Rabu, 16 April 2014
Menyediakan Jajanan Sekolah yang Sehat PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Selasa, 01 Maret 2011 02:00

Jajanan yang dijual di kantin atau sekitar taman kanak-kanak dan sekolah dasar dite­ngarai masih menggu­na­kan bahan tambah­an yang dapat mem­bahayakan kesehatan anak, padahal berba­gai upaya telah dila­kukan oleh peme­rin­tah.Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baik tingkat provinsi mau­pun kabupaten/kota berulang kali melakukan pemeriksaan terhadap makanan jajanan sekolah dan membina para pedagang yang ditemukan menggunakan bahan tambahan berbahaya pada makanan yang mereka jual.

Puncaknya Wakil Presiden Boe­diono mencanangkan Gerakan Menuju Pangan Jajanan Sehat Anak Sekolah beberapa waktu lalu karena kesehatan generasi mendatang merupa­kan hal penting yang harus diper­hatikan.

“Masalah jajanan anak sekolah tam­paknya hanya masalah kecil, namun dam­paknya besar terhadap kelangsungan bangsa yang lebih baik pada masa depan,” kata Wapres.

Jajanan yang tidak aman bagi kesehatan akan berdampak terhadap pembentukan generasi bangsa yang lebih baik.

“Karena itu, penting untuk menjadikan gerakan jajanan anak sekolah yang aman, bergizi dan bermutu, sebagai gerakan bersama seluruh komponen bangsa,” kata Wapres.

Menurut Wapres, 40 hingga 44 persen jajanan anak sekolah tidak memenuhi standar kesehatan, ter­utama di kota-kota besar.

Mengonsumsi jajanan yang tidak sehat karena mengandung bahan tambahan makanan yang berbahaya memang tidak akan langsung mera­sakan akibatnya, tetapi zat-zat tersebut adalah biang penyakit kanker yang akan terlihat dalam jangka waktu 10 atau 20 tahun ke depan.

Tim gabungan antar-kementerian akan mengawasi mutu jajanan anak sekolah dengan prioritas jajanan di sekolah dasar. “Selama ini belum ada koordinasi yang baik antar-instansi sehingga pengawasan belum bisa efektif. Jadi kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kese­hatan, Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pemberdayaan Perem­puan untuk pengawasan jajanan anak sekolah,” kata Kepala Badan Penga­was Obat dan Makanan Kustantinah.

Ia mengatakan, hasil survei pada 2008 menunjukkan bahwa 78 persen anak sekolah jajan di lingkungan sekolah baik di kantin maupun penjual makanan di sekitar sekolah.

Hal itu menunjukkan jajanan sekolah memegang peran penting dalam memberikan asupan gizi bagi anak usia sekolah.

Bahan tambahan berbahaya yang sering digunakan dalam makanan antara lain pewarna seperti Rodha­min B untuk memberikan warna merah dan Methanil Yellow untuk warna kuning, kemudian pengawet seperti formalin dan boraks.

Rhodamin B adalah bahan kimia yang digunakan untuk pewarna merah pada industri tekstil plastik dan kain. Kelebihan dosis Rhodamin B bisa menyebabkan kanker, keracun­an, iritasi paru-paru, mata, tenggo­rokan, hidung, dan usus.

Untuk makanan, Rhodamin B dan Metanil Yellow sering dipakai mewarnai kerupuk, makanan ringan, terasi, kembang gula, sirup, biskuit, sosis, makaroni goreng, minuman ringan, cendol, manisan, dan ikan asap. Makanan yang diberi zat pewarna ini biasanya berwarna lebih terang dan memiliki rasa agak pahit.

Formalin adalah nama dagang formaldehida, yang jika terkandung dalam makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia dengan gejala akit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, depresi dan gangguan peredaran darah.

Tahu merupakan produk pangan yang sering direndam dengan forma­lin. Tahu yang tidak direndam for­malin hanya bertahan 1-2 hari kemu­dian berlendir. Sedangkan yang diren­dam formalin akan bertahan 4-5 hari bahkan bisa sampai sat1 bulan.

Sementara boraks adalah garam natrium yang banyak digunakan industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Boraks tidak berwarna dan gampang larut dalam air.

Sejak lama boraks digunakan masyarakat Indonesia untuk bahan baku pembuatan gendar nasi atau kerupuk gendar. Masyarakat Jawa biasa menyebutnya karak atau lempeng. Air bleng (pijer) yang dipakai dalam pembuatan karak atau gendar ini sebenarnya adalah boraks. Boraks juga banyak dipakai untuk pembuatan mi, lontong, ketupat, bakso, bahkan kecap.

Menyediakan jajanan sekolah yang benar-benar sehat dan aman ternyata bukan perkara mudah sehingga diperlukan pengawasan dan kepedulian semua pihak serta kesadaran para pedagang dan pro­dusen. (h/ant)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy