Kamis, 02 Oktober 2014
Duduk di Kafe, Menatap Secangkir Kopi PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 16 September 2012 02:01

TITA duduk di kafe pinggir kota. Ia menatap secangkir kopi hitam yang dipesan lima menit lalu. Uap panas keluar dari dalam cangkir, berikut aroma manis yang sulit ia gambarkan seperti apa. Dirasakan saja, barangkali itu nasihat paling ia ingat untuk sesuatu yang sulit dijelaskan (ah, apa kabar si pemberi nasihat itu?). Lalu ia merasakannya saja. Segalanya, mengenai kopi. Juga peristiwa-peristiwa di luar cangkir itu; kegembiraan, hati yang buncah, kesedihan-kesedihan, musim hujan yang kadang jahat di kebun kopi, atau perpisahan yang membuat ia tergores.

***

TERGORES. Tita berhenti lama pada kata itu seakan ia ingin kembali meneliti berapa lapis kulitnya terkelupas. Termasuk menakar kapan ia akan sembuh, meninggalkan jejakkah atau tidak. Memang ia hanya tergores, bukan terluka parah akibat tertusuk benda tajam, namun justru itu yang membuatnya tidak berdaya.  Mirip sekali rasanya ketika seseorang diserang rasa kosong. Bukankah perasaan kosong bukan serangan yang luar biasa, namun anehnya banyak orang dibuat lumpuh dan terkunci di sana tanpa bisa melepaskan diri?

Dan kini aku sudah tergores, kata Tita pelan. Ia sedang mengadu pada dirinya sendiri. Tentang perasaannya yang gelap—warna yang kelak akan membuat ia murung seumur hidup. Tidak bisa berbahagia lagi. Tidak bisa menjadi Tita yang dulu. Segala yang berlalu memang tidak mungkin kembali, namun setidaknya ia ingin tetap memiliki senyum manis madu itu. Senyum yang kata kawan-kawannya bisa membentuk pipi Tita sebulat kol. Menyadari itu semua, seketika Tita merasa badannya dingin. Ia meraba-raba wajahnya yang beku. Ia mendongak ke atas. Kipas angin berputar kencang di atas kepalanya, membuat ia tambah menggigil. “Seharusnya di tempat dingin begini tidak perlu dipasang kipas angin,” gerutu Tita persis seseorang yang sedang mengingau.

Dipanggilnya pelayan dengan lambaian tangan.

***

UAP panas dari cangkir kopi mulai menipis ketika pelayan datang untuk mematikan kipas angin, juga bertanya apa Tita ingin memesan makanan. Tita pesan pisang bakar.

Pakai parutan keju? tanya pelayan.

Tita menggeleng. Ia tak suka keju.

“Taburan ceres?” pelayan bertanya lagi.

“Terserah saja,” ujar Tita. Sesungguhnya ia tak terlalu peduli tentang pisang bakar itu, kecuali soal keju yang aromanya tak ia sukai.

Pelayan itu segera berlalu. Pindah ke meja lain. Sepasang anak muda sedang pacaran. Sedang merayakan cinta yang mungkin saja tinggal hari ini mereka nikmati. Siapa yang tahu tentang hari esok atau lusa, pikir Tita sedikit sinis.

Beberapa menit lagi pelayan itu akan kembali. Mengusiknya. Ah, terlampau kasar jika dikatakan begitu. Tita cuma tak suka ada orang mengacaukan suasana yang ia inginkan. Bukankah ia datang ke kafe tidak untuk minum atau memesan makanan. Ia berencana duduk saja di sana, memesan satu cangkir kopi, dan menatap cangkir itu berjam-jam (atau mungkin semalaman. Sendirian. Tanpa menginginkan teman). Namun ia telah memesan pisang bakar karena merasa tak enak, sekaligus agar pelayan itu segera pergi dari hadapannya—membiarkan ia berada dalam rencana semula, dalam kebiasaan yang akhir-akhir ini disenanginya: duduk di kafe, menatap secangkir kopi.

***

TITA tak menghitung sudah berapa kafe yang ia datangi. Ia tak pernah ingin menghitung apa-apa, termasuk berapa kepergian yang terjadi dalam hidupnya, atau berapa Senin yang telah berlalu sejak ia melepaskan seseorang. Ia mau bergembira dengan caranya sendiri. Ia ingin bersedih dengan cara yang ia sukai. Dan dalam cangkir kopi, ia menemukan keduanya. Semua yang ingin ia rasa atau pikirkan. Semua yang mau ia telan atau tumpahkan.

Lalu kopi. Kopi. Rasa pahit dan aroma manis yang menggoda. Kepulan asap tipis yang mengambang di udara. Membentuk kelopak-kelopak putih samar yang ia bayangkan sebagai pecahan hatinya yang terbang dan tidak kembali. Meninggalkan ia yang akan bersedih sekian lama lagi.

Ditempelkannya telapak tangan di atas cangkir kopi. Kehangatan yang lembut segera menjalar—mengingatkan ia pada perasaannya saat melihat bunga kopi; aroma yang wangi dan warna putih yang bersinar-sinar.

Kopi, bagi Tita, memang tidak sesederhana orang yang menganggapnya sebagai minuman kegemaran di pagi atau sore hari. Ia lahir sebagai anak petani kopi. Ia tentu gembira untuk itu, sebab ia senang menjadi seorang peri bunga kopi yang beterbangan di antara batang-batang, lalu sesekali menyembul ke atas, menerobos rapatnya daun-daun kopi. Hanya saja, jangan pikir kalau ia sedang memainkan dongeng anak tuan tanah di Amerika Latin yang sering muncul di film atau drama berlatar perkebunan kopi. Sama sekali tidak demikian. Namun begitu tentu pula ia tidak lahir dalam keluarga yang menyimpan kesedihan mendalam seperti kehidupan para buruh tani di film atau drama yang sama.

Dari kecil Tita memang sudah belajar meresapi tiap bunga, tiap daun, tiap biji kopi dengan perasaannya yang memiliki dinding amat tipis. Serupa tisu. Mudah berlubang bila kena percikan air, hingga apapun itu bisa dengan leluasa masuk ke sana. Ka­rena itu pula ia bisa merasakan hal-hal kecil, merasakan sesuatu yang barangkali tak menggugah orang lain, juga merasakan bahwa secangkir kopi tak hanya sekadar segelas air panas yang dicampur satu sendok kopi dan satu (dua) sendok gula. Ia bisa menyelaminya lebih daripada itu. Termasuk bau keringat yang bergumpal-gumpal di baju buruh musiman yang menyerbu kebun mereka di masa panen. Termasuk begitu banyak kesedihan yang ingin ia lupakan. Termasuk ibu yang pergi meninggalkan perkebunan pada suatu hari, hingga Tita dibawa nenek ke kota dan tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke perkebunan bertahun-tahun lamanya.

“Kenapa ibu pergi?” tanya Tita pada nenek.

“Ibumu tidak suka menjadi petani. Ia senang hidup di kota.”

“Aku tak percaya ibu tak suka bunga kopi.”

“Ibumu pasti suka bunga kopi, tapi ia tak suka jadi petani.”

“Aku suka bunga kopi dan aku ingin jadi petani.”

“Jarang ada orang yang ingin jadi petani, Tita. Ingat itu.”

“Tapi aku ingin jadi peri bunga kopi.”

“Kau akan sama dengan ibumu. Kau tak akan menyukai tanah perkebunan sekuat bapakmu.”

“Ya, ya.” gumam Tita sambil perlahan mengangkat telapak tangan dari mulut cangkir. “Kenyataannya aku sekarang memang hidup di kota dengan segala keruwetannya, dengan segala yang membuatku sakit.” Telapak tangan Tita lembab. Ada titik-titik air yang menempel. Aroma manis kopi menguar. Tita menghirup udara pekat itu dalam-dalam. Lama. Selalu begitu yang ia lakukan berulang-ulang. Ya, Tita memang sedang ingin menuruti hatinya. Kebetulan sekali hatinya menginginkan ia duduk di kafe, menatap secangkir kopi. Sangat sederhana, bukan?

***

TAPI kemudian keinginan hati yang sederhana ini sering memang menjadi tak sederhana lagi setelah lewat satu jam Tita duduk sendirian, menatap cangkir kopi yang telah dingin. Tita disergap sepi. Sepi kadang membuatnya ingin nangis. Kalau sudah begitu pada akhirnya Tita menginginkan seseorang me­nungguinya, mengelus bahu atau kepalanya sampai ia kehabisan air mata untuk saat itu. Seseorang yang Tita inginkan tentu pula tak sembarangan, namun  dia yang tak mungkin datang lagi padanya. Dia yang telah ia lepas (atau melepaskannya?).

Tita meringis. Benar sekali, sekarang ia betul-betul kesepian. Sekarang ia nangis. Dan sekarang ia merasa sangat sendirian—bahkan ia merasa tengah berada di tengah kebun kopi yang begitu luas, di pagi hari yang masih berkabut, di mana para petani belum turun ke laman, hingga perasaannya begitu asing. Sekarang ia sungguh-sungguh menginginkan seseorang. Dia yang sudah lama tak berkabar. Dia yang tidak pernah lagi mengejutkan Tita dengan pesan pendek satu kata: kangen.

Duduk di kafe, menatap secangkir kopi. Benarkah hanya sekadar itu yang Tita inginkan?

***

MUNGKIN tidak, gumam Tita. Ia mengeringkan matanya dengan jari-jari tangan. Matanya menatap cangkir kopi, sendu. Aku mencari dia, tapi aku tidak ingin menemukannya.

Tita mengingat kembali malam perpisahan itu, ketika ia duduk berhadapan dengan dia di sebuah kafe yang telah sepi. Mereka memesan kopi dan hanya menatapnya, sampai kopi itu dingin.

“Aku pamit,” kata dia.

Tita tidak berkata apa-apa. Ia sudah tahu kalau mereka pasti tiba pada keputusan demikian. Lelaki itu sudah bertunangan satu tahun lalu. Mereka terlampau keras kepala memang, beberapa bulan ini, mengira kalau cinta tidak setiap saat datang, dan mereka mesti mengambil kesempatan itu sejak pertama kali mata mereka saling menatap di sebuah kafe, dilanjutkan minum kopi berdua di kafe-kafe berikutnya. Kenyataannya, mereka salah. Mereka tidak tangguh, mereka hanya terlalu banyak bermimpi dan terlalu takut terbangun.

“Aku mencintaimu. Tapi kita tidak bisa lagi melanjutkan ini.” Seseorang itu memandang cangkir kopi, seakan-akan bola mata Tita ada di badan cangkir itu.

“Pergilah,” suara Tita pelan, “Aku melepaskan kamu.”

“Ya,” ujar dia.

“Ya,” kata Tita emosional. Ia menggigit bibir, keras. Bibirnya perih. Darah meleleh pelan dari bibir itu. Tita makin keras menggigit. Lama-lama darah tidak lagi meleleh, tapi menetes, seperti gerimis satu-satu. Ia akan membiarkan gerimis dari bibir itu untuk beberapa lama. Sampai ia mengerti bahwa luka itu tidak berhubungan dengan seberapa kasar cara seseorang menyakiti, tapi  selembut apa gerimis itu jatuh, lantas melubangi perasaannya.

“Jangan seperti ini,” kata dia, “aku bisa mati kalau kau begini.”

“Kau bahkan sudah membunuhku lebih dulu,” Tita berkata.

“Kau membuatku sangat takut. Sungguh, jangan begini.”

Tetapi Tita terus menggigiti bibirnya. Bahkan ketika seseorang itu tidak lagi duduk di hadapannya karena tidak tahan. Setelah lelah, Tita tertidur di kafe yang buka 24 jam itu. Sisa darah di bibirnya lengket. Mengering. Bibir yang luka itu tersenyum. Wajahnya terlihat damai, serupa hamparan dandelion. Inikah luka yang sempurna? Saat seseorang tak merasakan nyeri lagi dengan lubang di hatinya.

***

TITA masih duduk di kafe, menatap secangkir kopi yang telah benar-benar dingin. Ia menegakkan punggungnya yang mulai pegal. Kemudian ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ramai sekali. Ia tidak menyadari sejak kapan kafe ini mulai penuh. Hei, Tita juga baru ingat kalau pesanan pisang bakar belum diantar oleh pelayan. Pelayan itu pasti lupa. Ini biasa terjadi. Untung saja Tita tidak menginginkannya. Jadi ia tidak perlu ribut.

Ah, berapa kafe lagi yang akan ia kunjungi, sampai ia memutuskan berhenti? Entahlah. Tita tidak terlalu yakin untuk berhenti dalam waktu dekat ini. Ia mau menghabiskan beberapa waktu lagi, duduk di berbagai kafe, menatap secangkir kopi, dari sore hingga lewat tengah malam, atau bahkan tertidur di sana. Ia akan terus mencari seseorang tanpa ingin menemukannya. (*)

 

Cerpen Oleh : YETTI A.KA

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: