Kamis, 23 Oktober 2014
Eks Parasit Lajang Menjadi Thomas PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Sabtu, 02 Maret 2013 22:34

DARI MUSYAWARAH BUKU PENGAKUAN:

“Aneh sekali tetapi aku percaya bahwa Tuhan meng­izinkan aku untuk tidak perca­ya kepadanya.” Hlm. 157

Pengakuan:  Eks  Parasit  Lajang  novel  teranyar  dari  penulis  Ayu  Utami,  sarat akan  problem-problem  eksis­tensial.  Problem  yang  me­nyang­kut  bagaimana seorang  individu  mengalami  pergelu­tan  pilihan  yang  ia  hadapi.  Novel  ini berkisah  tentang  tokoh  A,  seorang  perempuan  yang  memiliki  cara  pandang tersendiri  tentang  hidup.  Cara  pandang,  cara  bertin­dak  yang  mendobrak konfor­mitas sosialnya. Novel ini menceritakan secara menda­lam bagaimana cikal bakal  tokoh  A  yang  dewasa  berakhir  dengan  sikap  serta  watak  demikian.

Pembaca  dipersilahkan  menyaksikan  apa  yang  telah  dialami  tokoh  A  ketika  ia masih  kanak-kanak,  bagian  dari  teka-teki  yang  penting  untuk  memahami  jiwa dari A.

Sulit  meletakan  karya  Ayu  Utami  ke  dalam  sebu­ah  kotak.  Karya  ini, bernilai spiritual, tetapi buku ini bukan buku “self-help”, karya ini humoris, tetapi ada bebera­pa bagian yang berbicara tentang advokasi keadilan perempuan yang  bernada  serius  dan  tajam,  karya  ini  revolusioner  karena  berbicara  tentang resistensi  dan  keju­juran  yang  total,  tetapi  disisi  lainnya  karya  ini  adalah  kisah hidup  seorang  manusia  biasa.  Karya  ini  megah,  tetapi  juga  rendah  hati.  Metode penulisan  para­dok­sal  yang  mungkin  hanya  dimiliki  seorang  Ayu  Utami.

Membaca  karya  Ayu  Utami  membuat  kita  beri­ma­jinasi  bilakah  kita  me­miliki alam  semesta  alterna­tif  dimana  perempuan  sung­guh-sungguh  merdeka, masya­rakat  tidak  bersembunyi  di  balik  ayat-ayat  moralis,  dan  keadilan  bukan sekadar  argumen  para  filosof  di  dalam  buku-buku  tebal.  Melalui  narasi  A  kita menyaksikan  dunia  yang  sama  sekali  berbeda,  dunia  dimana  konsep-konsep lelaki,  perempuan,  negara,  komuni­tas,  agama,  seksualitas  adalah  kata-kata dengan pengertian baru yang dilalui rasionalisasi ketat dan kritis.

Pengakuan:  Eks  Parasit  Lajang  dapat  dibagi  menjadi  tiga  bagian,  yang pertama adalah “Seorang Gadis yang Melepas Keperawanannya dan Menjadi Peselingkuh” yang kedua adalah “Bocah yang Kehilangan Imannya” dan yang terakhir  adalah  “Seo­rang  Wanita  di  Jalan  Pulang”  Masing-masing  bagi­an mengisahkan  waktu  ter­tentu  dalam  kehidupan  tokoh  A.  Bagian  pertama “Seorang  Gadis  yang  Mele­pas  Keperawanannya  dan  Menjadi  Peselingkuh” meru­pakan  bagian  dimana  tokoh  A  mengeksplorasi  masa  awal  rasa  ingin  tahu seksu­alitasnya.  Pada  fragmen  ini  tokoh  A  sedang  menikmati  masa-masa perkuliahannya  dan  pertemuannya  dengan  dua  tokoh  pria  yakni,  Mat  dan  Nik.

Tokoh  A  mulai  mema­hami  ada  kekuasaan  di  dalam  tubuhnya,  dan  ia  menolak

Upanishad di Sekolah Tinggi Agama Hindu, Rawa­ma­ngun, Jakarta, dan penya­nyi.

untuk  menjadi  kisah  klise  perempuan  kampus  yang  diselingkuhi  oleh  pacar­nya.

Ia tidak terburu-buru ingin berkomitmen, ia mengambil waktu untuk mengenali dua  lelaki  di  dalam  hidupnya,  Mat  mahasiswa  Sastra  UI,  dan  Nik  mahasiswa Teknik UI. Kontrol muncul sebagai gagasan utama di dalam bagian pertama ini.

Tokoh  A  adalah  seorang  gadis  yang  tahu  apa  yang  ia  inginkan  dan  ia  tahu bagaimana  memegang  ken­dali.  Ketika  A  menjalani  relasi  dengan  Nik  dan  Mat sesungguhnya  ia  ingin  mem­buktikan  bahwa  perempuan  kerap  dibatasi keleluasaanya,  tetapi  A  adalah  perempuan  yang  paham  kebebasannya.

Kebebasannya untuk me­milih diantara dua lelaki.

Diantara  dua  lelaki  itu,  A  memilih  mengakhiri  masa  perawannya  dengan Nik.  Pilihan  tersebut  tidak  mu­dah,  karena  Mat  adalah  lelaki  baik  yang  dapat memberikan  rasa  nyaman,  tetapi  A  bukanlah  seorang  gadis  yang  cukup  dengan rasa  aman,  ia  ingin  tanta­ngan,  dan  gairahnya  terpaut  pada  Nik.  Lantas,  ia  pun menjalani hubungannya de­ngan Nik, meski berbeda keyakinan, tradisi dan nilai-nilai. Hal penting yang patut dibahas pada bagian ini ada­lah bagaimana tokoh A ber­pikir tentang keperawanan, “Lalu perempuan-perempuan  itu  siap  dikirim  ke muka  bumi.  Sebagai  produk  untuk  konsumsi  lelaki.  Lelaki  membelinya.  Jika segelnya rusak, lelaki berhak menu­karnya.”(hlm. 34) Kepe­rawa­nan adalah salah satu  mitos  yang  diwacanakan  budaya  partriarki  untuk  menyekap  perempuan sebagai  objek.  Tubuh  dapat  distan­darisa­sikan,  apa  yang  apik,  baik,  dan  pantas.

Perempuan yang baik adalah perempuan yang mele­pas keperawanannya dengan suaminya,  setelah  menjalani  perkawinan.  Tentunya  tokoh  A  tidak  puas  dengan asumsi  moral  masyarakat  yang  menurutnya  merugikan  bagi  perempuan.

Keperawanan  adalah  dok­trin  budaya  misogin  yang  menjadikan  tubuh perempuan  seperti  benda  yang  ada  ketentuan  layak  atau  tidak  layak  untuk dikonsumsi.  Rupanya  pelepasan  mitos  tentang  keperawanan  menja­di  titik  tolak penting dalam seksualitas A. Ia tidak perlu diberitahu oleh suatu otoritas tentang tubuhnya  sendiri.  A  menikmati  tubuhnya,  ia  tidak  merasa  malu  dengan  birahi yang ia rasakan, ia memahami apa yang dibu­tuhkan oleh tubuhnya.    Ta­man dan dosa adalah hal lainnya yang mengusik A, “Aku tidak mau menyebutnya dosa. Aku mau menyebutnya sebagai kesedihan. Ya, mulai hari itu aku mengganti kata dosa dengan kesedihan. Yaitu bahwa kau mengetahui dirimu sendiri  dan  itu  menye­babkan  engkau  tercerabut  dari  ketidaktahuanmu  yang murni.  Inilah  kesedihan.  Penge­tahuan  membuat  diri­mu  terkoyak.  Pengetahuan membuatmu terpisah sebagai yang mengetahui dari yang diketahui.” (hlm. 10-11) Aga­ma  memberikan  penjelasan  tentang  bagaimana  manusia  mengada  di  dunia ini,  tetapi,  penjelasan  itu  berbuntut  berbagai  macam  polemik.  Disaat  manusia merasakan  buah  pengetahuan  se­sung­guh­nya  ia  meninggalkan  damainya ketidaktahuan,  ia  meninggalkan  taman  yang  terisolir.  Seorang  filosof  Denmark,

Soren  Kierkegaard  pernah  mengkontemplasikan  kondisi  yang  sama.  Benarkah manu­sia terjatuh disaat ia mema­kan buah pengetahuan? Benar­kah ia berserah ke dalam dosa? Dalam The Concept of Anxiety pertanyaan-perta­nyaan ini berusaha dijawab oleh Kierkegaard, apa yang dapat dipahami sebagai Here­ditary Sin, atau dosa  bawaan.  Tokoh  A  menyatakan  bahwa  ia  tidak  ingin  menyatakan  dosa sebagai  hukuman  dari  tindakan  manusia  yang  telah  merasakan  buah pengetahuan  yang  terlarang,  tetapi  suatu  kesedihan,  karena  manusia  telah ter­ambil  dari  kenaifannya.  Tetapi  Kierkegaard  menga­jukan  argumentasi  yang cerdik  terhadap  kesedihan  meninggalkan  taman  firdaus  ini    ia  mengatakan,  “anxiety is freedom s possibility” (hlm. 155) Ia menjelaskan bahwa ketika Hawa dan Adam me­makan buah pengetahuan sesungguhnya mereka tidak jatuh, tetapi tersadar  akan  apa  yang  dimaksud  dengan  kebebasan.  Meski  Tuhan  melarang, tetapi pohon itu berdiri disana, terjangkau, Adam dan Hawa  dapat meraih buah itu.  Apa  yang  dirasakan  oleh  Adam  dan  Hawa  ketika  mereka  meng­gigit  buah pengetahuan  ada­lah  kecemasan,  rasa  cemas  yang  muncul  ketika  menya­dari bahwa  dirinya  bebas.  Bagi  Kierkegaard  kecemasan  ini  adalah  petanda  bahwa manusia  memiliki  kesem­patan  untuk  merasakan  sesuatu  yang  lebih  penting yakni iman, “—only such anxiety is through faith absolu­tely educative, because it consumes all finite ends and discovers all their decepti­veness.” (Ibid.)

Rupanya  bagi  Kierkega­ard,  jalan  kecemasan  adalah  jalan  yang memungkinkan  lahirnya  iman.  Iman  datang  dari  pertempuran  batin,  iman muncul  dari  rasa  ragu  serta  kegundahan  terhadap  suatu  pilihan.  Jadi,  mustahil untuk meyakini sesuatu tanpa merasakan kecemasan ters­e­but terlebih dahulu. Di dalam  bagian  selanjutnya,  “Bocah  yang  Kehilangan  Imannya”  tokoh  A digambarkan sebagai anak kecil—tidak lebih dari sepuluh tahun, yang men­jalani masa  kanak-kanaknya  di  kota  hujan.  Di  kota  hujan  itu  A  mencermati  keadaan sekitarnya, kelu­arganya, Ayah dan Ibunya, kedua Bibinya, sekolahnya, gerejanya, yang  kelak  mem­bentuk  wataknya  dan  bagai­mana  ia  mengkon­sepsikan  ide kebebasannya.  Selepas  kepindahan  A  ke  Jakarta  ia  mulai  mempertanyakan adakah keadilan di dalam dunia ini? “Aku sampai pada kesimpulan. Kelahiran me­mang tidak adil. Tapi jika kita percaya Tuhan maha adil, maka tugas manusia adalah mengusahakan keadilan itu.” (hlm. 145) A kerap memper­tanyakan apa itu keadilan?  Ia  pun  harus  menyadari  bahwa  konsekuensi  untuk  keluar  dari  taman firdaus  adalah  menerima  keadaan  ketidakadilan,  menerima  kesengsaraan  dan bahwa  keadaan-keadaan  tersebut  merupakan  implikasi  dari  adanya  gagasan tentang  kebebasan.  Tetapi  meski  A  adalah  seorang  yang  logis  dan  realis,  ia  pun romantis,  ia  memegang  erat  kenangan  sentimentalnya  tentang  alki­tab  dan bagaimana  alkitab  membicarakan  Tuhan  Allah  yang  maha  adil.  Maka  A menyatakan  bahwa  kehidu­pan  merupakan  persoalan  bagaimana  manusia menya­dari  keadilan  dan  mengu­payakan  keadilan  tersebut.  Tetapi  sumber keresahan  A  di  usia  mudanya  adalah  bagaimana  mengkom­patibel­kan keyakinannya,  agamanya,  dengan  apa  yang  ia  anggap  adil.  Ia  tercengang menyadari  bahwa  agama  yang  menga­jarkannya  tentang  persau­daraan, kesetaraan  dan  cinta  kasih,  dalam  penjelmaannya  menjadi  hirarki  ia  justru menjadi penyebab ketida­kadilan.

Kontradiksi  ini  merupa­kan  jantung  permasalahan  dalam  diri  A.  Ia  sulit menalarkan  bagaimana  aga­ma  yang  mengajarkannya  tentang  kemanusiaan, disaat yang bersamaan mengen­dapkan nilai-nilai diskrimi­nasi. Pergolakan untuk mema­hami  keyakinan  sebagai  suatu  spiritualitas  dibanding­kan  dengan keyakina­n yang dibentuk, diperintahkan oleh agama sebagai institusi nam­paknya berbekas  pada  diri  A  hingga  nantinya  ia  mendewasa.  Kecurigaannya  terhadap agama  beserta  perangkat  hirakinya  menye­babkan  A  kehilangan  iman  terhadap institusi tersebut, ia mengambil jarak terhadap gereja, “Rupanya agama tidak ramah  kepada  perempuan  seperti  mereka  kepada  laki-laki” (hlm. 156) Suatu khotbah  yang  diba­wakan  oleh  seo­rang  Pater  semakin  mem­buat  tokoh  A  muda frustasi  dengan  bagai­mana  agama  mendiskri­minasikan  perem­puan.  Se­men­jak khot­bah  itu,  tokoh  A  bertekad  untuk  melawan  ketidakadilan  yang  menimpa perempuan. Melalui matanya pula ia melihat bagaimana masyarakat secara banal menjalani  konsep  dasar  perkawinan  yang  secara  ketus  memberikan  porsi peranan  yang  terbatas  bagi  perempuan,  bahwa  perem­puan  adalah  yang  perlu dibina  di  dalam  rumah  tangga,  ranahnya  domestik,  dan  ia  bertempat  kedua setelah suaminya yang merupakan seorang kepala rumah tangga. Pertimbangan-pertimbangan  inilah  yang  membentuk  karakter  A  sebagai  seorang  perempuan dewasa,  mengapa  ia  meno­lak  mengikuti  arus  yang  dianjurkan  oleh  masyarakat.

Karena  pasrah  atau  diam  menjadi  bentuk  perse­kutuan  dengan  ketidakadilan yang  sedari  kecil  ia  telah  sadari.  Untuk  tokoh  A,  sangat  penting  baginya  untuk berbicara  dan  menulis  tentang  ketidakadilan  ini,  meski  harga  yang  harus ditanggung adalah terasing dari keluarga serta masya­rakatnya. A berpikir bahwa segala kaidah moral yang dianut oleh masyarakat sejati­nya dapat dipertanyakan, khususnya kaidah yang menga­tur tentang perempuan dan perkawinan.

Bagian  terakhir  di  dalam  novel  Pengakuan:  Eks  Parasit  Lajang  adalah bagian yang paling rumit dari keseluruhan kisah. Mengapa? Karena pada bagian inilah  pembaca  diajak  untuk  mengikuti  alur  penalaran  tokoh  A.  Pada  bagian  ini pula  diceritakan  bagaimana  petualangan  A  mengantarkannya  untuk  berkenalan dengan seorang fotograger tampan bernama Rik. Ibarat menelisik ke dalam otak A  dan  melihat  mekanisme  rasionya  bekerja.  Memikirkan  problem-problem ontologis  yang  selama  ini  menghantui  A.  Menjadi  momok  di  dalam  A.  Sedari kecil Ibunya selalu mengajarkan, “Jika kau takut sesuatu, maka sesuatu itu harus diperjelas. Sesuatu itu harus dihadapi.” (hlm. 102) Didikan Ibunya melekat di dalam  komputasi  berpikir  A.  Segala  sesuatu  yang  ia  anggap  mengancam  harus dianalisa  sedemikian  rupa.  Radikalisasi  ini  yang  memungkinkan  A  menerbos untuk  menemukan  ruang  baru  untuk  memahami  apa  itu  spiritualitas,  cinta  dan komitmen.  Ruang  baru  dimana  ia  dapat  membangun  kerangka  pemahamannya tentang komitmen perkawinan, agama dan keadilan dengan leluasa, “A akan membangun kota—kota itu bekerja dengan prinsip yang sama sekali berbeda dari Benteng  Perkawinan.  Di  sini  manusia  tidak  dibatasi  ke  dalam  wilayah perempuan  dan  wilayah  lelaki.—perbedaan  diakui,  tanpa  hirarki.  Tak  satu  pun boleh  direndahkan  atau  dipinggirkan.  Semua  boleh  bergaul  dan  bertukar piki­ran.” (hlm.  184)  Bagian  yang  menguraikan  cetusan-cetusan  pemikiran  A menun­jukan  betapa  kompleks­nya  sistem  kesadaran  manusia.  Ini  ditunjukan dengan  bagaimana  distinktifnya  A  mengajukan  pertanyaan  kepada  dirinya sendiri.  Bagaimana  ia  tanpa  lelah  menguji,  mengkonteskan  gagasannya  sendiri hingga sampai pada suatu postulasi yang ia anggap dapat dipertahankan sebagai suatu  kebenaran.  Bagian  Game  1-7  menunjukan  modus  berpikir  A  yang  sangat dialektis,  yang  menjadikan  pengalaman  sebagai  pembelajaran,  sementara  ia menunda segala doktrin-doktrin agama, nilai-nilai sosial, demi mencari hakikat.

Walaupun di catatan akhir ditekankan oleh penulis tentang karakter A dan apa  yang  mendorong  A  untuk  akhirnya  menyelenggarakan  perkawinan,  bahwa kisah  ini  bukanlah  suatu  roman.  Bagaimanapun  juga  sulit  untuk  tidak  terharu, menangis dan mengatakan bahwa kisah ini adalah kisah percintaan. Bahwa relasi A  dan  Rik  adalah  kisah  cinta  yang  indah  dengan  caranya  yang  manusiawi,  yang tidak  menggunakan  mitos-mitos  usang  tentang  pangeran  menyelamatkan  tuan putri dan mereka hidup selama-lamanya. Tetapi kisah cinta ini adalah kisah yang penuh  memar  dan  luka,  yang  mendewasakan  A  secara  spiritual.  Penulis  Ayu

Utami di halaman awal buku ini mengatakan, “Untuk Santo Agustinus yang pertama  kali,  1600  tahun  silam menulis Pengakuan.” Santo Agustinus sang filosof  Abad  Pertengahan  yang  berjasa  menyelamatkan  filsafat  barat  dari penghangusannya.  Ia  menyisipkan  ide-ide  Platonian  ke  dalam  ayat-ayat  Alkitab yang  bicara  tentang  jiwa  yang  ingin  membebaskan  dirinya  dari  penjara keduniawian. Di dalam dua karya masyhurnya Confession dan City of God, Santo Agustinus  selalu  mengingatkan  bahwa  betapa  sementaranya  pengejaran kenikmatan duniawi, yang oleh tokoh A dikatakan sebagai „Maya . Di dalam Upanisad dikatakan tentang Maya, bahwa pada suatu titik ada kalanya jiwa atau atman  ingin  meninggalkan  realitas  Maya  dan  bersatu  dengan  alam  Brahman.  Pada  mo­men­tum  ini,  segala  yang  dualis­tis,  paradox  disele­saikan  dengan Vijnanam, atau pencerahan dari Brah­man.

Kematian memang janggal dalam pengertian yang eksis­tensialistik, secara biologis,  kita  dapat  memahami  bah­w­a  setiap  manusia  akan  mati.  Tetapi  bila ematian  terjadi  di  hadapan  kita,  menimpa  mereka  yang  kita  sayangi,  ada  rasa absurd,  gamang  dan  sesal.  Menjelang  akhir  kisah  ini,  A  harus  kehilangan  Nik, kekasih  pertamanya,  sahabat  yang  dekat  di  hatinya.  Kematian  Nik menghancurkan  hati  A,  meninggalkan  A  dengan  rasa  cemas  yang  pernah  ia rasakan  di  masa  kanak-kanaknya,  rasa  rapuh  yang  amat  tidak  ia  sukai.  Namun sesuatu  tumbuh  dibalik  kerapuhan,  suatu  kelahiran  kembali,  suatu  kesadaran bahwa  sebagian  besar  keputusan  hidup  tidak  dapat  dikalkulasikan  secara rasional terus menerus. Ada situasi-situasi dimana seseorang harus melompat di dalam kegelapan dan mengambil resiko. Ada beberapa hal yang mesti diterangi, diradikalisir,  dipecahkan,  tetapi  ada  beberap  hal  yang  tetap  menjadi  misteri kehidupan,  yang  tetap  menyergap  kita  dikala  tak  terduga,  segala  yang sesungguhnya empunya rahasia Tuhan.

“Pada akhirnya aku memutuskan untuk menjadi Thomas. Yaitu, si peragu yang menuntut jawaban.” (hlm. 157) Ada kemuliaan untuk menjadi Thomas sang peragu.  Ia  ragu  bukan  untuk  alasan  mencemooh  atau  melecehkan  Kristus.  Ia ragu  karena  ia  butuh  pendiriannya  untuk  menegakan  imannya.  Begitu  pula dengan  A,  ia  menjadi  peragu  justru  dikarenakan  ketidapuasannya  terhadap dogma  dan  doktrin.  Ia  menjadi  peragu  sebagai  bentuk  kritik  terhadap  banalitas tradisi  beragama.  Keraguan  menunjukan  kebe­basan  bertindak  seseorang, bagaimana  seseorang  meng­kontemplasikan  fakti­sitas­nya.  Keraguan,  kecemasan, kegelisahan  adalah  emosi-emosi  mendasar  yang  menj­adikan  seseorang  begitu manusiawi. Seperti yang dikatakan oleh Kierkegaard,

“If a human being were a beast or an angel, he could not be in anxiety. Because he is a synthesis, he can be in anxiety; and the more pro­foundly he is in anxiety, the great is the man.” (hlm 155). (salihara.org)

Saras  Dewi  adalah  pengajar  Filsafat  di  FIB  Universitas  Indonesia,  Depok.


(Saras Dewi)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy