantuan itu di­pandang hanya skala kecil, lambat dan kecil saat diban­dingkan dengan tuntutan men­desak memperluas mdan tempur yang kini berada di penjuru negara. Terlebih ketika situasi kian memburuk setelah peme­rintah mulai menggunakan kekuatan jet-jet tempurnya untuk menggempur rakyat sendiri.

Iran  Menjamin

Sementara itu  pemerintah  Iran menjamin kepada Presiden Bashar Al Assad bahwa Suriah adalah mitra penting dalam aliansi anti-Israel kawasan itu. Pemberontakan yang menu­rutnya didukung musuh-musuh bersama kedua negara dipas­tikan tak akan membuat kedua negara pecah kongsi. “Iran tidak akan mengizinkan poros per­lawanan itu, yang menganggap Suriah sebagai bagian penting pecah,” kata televisi pemerintah Suriah, Selasa, yang mengutip pernyataan Saeed Jalili, ketua Dewan Keamanan Agung Iran kepada Bashar.

Pertemuan Jalili dengan Bashar, yang ditayangkan sta­siun televisi pemerintah Suriah, adalah gambar pertama presiden itu yang ditayangkan dalam dua pekan. Bashar terlihat di televisi itu hanya dua kali sejak sera­ngan bom 18 Juli yang mene­waskan empat anggota peme­rintahnya.

Saeed Jalili seperti dikutip kantor berita SANA juga menga­takan kalau Presiden Bashar pada Selasa (7/8) berikrar akan menggempur pasukan oposisi dan menumpas pemberontakan 17 bulan terhadapnya. Bashar juga berjanji akan mem­ber­sihkan negara yang dipimpinnya itu dari “pembangkang pem­bangkang.”  “Rakyat Suriah dan pemerintah mereka berikrar akan mem­bersihkan negara dari pem­bangkang-pembang­kang dan menggempur mereka tanpa henti,” kata Saeed Jalili. (h/rol)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: