| Masjid Dibakar di AS |
|
|
|
| Kamis, 09 Agustus 2012 01:04 | |||
|
MUSLIM TAK TERANCAM WASHINGTON, HALUAN-Sebuah Masjid tempat minoritas Muslim beribadah di pinggiran kota Missouri, Amerika Setikat (AS), telah ludes dibakar. Namun belum lagi diketahui siapa atau kelompok mana pelaku pembakaran ini. Masjid di Kota Joplin, Missouri tersebut , diduga menjadi korban pembakaran oleh orang tidak dikenal dalam selang waktu kurang dari satu hari setelah penembakan mematikan di kuil Sikh di Wisconsin.Berdasarkan keterangan dari Biro Investigasi Federal (FBI), insiden yang masih belum bisa disimpulkan sebagai bagian dari serangan kebencian itu terjadi Senin dini hari pada pukul 03.40 waktu setempat, tepat satu jam sebelum kaum Muslim melaksanakan ibadah Shalat Subuh. “Masjid tersebut benar-benar hancur,” ujar juru bicara kantor Sheriff Jasper County, Sharon Rhine. Sementara itu sebanyak 30 anggota Biro Penyelidik Federal (FBI) dikerahkan untuk menyelidiki penyebab kebakaran masjid. Hingga Rabu (8/8) , belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran yang menghabiskan bangunan masjid yang bernama Islamic Society of Joplin atau masjid Arson di Joplin, negara bagian Missouri tersebut. FBI dan pengelola masjid itu tidak mau berspekulasi tentang penyebab kebakaran, meski sebulan lalu sempat terjadi upaya pembakaran. Sebelumnya masjid tersebut pernah mendapatkan serangan serupa pada tanggal 4 Juli 2012 lalu; seorang pelaku melemparkan bom molotov ke bagian atap masjid tersebut tapi hanya menyebabkan kerusakan kecil. Pelaku pelemparan bom molotov tersebut juga sudah diketahui identitasnya dari rekaman kamera pengintai yang ada di lokasi, saat ini pihak FBI juga menawarkan hadiah 50.000 dolar AS untuk informasi yang mengarah pada penangkapan pelaku di balik insiden Juli, tapi hingga saat ini belum ada orang yang ditangkap. Kepala FBI Kansas City Michael Kaste mengatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan di masjid yang dibangun pada tahun 2007 itu. Namun, menurut komunitas Muslim lokal, yang berjumlah sekitar 125 orang masjid tersebut kerap mendapatkan serangan sejak didirikan pada tahun 2007. “Kami kerap kali diserang,” kata mantan anggota dewan masjid, Navid Zaidi (47). “Papan nama kami dibakar, kotak surat kami beberapa kali dihancurkan. Bahkan papan nama kami pernah ditembaki,” tambahnya. Zaidi mengatakan beruntung bahwa kebakaran tersebut terjadi pada pagi hari, ketika tak seorang pun ada di sana meskipun bulan Ramadhan. Zaidi juga mengeluhkan bahwa tidak ada tersangka yang ditanggkap sejak serangan 4 Juli lalu. “Selama 27 tahun saya di AS, saya belum pernah melihat adanya pelaku yang ditangkap,” katanya. Pada hari Ahad, 5 Agustus 2012 dalam serangan penembakan di Kuil Sikh Wisconsin dinyatakan bahwa seorang pria bersenjata menembak dan membunuh enam orang sebelum dia ditembak oleh seorang polisi. “Kami berharap ini adalah kejadian yang terisolasi, tapi tiba-tiba mereka telah menjadi lebih teratur dan lebih berani,” tambah Zaidi. Kongres Islam Amerika, organisasi advokasi Muslim yang berkantor pusat di Washington, Boston dan di seluruh kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, mengutuk serangan yang terjadi pada kuil Sikh di Wisconsin dan masjid di Missouri. “Komunitas beragama ini datang ke negeri ini mencari demokrasi dan kebebasan dan berharap untuk beribadah seperti yang mereka inginkan,” kata direktur kongres tersebut Zainab As-Suwaij. Tak Terancam? Dari Jakarta dilaporkan bahwa Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel menegaskan, tidak ada ancaman bagi Muslim di Amerika Serikat untuk menjalankan ibadahnya, menyusul terbakarnya masjid Arson di Joplin itu.”Tidak ada ancaman. Warga Muslim di Amerika tetap mendapat perlindungan sesuai undang-undang yang berlaku di Amerika,” kata Dubes di Jakarta, Rabu (8/8). Dubes membantah bahwa hal itu merupakan bentuk ancaman terhadap kaum Muslim yang merupakan minoritas di AS. Menurut Dubes, pihak berwenang di AS akan terus berupaya untuk membongkar kasusnya dan jika tersangka pelaku pembakaran terhadap masjid tertangkap maka akan mendapat hukuman sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku. Klaim tidak adanya ancaman terhadap minoritas muslim AS itu juga ditegaskan oleh Sidney Jones, pengamat masalah Indonesia dari International Crisis Group (ICG). “Di Amerika masih ada sikap percaya yang kuat kalau pelaku kejahatan akan dihukum, termasuk dalam kasus pembakaran masjid di Missouri ini,” kata peneliti senior ICG itu berdalih. Pembakaran Masjid Joplin diduga dapat menimbulkan kekhawatiran bagi komunitas Muslim, menyusul sejumlah kekerasan terhadap tempat ibadah yang meningkat di Amerika Serikat akhir-akhir ini. Aksi pembakaran masjid dianggap merupakan bentuk dari prasangka negatif dan sikap fanatik yang berlebihan. Masjid Arson di Joplin, wilayah barat Missouri, Senin (6/8) sekitar pukul 03.30 waktu setempat habis terbakar. Ini merupakan kebakaran kedua yang melanda Masjid Joplin dalam satu bulan ini. Diduga masjid sengaja dibakar pihak-pihak tertentu. Sebelumnya, harian Telegraph menuliskan, kejadian itu diduga terkait dengan percobaan pembakaran pada Sabtu pekan lalu (4/8). Saat itu, seseorang yang tidak dikenal melempar bom molotov ke atap masjid dan menyebabkan kerusakan kecil. Wajah tersangka pelempar molotov sempat terekam kamera pengintai di masjid tersebut. Menurut FBI, kedua peristiwa itu terjadi di tengah malam dan masih terus menunggu hasil penyelidikan asal-muasal api, apakah ada korelasi antara kedua kejadian itu. FBI yang turun tangan melakukan investigasi menawarkan imbalan uang sekitar 15.000 dolar AS untuk informasi yang berkaitan dengan insiden itu. Sementara itu, The Council on American-Islamic Relations (CAIR), sebuah lembaga umat Muslim terkemuka di AS, menawarkan imbalan sebesar 10 ribu dolar AS atau setara Rp94,6 juta bagi siapapun yang bisa memberi petunjuk atau yang tahu siapa yang bertanggung jawab atas kebakaran masjid di Joplin tersebut. (h/rol/voa)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 132 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


