Jumat, 24 Oktober 2014
Melatih Beruk Memetik Kelapa PDF Cetak Surel
Jumat, 22 Februari 2013 00:24

“Haih..haaiih..ambiak, ambiak karambia tu, “ ujar Jasman (50), saat mengajarkan baruak atau beruk (macaca nemestrina) miliknya di Pasar Ternak, VII Koto Sungai Sarik, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu (20/2). Baruak itu pun seakan mengerti bahasa yang dilantunkan tuannya, dan langsung me­ngambil dua buah kelapa yang tergantung di salah satu ranting kayu itu. Jasman sengaja meletakkan ranting kayu di antara dua batang kelapa dengan jarak ketinggian 1 meter dari tanah, agar beruk bisa bergantung dan melatih memetik kelapa.

 

Bantuak iko caro malatiah baruak, dilatakkan inyo di ateh batang kayu ko, tu gantuangan karambia, supayo inyo bisa mamuta-mutaan karambia tu sampai putuih. Kalo baruak nyo lah punyo gigi tariang nan tajam,bararti lah bisa di ajakan mangubak karambia jo giginyo,” ungkap Jasman.

Menurutnya, melatih beruk butuh waktu 6 bulan sampai dengan satu tahun lebih, dan itu tergantung baruak yang dilatih. Kebanyakan baruak yang dilatih berkelamin betina karena sifat beruk betina lebih jinak dan mudah dilatih. Sedangkan untuk harga jual beruk dari harga Rp 50 ribu-Rp1 juta.

Urang yang malatiah baruak ko biasonyo di rumahnyo masing masing, namu ado juo yang mala­tiah sakali banyak, bantuak di rumah sakolah pulo,” terangnya.

Tak berapa jauh dari tempat latihan beruk, terdengar suara desiran beruk berukuran kecil terikat dengan rantai . Awalnya beruk itu hanya diam namun dalam sekejap suaranya berubah, giginya menyeringai, seolah memberi tanda jangan mendekatinya. Hal itu karena beruk yang masih berumur 4-9 bulan itu masih takut melihat sejumlah manusia mulai banyak yang berdatangan.

Terdapat 4 ekor beruk yang terikat di beberapa pohon dan bersiap untuk dilatih, lehernya terikat dengan rantai kecil berdia­mater 1cm dengan panjang 2 meter.

Tak lama beberapa orang lelaki paruh baya datang mendekati beruk tersebut, matanya tajam meng­amati gerak gerik si beruk.

Nan iko bara umuanyo ko? agak lain lo nampaknyo nan saikua ko mah, bara ka bajaua ko? tanya Herman salah seorang calon pembeli baruak.

Herman salah seorang warga ingin membeli beruk untuk dija­dikan beruk pemetik kelapa. Lelaki paruh baya yang memakai peci ini sibuk mengamati beruk kecil lain­nya, sesekali tangannya mencoba memegang beruk yang ada di depannya. Beruk itu pun men­desis mengeluarkan giginya, Herman mengurungkan niatnya untuk memegangnya karena beruk itu terlihat agresif.

Di sekitar lokasi latihan beruk terdapat pohon yang rimbun, di bawahnya terdapat 2 kandang besi yang berisi  12 ekor beruk yang berukuran kecil. Sisa-sisa nasi serta buah terlihat bertabur di lantai di bawah kandang. Beberapa beruk muda sibuk bermain, bergumul sam­bil menyeringai dan menggigit dan yang lain memelih sisa-sisa makanan yang berserakan di bawah kandang itu.

Mereka saling berbenturan kemudian sesekali melompat sambil membuat gerakan ber­putar di udara, juga bersalto. Di kandang yang lain seekor beruk mungil sibuk mencari kutu beruk dewasa, dan yang lain terlihat termenung sambil memegang terali besi yang dingin itu, seakan dirinya tak ingin ber­lama-di kandang yang kecil itu.

Masyarakat Sumatera Barat sudah maju secara teknologi dan informasi, namun keunikan masih terjaga seperti salah satunya beruk piaman yang masih digunakan oleh masyarakat untuk memetik kelapa. Masyarakat Pariaman sangat tertolong dengan adanya baruak piaman tersebut, baik pemilik kelapa, pelatih atau sekolah baruak, dan mayarakat berprofesi sebagai pabaruak (tuan beruk). Secara ekonomis baruak piaman mampu mensejahterakan tuannya atau keluarga, apa bila baruak tersebut digunakan untuk berusaha meman­jat kelapa.

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 22 Februari 2013 00:36