Minggu, 19 May 2013
Bunga Bangkai di Kebun Warga PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Kamis, 30 Agustus 2012 02:40

Masyarakat Nagari Lubuk Gadang Selatan, Sangir, Solok Selatan buncah dengan dite­mukannya bunga bangkai di belakang rumah Budi Irwan di tengah kebun karet masyarakat. Ratusan warga datang silih berganti menyaksikan bunga tersebut, dan semakin sore semakin ramai.

Budi Irwan (34), penemu bunga bangkai itu mengatakan kepada Haluan, Rabu (29/8), bunga bangkai ini ditemukan kemarin dan didatangi oleh pengunjung yang sedang duduk santai di kedai sup.

“Melihat rombongan di hari pertama ditemukan bunga ini, maka minat dan rasa ingin tahu masyarakat sangat tinggi, maka kita bersihkan lokasi dan menyediakan fasilitas bagi yang ingin berkunjung,” ujarnya.

Salah seorang pengunjung lokal, Layla (17), pelajar sekolah menengah di Solsel datang sekadar berfoto dengan teman-temannya.

“Kami mendengar informasi ada bunga raflesia di tempat ini, tetapi setelah dilihat, ternyata bunga bangkai, kami berfoto-foto untuk kenang-kenangan,” kata Layla dengan wajah penuh senyum.

Selain pengunjung lokal, pe­ngunjung asing, berkebangsaan Belanda, kebetulan lewat menuju Kerinci, Glenn dan Maroilen me­nyem­patkan diri untuk singgah ke lokasi ini. Ia mengaku kagum dan pena­saran karena baru kali ini melihat bunga bangkai Amor­phopallus titannum yang cukup besar.

Bupati Solok Selatan H Muzni Zakaria juga tidak kalah peduli. Ia menyempatkan diri untuk meli­hat bunga bangkai itu.

“Tanah Solok Selatan ini me­mang banyak mengandung keka­yaan alam, termasuk bunga langka, yang sudah sering dite­mukan di Solok Selatan. Oleh karena itu, masyarakat Solok Selatan perlu mensyukurinya dengan menjaga, memelihara, dan memanfaatkan kekayaan alam yang ada,” ucap Bupati.

Sementara itu, Kepala TNKS STPN Wilayah IV Solok Selatan M Zainudin melalui Polisi Hutan pelaksana Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Rika Putra Abas mengatakan, Amorphopallus titan­num yang ditemukan di Solok Selatan ini tumbuh sekitar 555 meter dari permukaan laut dengan kemiringan 60-65 derajat dan berjarak sekitar 15 kilometer dari Taman Nasional Kerinci Sablat, dan hanya berjarak 100 meter dari jalan lintas Padang-Kerinci.

Penemuan bunga bangkai jenis amorphopallus titannum yang baru berusia sekitar satu minggu itu, merupakan jenis paling tinggi ditemukan.

“Amorphopallus titannum dapat tumbuh sampai umur 30 hari, setelah bunga mekar maka sisa umurnya diperkirakan hanya 10 hari lagi. Setelah mekar, maka bunga bangkai akan layu. Bunga bangkai jenis Amorphopallus titan­num ini merupakan jenis langka dan jarang ditemukan,” kata Rika Putra Abas kepada Haluan.

Bunga bangkai berbeda dengan bunga rafflesia. Jenis Amor­pho­pallus titannum hanya endemik yang tumbuh di kawasan hutan Sumatera. Berbeda dengan rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat di budi daya. Bila rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri. Selain itu, bunga bangkai tumbuh menju­lang tinggi sedangkan bunga raffle­sia yang hanya melebar.

Bunga bangkai Amorphopallus titannum ini setelah mekar berwar­na krem pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang. Mahkotanya berwarna merah keungu-unguan sekilas bentuknya saat mekar terlihat seperti bunga terompet. Amorphophallus titanium dapat mencapai sekitar 4 m dengan diameter sekitar 1,5 m. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga ini seperti pada rafflesia berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk. (Laporan Icol Dianto)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy