Sabtu, 19 April 2014
Barangsoi Padang PDF Cetak Surel
Kamis, 07 Februari 2013 03:33

Barongsai Padang adalah atraksi boneka singa kesenian tradisional etnis Tionghoa yang berada di Kota Padang yang telah dikenal secara nasional maupun internasional. Pada tahun 2012, Barongsai Padang pernah mendapat juara empat internasional ketika festival barongsai digelar di Hongkong. Juara pertama, kedua dan ketiga adalah barongsai dari Hongkong dan Malaysia. Barongsai Padang, satu-satunya utusan dari Indonesia di ajang  “2012 International Lion Dance Championship Adidas World Cup” tersebut.

Berdasarkan sejarah, kesenian Barongsai berasal dan mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) pada tahun 420-589 Masehi. Menurut asal-usulnya dimaknai dari pasukan Raja Song Wen Di yang kewalahan menghadapi serangan gajah Raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan Gajah Raja Fan Yang itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda sampai sekarang ini.

Ketua Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Kota Padang, Andreas Sofiande mengatakan, tarian ba­rong­sai terdiri dari dua jenis utama yakni pertama singa utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat. Penampilan singa utara kelihatannya lebih natural. Barong­sai dari wilayah utara yaitu “teng­kisan”, bentuk seluruh tubuh­nya dipenuhi bulu.

Kedua, singa selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua  atau empat. Kepala singa selatan dileng­kapi dengan tanduk yang mirip dengan binatang “kilin”. Barongsai dari wilayah selatan dinamakan “pusan”. Dengan gaya mulutnya menyerupai mulut bebek dan barongsai “teksen” dengan gaya mulutnya menyerupai mulut kucing.

“Singa Selatan lebih dikenal dengan gerakan kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak seiring dengan tabuhan atau gong dan tambur. Sedangkan gerakan singa utara cendrung lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki. Satu gerakan utama dari tarian barongsai adalah gerakan singa memakan amplop berisi uang yang dikenal dengan istilah “Lay See”. Di atas amplop biasanya ditempeli dengan sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi sang singa. Proses memakan “lay See” berlangsung sekitar separuh bagian dari seluruh tarian singa,” kata Toako Sho Yong Tjoan ini.

Barongsai masuk ke Indonesia abad 17, ketika terjadi migrasi besar-besaran dari Tiongkok Selatan yang disertai datangnya perkum­pulan Tiong Hoa Hwe Koan yang ada diberbagai daerah di Indonesia yang memiliki perkumpulan barong­sai. Perkembangan barongsai berhenti tahun 1965, ketika meletus Gerakan 30 S/PKI karena situasi politik, yang mendeskriminasikan etnis Tionghoa. Sehingga barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi.

Sejak reformasi barongsai kem­bali hadir dan semakin dikenal karena kebebasan berekspresi sudah terbuka. Pada masa orde baru, barongsai hanya dijumpai pada hari raya umat Tionghoa khususnya hanya di hari Imlek. Sekarang permainan barongsai juga dimain­kan oleh penduduk pribumi. Atraksi barongsai ini dilatih dengan ke­teram­pilan khusus. Bentuk tarian­nya adalah dengan menggerak-gerakkan mulut singa ke atas dan ke bawah sambil singa mengangguk angguk dan bergoyang lucu.

Barongsai berbentuk singa yang menunjukan aksi lincah dengan dentuman suara tambur dan gong berirama khas. Dengan ekpresi meliuk-liuk sesekali melompat yang dilakukan oleh dua pemain dengan kostum barongsai. Permainan berongsai dimainkan dua orang pemain dan delapan orang penata musik. Satu grup barongsai, bisa menampilkan beberapa barongsai sekaligus, yang atraksinya saling mendukung.

Terkait berkembangnya kese­nian barongsai Padang dengan nuansa ragam budaya. Kini kese­nian tradisional etnis Tionghoa ini telah melebur, yang bukan lagi milik etnik Tionghoa saja, tetapi sudah milik Kota Padang dan Sumatera Barat. Ketika acara-acara besar di Kota Padang, Barongsai turut memeriahkan acara. Selain itu tiap tahun ada pegelaran budaya masyarakat Tionghoa yang menjadi agenda rutin tahun kota Padang dan Sumatera Barat yang menun­jukkan pariwisata budaya yang menarik perhatian turis dari luar kota Padang maupun dari manca­negara.Biasanya pertunjukan ba­rong­sai keluar pada hari cap go me, perayaan ulang tahun kota padang, Imlek, tahun baru, perayaan keaga­maan dan undangan-undangan dari pihak lain yang ingin melihat atraksi barongsai.

Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan Himpunan Bersatu Teguh (HBT) adalah organisasi sosial pemakaman dan kebudayaan yang melakukan pembinaan terhadap barongsai dari masa ke masa di Kota Padang, hingga berprestasi di manca negara. mempunyai latihan dan jadwal yang teratur untuk meningkatkan kapa­sitasnya untuk pertunjukan-per­tunjukan, tambahnya. (DAPIT ALEXSANDER)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: