Jumat, 24 Oktober 2014
Pengelolaan Sampah Bukittinggi Ketinggalan Zaman PDF Cetak Surel
Jumat, 25 Februari 2011 00:59

BUKITTINGGI, HALUAN — Perusahaan pengolahan sampah Jerman menilai pengolahan sampah di Kota Bukittinggi masih ketinggalan zaman. Pengolahan sampah di kota sanjai itu disetarakan dengan pengolahan sampah di negara-negara Eropa 30 tahun lalu.

 

Demikian disampaikan Direc­tor Vertieb Abfalltecnik & Recycling Schaefer, perusahaan pengolahan sampah Jerman, Ludwig Sahm, dengan Senior Regional Sales Manager Asia Pasific, Wilson Koh dalam kunjungannya ke Bukittinggi, Kamis (24/2).

 

Namun, kata Ludwig, kondisi itu bisa diubah melalui penya­daran masyarakat dan penerapan sistem daur ulang sampah secara bertahap.

“Membuang sampah semba­rangan dan tidak memperhatikan lingkungan adalah kejahatan terhadap bumi. Pemerintah Kota Bukittinggi harus mampu mela­kukan pengolahan secara berta­hap,” kata Ludwig yang telah memiliki 8.500 pekerja pengola­han sampah di 50 negara di dunia.

Dia sangat prihatin dengan kondisi Kota Bukittinggi saat ini dengan pengolahan sampahnya, dan mengajak Pemko Bukittinggi melakukan langkah demi lang­kah untuk menciptatakan pengo­lahan sampah yang baik.

Kedatangan perusahaan peng­olah sampah Jerman itu disam­but Wakil Walikota Bukittinggi Harma Zaldi dan kepala DKP Hermansyah serta kepala SKPD lainnya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Bukit­tinggi Hermansyah, mengatakan, DKP saat ini memang kesulitan menangani masalah persampa­han. Karena sejumlah keterbata­san, antara lain jumlah pegawai hingga tempat pembuangan sampah yang ada saat ini.

“Yang paling susah saat ini memang mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap upaya meminimalisir produksi sampah yang dimulai dari diri pribadi, keluarga dan lingkungan,” tam­bah­nya.

Menurut Hermansyah, mate­ri yang dipresentasikan oleh pakar sampah dari Jerman tidak semuanya bisa diterapkan secara cepat. Peralatan dan tingkat kesadaran masyarakat di Jerman tentunya sudah lebih baik dari pada Bukittinggi.

“Ya, kita di Bukittinggi tentu tidak sama dengan Jerman. Tapi yang jelas kita akan berusaha menangani sampah dengan baik kalau bisa kita jadikan rupiah,” kata Hermansyah.

Schaefer adalah perusahaan yang telah beroperasi di 50 negara, sejak 1937 lalu, dan dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan sampah.

Di perusahaan itu, pengelo­laan sampah memperhatikan tiga aspek yang dikenal dengan sebutan 3R yakni reuse (penggu­naan kembali), recycle (daur ulang) dan terakhir reduce atau mengurangi produksi sampah. Masyarakat juga harus menge­tahui sampah organik dan sam­pah non-organik.

Usai melakukan tanya jawab dan diskusi, Ludwig ditemani rombongan Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta Kantor Lingkungan Hidup Kota Bukit­tinggi turun langsung ke lapangan. Mereka mengecek tong sampah yang dipakai DKP hingga menyambangi TPA Panorama Baru. (h/jon/rdw)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy