Sabtu, 25 Oktober 2014
Karakter Muttaqin PDF Cetak Surel
Jumat, 24 Agustus 2012 01:48

Ramadan telah berlalu. Kita pun memasuki bulan Syawal yang berarti bulan peningkatan. Mesti ada pe­ningkatan kualitas iman dan ibadah setelah melalui pen­didikan Ramadan selama sebulan penuh. Dengan begitu karakter muttaqin benar-benar dapat diraih.

Karakter muttaqin (orang bertakwa) menjadi salah satu target yang harus dicapai setelah mengikuti program Ramadan. Ramadan ibarat sekolah, inputnya adalah orang beriman (mukmin), prosesnya seperangkat aturan Allah berupa perintah fardhu dan sunnah serta larangan haram dan makruh, se­dang­kan out come-nya adalah menjadi orang bertakwa (mut­taqin).

Namun tidak semua orang yang mengikuti proses di bulan Ramadan mampu me­miliki karkater muttaqin. Hanya orang-orang yang ikh­las menjalani proses tersebut lalu mempertahankan amaliah yang telah dibina selama Ramadan di bulan-bulan berikutnyalah yang akan mampu meraih posisi takwa.

Lalu siapakah orang yang berkarakter Muttaqin itu, dan bagaimana cara meraih dan mempertahankannya pas­caRamadan?

Kita memang tidak bisa mengetahui secara pasti siapa di antara manusia yang ber­takwa. Bahkan Rasulullah SAW pernah menegaskan at-taqwa ha huna (takwa itu disini) seraya menunjuk da­danya hingga tiga kali.

Meskipun demikian, kita dapat memahami karakter muttaqin itu melalui pesan-pesan al-Qur’an di beberapa ayat terkait dengan taqwa. Di antaranya adalah surat adz-Dzariyat/51 ayat 15-19. Dalam ayat ini, setidaknya ada tiga karakter muttaqin.

Pertama, beribadah di waktu malam. Orang yang bertakwa adalah orang yang memanfaatkan waktu malam untuk beribadah kepada Al lah. Padahal di waktu itu, pada umumnya manusia lelap tertidur.

Semakin tinggi tingkat kesulitan dalam menjalankan suatu ibadah, maka semakin tinggi pula nilainya di hadapan Allah. Karena itu, ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali memasuki kota Yatsrib atau Madinah, beliau me­nyeru: Wahai manusia, tebar­kanlah salam, berikanlah makan, sambunglah sila­turahim dan shalatlah kalian pada saat manusia tidur malam, maka kalian akan masuk surga dengan tenang. (HR. Ibnu Majah, dan Hakim).

Adapun waktu yang paling tinggi nilainya adalah seper­tiga akhir malam. Sabdanya: Shalat paling baik setelah salat wajib adalah salat di sepertiga malam terakhir. (Sahih Muslim).

Beribadah di waktu m­alam menunjukkan bahwa orang bertakwa itu adalah rajin beribadah. Jangankan di waktu siang hari, di waktu malam saat kebanyakan orang beristirahat pun ia rajin beribadah. Jangankan ibadah fardhu, ibadah sunnat pun ia laksanakan.

Karena itu, Ramadan telah mendidik kita untuk terbiasa beribadah di malam hari. Setelah shalat Isya kita me­lak­sanakan shalat tarawih. Ketika sahur juga mengajak kita untuk terbiasa bangun di sepertiga akhir malam se­hingga di samping sahur, kita laksanakan shalat ta­hajud.

Kedua, senantiasa beri­stighfar kepada Allah di waktu sahur (menjelang terbit fajar). Orang yang bertakwa juga memanfaatkan waktu sahur atau sepertiga akhir malam itu untuk beristighfar kepada Allah.

Beristighfar berarti meng­akui kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat dan menyesalinya. Karena me­nyesal, ia pun berupaya untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Dalam surat Ali Imran ayat 135 ditegaskan pula bahwa karakter orang ber­takwa itu selalu meminta ampun dan menghentikan kesalahan yang pernah ia lakukan.

Menarik kisah yang pernah dialami oleh Nabi Daud a.s. Dikisahkan bahwa Nabi Daud a.s. pernah bersalah melihat aurat perempuan. Kemudian ia menyesal dan memohon ampun kepada Allah dengan cara sujud selama 40 hari dengan deraian air mata.

Allah pun mengampuni dosanya. Meskipun dosanya telah diampuni, Nabi Daud a.s. tetap berupaya bagai­mana caranya agar ia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia pun bermunajat kepada Allah agar kesa­lahannya dituliskan di telapak tangan kanannya. Permintaan ini dikabulkan Allah.

Setelah itu, setiap Nabi Daud a.s. melihat telapak tangannya, maka terlihatlah kesalahan yang pernah ia lakukan sambil menangis mengingat dosa tersebut. Bahkan disebutkan bahwa suatu hari dibawakan kepada Nabi Daud gelas yang me­ngan­dungi 2/3 air untuk di­minum, apabila Nabi Daud meletakkan gelas pada bibir­nya maka terpandanglah beliau akan kesalahan yang tercatat di tangan beliau. Lalu menangislah Nabi Daud se­hingga gelas tadi dipenuhi dengan air matanya.

Begitulah karakter mut­taqin, ia tidak pernah berhenti untuk menyadari dan me­nyesali kesalahan yang per­nah ia perbuat sehingga lisannya senantiasa ber­is­tighfar. Dan waktu yang paling efektif digunakan untuk mere­nungi kesalahan itu adalah di waktu sahur, terutama setelah shalat tahajud. Di waktu itu pula, kalimat-kalimat istighfar dapat meng­getarkan jiwa sehingga takut pada Allah jika perilakunya melakukan perbuatan tercela.

Ketiga, peduli terhadap orang miskin. Orang yang bertakwa memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Selama Ramadan, kita telah dilatih untuk berlapar-lapar. Salah satu hikmahnya adalah meng­ingatkan kita akan pen­de­ritaan orang miskin yang selalu diliputi oleh rasa lapar.

Begitu pula perintah Allah kepada kita untuk membayar zakat fitrah, juga mendidik kita untuk selalu berbagi kepada orang miskin.

Jika karakter muttaqin telah dimiliki, maka segala bentuk perbuatan yang me­miskinkan orang lain atau menyakiti orang miskin tidak akan ia lakukan. Ia akan tampil sebagai pribadi yang anti terhadap penindasan. Ia lawan praktik korupsi. Ia juga menolak segala bentuk riba.

Sebaliknya, ia menjadi pribadi yang dermawan, jauh dari sifat bakhir. Keder­mawanannya dibuktikan de­ngan keikhlasan hati dalam berinfaq, baik ketika lapang maupun waktu sempit (Qs. Ali Imran/3: 134).

Ketiga ciri-ciri orang ber­takwa di atas telah dibina selama Ramadan. jika kita menginginkan bagian dari orang-orang bertakwa itu, maka ketiga ciri di atas harus tetap dilaksanakan bahkan ditingkatkan. Terutama di bulan Syawal ini.

Selama sebulan kita telah dibiasakan untuk bangun sahur. Maka pascaRamadan, kebiasaan itu jangan di­hentikan.

Di luar Ramadan, kita harus mendirikan shalat malam walaupun hanya dua rakaat. Meskipun ia terasa berat bagi orang yang belum mampu membiasakannya, akan tetapi manfaat dari tahajud demikian besar, baik dalam kesehatan jasmani dan rohani. Allah juga menegaskan dalam al-Qur’an bahwa mer­eka akan diangkat pada de­rajat yang terpuji (Qs. Al-Isra/17: 79).

Setelah shalat malam, biasakan pula beristighfarlah kepada Allah. Ingatlah semua kesalahan yang kita lakukan baik dalam sehari terakhir, sebulan terakhir, atau sejak kita aqil baligh.

Kesalahan itu bisa berupa kesalahan kepada Allah atau juga kesalahan yang terkait dengan sesama manusia. Dosa yang kita lakukan bisa saja tergolong besar atau kecil, zahir atau batin, sengaja atau tersalah.

Begitu pula kepedulian sosial, harus tetap diting­katkan. Paling tidak, kita tidak terlibat dalam per­buatan yang menzalimi dan menindas orang lain.

Bangsa kita demikian parahnya akibat kasus ko­rupsi. Praktik korupsi jelas termasuk perbuatan yang menindas orang lain. Jika seseorang telah berpuasa selama sebulan tetapi masih juga terlibat dalam praktik-praktik korupsi, maka sia-sialah amalam puasanya. Karakter muttaqin hanya sebatas impian dan tak akan pernah jadi kenyataan.

Oleh karena itu, dibu­tuhkan komitmen dan kon­sistensi kita dalam beribadah. Jika sebulan kita mampu menahan diri dari ke­mak­siatan serta mampu men­jalankan ibadah siang dan malam, maka kebaikan-kebai­kan yang telah dilakukan itu pun jangan dihentikan.

Semoga Allah beri ke­kuatan pada kita untuk me­raih dan mempertahankan posisi taqwa sehingga kita memiliki karkater muttaqin. Amin.

 

 

MUHAMMAD KOSIM

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy