Minggu, 20 April 2014
Karya Figuratif Keramik PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 16 September 2012 02:05

TITIK awal karya figuratif keramik saya bermula dari lingkungan masa kecil yang penuh kekayaan alam, dan tragedy bom atom yang saya alami ketika menginjak kelas 2 Sekolah Dasar.

Sejak zaman primitif, manusia selalu menciptakan sesuatu. Ketika proses menciptakan sesuatu, manusia tidak berpikir ten­tang masa depan. Mere­ka ha­nya memikirkan saat itu saja, dan terdapat “saya” dalam diri me­reka. Men­ciptakan sesuatu adalah kegiatan alami bagi manusia, dan tidak (mesti) memiliki tujuan tertentu. Seni bukanlah pendidikan, tidak juga menjadi penunjuk jalan bagi manusia. Seni bukanlah moral dan filsafat. Seni tidak mengejar kebenaran, dan tentu saja seni bukanlah agama.

Seni seperti kehidupan manusia, tidak memiliki bentuk tetap dan tidak terbatas. Barangkali bisa dikatakan bahwa seni juga meliputi bagian yang diangap tidak berguna dalam kehidupan manusia. Seni memen­tingkan hal yang tidak berguna dalam kehidupan manusia. Seni membutuhkan semua hal, mulai dari kebingungan, kegembiraan, kesedihan dan penderitaan. Seni adalah hal mengenai apa pun, tidak ada yang “pasti” dalam seni dan seni lahir dari chaos (kekacauan).

Hal yang paling penting bagi seni adalah kekusutan hubungan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan alam.

Seni bukanlah sistem melainkan inspirasi. Bukan teori dan bukan sebuah penjelasan. Perasaan haru pada keindahan, kekaguman akan sesuatu hal itulah yang dimaksud dengan keindahan. Sedangkan emosi manusia yang tersembunyi dalam karya saya lahirkan dari perasaan saya yang terkesan atas hidup.

Seni tidak memiliki jalan pintas. Seni selalu bingung, berputar-putar dan terkesan boros. Melihat dan merasakan pentingnya hal tersebut dalam hidup, itulah yang disebut dengan seni.

Seni Tak Boleh Arogan

Mencintai manusia harus mampu memeluk kekuatan, kelemahan dan kesedihan manu­sia. Mementingkan pola hidup sendiri, mencoba hidup saat ini, menikmati menikmati proses menciptakan sesuatu.

Merindukan keindahan dan kegembiraan mengekspresikan diri sendiri. Keindahan ruang dan waktu dalam memurnikan rasa cinta dan benci manusia, meru­pakan ekspre­si dari keindahan alam.

Keanehan hubungan antara ma­nusia dengan manusia ada­lah sisi misterius kekusutan hubu­ngan antarmanusia. Kein­dahan dari hubungan antarma­nusia yang saling mengikat dan kusut, menjadi dasar dari keingi­nan saya bermain-main dalam proses berkarya.

Karya figuratif keramik saya adalah seni patung kontemporer dengan menggunakan seni kera­mik. Namun karya saya bukanlah karya yang abstrak. Karya saya mengejar imaji konkret dengan bentuk tiga dimensi. Tema yang saya kejar adalah perihal ma­nusia, alam yang dipandang dari perspektif manuis, angkasa, dan alam semesta yang menyentuh pera­saan saya. Selain itu, ada pula kegembiraan ketika menciptakan sesuatu, sehingga karya saya tidak dapat disebut sebagai karya abstrak murni. Karya saya lebih tepat dinamakan sebagai karya konkret abstrak­tif.

Cinta Manusia

Secara konsisten, tema penciptaan karya saya berkisar tentang cinta manusia. Sekarang saya sangat mencin­tai manusia yang pada dasarnya lemah dan tidak dapat dipercayai. Sebenarnya, apakah cinta manusia itu? Manusia tak bisa hidup sendirian. Demi hidup manusia mesti saling berhu­bungan. Cinta manusia barangkali adalah rasa sayang dan kasihan. Saat ini, saya ingin mempuisikan dan menitipkan perasaan saya kepada manusia yang menyayangi tanah liat.

Andai manusia memandang kembali ke masa lalu, melihat sekarang, bermimpi, memperkirakan masa depan, maka dari situlah proses penciptaan lahir. Seni lahir.

“Memikirkan” dan “membuat” karya belum tentu hal yang sama bagi saya. Memikirkan tentang sesuatu adalah “kemungkinan” yang tidak terbatas dan bebas. Trial and error, dan kadang tersesat. Tetapi saya sendiri, meski tersesat dan salah jalan, tidak begitu peduli. Bagi saya tidak ada yang “harus”, seperti harus pergi ke tempat tertentu, dan tidak ada yang harus dipenuhi.

Karena tertarik pada banyak hal maka saya mencoba mengikuti semua, apa saja, dan saya menerima menjadi diri sendiri. Karena saya merasa kagum pada hal kecil maka saya mencurahkan pada semua hal kecil juga. Secara garis besar saya tidak bisa merapikan sesuatu. Oleh karena itu, dalam hati saya dalam kondisi kacau, saya hidup kacau dalam chaos. Saya tidak hidup dengan perencanaan yang rapi sehingga tidak ada jalan utama dan jalan alternatif.

Saya mengagumi pola pikir Budha, mengandalkan alam semesta. Saya berharap saya ada bukan karena ego tetapi hidup karena alam semesta. Tidak ada yang dapat membuktikan keberadaan saya. Karena proses reinkanasi berputar-putar, akhirnya saya berada di masa kini, sebagai nasib. Kemudian karya lahir, dan dari situlah saya ada.

Indonesia

Pada tahun 1988, saya berangkat ke Indonesia untuk survei selama 20 hari. Berangkat dari Jakarta menuju Purwokerto, Bandung, Cirebon, Parung Jaya, Plered, naik bus antarkota. Saya singgah di berbagai tempat untuk mengmpulkan informasi, hingga akhirnya sampai Yogyakarta, kemudian ke Jawa Tengah, dan berkunjung ke desa Pager Jurang di Bayat, Klaten. Di desa ini saya menjumpai alat putaran miring yang akhirnya menjadi bagian dari kehidupan saya setelah itu. Seusai itu saya naik bus menuju ke Bali, melanjutkan survei desa gerabah.

Saya ingin memperkenalkan sisi menarik gerabah bakar jerami tradisional Indonesia kepada penggemar keramik di Jepang. Maka, pada tahun 1991 saya menangani Festival Keramik Dunia di Shigaraki, Prefektur Shiga, Jepang. Saya mengundang 7 perajin keramik yang menguasai berbagai teknik dari berbagai desa keramik tradisional di Indonesia. Mereka diundang untuk menunjuk­kan teknik putaran miring, teknik gerabah pukul yang mungkin sama dengan Jepang di zaman Yayoi. Selain itu, Indonesia memiliki teknik bakar jerami yang bisa dikatakan sempurna.

Tahun 1998, saya dapat menulis buku berjudul “Gerabah Bakar Indonesia” yang diterbitkan oleh Kyoto Shoin. Buku itu berisi catatan tentang pengetahuan gerabah bakar, dan memperkenalkan tentang makanan di Indonesia. Pada 1999, saya tinggal di Indonesia selama 1 tahun sebagai peneliti khusus di ITB memanfaatkan system kerjasama antara ITB dan Universitas Seika, Kyoto. Saya mengadakan survei tentang gerabah bakar jerami.

Subyek yang saya survei meliputi teknik putaran miring, desa gerabah, memperbaiki tungku tradisional, dan mengadakan pengem­bangan produk glasir. Menurut saya, teknik putaran miring di Pagerjurang merupakan teknik langka dan berharga, oleh karena itu harus dilestarikan. Setelah program itu selesai, saya berkeliling ke Lombok, Sulawesi, Kali­mantan, Sumatra, Sumba, Papua, untuk menyurvei gerabah bakar jerami dan budaya makan di Indonesia. (Sumber: http://indo­nesia­artnews.or.id)

 

PROF CHITARU KAWASAKI
(Seniman keramik, Guru Besar Emeritus
Universitas Seika, Kyoto, Jepang)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy