Sabtu, 19 April 2014
RAPBN 2014, Janji Sejak Tahun 2004 PDF Cetak Surel
Minggu, 18 Agustus 2013 00:00

PRESIDEN  Susilo Bambang Yudhoyono seperti tahun-tahun sebelumnya menyampaikan pidato kenegaraan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia, yang kali ini jatuh pada Sabtu 17 Agustus 2013.

Pidato itu disampaikan Presiden, Jumat (16/8) dalam rapat bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. Pidato yang disampaikan sehari menjelang Hari Ulang Tahun ke-68 Proklamasi Ke­mer­dekaan Republik Indonesia itu disampaikan dua kali.

Pada pagi hari, pukul 09.00 WIB, Presiden menyem­patkan diri mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 Hijriyah kepada kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air. Sedangkan siang harinya, pukul 14.30 WIB, Presiden menyampaikan pidato pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2014, beserta nota keuangannya. “Kedua pidato yang saya sampaikan di forum terhormat ini, haki­katnya juga saya tujukan kepada seluruh rakyat Indo­nesia,” tuturnya di Gedung DPR/MPR, Jakarta. Namun, dari panjangnya pidato tersebut, terdapat poin-poin penting dan menjadi fokus dirinya serta para pem­bantu di kabinetnya. Apa saja itu?

Presiden menyoroti Pemi­lihan Presiden 2014. Dirinya berharap, suksesi kepepim­pinan nasional tahun depan membawa angin segar, seka­ligus pembaruan dan kesi­nam­bungan. “Change and continuity,” kata dia.

“Seperti telah kita ketahui, Pilpres kali ini tidak diikuti oleh incumbent. Sampai saat ini, setidaknya terdapat pulu­han nama yang beredar di media massa,” tambahnya.

Presiden juga mengingat­kan agar penyelenggara pemilu menjalankan tugas dan kewa­jibannya penuh tanggung jawab mengingat biaya yang dianggarkan tidak sedikit. Pemerintah menganggarkan Rp17 triliun untuk Pemilu 2014. “Sungguh ini sebuah perhelatan demokrasi yang sangat akbar, tidak saja bagi negeri ini tapi juga dalam bandingannya dengan pemilu di negara-negara demokrasi lainnya,” kata SBY.

Dalam hal ekonomi, Presi­den mengungkapkan adanya peningkatan yang amat signi­fikan sejak kepemimpinannya pada 2004. Pendapatan per kapita pada 2004, hanya US$1.770. Namun, angka ini melonjak pada 2009 menjadi US$2.990. Bahkan, pada awal tahun ini pendapatan per kapita telah mencapai angka sekitar US$3 ribu. “Dengan capaian ini, saya yakin dengan kerja keras dari semua pihak pada 2014 pendapatan per kapita Indonesia bisa men­capai US$5 ribu,” jelasnya.

RAPBN 2014 yang disusun pemerintah di atas asumsi dasar makro di antaranya pertumbuhan ekonomi pada 2014 diharapkan mencapai 6,4 persen dan asumsi rata-rata nilai tukar rupiah untuk tahun depan yang dipatok Rp9.750 per dolar AS. Leng­kapnya, buka tautan ini.

Pemerintah, masih dalam pidato SBY, di RAPBN 2014, menargetkan pendapatan negara sebesar Rp1.662,5 triliun. Jumlah ini naik 10,7 persen dari target pendapatan negara pada APBNP 2013 yang mencapai Rp1.502 triliun. Sedangkan anggaran belanja negara direncanakan mencapai Rp1.816,7 triliun. Target anggaran belanja itu naik 5,2 persen dari pagu belanja negara pada APBNP 2013 yang sebe­sar Rp1.726,2 triliun.

Pada kesempatan itu, Presiden juga mengungkapkan rencana pemerintah untuk penyesuaian gaji pokok Pega­wai Negeri Sipil (PNS) serta anggota TNI dan Polri sebesar enam persen, dan pensiun pokok sebesar empat persen. “Penyesuaian gaji pokok PNS, TNI, dan Polri, serta pensiun pokok ini untuk mengan­tisipasi laju inflasi,” kata SBY.

Pemerintah memper­kira­kan defisit anggaran 2014 sebesar Rp154,2 triliun atau 1,49 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sebab, pada RAPBN 2014, target pendapatan negara Rp1.662,5 triliun, sedangkan belanja negara Rp1.816,7 triliun. “RAPBN tahun 2014 kita rencanakan tetap ekspansif,” tuturnya.

Penurunan defisit angga­ran ini dilakukan untuk me­wujudkan anggaran yang lebih sehat dan berimbang di masa yang akan datang. “Langkah itu merupakan bagian dari strategi untuk menjaga kesinambungan fiskal,” tutur SBY.

Infrastruktur

Presiden menyatakan bah­wa pada 2014 nanti, peme­rintah akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Menurut SBY, prioritas terse­but karena adanya kesadaran pembangunan infrastruktur di Indonesia yang masih jauh dari sempurna. Bahkan, kerap kali menjadi penghambat berbagai peningkatan kegiatan ekonomi dan sosial di tanah air. “Untuk mengatasi itu, sejumlah proyek infrastruktur berskala besar sedang diker­jakan di berbagai wilayah tanah air, termasuk perluasan beberapa bandara dan pela­buhan berikut fasilitas pendu­kungnya. Juga jalan tol dan ruas rel ganda,” kata Presiden di Gedung DPR, Jakarta, Jumat.

Untuk pembangunan infra­struktur, SBY menyatakan bahwa ada dua kementerian yang amat berperan, yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubu­ngan. Program yang diprio­ritaskan, menurut Presiden, adalah pembangungan konek­tivitas nasional melalui pem­ba­ngunan jalan yang ada di Kementerian Pekerjaan Umum.

Terkait pembangunan infra­struktur ini, pengusaha Sofyan Wanandi beberapa waktu yang lalu menyatakan pemerintah terlalu sering memberikan janji. Menurut dia, sejak 2004 lalu peme­rintah janji akan membangun infrastruktur untuk men­dukung pertumbuhan. “Mana hasilnya sampai saat ini infrastruktur ya segitu-segitu saja. (h/vvn)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: