Kamis, 25 Desember 2014
Boven Digoel, Pengasingan yang Tetap Terasing PDF Cetak Surel
Sabtu, 01 Desember 2012 04:25

Bangunan cagar budaya bekas penjara Boven Digoel, nama yang tertera di papan nama saat kita memasuki kompleks penjara tua ini, salah satu tempat yang masuk catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.

Bangunan di kompleks ini bergaya kolonial, walau tidak sesuram dan dingin sebagaimana dijumpai pada bangunan tua lainnya. Namun salah satu cagar budaya nasional bekas lokasi penjara tua ini, terlihat hanya diperhatikan ala kadarnya oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab mengelolanya.

Secara umum dapat di­gam­barkan kalau seluruh areal ini terbagi dalam tiga bagian bangunan. Pertama ada tiga bangunan besar sebelah menyebelah yang digunakan untuk Kantor Kepolisian Negara Republik Indonesia, Daerah Papua Resor Boven Digoel.

Kedua, ada bagian lain yang berada di luar pagar kompleks penjara tua yang terdiri dari, bangunan bekas kantor penjara tua atau kantor Magistratur dan ba­ngunan utama penjara untuk wanita. Dan bagian ketiga adalah bagian utama dari penjara tua ini yang terdiri dari ruang tahanan pria dan tahanan politik.

Dari jalan masuk utama, terbagi ke dalam dua bagian yaitu di sisi kanan dan kiri jalan. Namun kesemuanya ini berada dalam satu lokasi lahan yang sama yaitu cagar budaya bekas penjara tua Digoel.

Untuk masuk ke dalam kom­pleks utama penjara tua ini, kita akan melewati gerbang utama. Jalan ini membagi dua bangunan, dimana kiri dan kanannya semua berpagar. Ada yang berpagar beton dan ada yang berpagar kawat duri dengan ketinggian yang hampir sama kurang lebih tiga meteran.

Tidak ada pohon besar di dalam kompleks penjara tua ini, yang tampak di satu dua sudut lapang adalah tanaman bunga soka merah dan kembang sepatu, selebihnya halaman berumput yang rumputnya sudah mulai tinggi.

Tidak ada perubahan bangunan penjara sama sekali, semua masih sama seperti saat masa penga­singan Bung Hatta di Digoel. Mungkin yang berubah hanya cat dindingnya yang dicat ulang, meski dengan warna yang sama. Di satu dua bangunan ada yang tidak di cat hingga warnanya sudah tak tampak.

Sel tempat dahulu Bung Hatta di kurung tidak dapat di buka pintunya setiap saat, karena menjaga keasliannya dari tangan-tangan usil. Para pengunjung yang datang suka mencoret dinding sel bila berkunjung, ada satu tanda mata dalam sel pertama ini yaitu tanda telapak tangan bung Hatta di dinding sel. Bung Hatta menem­pati sel yang pertama dari lima deretan sel yang ada untuk tahanan politik.

Sel kedua adalah tempat dari Sutan Syahrir ditahan. Jadi kondisi sel di dalamnya sama saja dengan sel-sel berikutnya dari para tahanan politik lainnya. Pintu sel tidak dikunci. Semua ruang tahanan ini berwarna putih untuk tembok dan dinding papan dan biru langit untuk pintu dan ruji-ruji teralis besinya.

Ada menara jaga yang letaknya di tengah-tengah kompleks penjara ini. Dari sini akan tampak bagian depan yaitu penjara wanita dan bagian kantor. Selanjutnya bagian penjara tahanan pria dan ruangan sel yang dipakai untuk ruang makan bersama, sebelum mencapai dapur umum yang letaknya paling bela­kang, kita melewati satu kamar mandi umum.

Pada area tahanan pria tipe-A, sebagian besar ruangan sudah tidak berperabot lagi. Tinggal satu ruangan yang terdapat bangku kayu tua dengan sandaran bangku tertulis nama Bung Hatta, dan satu lemari berisi perkakas untuk makan seperti piring, gelas atau mug, dan mangkuk kecil yang semuanya berbahan kaleng dan sudah berlubang di sana-sini karena keropos.

Hal yang sama nampak di area kamar mandi umum, dengan dua bak besar di dalamnya dan empat ruang mandi plus kloset buatan jaman Belanda yang masih tampak kuat. Sayang sekali kondisinya sekarang ini kotor dan sangat tidak terawat.

Bagian paling belakang dari kompleks penjara tua Digul ini adalah dapur umum, yang cukup luas areanya.

Pastinya konstruksi bangunan dapur ini sangat baik pada jaman­nya. Karena kurangnya perhatian dari pengelolanya, saat ini keadaan dapur ini juga sudah memprihatinkan.

Hari berganti hari, bulan bergan­ti bulan, dan tahun berganti tahun. Sayangnya, Boven Digoel di kota Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, dengan penjara tua tempat pengasingan ini, tetap saja menjadi tempat yang semakin terasing. (h/papua cloud)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy