| Ratusan Masjid Rohingya Dibakar |
|
|
|
| Sabtu, 11 Agustus 2012 01:51 | |||
|
HACKER SERANG MYANMAR KARACHI, HALUAN — Pemimpin Organisasi Solidaritas Rohingya, Muhammad Imran Saeed mengecam pemerintah Myanmar karena berlarut-larutnya penyelesaian konflik antaretnis di negara bagian Rakhine. Akibat konflik berkepanjangan itu, ratusan masjid telah menjadi target pembakaran. “Pemerintah Myanmar ambil bagian dalam upaya menghapuskan etnis Rohingya. Sedikitnya 135 masjid telah dihancurleburkan oleh etnis Budha yang didukung pasukan pemerintah,” kata Imran Saeed seperti dilansir The News International, Jumat (10/8).Ia juga mengutuk sikap pemerintah Bangladesh terhadap penderitaan para pengungsi Rohingya. Menurut dia, tidak semestinya Bangladesh mengambil lagkah punitif dengan menginstruksikan tembak di tempat kepada tiap pengungsi Rohingya yang menyeberang perbatasan. “Semestinya Bangladesh bersimpati terhadap saudara Muslim mereka yang teraniaya,” tandasnya. Dukungan Hacker Dalam pada itu, diskriminasi yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap Mulim Rohingya mendapat kecaman dari berbagai kalangan, termasuk para hacker di dunia maya. Sejumlah hacker dilaporkan meretas situs Kementerian Informasi Myanmar dan menyebarkan pesan untuk menyudahi pembantaian atas Muslim Rohingya. Dalam pesan yang ditulis dalam Bahasa Inggris itu, para hacker mengancam akan melakukan hal yang lebih merusak jika pemerintah Myanmar tidak segera mencari solusi atas konflik antara etnis Budha Rakhine dan Muslim Rohingya di negara bagian Arakan. “Orang-orang Muslim itu punya pesan perdamaian bagi dunia, tapi Anda malah membunuhi mereka. Jika Anda terus membunuhi para Muslim itu, kami akan mengincar seluruh pemeluk Budha di seluruh dunia… dan negara Anda akan menjadi neraka,” tulis para hacker dalam pesannya seperti dilansir United Press International (UPI), Jumat (10/8). Dalam pesan tersebut, para hacker juga menampilkan foto berisi mayat-mayat hangus terbakar di lokasi yang tidak diketahui. Akibat serangan hacker ini, website pemerintah Myanmar juga sempat tidak dapat beroperasi selama beberapa jam. PMI Pertama Sementara itu Palang Merah Indonesia (PMI) menjadi lembaga pertama dari Indonesia yang berhasil memasuki Myanmar. Delegasi PMI dipimpin langsung Ketua Umum PMI Jusuf Kalla (JK), diterima langsung Presiden Myanmar, U Thein Sein. Rilis PMI , Jumat (10/8) menyebutkan, Presiden Myanmar mempersilakan JK dan rombongan melihat langsung kondisi yang terjadi di Provinsi Rakhine. “Sabtu besok, silakan meninjau ke Rakhine,” ujar Sein dalam pertemuannya dengan JK di Istana Kepresidenan Myanmar di Nay Pyi Taw. Pemerintah Myanmar mengapresiasi upaya Ketua umum PMI dalam membantu menyelesaikan konflik Rohingya. JK tiba di Myanmar Jumat (10/8), dan diterima Presiden Myanmar. Ikut dalam rombongan JK, antara lain juru runding Perundingan Helsinski, Hamid Awaluddin, Dubes RI untuk Myanmar S Sumarsono, dan Asisten Sekjen OKI Atta Abdul Mannan, serta Presiden Bulan Sabit Merah Qatar Mohamed Ghanim Al-Maadheed. Saat pertemuan tersebut terungkap, pemerintah Myanmar menyesalkan adanya pemberitaan yang mengatakan terjadi konflik etnis yang berujung pada konflik agama. Menurut mereka, pertikaian terjadi akibat aksi kriminal yang terjadi di dalam masyarakat yang berujung pada konflik komunal. “Karena itu kita mengingatkan kepada pemerintah Myanmar untuk segera menyelesaikan konflik komunal ini sebelum mengarah ke konflik agama,” kata Jusuf Kalla usai pertemuan itu. Kalla menyebutkan, selama ini simpang siur pemberitaan konflik ini terjadi akibat adanya anggapan pemerintah Myanmar yang belum terbuka. Masyarakat internasional kemudian menjadi salah tafsir atas apa yang terjadi di provinsi tersebut. “Karena itu, Presiden Myanmar meminta kita untuk melihat langsung apa yang terjadi di sana. Rencananya besok kita akan pergi ke Sitwee salah satu kota di Rakhine. Dan kita merupakan salah satu rombongan pertama yang diperbolehkan masuk ke sana,” ujar JK. Terpisah, Direktur Human Right Watch (HRW) Phil Robertson memperkirakan beberapa bulan ke depan akan semakin banyak pengungsi Rohingya yang mencari perlindungan di Indonesia apabila semakin buruknya situasi di Myanmar. “Bila keadaan di Arakan tidak mengalami perubahan beberapa bulan ke depan, akan dipastikan semakin banyak perahu Rohingya yang tiba di Indonesia mencari perlindungan,” ungkapnya, di kampus Universita Indonesia, Jumat. Menurutnya, Pemerintah Indonesia juga wajib untuk menolong para pengungsi Rohingya yang meminta perlindungan. “Pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menerima orang Rohingya, menyediakan penampungan sementara, dan pendampingan,” paparnya. Selain itu, Ia pun mengkritik Pemerintah Bangladesh yang dianggap tidak mau menerima kaum Rohingya untuk mencari perlindungan. Bangladesh beralasan tidak memiliki dana untuk menolong para pengungsi Rohingya tersebut. Padahal Bangladesh menerima berbagai bantuan dari berbagai elemen sampai dengan 33 juta dollar AS. “Pemerintah Bangladesh sama saja dengan pemerintah Myanmar. Pemerintah Bangladesh terus-menerus menyangkal bahwa Perdana Menteri Bangladesh telah memaksa orang Rohingya kembali ke laut,” jelasnya. HRW juga mengharapkan Indonesia untuk mendesak ASEAN agar mau berbicara secara terbuka untuk mengakhiri konflik sektarian di Myammar. “Terpenting adalah jangan ada standar ganda karena di Indonesia kekerasan sektarian juga terjadi terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiyah,” harapnya. Phil pun menyayangkan tindakan tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang dianggap tidak berbuat apapun dengan kekerasan yang menimpa kaum Rohingya. “Aung San Suu Kyi melewatkan berbagai kesempatan untuk berbicara mengenai masalah ini,” sesal Phil. (h/rol/kcm)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 198 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


