Jumat, 28 November 2014
7 Warga Sipil Mesir Tewas PDF Cetak Surel
Rabu, 17 Juli 2013 02:08

BENTROKAN PECAH LAGI

JAKARTA, HALUAN — Bentrokan kembali terjadi di Kairo Mesir antara polisi dan massa pendukung presiden terguling Mohamed Morsi. Menurut Kementerian Kesehatan Mesir, sedikitnya tujuh warga sipil tewas akibat bentrokan tersebut.

Aljazeera memberitakan, Khaled el-Khateib, pejabat senior Kementerian Kesehatan, sebanyak 261 orang menga­lami luka-luka dalam keja­dian yang terjadi pada Senin te­ngah malam. Hingga Selasa pagi (16/7), korban-korban masih ada yang dibawa ke rumah sakit.

Mohamed Sultan, kepala layanan darurat Mesir, menga­takan bahwa dua orang terbu­nuh di jembatan di pusat kota Kairo dan lima di distrik Giza. Ikhawanul Muslimin menga­takan polisi mengeluarkan tembakan peri­ngatan ke udara dan beberapa diarahkan lang­sung kepada pengunjuk rasa.

Selain itu, di pihak polisi sebanyak 17 anggota terluka. Sebanyak 401 orang ditangkap terkait bentrokan itu.

Perang di Facebook

Setelah militer menggeser Presiden Mohammed Morsi yang merupakan tokoh Ikhwa­nul Muslimin, pendukung dua kubu saling serang lewat jaringan sosial, terutama facebook dan twitter.

Anna Antonakis-Nashif, pakar politik dan peneliti media sosial dunia Arab pada Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik di Berlin mengata­kan pada Deutschewelle bebe­rapa saat lalu bahwa sejak revolusi 2011 yang menggu­lingkan Hosni Mubarak, dis­kusi di internet makin dikendalikan oleh kepentingan partai politik, sebab politisi sadar bahwa Facebook dan Twitter adalah sarana yang sangat berpengaruh.

Ahmed Samir Assem, jur­nalis yang bekerja di harian milik Ikhwanul Muslimin pernah menayangkan seorang penembak jitu di atas atap yang sedang melepaskan tem­ba­kan. Lalu video itu tiba-tiba terputus. Ahmed yang mem­buatnya, memang tewas ditem­bak sniper yang direkamnya.

Tidak lama setelah video itu diakses di internet, militer mengeluarkan sejumlah video tandingan lewat Facebook dan Twitter yang berisi ancaman akan menangkap orang yang menghasut rakyat.

Di video lainnya terlihat seorang pria berpakaian hitam dengan masker hitam yang menga­rahkan tembakan ke­pada seorang aparat keama­nan. Pesannya adalah, militer membela diri dan tidak sem­barangan melepaskan temba­kan.

Namun pada video ini tidak terlihat siapa yang memulai konflik. “Persoalan­nya adalah, gambar-gambar sering di­gunakan untuk me­mobilisasi pendukung. Aktua­lisasinya demikian cepat sehingga peng­guna tidak sem­pat memeriksa kebenaran informasi, ujar Anna Anto­nakis-Nashif. (h/okz/ajzr)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy