Rabu, 23 Juli 2014
Judul Lagu Kebangsaannya “Allahu Akbar” PDF Cetak Surel
Rabu, 23 Februari 2011 00:48

NEGERI HIJAU LIBYA

Ketika merujuk pada peta dunia, maka akan didapati negara Libya terletak di kawasan utara benua Afrika, berbatasan dengan laut tengah, Mesir di sebelah timur, Sudan di tenggara, Chad dan Niger di selatan, serta Aljazair da Tunisia di sebelah barat.

Libya beribukotakan Tri­poli, yang terdiri dari beberapa pusat kota, yaitu Tripolitania, Fezzah, dan Curenaica. Libya juga akrab dipanggil dengan sebutan Negeri Hijau, yang memang negeri ini di kelilingi oleh gurun tandus, dan padang pasir. Namun di samping semua itu ternyata tumbuhan hijau pun bersemai di kawasan ini, sehingga dari sinilah penamaan “Negeri Hijau” itu muncul.

Nama “Libya” berasal dari bahasa mesir “ Lebu” sebutan bagi orang-orang Barbar yang tinggal di sebelah Barat Sungai Nil, yang kemudian diadopsi oleh bahasa yunani sebagai “ Libya”. Pada zaman Yahudi kuno istilah ini memiliki arti yang lebih luas, mencakup se­luruh Afrika Utara di sebelah ba­rat Mesir, dan kadang ditu­ju­kan untuk seluruh benua Afrika.

Menurut fakta sejarah sebe­lum menjadi negara independen, Libya merupakan salah satu wilayah kekuasaan khalifah islamiah sejak invansi dakwah Islam ke kawasan utara Afrika yang ke­mu­dian dikenal dengan Arab Barat. Kondisi ini ber­langsung sampai masa Pe­merintahan Turki Utsmani berkuasa (abad 16-20 M).

Secara gamblang penduduk yang bermukim di Libya terdiri dari tiga etnis, pertama: etnis asli Barbar (keturunan kaum Tawariq) atau bangsa Arab yang datang sejak abad ke-7 M, kedua: etnis Turki dan Albania yang datang pada masa ke­kuasaan Turki Utsmani, dan ketiga, etnis Itali yang datang sejak masa penjajahan Itali atas Libya tepatnya pada tahun 1911 M.

Pada pemerintahan Turki Utsmani Libya tumbuh dengan pesat, apalagi ditambah dengan hadirnya suatu gerakan oposisi yang bersifat sufistik dan perjuangan politik, gerakan tersebut adalah Tarekat Sufi Sanusiah. Pada kenyataannya kelompok ini menjadi suatu gerakan oposisi yang sangat kuat, yang memang juga ter­masuk gerakan sosial kea­gamaan dan politik .

Kemerdekaan Libya dengan dideklarasikannya negara mo­narki Libya pada 24 September 1951 dengan lagu kebangsaan Allahu Akbar oleh Raja Idris I. Ia merupakan cucu dari pendiri gerakan as-Sanusiah, atas bantuan Ing­gris dan Soviet serta pengakuan dari PBB, Libya pun mengangkat bendera hijau se­ba­gai lambang kemerdekaannya.

Bermula dari kepemimpinan raja Idris inilah Libya mulai me­ngembangkan sa­yap­nya dengan negara-negara te­tangga baik barat maupun dunia Islam secara me­nyeluruh. Di­tam­bah lagi pada saat ditemukannya sum­ber minyak Libya sekitar tahun 1953, dan dimualinya eksploitasi pada tahun 1956, dan Libya mulai melakukan aksi penjualan minyak ke eropa sejak tahun 1967.

Kepemimpinan Muammar Qaddafi

Muammar Abu Minyar Al Qaddafi lahir pada 1924 di daerah gurun Pasir Sirte. Ibunya seorang Yahudi, maka secara otomatis beliau tergolong dalam etnis Yahudi. Namun kemudian ia mulai memeluk Islam di usianya yang ke-9 tahun.

Mula-mula ia me­nempuh jenjang pen­didikan SD tradisional yang religius dan ber­sekolah pada lembaga pendidikan Sebha di Fezzan dari 1956 s/d 1961. Qaddafi dan se­ke­lompok teman-temannya menjadi pe­mimpin uta­ma dari sebuah kelo­m­pok revolusioner yang kelak kemudian me­rebut kekuasaan Libya.

Pada 1961, Qaddafi dike­luarkan dari Sebha karena ak­ti­vitas politiknya, namun kemudian ia masuk di Universitas Libya dan lulus dengan nilai yang sangat baik. Pada 1963 ia masuk Akademi Militer di Beng­hazi bersama beberapa rekan militannya, dan ia pun membentuk kelompok rahasia dengan tujuan menjatuhkan monarki yang pro-Barat. Qaddafi me­miliki delapan anak, tujuh di antaranya laki-laki.

Sesuai data terkini penduduk Libya berjumlah 5.426.300 jiwa yang mayoritas bermukim di dua perkotaan besar “ Tripoli dan Banghazi”, dan sebagian lagi bermukim di pinggiran pesisir Libya.

Dari sisi adat istiadat yang juga lumayan unik dan ba­nyak disoroti oleh para pen­datang adalah adat pernikahan yang sangat rumit. Artinya kursi pelaminan tidak bisa didapati dengan secara mu­dah. Mulai dari persyaratan nikah yang sangat berbelit-belit, mana yang harus punya uang banyak, mempersiapkan house, harus sudah punya karir tetap, se­hingga keadaan itu membuat para bujang dan gadis Libya banyak yang terlambat nikah alias ngejom­blo, semua itu disebabkan karena sistem adat para nenek moyang mereka yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh rakyat Libya.

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 23 Februari 2011 00:52