Minggu, 26 May 2013
Jasa Penukaran Uang Kian Marak PDF Cetak Surel
Selasa, 14 Agustus 2012 02:11

PADANG, HALUAN —Mendekati Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah, jasa penukaran uang receh semakin ramai mamadati di sejumlah ka­wasan di Kota Padang. Hal ini terlihat di sepanjang jalan Pro­klamasi, Jalan Samudera, Jalan Jalan Terandam, Jalan Nipah dan masih banyak lagi lokasi strategis yang digunakan oleh para pelaku bisnis jasa penukaran uang receh ini.

Pantauan Haluan, sepekan mendekati Idul Fitri kali ini, jumlah pelaku bisanis jasa penu­karan uang receh tersebut menga­lami peningkatan hingga tiga kali lipat dibandingkan diawal Ra­madan 1433 Hijriah lalu.

Umumnya, mereka biasanya tinggal memasarkan saja dan mendapatkan 10 persen dari yang ditukarkan. Mereka memperoleh lima persen dan lima persen untuk yang punya modal. “Ya, lumayan keuntungan 5 persen dari yang ditukarkan. Rata-rata setiap hari 300 ribu sampai dengan 400 ribu rupiah,” ucap Lia, 43 salah seorang pelaku jasa penukaran uang receh dikawasan Jalan Nipah kepada Haluan, Senin (13/8).

Dijelaskan wanita yang bia­sanya bekerja sebagai penjual rempah-rempah di Pasar Raya Padang ini, umumnya ketika sudah mendekati H-2, permintaan uang receh meningkat dibanding hari-hari biasanya. “Saya menja­jakan sampai H-1, karena biasa­nya banyak yang membutuhkan uang receh untuk dibagikan kepada keluarganya saat lebaran tiba. Tetapi lebaran tahun ini diper­kirakan meningkat diban­dingkan tahun lalu,” jelasnya.

Lain halnya yang dikatakan oleh Vino, 22, penyedia jasa penukaran uang pecahan lainnya yang mang­kal di kawasan Jalan Samudera Padang. Dirinya sudah membuka layanan penukaran uang receh itu sejak awal Rama­dan untuk meman­faatkan pe­luang bisnis.

“Di minggu pertama dan kedua Ramadan memang belum terlalu ramai. Tetapi memasuki minggu ketiga dan ke empat Ramadan kali ini, jumlah orang yang  menukarkan uang sudah semakin ramai, mulai pecahan Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, dan Rp20.000,” katanya.

Pemuda asal Bukittinggi yang sehari-hari masih terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Swasta di Kota Padang ini  mengaku modal awal yang digunakannya untuk jasa penukaran uang itu hanya dua juta rupiah, dan keuntungan sekitar lima persen dari modal.

Uang-uang pecahan yang dijaja­kannya itu, kata dia, sudah dikemas dalam paket Rp100 ribu dan Rp200 ribu sehingga mereka yang ingin menukarkan uang bisa langsung memilih paket sesuai pecahan uang yang diinginkan.

“Setiap paket uang pecahan itu dikenai ongkos jasa sebesar Rp5.000. Jadi, misalnya ada orang yang ingin menukar uang pecahan sebesar Rp100 ribu, mereka harus membayar dengan uang sebesar Rp105.000,” katanya.

Ditanya antisipasi uang palsu yang dibayarkan konsumen, Vino mengaku tidak khawatir karena bisa membedakan uang palsu dengan asli dengan cara melihat ciri-ciri fisik dan memegangnya secara langsung. (h/hel)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy