Minggu, 26 Oktober 2014
Emas Dikuras, Warga Masih Miskin PDF Cetak Surel
Rabu, 06 Maret 2013 02:55

EKSKAVATOR DIBIARKAN BEROPERASI

SOLSEL, HALUAN — Ma­syarakat yang tinggal di kawasan tambang emas Ka­bupaten Solok Selatan masih banyak yang miskin. Padahal, kekayaan emasnya dikuras oleh oknum-oknum tertentu.

”Masyarakat pribumi di kecamatan kami masih ba­nyak yang miskin, hidup mendulang emas (manjae), di bawah terik matahari, se­dangkan para oknum hanya mengaruk dengan ekskavator,” kata Mahyunar, tokoh ma­syarakat Sangir Batang Hari, Selasa (5/3) di Aula Kantor Bupati Solsel.

Menurut keterangan Mahyunar, sampai saat ini masih ada ekska­vator pengaruk kekayaan Solsel itu bekerja, kendatipun aparat kepoli­sian tetap masih melakukan razia.

“Kami heran, masyarakat yang mendulang dan mendompeng dalam keadaan kocar-kacir, sedangkan ekskavator masih bekerja,” ujarnya.

Berdasarkan data Rumah Tang­ga Miskin dan Sasaran (RTM/S), Kecamatan Sangir Batang Hari memiliki tujuh kenagarian yang kenyataannya mengandung banyak emas itu, memiliki 855 kepala keluarga yang miskin. Dengan rincian RTM/S sebagai berikut, Nagari Abai 177 KK, Dusun Tangah 177 KK, Lubuk Ulang Aling 106 KK, Lubuk Ulang Aling Selatan 51 KK, Lubuk Ulang Aling Tengah 97 KK, Ranah Pantai Cermin 151 KK, dan Sitapus 96 KK.

Senada dengan itu, pimpinan DPRD Solsel Edi Susanto menye­butkan bahwa sampai kini akti­vitas menambang emas ilegal dengan menggunakan ekskavator masih saja berlangsung.

“Informasi yang dilaporkan oleh masyarakat, di Kandi Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh masih saja ada ekskavator yang menam­bang,” ungkap Edi.

Ia sepakat semua alat ekska­v­ator yang masih beraktivitas di Kabupaten Solok Selatan harus ditarik dari lokasi. Jangan ada pilih ini dan itu, semuanya harus diberantas.

“Saya sepakat illegal minning ini diberantas, dan mencarikan solusi terbaik bagi masyarakat yang sudah lama bekerja menggarap emas itu. Seperti masyarakat dengan menggunakan dulang/jae, yang telah melakukan mendulang sejak lama dulu,” terangnya.

Kabarnya, masih saja ada oknum-oknum yang memback-up ekskavator di lokasi penambangan itu. Namun tidak seorangpun pihak kepolisian yang mau mengungkap keterlibatan para oknum tersebut. Baik oknum aparat, oknum pejabat, dan oknum masyarakat yang me­miliki kekuatan (power).

Lain dengan Ketua LKAAM Solok Selatan Noviar Dt Rajo Endah, kalau memang pihak kepolisian serius memberantas illegal minning, terutama dengan menggunakan ekskavator, maka bisa dicegah.

“Ekskavator itu kan lewat Dae­rah Solok Selatan, bahkan mereka dikawal oleh aparat kepolisian, kan bisa ditanya langsung surat jalan eskavator itu, digunakan untuk keperluan apa dan dimana,” kata Noviar.

Kini apa yang hendak kata. Lama-lama menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Kini, persoalan illegal minning di Kabu­paten Solok Selatan sudah gempar, semenjak tim Polda Sumbar mela­kukan razia. Apalagi Polda Sumbar sudah me­manggil Bupati Solok Selatan karena diduga melakukan pem­biaran terha­dap illegal minning dan yang telah memakan korban jiwa.

Bupati Solsel H Muzni Zakaria pun tidak mau disalahkan dalam kasus ini. Kini, bupati sudah mulai buka-bukaan untuk mendesak semua unsur muspida, dan masya­rakat. Pertemuan demi pertemuan, akhirnya suatu gerakan masyarakat Solok Selatan yang dimotori Pemda Solsel, DPRD, dan Muspida sepakat memberantas illegal minning di daerah itu. Bahkan, perusahaan yang sudah memiliki izin usaha pertambangan yang tidak lengkap dokumennya juga dianggap illegal.

Polisi Tak Sanggup

Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria membuktikan tekadnya untuk memberastas tambang liar ini dengan mengundang sekitar 200  tokoh masyarakat, kepala jorong, wali nagari, camat, yang dihadiri muspida Solsel, pejabat SKPD Pemprov Sumbar berdiskusi kemarin.

Dalam diskusi buka-bukaan itu, masyarakat menyampaikan bahwa sampai saat ini masih ada ekska­vator yang bekerja. Padahal, aparat kepolisian masih melakukan razia.

”Kami tidak bisa secara nyata membuktikan bahwa adanya ok­num polisi dan TNI yang mem­backup kegiatan ekskavator yang masih menambang di lokasi, tetapi kami yakin bahwa ada oknum tersebut karena mereka ikut menga­walnya,” kata salah seorang ma­syarakat asal Kecamatan Sangir Batang Hari.

Jelas saja keterangan itu mem­buat tertunduk Kapolres Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo. Namun, dalam jawaban Kapolres solsel mengungkapkan bahwa pemberantasan illegal minning di Solsel itu tidak sanggup jika hanya aparat kepolisian.

“Kalau hanya kita (Polres Solsel) yang melakukan pemberantasan itu, maka kita mempunyai keter­bata­san dan kemampuan menelusuri medan illegal minning yang sulit,” ujar Kapolres Solsel.

Adanya oknum tersebut masih tersamar dalam penjelasan Dan­ramil Sangir Kabupaten Solok Selatan. “Kami sepakat illegal mining diberantas, bahkan tiga hari belakangan kami bersama kapolsek sangir telah melakukan razia, dan mencegah beberapa ekskavator yang akan masuk ke lokasi tambang,” ujarnya.

Bupati Solok Selatan tidak berani menjadi nara sumber tentang adanya oknum yang membackup aktivitas eskavator. Hanya saja, bupati ingin media mengungkapnya.

Informasi dari masyarakat ke masyarakat sudah beredar bahwa ada indikasi oknum yang mem­backup alat berat.

Terakhir Bupati Solsel mengung­kapkan, Pemkab Solsel tidak sanggup menertibkan illegal min­ning jika hanya sendiri. Bahkan ketidaksanggupannya itu sudah dilaporkan secara tertulis ke Pemprov Sumbar. “Pemprov ber­koor­dinasi dengan Polda Sumbar, sudah melakukan upaya penertiban illegal minning berupa razia tetapi illegal minning masih tetap marak juga, ini memang aneh tetapi nyata,” pungkas bupati. (h/col)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: