Rabu, 22 May 2013
Optimisme Akhir Tahun PDF Cetak Surel
Jumat, 31 Desember 2010 01:59

Pergantian tahun senantiasa membuat semua orang berhitung. Yang pasti adalah menghitung apa yang sudah dilakukan selama tahun lalu dan apa yang akan dilakukan pada tahun berikutnya. Satu hal yang biasanya sama dan sebangun dilakukan orang adalah bahwa tahun berikutnya senantiasa diharapkan lebih baik dari tahun yang akan ditinggalkan.

Sumatera Barat juga berharap lebih baik di tahun berikut ini. Peristiwa-peristiwa pahit sepanjang 2010 yang terutama dipuncaki oleh gempa 25 Oktober sungguh telah membuat kenangan tak terlupakan seumur hidup kita.

Luka-luka akibat gempa 2009 yang belum sembuh sama sekali lalu ditukuk pula oleh gempa 25 Oktober 2010. Walhasil membuat kondisi ekonomi dan sosial di Sumatera Barat menjadi amat berat. Pemerintah sudah menjawabnya dengan membuat jalan keluar berupa program rehab rekon.

Sebenarnya Tahun 2010 karena imbas gempa silam, pertumbuhan ekonomi Sumbar jadi agak terganggu. Namun perlahan-lahan sudah mulai kembali pulih meskipun belum sepenuhnya membaik.

Tapi banyak pengamat ekonomi menyebut tahun 2011 pertumbuhan ekonomi Sumbar akan bisa mencapai di atas 6 persen dengan syarat ada perbaikan sikap kepala daerah dalam menata kebijakan ekonomi. Guru besar ekonomi Universitas Andalas, Prof. Syafruddin Karimi misalnya, memprediksi pertumbuhan ekonomi akan membaik. Tapi apa yang diharapkan semua pihak itu tidak mungkin bisa terealisasi jika tidak ada campur tangan pemerintah. Oleh karena itu pemerintah harus lebih ekspansif lagi.

Pemerintah harus memiliki kebijakan yang pro terhadap perekonomian, dan pro terhadap investor. Apalagi dengan situasi Sumbar yang masih rawan dengan isu seputar gempa dan tsunami yang menakutkan untuk investasi.

Kalau Pemda kita saja juga takut dengan situasi tersebut, apalagi investor. Investasi itu sangat tergantung tekad pemerintah. Pemerintah harus punya komitmen untuk meredam ketakutan itu. Caranya adalah dengan melakukan perbaikan jalur evakuasi. Memperbaiki sentra-sentra ekonomi seperti pasar. Dengan komitmen yang kuat dari Pemda, maka ketakutan investor perlahan juga akan hilang.

Karena tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa investasi. Oleh karena itu investasi sangat diperlukan dan itu butuh dukungan Pemda.  Menggaet investor juga bukan berarti membagi-bagikan insentif, namun lebih pada bagaimana kita membangun infrastruktur yang mendukung kegiatan investasi tersebut.

Ya seperti jalan, jalur evakuasi tsunami juga, pasar, listrik, dan lain sebagainya. Sesuatu yang memudahkan investor, yang tidak menimbulkan biaya ekonomi tinggi,” terangnya.

Apalagi Sumbar juga mendapatkan tambahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2011 senilai Rp16, 464 triliun. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun 2010 yang hanya berjumlah 13 triliun Rupiah. Kembali ke soal sikap Pemda tadi. Maksudnya tentu tidak hanya Pemprov, tapi Pemkab dan Pemko se Sumatera Barat khususnya yang ada di daerah bencana dan daerah yang sudah terkena bencana sebelumnya. Dari kasat mata saja dapat dilihat betapa beratnya untuk meyakinkan para investor untuk mau menanamkan modalnya (lagi) di Sumatera barat.

Semua investor seperti sepakat bahwa diperlukan dukungan kuat dari Pemda untuk membuat investor menjadi tidak kehilangan keyakinan bahwa kalau menanam modal di daerah ini tidak akan rugi.

Satu gerakan yang serempak untuk menumbuhkan kepercayaan investor dan memperbnaiki iklim investasi belum terlihat nyata. Kegiatan hanya baru sekedar mengundang calon investor. Tapi upaya untuk mene­namkan keyakinan investor kurang terlihat. Yang paling dekat contohnya adalah mengurangi rasa was-was investor terhadap gempa dan tsunami.

Celakanya, banyak aparat pemerintah juga terkesan takut. Akibatnya mereka juga tidak terlalu memikirkan langkah perbaikan iklim, melainkan bagaimana untuk mencoba mengambankan diri sendiri terlebih dulu. Kecemasan bekerja membuat aparatur tidak konsentrasi pada pelayanan umum dimana mereka harus juga memikirkan orang ramai.

Selamat Tahun Baru 2011.***

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: