Kamis, 31 Juli 2014
Multi Peran Sang Laksamana PDF Cetak Surel
Minggu, 02 Januari 2011 00:53

Christina M Rantetana

SOSOK wanita yang satu ini benar-benar luar biasa. Christina M Rantetana. Ia pernah menerima pangkat tertinggi di jajaran TNI AL, yaitu sebagai Laksamana. Christina hingga saat ini masih menjadi Laksamana wanita pertama dan satu-satunya di Indonesia. Penasaran ingin tahu kisahnya?

Saat ini Christina menjabat sebagai Plt. Diputi VI bidang Rekonsiliasi dan Kesbang Menko Polhukam. Ia dipercaya menjadi Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Ideologi dan Konstitusi yang membidangi Kesatuan Bangsa.

Christina pernah menerima penghargaan bergengsi, sebagai Laksamana di jajaran tubuh TNI AL. Pangkatnya setara dengan Jendral di struktur TNI AD. Karena hal tersebut, ia sempat meraih penghargaan “Bukan Perempuan Biasa” versi sebuah majalah. Hingga saat ini, Christina masih berada di bawah jaringan TNI AL. Perkenalannya dengan angkatan laut sungguh tak terduga. Bahkan, cita-citanya bukan menjadi TNI, namun ingin menjadi perawat.

Selesai mengenyam pendi­dikan di S1 di Fakultas Kese­hatan Masyarakat di Universitas Indonesia, ia diajak temannya mendaftarkan diri masuk Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL) di kampusnya.

Christina pun iseng men­daftar. Nasib baik berada padanya. Ia lulus. Kebingungan pun melanda, lantaran tak mengerti sama sekali tentang kehidupan menjadi tentara, namun Christina hanya optimis menjalani pilihannya dengan maksimal.

“Padahal saya mengerti tentara juga tidak. Berenang juga hanya bisa seadanya,” katanya sambil tertawa.

Berbekal ajaran disiplin tinggi dari keluarganya semenjak kecil, Christina tidak meng­alami kesulitan ketika berada di bawah tekanan pendidikan Angkatan Laut yang keras dan serba disiplin.

“Dari kecil, saya sudah diajarkan kerja keras. Kalau jam istirahat, saya harus mema­sak nasi dan sayur. Waktunya tidur siang, ya harus tidur. Ketika pulang sekolah, kami pergi ke ladang sehingga ketika masuk pendidikan, saya sudah terbiasa,” jelasnya.

Berkat kerja kerasnya, ia lantas diangkat menjadi Laksa­mana wanita yang pertama di Indonesia.

“Saya dulu tidak pernah bermimpi untuk menjadi Laksamana. Karena Laksamana itu suatu pangkat yang tidak mudah didapatkan. Yang ada di pikiran saya, bagaimana saya bekerja maksimal. Itu yang selalu menginspirasi saya,” terangnya.

Christina pun melanjutkan pendidikannya. Ia lalu meng­ambil S2, Master of Public Health di Tulane University, New Orleans, Lousiana, USA. Sepulangnya dari USA, ia langsung mendapat tawaran untuk menjadi Perwira Operasi Pengajaran tahun 1982-1985 di Sekolah TNI AL. Pada tahun 1987-1989, ia menjabat sebagai Perwira Staf di Direk­torat kesehatan, Mabes TNI AL, Jakarta.

Lalu di tahun 1992-1995, ia dipercaya menjadi Koman­dan Kesatrian Kowal di Jakarta. Christina juga sempat menjadi Direktur Sekolah Kesehatan TNI AL tahun 1995-1996 serta menjadi Perwira Staf Personil di Lantamal V, Jayapura.

Tahun 1997-1999, ia berha­sil duduk di DPR sebagai anggota DPR/MPR RI komisi I yang ketika itu membidangi hukum, luar negeri dan pene­rangan. Periode kedua, dirinya kembali menjadi anggota/ sekretaris fraksi TNI/ Polri di DPR/MPR RI tahun 1999-2004.

Pada tahun 2005, ia pun menjabat sebagai ASDEP I/II Bidang Diplomasi Publik, Kemenko Polhukam. Dan tahun 2006 hingga sekarang, Christina dipercaya menjadi Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Ideologi dan Konstitusi.

Christina pun dituntut untuk bisa memerankan banyak karakter. Sebagai anggota TNI AL, ia harus bisa menjaga lembaganya dengan berkela­kuan baik. Sebagai staf ahli, ia harus bisa berkoordinasi. Sedangkan untuk kesatuan bangsa, ia harus mampu menja­ga kredibilitasnya dengan baik.

Di sela-sela kesibukannya, Christina selalu menyempatkan waktu untuk berada di tengah keluarganya. Ia mengajarkan kepada kelima anaknya untuk selalu makan bersama di meja makan. Di sanalah, keakraban dengan keluarganya dimulai. “Ketika keluarga membutuh­kan, saya harus bisa mengatur waktu antara keluarga dan karir saya,” kata wanita yang hobi membaca tersebut.

Karena kesibukannya ber­ka­rir, keluarga juga kerap komplain, tetapi lagi-lagi ia harus menjelaskan bahwa pekerjaan dan keluarga sama pentingnya. Karenanya, ia tak pernah menomor duakan keluarga. “Sebisa mungkin saya jelaskan kepada mereka bahwa pekerjaan saya itu tidak sem­barangan. 24 jam bisa-bisa untuk bekerja, sehingga mereka memahami,” ujarnya.

Kapanpun dan di mana pun, Christina juga tak pernah lupa untuk selalu berdoa, agar ia bisa selamat dan bekerja sebaik mungkin. “Saya orang yang sangat takut akan Tuhan,” katanya sambil tersenyum.

Sukses Berkat Usaha sendiri

Hidup Christina begitu penuh akan kerja keras. Tak heran, ia begitu miris melihat banyaknya generasi muda yang mau sukses tanpa bersusah payah. “Sukses bagi saya adalah mencapai sesuatu yang tidak mudah dicapai, dan hasil jerih payah sendiri, bukan hasil kedekatan. Saya selalu berusaha mencapai kesuksesan berdasar­kan hasil jerih payah sendiri, bukan pendekatan dengan orang tertentu,” ceritanya.

Ia menegaskan sebagai generasi muda, untuk tak pernah merasa rugi untuk berbuat baik dan bekerja maksimal. “Karena mungkin hadiahnya tidak sekarang. Motto saya adalah bekerja keras dan bekerja cerdas,” katanya.

Banyaknya anak muda yang ingin sukses secara instan membuatnya geleng-geleng kepala. “Saya tidak habis pikir, demi mendapatkan uang, ba­nyak generasi muda menjual narkoba. Kenapa sih mereka tidak mau susah sedikit demi meraih sukses?” tegasnya.

Rencana ke depan, Christina ingin berkarir di bidang pemberdayaan. Ia ingin memberikan motivasi kepada anak muda melalui pengajaran. (h/mad/vlc)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: