Sabtu, 23 Agustus 2014
Selawat Dulang Kian Menghilang PDF Cetak Surel
Jumat, 26 Juli 2013 03:19

Buyuang Ase Malin Marajo begitu hikmat menabuh dulang dari kuningan berdiameter 65 centimeter itu, dengan ketukan teratur, mengiringi syair salawat nan didendangkannya. Ditingkahi tabuhan dulang dan sahutan dendang Sabaruddin, irama jadi riuh. Mengasyikkan, sampai-sampai pinggul tuan-tuan bergoyang terba­wa hanyut tingkahan dulang dan irama dendang.

Kira-kira setengah jam kemu­dian, Buyuang dan Sabaruddin dari grup Bintang Harapan menyudahi dendang dengan melempar tanya kepada sepasang pendendang yang menjadi lawan sandingnya malam itu, grup Gurun Sahara. Alhade Rusdi dan Zulkani pun memulai dendangnya. Kedua grup Salawat Dulang asal Kota Padang ini tampil menyemarakkan malam Festival Nan Jombang belum lama ini di di Rimbo Tarok, Kelurahan Gunung Sarik, Kec. Kuranji Padang.

Sepanjang permainannya, pen­den­dang sesekali membacakan ayat al-Quran berikut penjelasannya. Masih dalam dendang, di tengah permainan tiba-tiba irama berganti lagu dangdut yang disambut sorak-sorai dan derai tawa penonton, tua maupun muda. Kawan di sebelah saya berbisik, “Saya tak begitu paham lirik yang didendangkannya, tapi saya menikmati irama dan ketukan dulang yang dimain­kannya”, ujar kawan saya itu. Evi namanya. Usianya tak jauh beda dari saya, sekitar duapuluhan tahun. Ingin saya katakan padanya, bahwa sesungguhnya saya juga tak jauh beda dengannya.

Namun beberapa bait dapat ditangkap, ketika si tukang dendang menyampaikan nasehat terutama ditujukan kepada generasi muda. Barangkali saya, juga kawan saya itu, mewakili generasi muda Mi­nang­kabau saat ini yang mulai berjarak dengan kesenian tradisi yang satu ini.

Salawat Dulang disebut juga Salawek Talam, merupakan salah satu tradisi lisan Minangkabau yang bertema Islam. Bentuk dari kesenian tradisi ini berupa pertun­jukan dua grup atau lebih, yang disebut duo sandiang, tigo sandiang, dan seterusnya. Dalam kesenian ini, si pendendang membacakan hafalan teks yang berisi tafsir al-Quran dan hadits yang telah ditulis sebelumnya.

Buyuang Ase, salah seorang pendendang dari grup Bintang Harapan asal Kelurahan Aia Pacah, Padang, menjelaskan, asal-usul kesenian Salawat Dulang awalnya bermula dari Aceh. Kesenian tradisi bernafaskan dakwah agama ini dibawa oleh Syeikh Burhanuddin beserta kawan-kawannya ke daerah Pariaman. Kemudian kesenian ini terus dibawa ke daerah darek, yakni Batusangkar. Namun, kese­nian yang dibawa dari Aceh pada saat itu hanya merupakan salawat. Sesampai di Minangkabau, barulah kesenian ini menggunakan dulang sebagai pengiring dendang.

“Kesenian salawat ini dulunya berasal dari aceh, dibawa oleh Syeikh Burhanuddin dan kawan-kawan ke Pariaman. Sesampai di darek, digunakanlah dulang sebagai pem­beri ketukan, mengiringi den­dang salawat. Maka dinamakanlah ia Sa­la­wat Dulang. Sebagaimana di­katakan, adaik manurun, syara’ man­daki. Adaik menurun dari darek ke daerah pesisir Minang­kabau, semen­tara syara’ mendaki dari pesisir ke daerah darek Minangka­bau,” terang pak Buyuang sembari menyi­mak dendang lawan sandiangnya.

Cerita pak Buyuang, pada tahun 1970, kesenian ini sangat digemari tua dan muda. Ketika itu belum ada lagu-lagu tambahan seperti saat sekarang. Dahulu, di surau-surau kerap salawat dulang ini dipertan­dingkan tiga pasang.

“Kesenian ini dulunya sangat digemari masyarakat, baik tua maupun muda. Waktu itu penyam­paiannya belum seperti sekarang ini, tidak ada lagu-lagu tambahan seperti lagu dangdut atau Minang yang diplesetkan. Dalam dendang Salawat dulang, penyampaian kaji tak bisa beranjak dari sifat nan duopuluah. Walaupun sekarang sudah ada perkembangan, sekadar bumbu-bumbu yang disukai anak muda, namun yang dasar tidak hilang”, jelas lelaki 56 tahun ini.

Pak Buyuang mengaku mulai belajar Salawat Dulang sejak tahun 1970-an, dan sempat vakum sekitar tahun 2006 karena alasan kesi­bukan serta kondisi kesehatan. Selama itu pula ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Karena kecintaannya terhadap kesenian Minangkabau yang satu ini, pak Buyuang akhirnya kembali menabuh dulang sembari berden­dang bersama kawan mainnya Sabarudin, sekitar sebulan yang lalu.

“Dulu sempat vakum beberapa tahun, baru satu bulan ini mulai bermain lagi. Namanya juga hobi”, tuturnya.

Meskipun demikian, pak Bu­yuang beserta pelaku seni Salawat Dulang lainnya menyimpan kekha­watiran yang sama. Siapa lagi yang bakal meneruskan kesenian Minang­kabau yang sarat dakwah agama ini setelah generasinya tiada? Kekhawatiran yang cukup berasa­lan. Sebab, saat ini pemain Salawat Dulang berusia rata-rata di atas 45 tahun. Tidak ada pemain muda. Kalaupun ada yang berminat belajar, itupun jumlahnya tidaklah banyak. Hanya segelintir saja. Hal ini, ungkap beliau, bisa jadi dise­bab­kan ketidakpahaman mereka terhadap kesenian tradisi yang satu ini. Apalagi sekarang sudah banyak alat musik modern yang lebih diminati seperti orgen tunggal.

“Kekhawatiran kami, tak lagi ada pelaku seni Salawat Dulang dari kalangan muda. Mereka ba­rang­kali tidak begitu paham dengan kesenian ini, ditambah lagi sekarang sudah banyak yang lebih modern seperti musik orgen tunggal yang lebih digemari masya­ra­kat,” ung­kap­nya.

Tidak hanya Salawat Dulang, sejumlah kesenian tradisional Minangkabau lainnya saat ini juga mulai, atau barangkali sudah berjarak dengan masyarakat teruta­ma di kalangan generasi muda. Kekhawatiran yang dibarengi kesadaran untuk menciptakan suatu upaya dalam rangka mem­bangkitkan kembali ruh kesenian tradisional Minangkabau, serta memperkenalkannya kepada gene­rasi muda, adalah lebih baik dari hanya sekadar merutuki perubahan. Untuk itu, kegiatan kebudayaan yang memberi panggung bagi kesenian tradisional, seperti yang rutin digelar di Ladang Nan Jom­bang pada tanggal 3 setiap bulan ini, memang patut diapresiasi. (Yeni/padangmedia)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy