Rabu, 03 September 2014
Naik Kuda di Halaman Istano Basa PDF Cetak Surel
Selasa, 30 Juli 2013 01:48

Bangunan warisan sejarah Minangkabau yakni Istano Basa Pagaruyung merupakan salah satu ikon pariwisata Sumbar dan sebagai objek wisata utama di kabupaten Tanah Datar.

Istano Basa itu berdiri megah di Padang Siminyak Kecamatan Tanjung Emas, sekitar 7 km dari Kota Batusangkar, bangunannya merupakan replika dari  rumah gadang Rajo Alam Minang­kabau yang dulu terletak di Bukik Batu Patah pada kaki Gunung Bungsu.

Menurut sejarahnya rumah gadang itu pernah dibakar oleh pemerintah kolonial tahun 1804, lalu dibangun kembali dan terbakar lagi tahun 1966, setelah itu Istano Basa dibangun di Padang Siminyak tahun 1976, namun 27 Februari 2007 Istano terbakar kembali  akibat disambar petir, barang-barang peninggalan sejarah yang berada di dalamnya hanya dapat diselamatkan sekitar 15 persen.

Kemudian pada 8 Juli 2007 dilakukan “batagak tunggak tuo” sebagai kegiatan awal pembangunan kembali Istano Basa yang telah berulang kali mengalami kebakaran.

Dalan pembangunan kembali, bentuk dan komponen aslinya tetap  dipertahankan dengan atap ijuk terdiri dari 11 gonjong, 72 tonggak dan 3 lantai, di pekarangannya masih dibangun 2 buah rumah tabuah dan rangkiang patah sambi­lan yang juga baratap ijuk dengan arsitektur Minangkabau yang khas. Hanya saja letak bangunannya digeser 40 meter ke arah belakang, supaya halaman depan bertambah luas. Luas areal keseluruhan komplek Istano Basa sekitar 3,5 hektare.

Bangunan  utama Istano  yang baru itu  kini telah rampung, tinggal pembenahan lingkungan di sekitar­nya. Menurut rencana peresmian pemakaiannya akan dilakukan oleh presideh SBY pada bulan Septem­ber 2013 mendatang, beriringan dengan peresmian jembatan layang kelok sembilan.

Tetapi kendati belum dires­mikan  areal di sekitar Istano Basa telah dibuka untuk wisa­tawan, pengunjung ke tempat itu telah ramai berdatangan dari berbagai daerah di nusantara dan dari mancanegara. Begitupun pedagang makanan dan souvenir di pasar wisata di seberang jalan depan Istano kian bertambah banyak.

“Pada setiap hari libur dan hari minggu saya kira ada seribuan orang yang berkunjung ke sini” kata ibu Erna salah seorang pedagang buah di lingkungan Istano Basa.

Hingga saat ini kegiatan wisata  yang dapat dilakukan pengunjung di lingkungan istano antara lain berkeliling mengitari bangunannya yang megah sembari berfoto-foto, sementara untuk masuk ke dalam Istano memang belum boleh, pintu masuknya masih ditutup karena belum diresmikan.

Selain berkeliling-keliling dan beristirahat di bawah pohon-pohon rindang di belakang istano, kegiatan yang tak kalah mengasyikan dan sangat diminati adalah naik kuda mengelilingi halaman beralas pasir di depan istano lebih kurang seluas lapangan sepak bola.

Untuk itu paling tidak 4 ekor kuda jinak milik warga setempat siap melayani pengunjung setiap hari. Naik kuda boleh dilakukan sendiri dan boleh juga dituntun oleh pemilik kuda, namun banyak pe­ngun­jung yang berani menunggang sendiri karena kuda-kuda tersebut benar-benar jinak, telah dilatih khusus untuk melayani wisatawan dan tidak bakalan lari mengge­linjang-linjang yang dapat membuat penunggangnya terjatuh.

Ongkos naik kuda wisata itu relatif murah hanya Rp 5.000 untuk anak-anak dan Rp 10.000 untuk orang dewasa, bagi perantau yang pulang mudik lebaran objek wisata ini layak dikunjungi untuk melepas kerinduan terhadap budaya Minang­kabau. (Kasra Scorpi)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy