Senin, 22 Desember 2014
Nenek Nur dan Sebatang Pohon Durian PDF Cetak Surel
Ditulis oleh hirvan zued   
Sabtu, 13 Juli 2013 23:50

Nenek Nur meninggal dunia tidak lama setelah pohon durian di depan rumahnya ditebang. Orang-orang lalu menghubung-hubungkan kematian Nenek Nur dengan tumbangnya pohon tersebut.

Ada yang mengatakan bahwa sebagian jiwa Nenek Nur tersimpan dalam pohon itu, sebab seminggu setelah pohon ditebang, Nenek Nur ikut tumbang. Anggapan demikian dipercaya oleh orang-orang, sebab selama pohon itu berdiri, tak tampak tanda-tanda kematian menghampiri Nenek Nur. Dan seiring pohon tersebut bertambah tuakulit kian keropos dan dahan sering jatuh—Nenek Nur sering sakit-sakitan.

Kau mungkin tak percaya pada dugaan tak masuk akal itu. Barangkali kau bertanya-tanya, bagaimana mungkin hidup mati seorang manusia tergantung pada hidup mati sebatang pohon. Tetapi begitulah kabar yang beredar di Kampung Parak.

Tak seorang pun tahu berapa umur pohon durian itu. Orang-orang Kampung Parak memberikan kesaksian bahwa pohon tersebut telah besar dan tampak tua ketika mereka masih belum bisa cebok sendiri. Pohon setinggi 9 meter itu telah ada di sana sejak mereka masih belum tahu nama-nama pohon.

Pohon itu memang besar. Untuk memeluknya, butuh lima manusia dewasa. Seperti pohon-pohon besar lainnya, pohon tersebut juga rimbun. Rumah Nenek Nur menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat di siang hari. Bila matahari sedang tegak tali, tak jarang beberapa anak muda duduk-duduk di sana untuk ngobrol atau bermain gitar. Setiap hari, satu sampai lima nelayan yang pulang melaut, singgah sebentar di jalan depan rumah Nenek Nur yang teduh untuk menikmati angin sejuk yang berhembus di bawah rimbun pohon du­rian.

Selain memberikan berkah kesejukan, pohon durian itu menjadi kebahagiaan tersen­diri bagi orang-orang Kampung Parak ketika musim berbuah. Siapa pun boleh menunggu jatuh buah durian dan membawanya pulang. Nenek Nur tidak pernah meminta uang dari orang-orang yang mengambil buah duriannya. Maka, setiap musim berbuah, siang malam rumah Nenek Nur ramai oleh orang-orang yang menunggu jatuh buah durian.

Meski sebagian orang menyenangi keberadaan pohon Nenek Nur, namun ada beberapa orang yang ingin menebangnya. Mereka beralasan bahwa dahan-dahan pohon durian yang rapuh sering jatuh ke arah jalan. “Memang,” kata mereka, “selama ini belum ada korban yang jatuh, tetapi suatu saat, bila sedang sial atau tidak, dahan pohon itu bisa saja menimpa orang dan menyebabkan kematian.”

Meski alasan orang-orang yang ingin menebang pohon tersebut masuk akal, namun Nenek Nur menolak pohonnya ditebang. Beberapa kali mereka membujuk Nenek Nur, tetapi selalu gagal.

Pernah sekali waktu, seseorang datang untuk membujuk.

“Nek,” kata orang itu, “kalau pohon ini ditebang, selain menghilangkan bahaya bagi orang-orang, kayu pohon ini bisa digunakan untuk mengganti dinding papan rumah nenek yang lapuk dimakan rayap dan kumbang. Lagi pula, kalau sudah ditebang, nenek tidak repot lagi tiap pagi menyapu daun-daun pohon yang berterbangan sampai ke halaman tetangga.”

“Nenek tidak mau.”

“Kenapa, Nek?”

“Kalau pun nenek ceritakan mengapa nenek tidak mau menebang pohon ini dan senang menyapu daun-daunnya, kau tidak akan mengerti,” jawab Nenek Nur dengan suara yang putus-putus kering.

Mendengar penuturan Ne­nek Nur, orang tersebut me­nger­nyitkan dahi, “memangnya kenapa nenek tidak mau? Ceritakanlah biar aku tahu.”

“Percuma,” ujar Nenek Nur. Ia lalu masuk ke dalam rumahnya.

“Tetapi ceritakanlah, Nek. Nek..! Nek..!”

Nenek Nur memilih menu­tup pintu rumahnya ketim­bang menjawab panggilan orang tersebut.

***

Di Kampung Parak, Nenek Nur adalah orang yang paling tua. Ketika orang-orang seumuran dirinya sudah berkalang tanah, sesuatu dalam dirinya seakan menghalangi nyawanya untuk keluar dari tubuhnya. Atau, seperti kata seseorang di sana, ketika malaikat maut datang untuk menjemput nyawa orang-orang yang sudah selayaknya menghadap Tuhan, ada sesuatu yang membuat malaikat maut tak jadi menjemput nyawa Nenek Nur. Malaikat maut tidak akan mencabut nyawa orang yang urusannya belum selesai, katanya.

Entah bermula dari mana kabar yang menyebutkan bahwa nyawa Nenek Nur tidak terdapat dalam tubunya,  melainkan bersemayam dalam pohon durian di depan rumahnya. Dan entah siapa pula yang mulai mengatakan bahwa nyawa pohon itu berada di tubuh Nenek Nur, sebab, orang-orang memperhatikan, ketika Nenek Nur sakit, pohon durian itu kelihatan murung, daun-daunnya gugur lebih banyak dari biasanya dan makin banyak ranting dan dahan yang berjatuhan. Entah nyawa Nenek Nur terpaut pada pohon itu atau sebaliknya, tidak ada yang tahu pasti. Orang-orang menganggap Nenek Nur dan pohonnya, satu jiwa.

Sehari-hari, sehabis menyapu daun-daun yang berguguran, Nenek Nur hanya termenung memandang pohon­nya. Apa yang ia pikirkan ketika melihat pohon itu, tak seorang pun tahu. Yang pasti, ketika Nenek Nur melihat halamannya dan halaman tetangganya kotor lagi oleh dedaunan, maka ia akan menyapunya. Dan ketika halaman-halaman itu sudah bersih, ia akan melamun lagi memandangi pohon tersebut. Begitu seterusnya sampai ia beristirahat saat malam tiba.

***

Menurut cerita orang-orang Kampung Parak, pohon itu ditanam oleh suami Nenek Nur.

“Waktu aku masih kecil,” kata seseorang memulai ceritanya, “ibuku bercerita tentang pohon durian dan suami Nenek Nur. Ketika suaminya masih hidup, Nenek Nur dan suaminya menanam dan merawat pohon itu sampai besar. Ketika musim durian, suaminya menjual buah durian untuk mendapatkan keuntu­ngan.Tak seorang pun boleh mengambil buah durian yang jatuh, sekali pun buahnya jatuh di pekarangan tetangga. Padahal, daun-daunnya mengotori halaman tetangga.

Suami Nenek Nur dikenal congkak. Jangankan berbasa-basi memberikan satu dua buah durian, menyapa tetangga pun ia enggan. Konon suami Nenek Nur seorang yang terpandang dan kaya raya sebelum pada akhirnya jatuh miskin. Ketika miskin, ia masih merasa kaya, sehingga ia berpikir bahwa orang perlu menyeganinya. Bukannya disegani, ia malah dibenci.

Nenek Nur menyadari kesombongan suaminya. Tapi ia tidak menasehati suaminya. Ia percaya suatu saat suaminya sadar. Namun sampai pada akhir hayat, suaminya tak kunjung insaf. Nenek Nur pun menyesali perbuatannya yang tak menasehati suaminya semasa hidup. Kalau kunasehati, mungkin ia sadar dan meninggal dunia dengan tenang, kata Nenek Nur bercerita pada ibuku.

Nenek Nur bercerita bahwa ia sering didatangi suaminya dalam mimpi. Dalam mimpinya, ia melihat suaminya ditimpa oleh buah durian secara beruntun, kemudian ditimbun oleh daun-daun. Suaminya berteriak-teriak minta tolong pada Nenek Nur, tapi ketika Nenek Nur hendak mendekat, suaminya hilang di antara tumpukan daun-daun.

Sejak didatangi mimpi itu,  setiap hari Nenek Nur berjalan menemui tetangga-tetangga dan orang-orang Kampung Parak untuk meminta maaf. Meski orang-orang sudah berkali-kali memaafkannya, tapi Nenek Nur tetap memohon maaf.

Setiap kali meminta maaf, Nenek Nur hanya mengucapkan kata ‘maaf’, lalu pergi begitu saja. Orang-orang heran melihat kelakuan aneh Nenek Nur, bahkan ada yang menganggapnya gila.

Karena kasihan melihat kelakuan aneh Nenek Nur, orang-orang mencarikan solusi untuk membuat Nenek Nur berhenti meminta maaf.

Setelah berembuk me­ngum­pulkan ide, maka dida­patlah sebuah kesepakatan. Dengan pura-pura serius, orang-orang Kam­pung Parak berkata kepada Nenek Nur, “kami mau memaafkan nenek dengan satu syarat; ketika musim berbuah, siapa pun boleh mengambil buah durian ne­nek.”

Tiada dinyana, syarat tersebut disetujui oleh Nenek Nur. Maka sejak saat itu, Nenek Nur tidak lagi meminta maaf kepada orang-orang.

Memang, setiap kali musim durian tiba, Nenek Nur tampak tersenyum ketika orang-orang memunguti buah durian yang jatuh, seolah-olah setiap rasa bersalah terangkat dari hatinya ketika durian dipungut satu persatu. Namun, ia merasa belum sepenuhnya rasa bersalahnya terbayar lunas. Untuk melunasi rasa bersalahnya, setiap hari ia menyapu daun-daun yang berterbangan ke pekarangan rumah tetangganya.

Ketika menyapu daun-daun itu, seringkali Nenek Nur berhenti karena letih. Setelah letihnya hilang, ia melanjutkan menyapu. Meski letih, namun ia kelihatan senang.

Tak jarang para tetangga melarang Nenek Nur menyapu daun-daun itu karena kasihan melihatnya kelelahan, tapi Nenek Nur bersikeras membersihkan daun-daun itu sendiri.”

***

Pada akhirnya, pohon durian Nenek Nur ditebang. Suatu siang, seorang nelayan yang pulang melaut yang biasanya duduk-duduk di bawah pohon itu untuk beristirahat, mati tertimpa dahan pohon yang besar.

Sejak kematian nelayan tersebut, pohon itu ditebang dengan gergaji mesin tanpa persetujuan dari Nenek Nur. Nenek Nur menangis meronta-rotan melihat dahan demi dahan pohon yang berisi ratusan daun, jatuh ke tanah. Ia berusaha menghentikan gergaji itu membelah pohonnya, namun orang-orang segera memeganginya.

Sejak pohon duriannya ditebang, Nenek Nur tampak lebih tua dari biasanya. Ia menghabiskan waktu duduk memandang ke halaman rumahnya yang sebelumnya berdiri sebuah pohon.

Kini Nenek Nur tak perlu repot-repot lagi menyapu halaman rumah tetangganya. Namun, sejak pohon itu ditebang, Nenek Nur kembali meminta maaf kepada tetangga-tetangganya dan orang-orang Kampung parak.

Seminggu setelah pohon itu ditebang, Nenek Nur meninggal dunia. Maka beredarlah mitos di Kampung Parak yang mengatakan bahwa nyawa Nenek Nur selama ini tersimpan dalam pohon durian.

Kuranjei-Padang, Mei-Juli 2013

 

( HOLY ADIB )

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: