Rabu, 22 Oktober 2014
Harga Melambung, Petani Bawang Tersenyum PDF Cetak Surel
Minggu, 17 Maret 2013 01:16

Harga bawang yang melambung sepekan kemarin membuat ibu rumahtangga dan pengusaha rumah makan menjerit. Tak hanya di Sumbar, namun hampir di seluruh tanah air. Namun tak demikian halnya bagi petani bawang di Solok.

Harga bawang merah yang terus melejit bak meteor di pasar-pasar tradisional sejak dua pekan terakhir membuat petani bawang merah bisa tersenyum. Sebab, jarang terjadi harga bawang bisa melambung menca­pai harga Rp50 ribu lebih per kilo gram.

Harga bawang merah biasa­nya cuma Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per kilo gram dipasaran. Sejak dua pekan terakhir, harga bawang melambung sampai Rp40 ribu per kilogram termasuk di Pasar Raya Solok.

Harga bawang mahal itu membuat petani bawang ter­senyum, karena terbayang un­tung lebih besar. Namun senyum sumringah petani bawang merah itu hanya bakal berlangsung untuk beberapa saat saja. Kare­na pemerintah pastinya bergerak cepat mengatasi kenaikan harga bawang, salah satu bahan kebu­tuhan pokok makanan masyara­kat Indonesia ini.

Naiknya harga bawang merah tersebut di satu sisi sebenarnya menguntungkan masyarakat petani  karena bakal meraup untung yang lumayan besar dari hasil penjualan bawang merah dari ladang mereka. Sebaliknnya para ibu rumah tangga menjerit.

Mulyadi Malin Sati, seorang petani bawang di Nagari Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gu­man­ti yang daerahnya terkenal sebagai sentra penghasil bawang terbesar di Kabupaten Solok menga­takan, kenaikan harga bawang saat ini boleh dikatakan cuma sebagai pelipur lara.

Pasalnya, kata Mulyadi menge­mu­kakan, kenaikan harga bawang seperti saat sekarang ini jarang-jarang terjadi dan hanya sekali waktu saja. Para petani bawang dan pedagang penjual bawang merah di pasar-pasar, katanya, berharap pemerintah melalui dinas instansi terkait bisa menjaga kestabilan harga bawang merah tersebut.

Sedapat mungkin, imbuh Mulya­di, harga bawang merah setidaknya berada di kisaran harga Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per kilogram. Sebab, jika harga bawang merah tersebut berada di bawah harga Rp12 ribu, maka sudah bisa dipas­tikan petani bawang merah akan terus merugi dan tak akan pernah merasaan hasil keuntungan sedikit­pun dari hasil menjual ladang bawang merah mereka.

Menurutnya, biaya bertanam bawang petani di sekitar kawasan Nagari Sungai Nanam bisa menca­pai Rp40 hingga 50 juta untuk luas areal tanaman bawang 1 hektar. Itu sudah termasuk untuk biaya operasional penanaman, pembelian pupuk atau fungisida dan lain sebagainya.

Jadi bila harga bawang di bawah harga Rp12 ribu per kilo gram, dapat dipastikan petani bawang akan merugi. Untuk jenis tanaman bawang yang biasa dita­nam di sekitar kawasan Nagari Sungai Nanam yang berhawa sejuk itu, biasanya yang ditanam adalah jenis singkil Medan dengan masa tanam 80 hari dan jenis singkil Cirebon dengan masa tanam 95 hingga 100 hari.

Penanaman bawang sendiri, kata Mulyadi bisa dilakukan 3 kali dalam setahun. Untuk ukuran 1 kg tampang bawang kelak bisa menghasilkan 12 hingga 15 kg bawang siap panen. Kemudian bartu dijemur hingga kering dan siap dijual kepasaran.

Untuk harga bawang merah di tingkat petani di Sungai Nanam, jelas Mulyadi, saat ini berkisaran antara Rp34 hingga Rp35 ribu per kilogramnya. Padahal biasanya harga bawang berkisran antara Rp18 ribu atau paling mahal Rp20 ribu per kilogramnya.

“Kami berharap pemerintah bisa menjaga kestabilan harga bawang merah agar tak ada yang coba mempermainkan harga ba­wang untuk maksud dan tujuan tertentu“ paparnya. (h/*)

 

 

 

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: