| Merdeka dari Korupsi, Mungkinkah? |
|
|
|
| Rabu, 15 Agustus 2012 02:47 | |||
|
Persoalan utama bangsa ini pasca kemerdekaan adalah masalah moral. Dan masalah moral tersebut yang paling mendominasi adalah pengkhianatan terhadap amanah rakyat berupa korupsi, manipulasi, kolusi, dan nepotisme. Kalau perjuangan sebelum kemerdekaan adalah perjuangan yang sangat nyata karena musuh yang dihadapi jelas, mudah diidentifikasi, dan sangat berbeda budaya dan ras mereka, maka perjuangan pascakemerdekaan sungguh sulit karena musuh yang dihadapi absurd, sulit diidentifikasi dan saudara sendiri.Banyak alasan yang bisa kita berikan mengapa perjuangan untuk kesejahteraan rakyat dan mengentaskan keterpurukan bangsa ini dari kedhuafaan adalah perjuangan yang sungguh sulit. Namun semangat dan optimisme harus selalu kita nyalakan karena hampir semua negara yang baru merdeka menghadapi problem yang sama. Kita tentu tidak adil memperbandingkan diri dengan negara-negara Eropa Barat dan Amerika yang telah ratusan tahun membangun fondasi kebangsaan mereka dan kini menempati peringkat yang bagus dalam hal pemberantasan korupsi. Sedangkan negeri ini baru 67 tahun merdeka. Ibarat memperbandingkan bayi dengan orang tua. Jelas tidak proporsional. Tentu berbagai hal yang menjadi penyakit bangsa-bangsa yang sedang mengalami pertumbuhan banyak ditemui di negeri ini dan yang paling krusial adalah korupsi yang merajalela dan sudah menjadi budaya. Kalau kita perbandingkan dengan semangat dan pengorbanan para pahlawan serta founding father yang begitu berjasa menghantarkan negeri ini ke alam kemerdekaan, maka ada beberapa hal yang bisa kita jadikan sebagai fighting spirit, agar anak bangsa ini bisa juga menumbuhkan semangat berkorban tanpa pamrih bagi keharuman nama Ibu Pertiwi. Pertama, sebagian besar para pejuang kemerdekaan adalah manusia-manusia yang berjiwa besar, ikhlas berkorban, dan tidak pernah mementingkan diri sendiri apalagi kelompok dan keluarganya. Tinta emas mereka goreskan dalam pengabdian mereka untuk Ibu Pertiwi nihil pamrih, dengan fokus dan tujuan yang jelas, negeri ini terbebas dari penindasan penjajah yang tidak berperikemanusiaan. Perhatikan bagaimana kehidupan pribadi para pejuang itu, yang jauh dari cukup, penuh pengorbanan dan terlunta-lunta dari penjara ke penjara. Kita patut menyimak kembali pribadi-pribadi emas seperti Imam Bonjol, Diponegoro, Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Thamrin dan banyak yang lainnya. Pribadi-pribadi yang menghiasi negeri ini dengan karakter, perilaku dan perjuangan mereka yang sangat mengharukan dan mengagumkan. Lalu kenapa ketika saat mengisi kemerdekaan seperti zaman ini kita kehilangan elan vital sebagai bangsa yang besar dan mempunyai jiwa kejuangan yang tangguh? Yang kita hadapi saat ini adalah musuh yang absurd tapi ada. Saudara sendiri yang tidak mempunyai mentalitas pengorbanan dan kejuangan. Mereka yang tanpa merasa bersalah menggarong uang rakyat untuk perut dan kepentingan diri sendiri. Ironisnya semangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara kini sudah bertukar dengan semangat menguras harta dan kekayaan negara untuk kepentingan diri dan golongan. Cermatilah bagaimana angka indeks persepsi korupsi negeri ini yang terus berdiri kokoh di lima negara terkorup di dunia. Dan ini secara “konsisten” dipertahankan dari waktu ke waktu. Sungguh terlalu. Sejatinya pada saat sekaranglah perjuangan konkret dibutuhkan agar musuh-musuh dalam selimut bisa dienyahkan sehingga kesejahteraan dan kemakmuran negeri ini bukan hanya dinikmati oleh sekelompok orang yang culas, tapi merata untuk seluruh rakyat. Kedua, semangat untuk berkorban lebih mendominasi karena tingginya ghirah ruhani dan spirit kejuangan. Sehingga prinsip para pejuang dahulu adalah kalau untuk menikmati hasil maka mereka paling belakang asal rakyat lebih dulu menikmati. Sedangkan yang sekarang terjadi hal sebaliknya. Para pejuang sebelum kemerdekaan adalah mereka yang fokus dan bersungguh-sungguh untuk menjadikan negeri ini merdeka. Sehingga kemerdekaan adalah tujuan bersama, cita-cita tertinggi yang diperjuangkan dengan seluruh jiwa raga. Bisakah kita generasi sekarang meneladani semangat pengorbanan seperti itu untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di zaman sekarang? Para petinggi dan elit mempunyai jiwa pengorbanan yang tinggi sehingga mereka adalah orang yang paling belakangan menikmati hasil perjuangan. Pemimpin sejati adalah mereka yang menderita paling awal demi perjuangannya dan menikmati hasil paling akhir. Semangat itu nyaris lenyap kalau boleh dikatakan tidak ada pada zaman sekarang. Para pemimpin berlomba-lomba menumpuk harta dan kekayaan kalau perlu menyikat kiri kanan. Sedangkan rakyat menderita dan hidup berkekurangan. Elit politik dan pejabat menampakkan kehidupan yang sering menyakiti hati rakyat, dengan kekayaan melimpah puluhan sampai ratusan milyar rupiah. Sedangkan rakyat untuk makan sekali dua sehari saja sulitnya minta ampun. Semangat berkorban untuk rakyat nyaris hilang diganti dengan pamrih berlebihan kepada harta dan takhta. Pemimpin di semua level jarang yang kita saksikan hidup sederhana. Mereka lebih banyak mempertontonkan hidup berlebih-lebihan tanpa merasa bersalah dengan kondisi rakyatnya. Inilah yang menyebabkan tujuan bersama kesejahteraan dan kemakmuran untuk rakyat sulit direalisir dan musuh bersama yaitu korupsi, kolusi, dan nepotisme sulit diberantas. Ketiga, kebersamaan, persaudaraan, dan saling mempersilakan begitu kentara pada zaman sebelum kemerdekaan. Para pejuang bahu membahu tanpa melihat latar belakang, asal-usul, kepercayaan, dan etnis untuk satu tujuan yaitu terbebasnya negeri ini dari keangkara murkaan penjajah. Semuanya saling mendorong, saling menyemangati, bersatu dan saling isi mengisi untuk tujuan yang satu. Tapi sekarang terjadi hal yang sebaliknya, saling jegal, saling merasa paling berhak, dan saling merasa paling pintar. Perhatikan bagaimana rebutan kasus antara KPK dan Polri dalam kasus alat simulator SIM. Sudah tidak ada lagi keinginan untuk memberantas musuh bersama, tapi keinginan untuk melindungi kejahatan bersama. Sejatinya kita sebagai bangsa yang besar dengan jejak rekam mempesona dalam perjuangan menghadapi musuh semodern apa pun harusnya kembali kepada khittah mendasar sebagai bangsa pejuang. Marilah kita hunus kembali pedang perjuangan untuk membabat musuh bersama yaitu korupsi dan penyalah gunaan kekuasaan di segala lini. Kita adalah anak bangsa yang terlahir sebagai pejuang yang tak pernah gentar membela yang benar. Semili meter pun kebenaran harus kita tegakkan untuk kejayaan dan keharuman Ibu Pertiwi. Bangsa kita adalah bangsa yang selalu condong kepada keadilan dan kebenaran sesuai dengan nafas proklamasi, ideologi negara dan UUD 1945. Kita yakin kita bukanlah bangsa kerdil yang bisa menyerah dengan mudah dalam pertempuran demi pertempuran melawan kebatilan dan pengkhianatan. Kalau dulu musuh bersama kita adalah penjajah yang tidak berperikemanusiaan, maka sekarang harus kita kibarkan bendera perang. Musuh bersama kita adalah para koruptor dan manipulator walau mereka adalah teman atau saudara sendiri. Perjuangan panjang melawan korupsi adalah tugas yang sangat berat setelah kemerdekaan. Sama beratnya dengan perjuangan panjang yang dilakukan oleh pendahulu kita untuk merebut kemerdekaan. Tapi kita yakin sebagai anak bangsa yang berjiwa pejuang dan dengan semangat yang telah diwarisi oleh para founding father seperti diurai di atas, lambat laun koruptor dan perbuatan korupsi akan menggali kuburnya sendiri di negeri ini. Dirgahayu bangsaku!
IHSAN M RUSLI
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 288 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


