Kamis, 02 Oktober 2014
Longsor Maninjau, 11 Tewas PDF Cetak Surel
Senin, 28 Januari 2013 02:33

SEMBILAN ORANG MASIH TERTIMBUN

Agam tak habis-habisnya dirundung malang. Musibah silih berganti terjadi. Sebanyak 12 unit rumah luluhlantak dihantam longsor dan 20 orang warga tertimbun. Sebanyak 11 orang sudah ditemukan dalam keadaan meninggal, sementara sembilan orang lagi masih dicari.

MANINJAU, HALUAN — Setelah peristiwa longsor di Jorong Muko-Muko Nagari Koto Malintang, Jumat (25/1),  Kabupaten Agam kembali dilanda musibah. Kali ini longsor menghantam Jorong Data Kampung Dadok Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya. Akibatnya, sebanyak 12 rumah tertimbun longsor bersama 20 orang warga, enam orang luka berat dan ringan dan delapan orang selamat.

Selain menimbun rumah warga, longsor yang terjadi sekitar pukul 05.20 WIB, Minggu (27/1) kemarin juga meluluhlantakkan 5 hektar sawah. Satu unit mobil Mitsubishi Cold L300 dan tujuh unit sepeda motor juga dinyatakan hilang. Kerugian ditaksir sebesar Rp6 miliar.

Dari pencarian yang dilakukan sepanjang hari kemarin, dari 20 korban yang tertimbun material longsor, 11 orang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa dan sembilan orang lainnya masih dicari.

Peristiwa ini tidak disangka-sangka masyarakat, pasalnya, subuh itu tidak ada hujan. Sebagian masyarakat tetap beribadah seperti biasa di Masjid Al-Ihsan. Hujan lebat memang terjadi sehari sebe­lum kejadian atau tepatnya pada Sabtu (26/1).

Hujan lebat itu mengguyur semenjak Magrib, dan baru berhenti sekitar pukul 22.00 WIB,” kata warga setempat yang ikut menjadi saksi Ernita (36) kepada Haluan, Minggu (27/1).

Dikatakannya, tidak ada firasat apapun bahwa peristiwa tersebut akan menimpa kampungnya. Ernita sendiri mengaku kehilangan eteknya Martini (50) . Bahkan, pada malam kejadian salah seorang putrinya Novidasari (11)  hendak tidur di rumah eteknya. Namun, Ernita berusaha melarang anaknya terse­but hingga akhirnya Novi tidak jadi menginap di rumah Martini. Novi­da­sari pun selamat dari amuk longsor.

Bupati Agam Indra Catri Dt Malako Nan Putiah mengatakan, ia sudah meminta setiap instansi terkait untuk bekerja semaksimal mungkin. Segala kebutuhan ma­syarakat akan disediakan. “ Segala kebutuhan korban maupun orang bekerja akan disediakan. Kita juga akan secepatnya membuat dapur umum untuk memenuhi kebutuhan korban dan relawan yang melakukan pencerian,” kata Indra Catri.

Pencarian akan dilakukan de­ngan alat berat mengingat cukup luasnya ereal longsor yang akan dibersihkan. “Satu minggu ini kita masih dalam kondisi tanggap da­ruat. Kita berharap korban yang hi­lang secepatnya ditemukan,” jelas­nya.

Menurutnya, pemerintah juga akan mengkaji daerah yang dirasa rawan dengan potensi longsor. Bagi daerah yang dinilai tidak layak untuk ditinggali, kami akan mengu­payakan untuk meminta ma­sya­rakat untuk pindah.

Sementara itu, Kapolres Agam AKBP Asep Ruswanda meng­a­takan, pihaknya telah minta ban­tuan kepada Polda Sumbar bebe­rapa anjing pelacak untuk mencari korban yang masih tertim­bun. Menurutnya, dengan adanya anjing pelacak diharapkan dapat berperan banyak dalam mencari keberadaan korban yang masih tertimbun.

“Kami berharap Semuanya pihak bisa saling tolong menolong dalam menghadapi musibah ini,” katanya.

Setelah dilakukan pencarian selama kurang lebih sehari oleh petugas BPBD, Polres Agam, Kodim 0304 Agam dibantu masyarakat, hingga Minggu (27/1) berhasil ditemukan 11 dari 20 korban yang dinyatakan hilang. 11 orang dite­mukan dalam keadaan tidak ber­nyawa, yaitu, Nursinah (55), Juliati (30), Martini (60), dan Tarajudin (60) dan Asril (60), Padri (9), Dila (2), Julairdi (25), Eni Astuti (38), Indah (6) dan Rosda (55).

Enam korban kami temukan saat pencarian menggunakan peralatan tradisional, semen­tara lima korban lagi, yaitu Dila (2), Julairdi (25), Eni Astuti (38), Indah (6) dan Rosda (55), ditemukan saat pencarian mengunakan alat berat sekitar pukul 16.00 WIB.

Dengan ditemukan 11 orang ini, masih ada 9 korban yang tertimbun, yakni Bayar (70), Nursidah (65), Rosmi (75), Anto (32), Rani (8), Leni Marlina (11), Musrinah (50), Sinaro (40), Kamal (1,5), Nurhaida (23) dan Irwan (37).

Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Agam Rinaldi menga­takan, mengatakan, korban longsor yang sudah berhasil ditemukan sebanyak 11 orang dalam keadaan meninggal dunia. Sedangkan yang selamat, Rian (11), Mariani (52), Syahrial (17), Syafrudi (13) dan Rudi Syam (19).

“Kami akan terus berupa­ya melakukan pencarian para dengan melibatkan anjing pelacak dari Polda Sumbar yang dibantu, BPBD Padang, BPBD Bukittinggi, BPBD Tanah Datar, Polres Agam, TNI dan masyarakat. Longsor yang terjadi pada Minggu (27/1), pu­kul 05.20. WIB, mengakibatkan sebanyak 12 unit rumah tertimbun longsor dan sekitar lima hektare sawah rusak,” jelasnya.

Ia menambahkan, lokasi longsor terletak di kaki perbukitan dengan jarak sekitar 10 kilometer dari jalan raya dan lokasi hanya bisa dilalui satu unit kendaraan roda empat karena lebar jalan hanya tiga meter. Selain itu, jarak lokasi longsor dari pusat pemerintahan sekitar 40 kilometer. Sedangkan dari Padang dengan jarak sekitar 150 kilometer.

Korban yang sudah dite­mu­kan dimandikan di Masjid Ihsan dan akan dimakamkan di pe­makaman kaum yang tidak jauh dari lokasi dan disesuakan dengan permintaan keluarga. Sementara itu, pada Sabtu malam (26/1) juga terjadi air pasang di Jorong Sum­barang Balingka Kabupaten Agam yang menyebabkan satu 2 rumah hanyut. Satu jembatan pu­tus, empat unit sepeda motor, dan 30 KK terisolir.

Bupati Kabupetan Agam Indra Catri telah berkordinasi dengan instansi terkait untuk menangani musibah.” Saya sudah meminta dinas terkait dan dibantu ma­syarakat untuk membuat jembatan sementara bagi warga yang teri­solir,” jelasnya.

Menurut Manajer Pusat Kendali Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Sumbar, Ade Edward upaya evakuasi akan terus dilakukan, kecuali cuaca tidak kondusif seperti hujan lebat.

“Peralatan evakuasi saat ini sudah mencukupi. Sudah ada alat berat, lampu diesel, dan peralatan lainnya. Bantuan juga datang dari lima kabupaten terdekat dan dari pemerinah provinsi,” ujarnya, Minggu (27/1) kemarin.

Dirawat di Padang

Satu orang korban Tanah long­sor, di Tanjung Raya Maninjau yakni Anto. 31,harus mendapatkan perawatan intensif di RSUP M Djamil Padang. Dia mengalami cedera kepala kesadaran GCS 13 dengan patah tulang tengkorak bentuk depres (tertekan) dan  patah tulang jari kelingking kanan.

Informasi yang dihimpun Ha­luan di RSUP MDjamil Padang, Korban samapi ke Rumah sakit regional itu, Minggu (27/1), sekitar pukul 11.35 yang dirujuk dari RSUD Lubuk Basung, karena luka dan benturan yang dialaminya akibat longsor tersebut cukup parah.

Menurut Pejabat Pemberi Infor­masi RSUP M Djamil Padang, Gustavianof, saat ini pasien sedang perbaikan kondisi, karena korban akan menjalani operasi kelingking kananya.

Pantauan Haluan, korban masih mengerang kesakitan, dan tidak dalam kondisi sadar, akibat kepala korban mengalami benturan keras. Hingga berita ini diturunkan baru satu orang korban longsor yang di rujuk ke RSUP M Djamil Padang.

Transmigrasi Tidak Berjalan Baik

Anggota Komisi III DPRD Sum­bar, Nofrizon mengatakan, adanya bencana longsor yang terjadi di zona merah ini, menunjukkan pemerintah provinsi melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumbar belum berhasil menata pemukiman pen­duduknya.

Penduduk di Kecamatan Tanjung Raya ini semenjak dahulu sudah harus direlokasi setelah gempa melanda sumbar 2009 lalu. Me­nurut Nofrizon masyarakat pun sudah bersedia untuk direlokasi.

Dirinya pun mengingatkan Gu­ber­nur Sumbar Irwan Prayitno untuk segera turun ke  lapangan, melihat lansung kondisi masyarakatnya. Mengingat beberapa waktu lalu, gubernur menerima penghargaan di bidang transmigrasi yang me­ng­indikasikan kegiatan transmigrasi di daerahnya sudah berjalan baik.

Dirinya pun mempertanyakan apa saja program yang dilakukan sehingga gubernur menerima peng­hargaan di bidang transmigrasi. Seharusnya kegiatan di bidang transmigrasi itu diekspos, karena banyak yang tidak tahu.

Nofrizon mengharapkan gubernur bisa fokus dan menyelesaikan persoalan transmigrasi di Sumbar. Untuk menyelesaikan persoalan transmigrasi ini tidak ada ham­batan.

Terkait dana, kata Nofrizon, komisi III siap memperjuangkan agar anggaran untuk tranmsigrasi ini mencukupi. (h/yat/eni/hri/met)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy