Jumat, 25 April 2014
Muhammadiyah dan Politik PDF Cetak Surel
Rabu, 20 Februari 2013 01:13

JAMES L. Peacock (1971), berpendapat bahwa, Muham­ma­diyah telah mem­buk­tikan dirinya sebagai organi­sasi pembaruan Islam paling kuat di Asia Tenggara, bah­kan mungkin di dunia.

Atau seperti yang disim­pulkan Solihin Salam (1965): kelahiran Muham­madiyah merupakan manifes­tasi dari getaran jiwa yang hidup dan bergelora dalam dada masya­rakat pada zaman­nya.

Dunia yang dihadapi pen­di­ri Muhammadiyah saat itu, sarat dengan kabut kebodo­han, kemiskinan dan keterbe­la­kangan. Umat Islam kian lama kian jauh dari kemur­nian ajaran Islam. Penyakit TBC alias tahyul, bid’ah dan churafat merajalela di mana-mana.

Kondisi masyarakat se­macam itulah yang men­dorong KH. Ahmad Dah­lan menan­capkan bendera Mu­ham­madiyah pada 8 Zul­hijjah 1330 H/18 Novem­ber 1912 M.

Apa yang dikedepankan kedua pengamat di atas, agaknya tidaklah berlebihan. Kenapa? Dalam usianya 103 tahun,  menurut perhitungan Tahun Hijriyah, dan 100 tahun menurut tahun Masehi, Muhammadiyah seakan tidak terpisahkan dari dinamika sosial kemasyarakatan di negeri ini.

Dalam konteks sosial ke­masyarakatan itu, secara fisik atau non-fisik aktivitas yang digumuli Muham­ma­diyah nampak cu­kup ber­denyut da­lam pelba­gai mani­festasi. Sebutlah misal­nya, bidang pendidikan, kesehatan ma­syarakat, penyantunan kaum dhu’afa serta kegiatan sosial kemasyarakatan lain­nya.

Khusus yang disebut peng­gal awal (bidang pendi­dikan): menunjukkan angka cukup signifikan. Sam­pai sekarang, Muham­madiyah mengelola tak kurang dari 172 buah Perguruan Tinggi; 1.143 SMA/SMK/MA; 1. 772 SM/MTs/; 2. 604 SD/MI; 7. 623 TK ABA; 6723 PAUD; 71 SLB; dan 82 Pondok Pesantren. Dari jum­lah sebanyak itu, belum ter­ma­suk yang sedang dalam proses legalitas formal di PW dan PP Muhammadiyah

Ditilik dari sudut mana­pun, amal usaha sema­cam ini jelas memberi­kan kontribusi cukup signifikan terhadap pembina­an kesejahteraan masyarakat dan pembangu­nan nasional.

Beragam prestasi yang mampu digapai oleh Muham­madiyah dalam kegia­tan sosial kemasyara­katan ini, dibarengi pula dengan sikap politik Muhammadiyah yang punya karateristik tersendiri. Dalam perjalanan sejarahnya yang cukup panjang dan berliku, hubungan Muham­madiyah dengan poli­tik me­mang  bersi­fat  khas atau unik.

Dikatakan unik, pada satu pihak Muhammadiyah mesti peduli terhadap masalah-masalah politik. Rentangnya, tidak saja yang menyangkut isu politik nasional,  tapi juga harus menyikapi secara cerdas situasi politik internasional.

Sementara di pihak lain, Muhammadiyah secara insti­tusi­onal tidak boleh, berge­limang dalam habitus politik praktis. Pasalnya,  karena  Muham­madiyah bukan organi­sasi politik­, melainkan organi­sasi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Pada Mukatamar  ke-38 tahun 1971 di Ujung Pandang, sikap politik Muhammadiyah itu ditegaskan secara gam­blang. Pertama, Muham­madiyah dengan selu­ruh orga­ni­sasi otonom (ortom) yang dipayunginya tidak ber­afi­liasi, dan tidak ada hu­bungan organisatoris de­ngan partai politik apapun.

Kedua, anggota Muham­madiyah dari berbagai tingkat secara pribadi bebas untuk memasuki atau tidak mema­suki  partai politik yang sesuai dengan kesukaan yang bergayut pada hati-nuraninya. Sampai satu abad usia Mu­ham­madiyah kini, kepu­tusan politik itu, tetap menjadi acuan baku bagi Muham­madiyah.

Lalu kini, ketika Muham­madiyah dihadapkan kepada partai politik yang sekarang jumlahnya yang lulus verifi­kasi mencapai 10 buah, sejati­nya sikap dasar Muham­madiyah tidak boleh berubah.

Sesuai dengan kepribadian dan jati dirinya, Muham­madiyah mesti tetap meme­lihara dan konsisten dengan  khithah  (garis perjuangan) sebagai gerakan Islam, gera­kan dakwah, dan gerakan tajdid (pembaruan), yang berakidah Islam serta berlan­daskan pada Alquran dan Sunnah Rasul.

Diakui jujur, sejak era reformasi dan demokratisasi menggelinding di Indonesia pada 1998 lalu, cukup banyak elite Muhammadiyah yang ketiban durian runtuh. Mere­ka dapat peluang menya­lur­kan bakat dan darah poli­tik­nya di berbagai  partai politik.

Di Sumbar saja, beberapa aktivis Muhammadiyah asik bergelimang di area politik praktis. Sebutlah misalnya, Apris Yaman, Marhadi Efendi, dari PAN meloncat ke Nas­Dem; Irdinansyah Tarmizi di Partai  Golkar; Darmadi dan Guspardi Gaus, dari PPP hijrah ke PAN; dan sederet nama lainya di kabupaten/kota. Dan, yang masih segar dalam ingatan, Drs. H. Dasril Ilyas (Ketua PW Muham­madiyah Sumbar) yang dipi­nang atau dilamar oleh PAN untuk menjadi Caleg DPR RI, pada Pemilu 2014.

Andai diindang ditampi tareh (ditapis secara akurat), lalu disingkronisasikan dengan Keputusan Muktamar Ujung Pandang tadi, kemudian di­kukuh­­kan kembali pada Muk­tamar Jakarta, pada 8- 11 Juli 2000, sebenarnya, keakti­fan mereka di partai politik sama sekali bukan atas nama Muhammadiyah, dan bukan pula membawa jubah Mu­ham­­madiyah.

Makanya, kalau mereka memamfaatkan Muham­madi­yah sebagai kere­ta poli­tik, apalagi politik kualitas ren­dah yang bero­rientasi prag­matis dan materialistis, seperti yang melanda sege­lintir politisi Islam bela­kangan ini, Muham­madi­yah oleh karena itu, sejatinya punya kekuatan moral untuk me­lurus­kanya.

Kiat yang ditempuh, tentu bukan dengan cara frontal dan emosional. Tapi, secara bijak, persuasif, edukatif dan dialo­gis. Dalam konteks ini, bukan­kah di tubuh Muham­madiyah ada Lembaga Hikmah dan Kehidupan Bangsa, yang dapat menjembatani antara politisi Muhammadiyah de­ngan Rumah Gadang Mu­ham­­madiyah.

Kendati Muhammadiyah bukan partai politik, dan tidak ada sangkut-pautnya secara organisatoris dengan partai politik, bukan berarti Muham­madiyah apatis terha­dap politik. Dalam kaca-mata Muhammadiyah, politik atau assiyasah adalah wahana dan sarana cukup strategis bagi transformasi dakwah Islam ke depan. Di bawah ini, penulis mencoba menge­depan­kan  bagaimana peran politik substansial (hight politic) Muhammadiyah yang bersifat non-praktis itu.

Pertama, Muhammadiyah secara kelembagaan sejatinya memainkan fungsi sebagai kelompok kepentingan dan kelompok asosiasi yang selalu menyuguhkan kontrol politik; memengaruhi pengambilan kebijakan politik; memainkan public opinion; menghidangkan pendidikan budaya dan etika politik; mengayunkan lobby dengan pelbagai komponen yang bersentuhan dengan Muhammadiyah ; merajut komunikasi personal baik internal maupun eksternal; dan pada situasi tertentu tak ada salahnya menggelin­dingkan protes seca­ra sehat, cerdas dan dewasa, dan fungsi-fungsi politik tidak langsung lainnya. Baik yang konven­sional maupun non-konven­sional sesuai dengan kepen­tingan, kondisi dan karak­teristik yang dimiliki Muham­madiyah.

Peran-peran politik tidak langsung ini mesti dimainkan secara efektif dan artikulatif. Sehingga memberikan bobot tekanan dan implikasi yang meluas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pada aspek inilah terasa pentingnya perangkat-parang­kat konsepsional, fasili­tas, finansial, kinerja organisasi, dan potensi sumber daya manusia yang bernas dan mumpuni. Sebab, tanpa duku­ngan yang konkrit itu, maka peran politik Muhammadiyah tidak bakal efektif dan pro­duktif seperti didambakan banyak pihak.

Kedua, yang tak kalah pentingnya adalah peran secara personal. Peran ini dilakonkan oleh orang-orang Muhammadiyah yang tersebar di mana-mana semisal:  di partai politik, di barisan panjang legislatif, dan di habitat eksekutif. Atau mere­ka yang berada di jalur institusi kenegaraan/pemerintah, di BUMN, BUMD dan lainnya, sesuai  posisi dan fungsi masing-masing.

Peran individual juga dapat dimainkan oleh kader-kader Muhammadiyah di dunia swasta dan kaum profesional  sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. Peran itu dilakukan secara kon­sepsional, simultan, dan memiliki basis, visi dan misi serta moral yang jelas. Baik bagi kepentingan internal Muhammadiyah maupun un­tuk kepentingan umat dan bangsa serta dunia kema­nusiaan secara makro.

Khatimah! Guna menye­garkan ingatan dan sekaligus agar Muhammadiyah tidak ke mana-mana – tapi ada di mana-mana, akan lebih afdal diinap-inapkan kembali pesan moral plus transendental yang diwariskan KH Ahmad Dahlan kala membidani Muha­mma­diyah 100 tahun lalu: Hidup-hidupilah Muhammadiyah, tapi jangan mencari hidup (dengan mem­peralat) Muham­madiyah. Nun wal qalami wama yas­turun. Fastabiqul khairat!*.

 

H MARJOHAN
(Pemerhati Sosial Budaya)

Comments (1)Add Comment
0
pena albanjari
written by string, Mei 18, 2013
semoga tetap konsisten, istiqomah smilies/smiley.gif

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: