Rabu, 03 September 2014
Rebung, Bambu dan Disiplin Siswa PDF Cetak Surel
Sabtu, 16 Maret 2013 01:26

Merengkuh buluh atau bambu hendak­nya di kala muda. Jika merengkuh bu­luh atau bambu yang sudah tua, padah akibatnya. Suatu fenomena yang pada era serba maju dewasa ini, disiplin, seolah-olah terkikis oleh “ketabuan” pantang larang. Sehingga muaranya nanti terjadi aksi “pembiaran” terhadap tingkah laku anak didik atau siswa kita.

Awalnya sebagai pendidik, dalam hal ini guru, me­nyam­but baik bahwa setiap pe­langgaran yang dilakukan siswa harus ada tindakan hukum. Waktu berlalu terus, perubahan memang terjadi, namun tidak sedikit pendidik atau guru yang menuai ma­salah.

Sering kita lihat di televisi, kita baca di koran-koran. Hanya karena menjentik kuping, memecut kaki, me­nyuruh berdiri di depan kelas, maka pendidik/guru harus berurusan dengan pihak berwajib. Setiap sekolah pasti mem­pu­nyai daftar pelanggaran, sering disebut dengan “Kredit point pelanggaran disiplin siswa”.

Sebenarnya upaya untuk meningkatkan disiplin siswa terus-menerus dilaksanakan. Namun karena banyak ham­batan dan tantangan yang akan dihadapi para pendidik/guru, maka mungkin sekedar praduga bahwa pendidik/guru mulai berpikir panjang untuk memproses setiap pelanggaran disiplin di sekolah. Mohon maaf KPA, mohon maaf para pejabat hukum, jika hal yang dianggap kekerasan di sekolah mencuat ke permukaan. Maka hal itu dilakukan semata-mata merupakan proses bim­bingan/ penyadaran terhadap anak didik kita.

Di antara sekian banyak istilah yang kita pergunakan dalam dunia pendidikan atau persekolahan dan yang paling mudah diucapkan dan dipa­hami adalah perkataan “di­siplin” dalam segala macam variasi dan nuansanya. Mu­dah diucapkan, mudah pula dipahami dan mudah pula ditelantarkan dalam pelak­sanaannya. Kita cenderung untuk mengutuk akibat-akibat negatif dari “ketunaan di­siplin”, tanpa banyak memi­kirkan, menelaah, mengkaji penanaman kesadaran ber­disiplin secara yang disadari dan keteraturan.

Disiplin yang menjadi perhatian kita, terutama sekali disiplin yang berhu­bungan dengan pendidikan, yang bertujuan membentuk manusia yang mempunyai tatakrama, yang dapat men­jadi anggota masyarakat yang bahagia, yang bebas, merdeka, terlepas dari segala “ristriksi” yang tidak relavan sebagai manusia “berpikir” terlepas dari segala ikatan yang meng­hambat terlaksananya masya­rakat yang adil dan makmur.

Tujuan bimbingan disiplin di rumah dan di sekolah, adalah untuk mengusahakan mencegah terbentuknya ika­tan-ikatan yang tidak sesuai dengan fitrah si anak, me­melihara, menawarkan, meng­galakkan ikatan-ikatan yang serasi dengan fitrahnya itu, supaya ia merasa bahagia hidup dengan ristriksi/ikatan itu.

Setiap pendidik akan selalu berusaha, supaya anak didiknya itu, jika ia sudah dewasa, dapat bertingkah laku, bertutur kata, beraksi, berpandangan dan sebagainya sesuai dengan kaidah-kaidah yang ditentukan oleh masya­rakatnya itu, baik kaidah-kaidah tersurat maupun yang tersirat.

Kita harus selalu menya­dari, jalan yang kita tempuh dari start ke finish itu tidak selalu mulus. Tidak seperti yang kita mimpikan, jalan yang bertabur melati, berbau mawar, melainkan beronak berduri, penuh liku-liku ber­bahaya.

Perlu kita sadari bahwa jika kita mengetahui banyak­nya persentase drop out, pelanggaran, kenakalan rema­ja, morfinisme dan gejala-gejala lainnya yang tidak begitu menarik dan mengge­litik hati. Pada era 1983 sampai periode 90-an marak dan meriah sekali anak muda menggunakan akronim “MOR­GANA” yang direntangkan menjadi “MORFIN, GANJA dan NARKOTIKA”. Akronim ini menjadi populer ketika itu karena “dekadensi” moral, terutama oleh pelajar sangat banyak dan sering terjadi.

Harus kita sadari pula bahwa anak-anak kita itu sejak lahirnya dibekali ber­macam-macam kecenderungan, nafsu hewani, keinginan-keinginan yang tidak disadari, naluri yang belum terarahkan. Semua sifat psikis yang harus kita jinakkan, selangkah demi selangkah yang harus kita jinakkan dengan jalan “disi­plin” untuk dapat diabadikan kepada kebahagiaan anak didik kita.

Dalam proses mendidik dan mengajar, kita menganut metode yang dinamakan “two-way-traffic system”. Dalam komunikasi dua arah ini, dua komponen penting me­megang peranan, yang satu de­ngan lain­nya berlainan sekali da­lam soal umur, kemampuan dan sifat-sifat psikis lainnya. Para pendidik di segala bidang mileu itu yang dianggap sudah de­wa­sa ro­ha­ni dan jasmaninya harus mem­bawa anak-anak didiknya yang belum “menemukan” dan menunggu pembentukannya yang baik, yang masih berada dalam taraf “kebergantungan”, ke arah “berdiri sendiri”, ke arah otonomi, melalui bebe­rapa “stasiun kecil”, seperti penanaman kebiasaan-ke­biasaan yang baik.

Disiplin adalah “ a system of moral conduct”, yang dapat dimiliki melalui latihan. Hal itu yang harus diajarkan, dihayati, diulangi dan dimiliki. Latihan yang positif, peng­hayatan yang nyata, akan lebih berfaedah daripada “koreksi negatif” yang berben­tuk larangan-larangan.

Jika si anak sudah di­biasa­kan bertingkah laku dan bertutur kata seperti yang diinginkan oleh kaidah tata­krama, maka kesan yang diperolehnya sejak kecil itu diterapkannya di dalam ke­hidupan sehari-hari, dalam masyarakat yang lebih luas dan menghormati orang-orang yang lebih tua. Bagai­mana sikap jika berpapasan, mem­berikan tempat duduk dalam bis. Yang jelas “kera­mah­tamahan” itu merupakan ibadah pula.

Makin tua si anak itu, makin banyak kesempatan tersedia baginya untuk menya­dari, bahwa hidup bahagia itu ialah hidup sesama manusia dengan semangat “take and give” dengan pengorbanan sebagian dari kemerdekaan kita untuk kepentingan orang lain. Akan dihayatinya pula, bahwa menyenangkan orang lain itu mengandung suatu hikmah. Ia merasa senang, merasa bahagia, lebih bahagia dari pada ia sendiri yang dibahagiakan orang lain.

Banyak hal yang dapat dihayatinya, dialaminya sen­diri, baik di alam bebas maupun di rumah, di sekolah, dalam perjalanan. Bahkan, banyak sekali yang harus ditaatinya dengan menge­nyampingkan kepentingan sendiri. Pada taraf per­kem­bangan berikutnya, maka pener­a­ngan-pene­rangan me­lalui pendengarannyalah yang mendapat perhatian  si anak. Yang didengarnya, ditirunya sering tanpa reserve.

Hal ini kadang-kadang terlupakan oleh para pendidik. Orang tua, guru atau pendidik jenis lainnya seperti petugas kepo­lisian, ke­hak­iman atau anggota peme­rintahan kadang-kadang ber­tingkah laku, bertutur kata tidak sejalan dengan apa yang dimaksudkannya. Sikap “lain di mulut lain di hati” ini dijiplak si anak dari orang-orang yang dihormati itu dengan akibat yang kita maklumi semua. Cap yang kurang baik, yang sudah berkesan pada jiwa si anak harus kita hapus dari pola sikapnya dengan melalui “penggunaan pikiran” atau “reasoning”.

Mungkin pernah kita lihat peristiwa kecil yang sering terjadi saat antrian di kantor pos ketika membayar tagihan, pengiriman uang dan lain sebagainya.  Seorang kakek terjatuh karena didorong anak-anak tanggung yang ingin mendahului antrian. Kelakuan seperti itu jelas melanggar sopan santun.

Anjuran atau ajakan, sa­ran dan peraturan sopan santun, dituangkan bersama dalam suatu “daftar rules of conduct”  yang harus ditaati semua peserta didik.

Larangan sebagai suatu alat pendidikan, yang lazim dipergunakan dalam sistem pendidikan tradisional yang otoriter, tidak akan kita tentang begitu saja atau tinggalkan sama sekali. Ada kalanya kita memerlukannya. Jika kita mempergunakan larangan, maka sebagai konsekuensinya, kita tidak boleh melupakan sanksinya, ialah “ hukuman”.

Ada suatu anggapan, bah­wa hukuman itu merupakan suatu tanda bahwa kita telah gagal dalam “ usaha pen­dekatan terhadap anak didik, atau dalam soal memelihara relasi antara pendidik dan peserta didik, “gagal” berko­munikasi dengan peserta didik, dan “gagal” membangkitkan kegairahan belajar peserta didik kita”.

Jika dalam usaha mem­bentuk peserta didik kita itu terpaksa kita memberikan hukuman, maka hendaknya kita perhatikan, Pertama, berikanlah hukum seadil mungkin. Berikanlah hukum secara konsekuen. Jangan terlalu sering memberikan hukuman. Yang diberi huku­man harus mengetahui pelang­garannya. Jangan memberikan hukuman, terlalu lama sesu­dah pelanggaran terjadi.

Upaya yang dirasa perlu bahwa janganlah melakukan “indoktrinasi”. Memberikan penerangan dengan jalan memaksakan suatu pendapat, tidak akan banyak faedahnya dalam usaha kita mengem­bangkan daya berpikir peserta didik kita. Oleh karena itu, dalam kegiatan mendidik, melakukan “indoktrinasi” itu pada umumnya tidak kita lakukan.

Penanaman disiplin bisa kita lakukan selain melalui pembiasaan. Kebiasaan yang baik, yang ternyata besar sekali manfaatnya dalam meringankan hidup kita se­hari-hari itu “baru” dapat kita miliki setelah menjalani proses “pembiasaan” yang lama dan tekun.

Selain cara mengadakan pembiasaan melalui contoh (imitasi), apresiasi (sugesti dan identifikasi), perintah, larangan, dan hukuman mo­tivasi, kita peralat juga pole­san-polesan lain dengan cara seni untuk mempertebal dan memperkuat apa yang sudah dicoba dibiasakan pada pe­serta didik kita. Jadi jelas bahwa disiplin itu harus tertanam sejak dini.

Peribahasa mengatakan “jika ingin merengkah buluh, harus dari rebungnya”. Peri­bahasa di depan terasa agak modern kata-katanya. Tetapi biarlah itu. Yang penting marilah kita bersama-sama barisan pendidik membuat renungan bagaimana kita “kemarin, sekarang, dan yang akan datang” mencermati dan mengambil pelajaran tentang hakikat disiplin. (*)

 


DRS. ISHAK ABBAS
(Kepsek SMPN 35 Batam)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: