Sabtu, 28 Februari 2015
DDII dan PWA Sumbar Tolak RS Siloam PDF Cetak Surel
Sabtu, 01 Juni 2013 02:03

AISYIAH KEMBALIKAN BANTUAN LIPPO GROUP

PADANG,HALUAN — Pe­nolakan terhadap pendirian Rumah Sakit (RS) Siloam milik Lippo Group di Padang semakin deras. Setelah be­berapa Ormas Islam menolak proyek itu dan berikutnya dibarengi pula dengan surat terbuka tokoh Sumbar Moch­tar Naim yang juga menolak mentah-mentah RS Siloam, berikutnya giliran  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sumbar dan PW Ai­syiah Sumbar yang mela­kukan hal sama.

Pimpinan Wilayah Ai­syiah (PWA) Sumbar bahkan mengembalikan lagi bantuan Rp50 juta dari Group Lippo yang diberikan kepada Ai­syiah pada Peletakan Batu Pertama RS Siloam, Jumat (10/5) lalu di kasawan Jl Sudirman Padang. Alasan pengembalian, selain awalnya pihak Aisyiah tidak tahu bahwa bantuan tersebut dari Lippo Group, bantuan itu juga telah menimbulkan polemik dan keraguan di masyarakat yang pada akhirnya menjadikan status bantuan itu bersifat subhat.

Ketua Dewan Syuro DDII Sum­bar H Masfar Rasjid dan Ketua DDII Sumbar Ahmad Kosasih dalam relisnya yang dikirimkan secara resmi ke redaksi Haluan menyatakan dengan tegas menolak pendirian RS Siloam di Ranah Minang.  Penolakan itu berdasarkan musyawarah pengurus DDII Sumbar yang dihadiri Majelis Syura, Majelis Pakar dan seluruh Pengurus Dewan Da’wah Sumbar, Minggu (26/5) lalu.

Alasan penolakan adalah; per­tama, James T. Riyadi adalah tokoh misionaris Kristen Internasional yang telah melanglang buana dalam kegiatan misionaris, seperti beru­saha membangun 100.000 sekolah misionaris Kristen, membangun gereja terbesar dan termegah di Asia Tenggara yang terletak di Jakarta. Termasuk juga seorang yang menjadi donatur dari Calon Presiden AS, Bill Clinton.

Kedua, kata “siloam” memiliki dua pengertian yaitu “utusan” dan nama sebuah kolam yang diyakini oleh umat Nashraniy sebagai sumber air suci dan pernah dipakai Nabi Isa as untuk pengobatan. Penggunaan nama ini mengingatkan kita supaya waspada terhadap upaya-upaya terselubung di balik pendirian Rumah sakit tersebut.

Ketiga, mengingatkan umat Islam Minangkabau akan “luka lama” yaitu kasus Rumah Sakit Baptis Emanuel di Bukittinggi yang telah ditolak di Bukittinggi sekitar tahun 1980-an dan dipindahkan ke Lampung.  Namun peristiwa terse­but telah menyebabkan 9 orang Mahasiswa Islam di Bukittinggi dipenjarakan.

Keempat, RS Siloam merupakan salah satu bukti kapitalisasi di bidang kesehatan. Sebagaimana diketahui, kesehatan menyangkut hajat hidup orang banyak. Urusan kesehatan tidak diperbolehkan diserahkan kepada mekanisme pasar dan swasta. Harus meng­hindari terjadinya pengobatan menjadi barang mewah dan hanya kalangan atas saja yang berhak mendapatkan pengobatan yang layak. Hal ini menjadi celah bagi upaya pemurtadan umat Islam.  Orang miskin yang beragama Islam, dikhawatirkan pengobatan gratis di rumah sakit Kristen dengan syarat berpindah agama.

Kelima, dengan latar belakang pemilik Lippo Group dan penamaan Rumah Sakit dengan nama “Siloam “dan track record Pemilik Lippo Group yang kental dengan agenda-agenda kristenisasi maka menjadi kekhawatiran dapat  menodai filosofi di ranah minang, yaitu : Adaik Basandi Syara’ , Syara’ basandi Kitabullah.

Berikutnya DDII Sumbar men­desak; pertama Pemko Padang segera mencabut izin pendirian Rumah Sakit Siloam. Kedua, menga­jak seluruh elemen masyarakat menolak segala bentuk Proyek Lippo Group di ranah minang, untuk menjaga anak kemenakan kita dari bahaya kristenisasi.

PW Aisyiah Sumbar Juga Menolak

Ketua (PW) Ketua Aisyiyah Sumatera Barat Meiliarni Rusdi, mengembalikan pemberian Lippo Group untuk panti asuhan Aisyiyah sebesar Rp50 juta. Hal ini dikare­nakan, bantuan yang diterima terse­but bersifat meragukan (syubhat).

Diakatakan Meiliarni, di orga­nisasi Aisyiyah yang berada diba­wah nauangan Muhammadiyah ini, sesuatu bantuan yang bersifat syubhat, sebaiknya tidak diterima. Disebut syubhat, karena pemberian bantuan disertai ada kepentingan di belakanganya.

Dalam aturan di organisasi ini, bantuan tidak boleh mengikat. Artinya, ketika bantuan diberikan, memang sepenuhnya digunakan untuk kepentingan bantuan.

Terkait diberikannya bantuan bagi panti asuhan, menurut Mei­liarni, pada awalnya, pihaknya sama sekali tidak mengetahui siapa yang memberi bantuan.

“Pada waktu itu, walikota yang mengatakan kami mendapat ban­tuan. Karena walikota mengatakan, jadi turuti saja dulu, tanpa ada rasa kecurigaan sedikitpun,” jelas­nya, Jumat (31/5).

Terkait pendirian RS Siloam di Jalan Khatib Sulaiman ini, menurut Meiliarni, Aisyiyah lebih memilih untuk mengajak semua pihak duduk bersama membicarakan hal ini. Saat ini pun Aisyiyah  tengah melakukan cek dan ricek terhadap RS tersebut, yang dikabarkan beberapa pihak membawa misi misionaris.

“Menurut saya lebih baik kita bertemu dulu semuanya. Saling berhadap-hadapan. Dari sanalah bisa diputuskan sikap apa yang akan diambli. Jangan seperti sekarang, baru saja mulai sudah terlihat ada konflik di tengah masyarakat,” katanya lagi.

Jika pertemuan ini nanti ter­wujud, yang mesti menjadi perha­tian adalah azas manfaat dari pembangunan yang dilakukuan Lippo Group tersebut. Seperti, jika dibangun mall, apakah memang sesuai kebutuhan. Begitu juga rumah sakit, apakah Sumbar membutuhkan rumah sakit baru.

Tetapi, kata Meiliarni, jika rumah sakit ini memang bersifat misionaris, secara tegas Aisyiyah menolak hal tersebut.

Sumatera Barat Meiliarni Rusdi, mengembalikan pemberian Lippo Group untuk panti asuhan Aisyiyah sebesar Rp50 juta. Hal ini dikarenakan, bantuan yang diterima tersebut bersifat mera­gukan (syubhat).

Diakatakan Meiliarni, di orga­nisasi Aisyiyah yang berada diba­wah nauangan Muhammadiyah ini, sesuatu bantuan yang bersifat syubhat, sebaiknya tidak diterima. Disebut syubhat, karena pemberian bantuan disertai ada kepentingan di belakanganya.

Dalam aturan di organisasi ini, bantuan tidak boleh mengikat. Artinya, ketika bantuan diberikan, memang sepenuhnya digunakan untuk kepentingan bantuan.

Terkait diberikannya bantuan bagi panti asuhan, menurut Meiliar­ni, pada awalnya, pihaknya sama sekali tidak mengetahui siapa yang memberi bantuan.

“Pada waktu itu, walikota yang mengatakan kami mendapat ban­tuan. Karena walikota mengatakan, jadi turuti saja dulu, tanpa ada rasa kecurigaan sedikitpun,” jelas­nya, Jumat (31/5).

Terkait pendirian Rumah Sakit Siloam di Jalan Khatib Sulaiman ini, menurut Meiliarni, Aisyiyah lebih memilih untuk mengajak semua pihak duduk bersama mem­bicarakan hal ini. Saat ini pun Aisyiyah  tengah melakukan cek dan ricek terhadap RS tersebut, yang dikabarkan beberapa pihak membawa misi misionaris.

“Menurut saya lebih baik kita bertemu dulu semuanya. Saling berhadap-hadapan. Dari sanalah bisa diputuskan sikap apa yang akan diambli. Jangan seperti sekarang, baru saja mulai sudah terlihat ada konflik di tengah masyarakat,” katanya lagi.

Jika pertemuan ini nanti ter­wujud, yang mesti menjadi perha­tian adalah azas manfaat dari pembangunan yang dilakukuan Lippo Group tersebut. Seperti, jika dibangun mall, apakah memang sesuai kebutuhan. Begitu juga rumah sakit, apakah Sumbar membutuhkan rumah sakit baru.

Tetapi, kata Meiliarni, jika rumah sakit ini memang bersifat misionaris, secara tegas Aisyiyah menolak hal tersebut. (h/cw/eni/cw-wis/rel)


Newer news items:
Older news items: