Minggu, 21 September 2014
Pemimpin yang Berakhlak PDF Cetak Surel
Jumat, 22 Februari 2013 23:29

Kemerosotan akh­lak para pemim­pin masa kini telah memberikan penga­ruh negatif yang amat besar bagi suatu instansi yang dipimpinnya.

Dalam sebuah negara misalnya, dengan tidak ada­nya sosok seorang pemimpin yang memiliki jiwa enter­preneur atau jiwa kepemim­pinan, maka secara otomatis negara tersebut akan menjadi sangat sulit untuk menjadi negara yang maju dimata dunia.

Lantas sosok pemimpin yang bagaimakah yang bisa diharapkan agar bisa menjadi panutan dan bisa menjadi seseorang yang benar-benar memberikan perubahan besar dalam kehidupan ini?

Negara Indonesia misalnya, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, masih sangat sulit mencari sosok pemimpin yang benar-benar mampu dan tangguh dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Kebanyakan pemimpin sekarang cenderung bertolak bekakang dengan ucapannya terutama pada saat mereka masih menjadi calon pemim­pin ketika akan mengikuti pemilihan. Kepintaran mereka digunakannya hanya untuk mengotak-atik kata menjadi sebuah kalimat yang sulit diprediksi oleh masyarakat. Kepandaiannya beretorika misalnya, hanya untuk kepen­tingan pribadi dan kelompok kecilnya.

Disisi lain, mereka juga kerap menjadikan jabatan sebagai ajang untuk mem­perkaya diri. Berbagai cara akan mereka lakukan untuk mendapatkan harta demi memperkaya diri dan ke­luarga.

Kekuasaan dimanfaatkan untuk mencuri harta rakyat secara terang-terangan. Jadi, wajar jika seorang pakar per­politikan mengatakan, “kekua­saan itu cenderung korup”. Ketidakadilan mereka dalam memimpin telah mem­bawa dampak yang buruk bagi kema­juan instansi yang dipim­pinnya.

Lantas hal apa yang men­jadikan mereka bertindak sewenang-wenang? Namun, sebelumnya perlu dijawab apa yang dimaksud dengan pemim­pin?  Apakah seseorang yang bertugas sebagai tukang perin­tah, atur, atau tukang pemra­kasa?

Kebanyakan dari pe­mimpin sekarang adalah seorang yang bekerja hanya memerintah saja, tanpa mau ikut turun dalam mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan kepada bawahannya.

Karena, anggapannya dia yang maha berkuasa, sehing­ga merasa bebas mau mela­kukan apa saja sekehendak hatinya tanpa memikirkan kemaslahatan bersama. Oleh sebab itu, perlu dipahami secara jelas tentang siapa dan apa itu pemimpin. Pemimpin yang seperti apa yang didam­bakan oleh masyarakat.

Meminjam istilah Henry Pratt Faiechild dalam buku Kartini Kartono (1994:33) mengungkapkan, pengertian pemimpin ialah seorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, meng­organisir atau mengontrol usaha atau upaya orang lain atau melalui prestise, ke­kuasaan dan posisi.

Sosok pemimpin seperti itulah yang sangat diharapkan untuk negara seperti Indonesia ini. Pemimpin yang mampu menjadi manejer sekaligus suri teladan bagi rakyat atau bawahannya. Sejauh ini, para petinggi negara bisa dikatakan tidak memiliki jiwa-jiwa kepemimpinan seperti ini, sehingga tidak jarang usaha yang mereka lakukan akan mengalami keterbalikan hasil dari apa yang diharapkan oleh masyarakat umum.

Dalam pengertian yang terbatas, seorang pemimpin adalah sosok yang benar-benar bisa membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya dan, juga mampu membuat anggota yang ada dibawahnya menjadi sosok yang berjiwa entertainer seperti dirinya.

Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kemam­puan kepemimpinan seseo­rang. Pertama, faktor individu adalah yang dipengaruhi oleh kepribadian, tingkah laku, karakteristik, sifat, motivasi, tanggung jawab, dan berwa­wasan luas dari seorang pemimpin tersebut. Di sini pemimpin dituntut untuk memiliki sikap dan sifat tersebut. Tujuannya, agar pemimpin itu benar-benar bisa menjadi contoh bagi orang yang dipimpinnya.

Kedua, faktor lingkungan, adalah faktor yang terbentuk dari keluarga, teman kerja, tetangga, dan masyarakat luas. Faktor ini biasanya hanya sebagai pendukung saja akan tetapi sangat penting untuk dimiliki oleh seseorang yang ingin menjadi pemimpin. Karena keluarga adalah pusat keseharian yang selalu berhu­bungan dengan setiap orang. Jadi kita tidak bisa menga­baikan keluarga dalam mem­bentuk karakter pemimpin yang handal.

Begitu juga dengan teman-teman kerja, mereka yang lebih tahu terhadap kemam­puan kita dalam bekerja, sehingga saran-saran dan kritikan dari mereka akan sangat membatu kita dalam mewujudkan sifat kepe­mimpinan itu. Dan, masyara­kat luas adalah tempat dima­na seseorang diuji terhadap kepemimpinannya.

Selain itu, segala ide-ide kreatif yang mereka miliki akan sangat berarti bagi kita demi masa depan kepemim­pinan kita nantinya. Dengan adanya ide-ide yang sebelum­nya tidak kita miliki, maka diharapkan melalui ide ter­sebut kita bisa menciptakan sebuah terobosan baru dalam masyarakat.

Ketiga, faktor sosial, yakni individu harus bisa berso­sialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya, dengan keluarga, teman bisnis, dan pastinya masyarakat sekitar. Ketiga elemen ini adalah sentral yang selalu hadir dalam kehidupan.

Selain itu, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya yakni pemahaman mengenai ilmu agama yang harus dimi­liki setiap individu. Kurangnya pengetahuan akan agama pasti memberikan dampak yang buruk bagi instansi yang dipimpinnya. Karena tidak adanya pemahaman dan pe­nga­malan ilmu agama yang jelas itulah yang menjadikan para pemimpin bertindak sewenang-wenang.

Ini hendaknya menjadi catatan utama bagi manusia sebagaimana Rasul telah memberikan contoh yang nyata kepada manusia men­jadi seorang pemimpin yang sukses sekaligus berakhlak mulia. (*)


Irfan Sona

(Direktur Lembaga Kajian Ilmu Perbandingan Agama IAIN Walisongo)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: