Kamis, 23 May 2013
SBY akan Sulit Mengelak PDF Cetak Surel
Selasa, 14 Agustus 2012 02:38

SKANDAL CENTURY

JAKARTA, HALUAN — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai tak bisa lagi membantah keterlibatannya dalam kasus dana talangan (bailout) Bank Century. Setelah mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar mengungkapnya ke publik.

Pernyataan tersebut disam­paikan mantan Anggota DPR RI, M Misbakhun di Jakarta, Minggu  malam. Misbakhun sempat diajukan ke pengadilan, namun divonis bebas oleh Mahkamah Agung (MA) karena tidak terbukti memalsukan dokumen dalam kasus Bank Century.

“Statement Antasari tersebut membuka kebohongan Presiden SBY dalam pidato 4 Maret 2010, dalam menanggapi hasil Opsi C Pansus Century DPR. Perihal tidak pernah ada rapat yang melibatkan dirinya dalam hal membahas bailout,” tegasnya.

Seperti diketahui, Presiden SBY dalam pidato tanggal 4 Maret 2010, menyatakan, “Sekali lagi, di saat pengambilan keputu­san (bailout) itu, saya sedang berada di luar negeri. Saya memang tidak dimintai keputu­san dan arahan. Saya juga tidak memberikan instruksi atas pengambilan kebijakan tentang ihwal itu, antara lain karena pengambilan keputusan KSSK berdasarkan Perpu No 4/2008 memang tidak memerlukan keterlibatan presiden,” ucap Misbakhun mengutip pidato SBY.

Menurutnya, kalau dikaitkan dengan tiga surat laporan Sri Mulyani, sebagai Ketua KSSK, soal Bailout Bank Century, makin jelas soal kebohongan yang hendak ditutup-tutupi tersebut.

Surat-surat tersebut adalah surat S-01/KSSK.01/2008 tanggal 25 November 2008, SR-02/KSSK.001/2009 tanggal 4 Februari 2009, dan SR-36/KMK.01/2009 tanggal 29 Agustus 2009.

Dalam ketiga surat SMI kepada presiden SBY tersebut, imbuhnya, termuat penggunaan frasa yang tidak umum digunakan dalam mekanisme surat menyu­rat yang resmi kenegaraan antara menteri kepada presiden. Frasa itu adalah, “Sebagaimana Bapak Presiden maklum”.

Kemudian, dalam telekonfe­ren­si 13 November 2008, pukul 22.05 WIB sampai dengan 23.59 WIB, antara KSSK di Jakarta dengan Sri Mulyani yang sedang di Amerika Serikat, sangat jelas disebutkan bahwa Sri Mulyani melaporkan kepada Presiden perihal bailout Bank Century tersebut. “Jadi, berdasarkan data dan fakta yang ada, sangat sulit diingkari bahwa peran Presiden SBY tidak ada dalam proses bailout tersebut,” tegas Misba­khun.

Ditegaskan, kalau presiden masih membantah dengan segala cara dan argumentasi, maka data-data tersebut cukup menunjuk­kan sebagai bukti bahwa ada kebohongan yang ditutup-tutupi.

Tak Diundang

Terkait dengan pertemuan itu, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku tidak mengetahui adanya pertemuan yang juga dihadiri petinggi Kepolisian RI dan Kejaksaan Agung itu. “Saya tidak tahu karena saya tidak hadir,” kata Jusuf Kalla di Jakarta, Senin.

Dia tidak diundang dalam pertemuan itu. “Ada hal-hal tertentu saya tidak hadir atau tidak diundang hadir,” ujarnya.

Mengenai agenda pertemuan, Kalla pun mengaku tidak tahu. “Saya tidak tahu pertemuan apa yang dibilang Antasari itu. Tidak ada laporannya sama saya,” ujarnya.

Dalam sebuah wawancara, Antasari mengaku diundang ke Istana Negara. Saat itu Antasari masih menjabat sebagai Ketua KPK. Menurut Antasari, rapat itu membahas mengenai skenario pencairan dana Rp6,7 triliun untuk Bank Century.

Dalam rapat yang dipimpin Presiden SBY dihadiri pula oleh Boediono, Kapolri Bambang Hendarso Danuri, Jaksa Agung Hendarman Supandji, Menko Polhukam Widodo AS, Menkeu Sri Mulyani, Mensesneg Hatta Rajasa, Juru Bicara Kepresi­denan Andi Mallarangeng, dan Denny Indrayana yang saat itu menjabat sebagai Staf Khusus Presiden.

Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan bisa saja memang ada rapat yang dimaksud Antasari. Namun demikian, dia menilai tidak mungkin rapat itu membahas skenario bailout. “Saya kira itu tidak benar,” kata Julian di Kantor Presiden.

Sementara Menteri Koordina­tor Perekonomian Hatta Rajasa mengakui ada pertemuan di Istana Negara seperti yang diungkapkan Antasari itu. Na­mun, Hatta membantah perte­mu­an itu membahas soal Indover dan Bank Century. “Tak pernah bicara soal Indover. Saya Menses­neg (waktu itu), saya tahu,” kata Hatta.

Menurut Hatta, pertemuan tersebut dilakukan sebelum terjadi kasus Bank Century. “Oktober. Belum ada Century. Kan Century ada di November,” kata Hatta. (h/inh/vvn)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: