Sabtu, 19 April 2014
Tersangka Ratu Sabu Diserahkan ke BNN PDF Cetak Surel
Rabu, 29 May 2013 01:42

PADANG, HALUAN — Tersangka ratu sa­bu bernama Jeni Restiawati (30), yang di­tangkap oleh Bea dan Cukai Teluk Ba­­yur di Bandara Inter­national Mi­nang­ka­bau (BIM) beberapa hari yang la­lu, te­lah diserahkan ke Badan Nar­ko­tika Na­­sional (BNN), Selasa (28/5) siang.

Tersangka yang merupakan warga Bojong Poncol, Tanggerang, Provinsi Banten ini me­mang sudah lama men­jadi target operasi (TO) BNN. Sete­lah diserahkan, tersangka Jeni Res­tiawati langsung dibawa ke Jakarta untuk penyelidikan lebih lanjut.

 

Informasi yang diperoleh Haluan menyebutkan, tersangka beranak dua ini ternyata telah beberapa kali keluar masuk Lembaga Pemasarakatan (LP) dalam kasus lain. Akan tetapi, semua itu ternyata ti­dak membuat dia jera.

Selain itu, transaksi narkotika ini diduga didalangi oleh warga binaan di salah satu LP di Pulau Jawa, sehingga Jeni dalam kasus ini adalah sebagai kurir. Sebab, keuntungan yang diperoleh oleh Jeni ini me­ngantarkan barang haram tersebut sebanyak Rp20 juta. Dalam mela­kukan aktivitas terse­but, tersangka sudah dua kali ber­hasil mengan­tarkan narkoba jenis sabu ini.

Hal ini terungkap dari penga­kuan Penyidik BNN, saat  menjemput tersangka penyeludupan narkoba jenis Mathamphetamine (sabu,red) seberat 2.810 gram dalam kopernya oleh anggota Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai TMP B Teluk Bayur.

“Penyeludupan ini memang masih dikendalikan oleh seorang napi di salah satu LP di Pulau Jawa. Maka dari itu, tersangka ini kami bawa ke pusat untuk pengem­bangan lebih lanjut,” kata Penyidik Muda BNN, Reni Puspita.

Diceritakannya, tersangka ini masuk dalam jaringan narkoba, saat dia pernah ditahan di salah satu LP di Jawa dalam kasus yang berbeda. Kemudian tersangka dikenalkan oleh seseorang kepada orang yang mengendalikan narkoba jaringan internasional. “Setelah dia bebas, maka dia langsung masuk ke dalam jaringan tersebut,” ujarnya.

Menurut Reni, pihaknya telah memasukkan tersangka ke dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak tiga bulan yang lalu. Saat itu, pihaknya mendapatkan informasi mengenai gerak-geriknya, sehingga pihaknya langsung menerjunkan beberapa anggota BNN di beberapa bandara yang ada.

“Pada tanggal 8 hingga 18 Mei kemarin, tiga anggota kami telah ditugaskan di bandara untuk mengantisipasi kedatangan tersang­ka dari luar negeri masuk ke Indonesia. Beberapa bandara yang diawasi adalah Medan, Palembang, Bandung, dan Pulau Jawa,” jelas Reni,  Selasa (28/5).

Namun, hingga tanggal yang telah ditentukan tersebut pelaku tidak kunjung kelihatan. Sehingga petugas yang diturunkan kembali lagi ke BNN. Kenyataannya, pelaku ini baru masuk ke Indonesia melalui Bandara Filipina yang transit di Kuala Lumpur pada tanggal 25 Mei 2013, dan sampai di Padang pada tanggal 26 Mei 2013.

Pelaku ini sengaja masuk ke Padang, karena merasa aman. Akan tetapi berkat kerjasama dengan semua pihak, pelaku berha­sil ditangkap bersama dengan barang bukti. Tersangka ini sudah dua kali lolos dari kejaran petugas, dengan melewati rute Filipina ke Malaysia, dan baru ke Indonesia.

“Rute ini memang sering dia lakukan, dan terkadang rute itu di bolak balik. Kadang-kadang Filipina-Indonesia, dan terkadang Malaysia-Indonesia. Namun, untuk yang ketiga kali ini, pelaku memakai rute Malaysia-Filipina, dan baru langsung ke Padang. Kemudian rencananya akan ke Jakarta dengan transit di Padang,” jelasnya lagi.

Reni menjelaskan, selain ter­sang­ka ini masih ada jaringan besar lainnya yang belum tertangkap. Mereka juga merupakan jaringan internasional, serta dikendalikan dari dalam lapas oleh salah seorang napi. Pihaknya juga telah menge­tahui identitas jaringan tersebut.

Dikatakanya, tersangka dan barang bukti dibawa ke BNN. Akibat perbuatannya,  tersangka terancam  UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika Pasal 113. Dimana pada ayat (1) setiap orang yang tanpa hak, atau melawan hukum mem­produksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan narkotika golongan I, di pidana dengan kurungan penjara paling singkat 5 tahun dan paling tinggi 15 tahun, serta pidana denda paling sedikit Rp1 miliar, dan paling tinggi Rp10 miliar.

Kemudian pada ayat (2) dalam hal perbuatan memproduksi, me­ngim­por, mengekspor atau menya­lurkan narkotika golongan I sebagai­mana dimaksud pada ayat (I) dalam bentuk tanaman yang beratnya melebihi 1 kilogram, atau melebihi lima batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman melebihi 5 gram, pelaku dipidana dengan hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara minimal 5 tahun, dan paling lama 20 tahun, serta denda maksimum sebagai­mana dimaksud pada ayat (I) ditambah 1/3.

Sementara itu, Kepala Bea dan Cukai TMP B Teluk Bayur, Duki Rusnadi mengatakan, pihaknya bisa menahan tersangka ini selama tiga hari sebelum dilimpahkan kepada pihak berwajib.

“Bea dan Cukai dalam melak­sanakan tugas, mengemban dua undang-undang, yaitu UU RI No. 10 tahun 1995 jo UU No. 17 tahun 2006. Intinya Bea dan Cukai mengawasi terhadap keluar masuk barang atau orang dari luar negeri. Semua kegiatan ekspor dan impor harus melapor ke Bea dan Cukai,” jelasnya.

Selain itu juga amanat UU Narkotika tentang memproduksi atau mengimpor harus memperoleh izin dan melapor ke Bea dan Cukai. Kalau dia melawan hukum, maka Bea dan Cukai akan melakukan tindakan, selanjutnya kewenangan melakukan penyidikannya berada di BNN atau di pihak Kepolisian.

Seperti berita sebelumnya, janda beranak dua ini diringkus oleh petugas Bea dan Cukai Ban­dara Internasional Minangkabau (BIM), karena kedapatan membawa sabu seberat 2,8 kilogram, pada Minggu (26/5) sekitar pukul 09.30 WIB.

Sebelumnya, ratu sabu ini berhasil lolos dari pengamanan dua bandara internasional yaitu Filipina dan Malaysia. Untunglah di BIM, langkahnya berhasil dihentikan petugas Bea dan Cukai.

Sabu yang dibawanya termasuk kategori narkoba kelas satu. Barang haram ini masuk ke BIM dibawa Jeni, salah seorang penumpang pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK-1370 dari Malaysia. (h/nas)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy