Senin, 22 September 2014
Eks Parasit Lajang Menjadi Thomas PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Sabtu, 02 Maret 2013 22:34

DARI MUSYAWARAH BUKU PENGAKUAN:

‚ÄúAneh sekali tetapi aku percaya bahwa Tuhan meng¬≠izinkan aku untuk tidak perca¬≠ya kepadanya.‚ÄĚ Hlm. 157

Pengakuan:  Eks  Parasit  Lajang  novel  teranyar  dari  penulis  Ayu  Utami,  sarat akan  problem-problem  eksis­tensial.  Problem  yang  me­nyang­kut  bagaimana seorang  individu  mengalami  pergelu­tan  pilihan  yang  ia  hadapi.  Novel  ini berkisah  tentang  tokoh  A,  seorang  perempuan  yang  memiliki  cara  pandang tersendiri  tentang  hidup.  Cara  pandang,  cara  bertin­dak  yang  mendobrak konfor­mitas sosialnya. Novel ini menceritakan secara menda­lam bagaimana cikal bakal  tokoh  A  yang  dewasa  berakhir  dengan  sikap  serta  watak  demikian.

Pembaca  dipersilahkan  menyaksikan  apa  yang  telah  dialami  tokoh  A  ketika  ia masih  kanak-kanak,  bagian  dari  teka-teki  yang  penting  untuk  memahami  jiwa dari A.

Sulit¬† meletakan¬† karya¬† Ayu¬† Utami¬† ke¬† dalam¬† sebu¬≠ah¬† kotak.¬† Karya¬† ini, bernilai spiritual, tetapi buku ini bukan buku ‚Äúself-help‚ÄĚ, karya ini humoris, tetapi ada bebera¬≠pa bagian yang berbicara tentang advokasi keadilan perempuan yang¬† bernada¬† serius¬† dan¬† tajam,¬† karya¬† ini¬† revolusioner¬† karena¬† berbicara¬† tentang resistensi¬† dan¬† keju¬≠juran¬† yang¬† total,¬† tetapi¬† disisi¬† lainnya¬† karya¬† ini¬† adalah¬† kisah hidup¬† seorang¬† manusia¬† biasa.¬† Karya¬† ini¬† megah,¬† tetapi¬† juga¬† rendah¬† hati.¬† Metode penulisan¬† para¬≠dok¬≠sal¬† yang¬† mungkin¬† hanya¬† dimiliki¬† seorang¬† Ayu¬† Utami.

Membaca  karya  Ayu  Utami  membuat  kita  beri­ma­jinasi  bilakah  kita  me­miliki alam  semesta  alterna­tif  dimana  perempuan  sung­guh-sungguh  merdeka, masya­rakat  tidak  bersembunyi  di  balik  ayat-ayat  moralis,  dan  keadilan  bukan sekadar  argumen  para  filosof  di  dalam  buku-buku  tebal.  Melalui  narasi  A  kita menyaksikan  dunia  yang  sama  sekali  berbeda,  dunia  dimana  konsep-konsep lelaki,  perempuan,  negara,  komuni­tas,  agama,  seksualitas  adalah  kata-kata dengan pengertian baru yang dilalui rasionalisasi ketat dan kritis.

Pengakuan:¬† Eks¬† Parasit¬† Lajang¬† dapat¬† dibagi¬† menjadi¬† tiga¬† bagian,¬† yang pertama adalah ‚ÄúSeorang Gadis yang Melepas Keperawanannya dan Menjadi Peselingkuh‚ÄĚ yang kedua adalah ‚ÄúBocah yang Kehilangan Imannya‚ÄĚ dan yang terakhir¬† adalah¬† ‚ÄúSeo¬≠rang¬† Wanita¬† di¬† Jalan¬† Pulang‚Ä̬† Masing-masing¬† bagi¬≠an mengisahkan¬† waktu¬† ter¬≠tentu¬† dalam¬† kehidupan¬† tokoh¬† A.¬† Bagian¬† pertama ‚ÄúSeorang¬† Gadis¬† yang¬† Mele¬≠pas¬† Keperawanannya¬† dan¬† Menjadi¬† Peselingkuh‚ÄĚ meru¬≠pakan¬† bagian¬† dimana¬† tokoh¬† A¬† mengeksplorasi¬† masa¬† awal¬† rasa¬† ingin¬† tahu seksu¬≠alitasnya.¬† Pada¬† fragmen¬† ini¬† tokoh¬† A¬† sedang¬† menikmati¬† masa-masa perkuliahannya¬† dan¬† pertemuannya¬† dengan¬† dua¬† tokoh¬† pria¬† yakni,¬† Mat¬† dan¬† Nik.

Tokoh  A  mulai  mema­hami  ada  kekuasaan  di  dalam  tubuhnya,  dan  ia  menolak

Upanishad di Sekolah Tinggi Agama Hindu, Rawa­ma­ngun, Jakarta, dan penya­nyi.

untuk  menjadi  kisah  klise  perempuan  kampus  yang  diselingkuhi  oleh  pacar­nya.

Ia tidak terburu-buru ingin berkomitmen, ia mengambil waktu untuk mengenali dua  lelaki  di  dalam  hidupnya,  Mat  mahasiswa  Sastra  UI,  dan  Nik  mahasiswa Teknik UI. Kontrol muncul sebagai gagasan utama di dalam bagian pertama ini.

Tokoh  A  adalah  seorang  gadis  yang  tahu  apa  yang  ia  inginkan  dan  ia  tahu bagaimana  memegang  ken­dali.  Ketika  A  menjalani  relasi  dengan  Nik  dan  Mat sesungguhnya  ia  ingin  mem­buktikan  bahwa  perempuan  kerap  dibatasi keleluasaanya,  tetapi  A  adalah  perempuan  yang  paham  kebebasannya.

Kebebasannya untuk me­milih diantara dua lelaki.

Diantara¬† dua¬† lelaki¬† itu,¬† A¬† memilih¬† mengakhiri¬† masa¬† perawannya¬† dengan Nik.¬† Pilihan¬† tersebut¬† tidak¬† mu¬≠dah,¬† karena¬† Mat¬† adalah¬† lelaki¬† baik¬† yang¬† dapat memberikan¬† rasa¬† nyaman,¬† tetapi¬† A¬† bukanlah¬† seorang¬† gadis¬† yang¬† cukup¬† dengan rasa¬† aman,¬† ia¬† ingin¬† tanta¬≠ngan,¬† dan¬† gairahnya¬† terpaut¬† pada¬† Nik.¬† Lantas,¬† ia¬† pun menjalani hubungannya de¬≠ngan Nik, meski berbeda keyakinan, tradisi dan nilai-nilai. Hal penting yang patut dibahas pada bagian ini ada¬≠lah bagaimana tokoh A ber¬≠pikir tentang keperawanan, ‚ÄúLalu perempuan-perempuan¬† itu¬† siap¬† dikirim¬† ke muka¬† bumi.¬† Sebagai¬† produk¬† untuk¬† konsumsi¬† lelaki.¬† Lelaki¬† membelinya.¬† Jika segelnya rusak, lelaki berhak menu¬≠karnya.‚ÄĚ(hlm. 34) Kepe¬≠rawa¬≠nan adalah salah satu¬† mitos¬† yang¬† diwacanakan¬† budaya¬† partriarki¬† untuk¬† menyekap¬† perempuan sebagai¬† objek.¬† Tubuh¬† dapat¬† distan¬≠darisa¬≠sikan,¬† apa¬† yang ¬†apik,¬† baik,¬† dan¬† pantas.

Perempuan yang baik adalah perempuan yang mele­pas keperawanannya dengan suaminya,  setelah  menjalani  perkawinan.  Tentunya  tokoh  A  tidak  puas  dengan asumsi  moral  masyarakat  yang  menurutnya  merugikan  bagi  perempuan.

Keperawanan¬† adalah¬† dok¬≠trin¬† budaya¬† misogin¬† yang¬† menjadikan¬† tubuh perempuan¬† seperti¬† benda¬† yang¬† ada¬† ketentuan¬† layak¬† atau¬† tidak¬† layak¬† untuk dikonsumsi.¬† Rupanya¬† pelepasan¬† mitos¬† tentang¬† keperawanan¬† menja¬≠di¬† titik¬† tolak penting dalam seksualitas A. Ia tidak perlu diberitahu oleh suatu otoritas tentang tubuhnya¬† sendiri.¬† A¬† menikmati¬† tubuhnya,¬† ia¬† tidak¬† merasa¬† malu¬† dengan¬† birahi yang ia rasakan, ia memahami apa yang dibu¬≠tuhkan oleh tubuhnya.¬†¬†¬† Ta¬≠man dan dosa adalah hal lainnya yang mengusik A, ‚ÄúAku tidak mau menyebutnya dosa. Aku mau menyebutnya sebagai kesedihan. Ya, mulai hari itu aku mengganti kata dosa dengan kesedihan. Yaitu bahwa kau mengetahui dirimu sendiri¬† dan¬† itu¬† menye¬≠babkan¬† engkau¬† tercerabut¬† dari¬† ketidaktahuanmu¬† yang murni.¬† Inilah¬† kesedihan.¬† Penge¬≠tahuan¬† membuat¬† diri¬≠mu¬† terkoyak.¬† Pengetahuan membuatmu terpisah sebagai yang mengetahui dari yang diketahui.‚ÄĚ (hlm. 10-11) Aga¬≠ma¬† memberikan¬† penjelasan¬† tentang¬† bagaimana¬† manusia¬† mengada¬† di¬† dunia ini,¬† tetapi,¬† penjelasan¬† itu¬† berbuntut¬† berbagai¬† macam¬† polemik.¬† Disaat¬† manusia merasakan¬† buah¬† pengetahuan¬† se¬≠sung¬≠guh¬≠nya¬† ia¬† meninggalkan¬† damainya ketidaktahuan,¬† ia¬† meninggalkan¬† taman¬† yang¬† terisolir.¬† Seorang¬† filosof¬† Denmark,

Soren¬† Kierkegaard¬† pernah¬† mengkontemplasikan¬† kondisi¬† yang¬† sama.¬† Benarkah manu¬≠sia terjatuh disaat ia mema¬≠kan buah pengetahuan? Benar¬≠kah ia berserah ke dalam dosa? Dalam The Concept of Anxiety pertanyaan-perta¬≠nyaan ini berusaha dijawab oleh Kierkegaard, apa yang dapat dipahami sebagai Here¬≠ditary Sin, atau dosa¬† bawaan.¬† Tokoh¬† A¬† menyatakan¬† bahwa¬† ia¬† tidak¬† ingin¬† menyatakan¬† dosa sebagai¬† hukuman¬† dari¬† tindakan¬† manusia¬† yang¬† telah¬† merasakan¬† buah pengetahuan¬† yang¬† terlarang,¬† tetapi¬† suatu¬† kesedihan,¬† karena¬† manusia¬† telah ter¬≠ambil¬† dari¬† kenaifannya.¬† Tetapi¬† Kierkegaard¬† menga¬≠jukan¬† argumentasi¬† yang cerdik¬† terhadap¬† kesedihan¬† meninggalkan¬† taman¬† firdaus¬† ini¬†¬†¬† ia¬† mengatakan,¬† ‚Äúanxiety is freedom s possibility‚ÄĚ (hlm. 155) Ia menjelaskan bahwa ketika Hawa dan Adam me¬≠makan buah pengetahuan sesungguhnya mereka tidak jatuh, tetapi tersadar¬† akan¬† apa¬† yang¬† dimaksud¬† dengan¬† kebebasan.¬† Meski¬† Tuhan¬† melarang, tetapi pohon itu berdiri disana, terjangkau, Adam dan Hawa¬† dapat meraih buah itu.¬† Apa ¬†yang¬† dirasakan¬† oleh¬† Adam¬† dan¬† Hawa¬† ketika¬† mereka¬† meng¬≠gigit¬† buah pengetahuan¬† ada¬≠lah¬† kecemasan,¬† rasa¬† cemas¬† yang¬† muncul¬† ketika¬† menya¬≠dari bahwa¬† dirinya¬† bebas.¬† Bagi¬† Kierkegaard¬† kecemasan¬† ini¬† adalah¬† petanda¬† bahwa manusia¬† memiliki¬† kesem¬≠patan¬† untuk¬† merasakan¬† sesuatu¬† yang¬† lebih¬† penting yakni iman, ‚Äú‚ÄĒonly such anxiety is through faith absolu¬≠tely educative, because it consumes all finite ends and discovers all their decepti¬≠veness.‚ÄĚ (Ibid.)

Rupanya¬† bagi¬† Kierkega¬≠ard,¬† jalan¬† kecemasan¬† adalah¬† jalan¬† yang memungkinkan¬† lahirnya¬† iman.¬† Iman¬† datang¬† dari¬† pertempuran¬† batin,¬† iman muncul¬† dari¬† rasa¬† ragu¬† serta¬† kegundahan¬† terhadap¬† suatu¬† pilihan.¬† Jadi,¬† mustahil untuk meyakini sesuatu tanpa merasakan kecemasan ters¬≠e¬≠but terlebih dahulu. Di dalam¬† bagian¬† selanjutnya,¬† ‚ÄúBocah¬† yang¬† Kehilangan¬† Imannya‚Ä̬† tokoh¬† A digambarkan sebagai anak kecil‚ÄĒtidak lebih dari sepuluh tahun, yang men¬≠jalani masa¬† kanak-kanaknya¬† di¬† kota¬† hujan.¬† Di¬† kota¬† hujan¬† itu¬† A¬† mencermati¬† keadaan sekitarnya, kelu¬≠arganya, Ayah dan Ibunya, kedua Bibinya, sekolahnya, gerejanya, yang¬† kelak¬† mem¬≠bentuk¬† wataknya¬† dan¬† bagai¬≠mana¬† ia¬† mengkon¬≠sepsikan¬† ide kebebasannya.¬† Selepas¬† kepindahan¬† A¬† ke¬† Jakarta¬† ia¬† mulai¬† mempertanyakan adakah keadilan di dalam dunia ini? ‚ÄúAku sampai pada kesimpulan. Kelahiran me¬≠mang tidak adil. Tapi jika kita percaya Tuhan maha adil, maka tugas manusia adalah mengusahakan keadilan itu.‚ÄĚ (hlm. 145) A kerap memper¬≠tanyakan apa itu keadilan?¬† Ia¬† pun¬† harus¬† menyadari¬† bahwa¬† konsekuensi¬† untuk¬† keluar¬† dari¬† taman firdaus¬† adalah¬† menerima¬† keadaan¬† ketidakadilan,¬† menerima¬† kesengsaraan¬† dan bahwa¬† keadaan-keadaan¬† tersebut¬† merupakan¬† implikasi¬† dari¬† adanya¬† gagasan tentang¬† kebebasan.¬† Tetapi¬† meski¬† A¬† adalah¬† seorang¬† yang¬† logis¬† dan¬† realis,¬† ia¬† pun romantis,¬† ia¬† memegang¬† erat¬† kenangan¬† sentimentalnya¬† tentang¬† alki¬≠tab¬† dan bagaimana¬† alkitab¬† membicarakan¬† Tuhan¬† Allah¬† yang¬† maha¬† adil.¬† Maka¬† A menyatakan¬† bahwa¬† kehidu¬≠pan¬† merupakan¬† persoalan¬† bagaimana¬† manusia menya¬≠dari¬† keadilan¬† dan¬† mengu¬≠payakan¬† keadilan¬† tersebut.¬† Tetapi¬† sumber keresahan¬† A¬† di¬† usia¬† mudanya¬† adalah¬† bagaimana¬† mengkom¬≠patibel¬≠kan keyakinannya,¬† agamanya,¬† dengan¬† apa¬† yang¬† ia¬† anggap¬† adil.¬† Ia¬† tercengang menyadari¬† bahwa¬† agama¬† yang¬† menga¬≠jarkannya¬† tentang¬† persau¬≠daraan, kesetaraan¬† dan¬† cinta¬† kasih,¬† dalam¬† penjelmaannya¬† menjadi¬† hirarki¬† ia¬† justru menjadi penyebab ketida¬≠kadilan.

Kontradiksi¬† ini¬† merupa¬≠kan¬† jantung¬† permasalahan¬† dalam¬† diri¬† A.¬† Ia¬† sulit menalarkan¬† bagaimana¬† aga¬≠ma¬† yang¬† mengajarkannya¬† tentang¬† kemanusiaan, disaat yang bersamaan mengen¬≠dapkan nilai-nilai diskrimi¬≠nasi. Pergolakan untuk mema¬≠hami¬† keyakinan¬† sebagai¬† suatu¬† spiritualitas¬† dibanding¬≠kan¬† dengan keyakina¬≠n yang dibentuk, diperintahkan oleh agama sebagai institusi nam¬≠paknya berbekas¬† pada¬† diri¬† A¬† hingga¬† nantinya¬† ia¬† mendewasa.¬† Kecurigaannya¬† terhadap agama¬† beserta¬† perangkat¬† hirakinya¬† menye¬≠babkan¬† A¬† kehilangan¬† iman¬† terhadap institusi tersebut, ia mengambil jarak terhadap gereja, ‚ÄúRupanya agama tidak ramah¬† kepada¬† perempuan¬† seperti¬† mereka¬† kepada¬† laki-laki‚ÄĚ (hlm. 156) Suatu khotbah¬† yang¬† diba¬≠wakan¬† oleh¬† seo¬≠rang¬† Pater¬† semakin¬† mem¬≠buat¬† tokoh¬† A¬† muda frustasi¬† dengan¬† bagai¬≠mana¬† agama¬† mendiskri¬≠minasikan¬† perem¬≠puan.¬† Se¬≠men¬≠jak khot¬≠bah¬† itu,¬† tokoh¬† A¬† bertekad¬† untuk¬† melawan¬† ketidakadilan¬† yang¬† menimpa perempuan. Melalui matanya pula ia melihat bagaimana masyarakat secara banal menjalani¬† konsep¬† dasar¬† perkawinan¬† yang¬† secara¬† ketus¬† memberikan¬† porsi peranan¬† yang¬† terbatas¬† bagi¬† perempuan,¬† bahwa¬† perem¬≠puan¬† adalah¬† yang¬† perlu dibina¬† di¬† dalam¬† rumah¬† tangga,¬† ranahnya¬† domestik,¬† dan¬† ia¬† bertempat¬† kedua setelah suaminya yang merupakan seorang kepala rumah tangga. Pertimbangan-pertimbangan¬† inilah¬† yang¬† membentuk¬† karakter¬† A¬† sebagai¬† seorang¬† perempuan dewasa,¬† mengapa¬† ia¬† meno¬≠lak¬† mengikuti¬† arus¬† yang¬† dianjurkan¬† oleh¬† masyarakat.

Karena  pasrah  atau  diam  menjadi  bentuk  perse­kutuan  dengan  ketidakadilan yang  sedari  kecil  ia  telah  sadari.  Untuk  tokoh  A,  sangat  penting  baginya  untuk berbicara  dan  menulis  tentang  ketidakadilan  ini,  meski  harga  yang  harus ditanggung adalah terasing dari keluarga serta masya­rakatnya. A berpikir bahwa segala kaidah moral yang dianut oleh masyarakat sejati­nya dapat dipertanyakan, khususnya kaidah yang menga­tur tentang perempuan dan perkawinan.

Bagian¬† terakhir¬† di¬† dalam¬† novel¬† Pengakuan:¬† Eks¬† Parasit¬† Lajang¬† adalah bagian yang paling rumit dari keseluruhan kisah. Mengapa? Karena pada bagian inilah¬† pembaca¬† diajak¬† untuk¬† mengikuti¬† alur¬† penalaran¬† tokoh¬† A.¬† Pada¬† bagian¬† ini pula¬† diceritakan¬† bagaimana¬† petualangan¬† A¬† mengantarkannya¬† untuk¬† berkenalan dengan seorang fotograger tampan bernama Rik. Ibarat menelisik ke dalam otak A¬† dan¬† melihat¬† mekanisme¬† rasionya¬† bekerja.¬† Memikirkan¬† problem-problem ontologis¬† yang¬† selama¬† ini¬† menghantui¬† A.¬† Menjadi¬† momok¬† di¬† dalam¬† A.¬† Sedari kecil Ibunya selalu mengajarkan, ‚ÄúJika kau takut sesuatu, maka sesuatu itu harus diperjelas. Sesuatu itu harus dihadapi.‚ÄĚ (hlm. 102) Didikan Ibunya melekat di dalam¬† komputasi¬† berpikir¬† A.¬† Segala¬† sesuatu¬† yang¬† ia¬† anggap¬† mengancam¬† harus dianalisa¬† sedemikian¬† rupa.¬† Radikalisasi¬† ini¬† yang¬† memungkinkan¬† A¬† menerbos untuk¬† menemukan¬† ruang¬† baru¬† untuk¬† memahami¬† apa¬† itu¬† spiritualitas,¬† cinta¬† dan komitmen.¬† Ruang¬† baru¬† dimana¬† ia¬† dapat¬† membangun¬† kerangka¬† pemahamannya tentang komitmen perkawinan, agama dan keadilan dengan leluasa, ‚ÄúA akan membangun kota‚ÄĒkota itu bekerja dengan prinsip yang sama sekali berbeda dari Benteng¬† Perkawinan.¬† Di¬† sini¬† manusia¬† tidak¬† dibatasi¬† ke¬† dalam¬† wilayah perempuan¬† dan¬† wilayah¬† lelaki.‚ÄĒperbedaan¬† diakui,¬† tanpa¬† hirarki.¬† Tak¬† satu¬† pun boleh¬† direndahkan¬† atau¬† dipinggirkan.¬† Semua¬† boleh¬† bergaul¬† dan¬† bertukar piki¬≠ran.‚ÄĚ (hlm.¬† 184)¬† Bagian¬† yang¬† menguraikan¬† cetusan-cetusan¬† pemikiran¬† A menun¬≠jukan¬† betapa¬† kompleks¬≠nya¬† sistem¬† kesadaran¬† manusia.¬† Ini¬† ditunjukan dengan¬† bagaimana¬† distinktifnya¬† A¬† mengajukan¬† pertanyaan¬† kepada¬† dirinya sendiri.¬† Bagaimana¬† ia¬† tanpa¬† lelah¬† menguji,¬† mengkonteskan¬† gagasannya¬† sendiri hingga sampai pada suatu postulasi yang ia anggap dapat dipertahankan sebagai suatu¬† kebenaran.¬† Bagian¬† Game¬† 1-7¬† menunjukan¬† modus¬† berpikir¬† A¬† yang¬† sangat dialektis,¬† yang¬† menjadikan¬† pengalaman¬† sebagai¬† pembelajaran,¬† sementara¬† ia menunda segala doktrin-doktrin agama, nilai-nilai sosial, demi mencari hakikat.

Walaupun di catatan akhir ditekankan oleh penulis tentang karakter A dan apa  yang  mendorong  A  untuk  akhirnya  menyelenggarakan  perkawinan,  bahwa kisah  ini  bukanlah  suatu  roman.  Bagaimanapun  juga  sulit  untuk  tidak  terharu, menangis dan mengatakan bahwa kisah ini adalah kisah percintaan. Bahwa relasi A  dan  Rik  adalah  kisah  cinta  yang  indah  dengan  caranya  yang  manusiawi,  yang tidak  menggunakan  mitos-mitos  usang  tentang  pangeran  menyelamatkan  tuan putri dan mereka hidup selama-lamanya. Tetapi kisah cinta ini adalah kisah yang penuh  memar  dan  luka,  yang  mendewasakan  A  secara  spiritual.  Penulis  Ayu

Utami di halaman awal buku ini mengatakan, ‚ÄúUntuk Santo Agustinus yang pertama¬† kali,¬† 1600¬† tahun¬† silam menulis Pengakuan.‚ÄĚ Santo Agustinus sang filosof¬† Abad¬† Pertengahan¬† yang¬† berjasa¬† menyelamatkan¬† filsafat¬† barat¬† dari penghangusannya.¬† Ia¬† menyisipkan¬† ide-ide¬† Platonian¬† ke¬† dalam¬† ayat-ayat¬† Alkitab yang¬† bicara¬† tentang¬† jiwa¬† yang¬† ingin¬† membebaskan¬† dirinya¬† dari¬† penjara keduniawian. Di dalam dua karya masyhurnya Confession dan City of God, Santo Agustinus¬† selalu¬† mengingatkan¬† bahwa¬† betapa¬† sementaranya¬† pengejaran kenikmatan duniawi, yang oleh tokoh A dikatakan sebagai ‚ÄěMaya . Di dalam Upanisad dikatakan tentang Maya, bahwa pada suatu titik ada kalanya jiwa atau atman¬† ingin¬† meninggalkan¬† realitas¬† Maya¬† dan¬† bersatu¬† dengan¬† alam¬† Brahman.¬† Pada¬† mo¬≠men¬≠tum¬† ini,¬† segala¬† yang¬† dualis¬≠tis,¬† paradox¬† disele¬≠saikan¬† dengan Vijnanam, atau pencerahan dari Brah¬≠man.

Kematian memang janggal dalam pengertian yang eksis­tensialistik, secara biologis,  kita  dapat  memahami  bah­w­a  setiap  manusia  akan  mati.  Tetapi  bila ematian  terjadi  di  hadapan  kita,  menimpa  mereka  yang  kita  sayangi,  ada  rasa absurd,  gamang  dan  sesal.  Menjelang  akhir  kisah  ini,  A  harus  kehilangan  Nik, kekasih  pertamanya,  sahabat  yang  dekat  di  hatinya.  Kematian  Nik menghancurkan  hati  A,  meninggalkan  A  dengan  rasa  cemas  yang  pernah  ia rasakan  di  masa  kanak-kanaknya,  rasa  rapuh  yang  amat  tidak  ia  sukai.  Namun sesuatu  tumbuh  dibalik  kerapuhan,  suatu  kelahiran  kembali,  suatu  kesadaran bahwa  sebagian  besar  keputusan  hidup  tidak  dapat  dikalkulasikan  secara rasional terus menerus. Ada situasi-situasi dimana seseorang harus melompat di dalam kegelapan dan mengambil resiko. Ada beberapa hal yang mesti diterangi, diradikalisir,  dipecahkan,  tetapi  ada  beberap  hal  yang  tetap  menjadi  misteri kehidupan,  yang  tetap  menyergap  kita  dikala  tak  terduga,  segala  yang sesungguhnya empunya rahasia Tuhan.

‚ÄúPada akhirnya aku memutuskan untuk menjadi Thomas. Yaitu, si peragu yang menuntut jawaban.‚ÄĚ (hlm. 157) Ada kemuliaan untuk menjadi Thomas sang peragu.¬† Ia¬† ragu¬† bukan¬† untuk¬† alasan¬† mencemooh¬† atau¬† melecehkan¬† Kristus.¬† Ia ragu¬† karena¬† ia¬† butuh¬† pendiriannya¬† untuk¬† menegakan¬† imannya.¬† Begitu¬† pula dengan¬† A,¬† ia¬† menjadi¬† peragu¬† justru¬† dikarenakan¬† ketidapuasannya¬† terhadap dogma¬† dan¬† doktrin.¬† Ia¬† menjadi¬† peragu¬† sebagai¬† bentuk¬† kritik¬† terhadap¬† banalitas tradisi¬† beragama. ¬†Keraguan¬† menunjukan¬† kebe¬≠basan¬† bertindak¬† seseorang, bagaimana¬† seseorang¬† meng¬≠kontemplasikan¬† fakti¬≠sitas¬≠nya.¬† Keraguan,¬† kecemasan, kegelisahan¬† adalah¬† emosi-emosi¬† mendasar¬† yang¬† menj¬≠adikan¬† seseorang¬† begitu manusiawi. Seperti yang dikatakan oleh Kierkegaard,

‚ÄúIf a human being were a beast or an angel, he could not be in anxiety. Because he is a synthesis, he can be in anxiety; and the more pro¬≠foundly he is in anxiety, the great is the man.‚ÄĚ (hlm 155). (salihara.org)

Saras  Dewi  adalah  pengajar  Filsafat  di  FIB  Universitas  Indonesia,  Depok.


(Saras Dewi)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy