Senin, 20 Oktober 2014
Pertanian Konvensional dan Dampaknya PDF Cetak Surel
Senin, 28 Maret 2011 02:37

SAATNYA MENGUBAH KOMITMEN

Dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya nafsu manusia untuk meraih kesenangan di dunia, ilmu pengetahuan tentang kesehatan juga semakin diperdalam. Perkembangan ini telah me­lahirkan suatu titik temu yang saling bertentangan, dimana perkembangan teknologi yang di satu pihak bisa menciptakan efisiensi dan kemudahan serta percepatan, dilain pihak bisa membahayakan pada ke­sehatan manusia, membunuh organis­me, merusak fisik dan ke­suburan tanah serta meng­ganggu keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan. Con­tohnya adalah bahan-bahan (kimia) sintetis yang tidak bisa didaur ulang, pupuk buatan, pestisida, dan lainnya.

Komitmen pemerintah terhadap pentingnya pupuk dan pestisida dalam sektor per­tanian di Indonesia, diakui memang telah meningkatkan peran sektor pertanian dalam perekonomian negara dan kehidupan bagian terbesar masyarakat. Tetapi di lain pihak, komitmen tersebut belum mampu meningkatkan ke­tahanan pangan nasional, karena sampai sekarang “be­ras” masih menjadi masa­lah utama dalam ke­hidupan anak bangsa.

Di samping itu, komitmen tersebut juga belum mampu mengangkat sektor pertanian kita berjaya dan meningkatkan perekonomian para petaninya. Malahan negara kita semakin berkembang menjadi “pasar” yang empuk bagi produk-produk pertanian negara-negara tetangga dan negara lainnya.

Dan yang lebih mere­sahkan saat ini adalah, ko­mitmen pemerintah tersebut telah merubah perilaku se­bagian besar petani kita menjadi petani yang malas karena terseret oleh budaya praktis yang lebih akrab disebut budaya instan. Satu lagi, para petani telah teracuni oleh persepsi bahwa tanaman kalau tidak dipupuk dengan pupuk buatan tidak akan memberikan hasil yang baik, begitu juga dengan gangguan hama dan penyakit kalau tidak diberantas dengan pestisida tidak akan tumbuh dengan baik.

Wa­laupun mereka sadar bahwa menggunakan bahan kimia buatan tersebut mem­butuhkan biaya mahal dan bisa mem­bahayakan kese­hatan, tetapi karena sudah ter­perang­kap dan ditusuk oleh resapan peru­bahan dan per­kembangan teknologi me­reka sangat sulit untuk berubah.  Budaya instan telah menjadikan para petani menjadi kurang kreatif dan kurang perjuangan, sehingga lebih banyak pasrah dan me­nge­luh bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan usa­ha­nya.

Diperkosa Bahan Kimia

Perkembangan teknologi dan desakan kebutuhan manusia telah “diperkosa” oleh bahan kimia buatan manusia itu sendiri, sehingga manusia seakan menutup mata melihat dampak buruk yang telah diakibatkannya. Para petani juga seakan menutup mata dan tidak percaya dengan altrnatif solusi yang diberikan untuk berusaha selaras dengan alam.

Bila kita cermati lebih jauh, penggunaan bahan-bahan kimia buatan dalam sektor pertanian telah menimbulkan per­kem­bangan atau gejala baru yang mengarah negatif pada sumber daya alam dan sumberdaya manusia Indonesia. Sawah yang dulunya mempunyai lumpur tebal (paling tipis setinggi betis manusia dewasa) yang bisa menahan air dan menyediakan unsur hara bagi kebutuhan tanaman, kini sudah mengeras. Tanah sudah mengandung racun dan selalu diasupi dengan bahan-bahan beracun, sehingga organisme tanah yang ber­manfaat bagi kebaikan fisik dan kesuburan tanah kini sudah musnah dan tidak ada or­ganisme tanah yang bisa ber­­fungsi manfaat untuk tanaman.

Segala kebutuhan tanaman harus dipasok dari luar, sehing­ga ketergantungan ter­hadap asupan bahan kimia buatan semakin tinggi dan biaya usahatani semakin mem­beng­kak.

Manusia sebagai pelaku usaha pertanian juga sepertinya sudah cenderung memperkosa alam. Sebagian besar mereka tidak lagi bersahabat dengan alam, pada hal alam adalah sahabat yang paling dekat yang bisa memberikan kehidupan untuk mereka. Mereka kini seolah tidak peduli lagi dengan lingkungan dan kelestariannya, yang sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka sampai ke anak cucunya. Bila alam sudah dirusak dan tidak bisa mem­berikan manfaat lagi pada manusia, apa yang akan di­wariskan kepada anak cucu dan kehidupan masa depan?

Keinginan mendapatkan sesuatu dalam waktu singkat tanpa mengeluarkan upaya atau tenaga yang lebih banyak, telah menciptakan manusia menjadi pemalas, yaitu manusia yang mau mendapatkan hasil yang banyak tetapi dengan pe­ngorbanan waktu dan tenaga yang sedikit. Tampaknya per­kembangan teknologi juga sudah merusak budaya, petani yang dulunya ulet dalam beru­saha kini sudah jarang di­temukan. Mindset petani sudah tercuci oleh teknologi yang menciptakan bahan-bahan sintetis yang tidak bersahabat dengan alam.

Pertanian Konvensional

Perkembangan sistem per­tanian yang didominasi oleh sistem pertanian dengan input luar yang tinggi tersebut telah membawa dampak negatif pada ekosistem pertanian dan lingkungannya. Dampak nyata dalam ekosistem pertanian antara lain : a) Meningkatnya degradasi lahan (fisik, kimia dan biologis), b) Meningkatnya residu pestisida dan gangguan serta resistensi hama penyakit dan gulma, c) Berkurangnya keanekaragaman hayati, serta d) Gangguan kesehatan petani dan masyarakat lainnya sebagai akibat dari pengunaan pestisida dan bahan-bahan pencemaran lingkungan. Sedangkan dampak yang terjadi di luar ekosistem pertanian, adalah : a) Me­ningkatnya gangguan kesehatan masyarakat konsumen karena pencemaran bahan-bahan pangan yang diproduksi di dalam ekosistem peratanian, b) Terjadi ketidakadilan eko­nomi karena adanya prak­tek monopoli dalam pe­nyediaan sarana produksi pertanian, c) Ketimpangan sosial antar petani dan komunitas di luar petani.

Sadar atau tidak manusia sudah terlalu jauh dalam merambah dan “memperkosa” kelestarian alam untuk meme­nuhi nafsu kehidupannya. Tetapi di balik semua itu, beberapa pakar atau pemerhati juga sibuk dan berupaya keras untuk mengatasi kondisi yang berkembang. Paling tidak dengan menghimbau para pelaku untuk tidak me­ng­gunakan bahan kimia kepada alam secara berlebihan. Tidak hanya himbauan saja, upaya untuk mempraktikan pertanian yang alami juga sudah dicon­tohkan, tetapi nampaknya perkembangan pertanian kon­vensional (kita sebut se­bagai istilah pertanian yang ber­kembang saat ini) tersebut seolah tidak terusik. Para pelaku pertanian konvensional belum bisa, belum mau dan belum mampu untuk beralih ke usaha pertanian alami, yang be­lakangan lebih sering disebut sebagai usaha pertanian organik.

Pertanian organik men­cerminkan adanya saling ke­tergantungan antarkomunitas ekologi. Manusia sebagai bagian dari komunitas ekologi tidak dapat terlepas dari ling­kungan­nya, karena adanya hubungan yang saling mempengaruhi di antaranya: Hubungan manusia dengan alam yang bersifat saling mempengaruhi tersebut, mem­bawa konsekuensi ma­nusia harus dapat bersahabat dengan alam.

Manusia tidak hanya me­nerima manfaat dari alam namun harus pula sebaliknya memberikan manfaat bagi alam. Atau paling tidak manusia harus mempertahankan kondisi tersebut sebagai upaya mem­pertahankan keseimbangan alam (lingkungan). Hal inilah yang telah dilupakan atau diabaikan oleh sebagian besar manusia yang sedang intens dalam mengembangkan per­tanian konvensional.

Tidak dipungkiri bahwa, perubahan akan sangat sulit terjadi. Bahkan bila akan terjadi, maka akan mem­bu­tuhkan waktu yang sangat lama, paling tidak sama seperti proses dan perkembangan per­tum­buhan pertanian kon­vensional tersebut. Bila balik ke sejarah lama, para petani tidak pernah me­ng­gunakan bahan (kimia) bua­tan untuk penyuburan dan kesehatan  tanaman/ternak. Semua bahan yang digunakan adalah bahan alami, yaitu bahan yang tersedia dalam alam dan diciptakan secara alami.

Katakanlah pupuk, yang digunakan adalah pupuk yang berasal dari kotoran ternak, lapukan tanaman, abu dapur dan lain sebagainya. Begitu juga untuk pemberantasan serangan hama dan penyakit, yang digunakan adalah dikendalikan dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti tanaman tuba, termasuk abu dapur juga dan lainnya. Pokoknya yang digunakan untuk tanaman adalah bahan yang berasal dari alam, yaitu bahan yang tidak memberikan dampak negatif kepada alam dan lingkungan.

Sejarah mencatat bahwa perkembangan jumlah manusia sangat cepat sementara per­tumbuhan sektor pertanian guna memenuhi kebutuhan hidup manusia berjalan lambat. Sering diibaratkan bahwa pertumbuhan jumlah manusia seperti deret ukur sementara peningkatan hasil pertanian seperti deret hitung. Sehingga, untuk mengatasi kondisi dan perkembangan tersebut  ma­nusia memanfaatkan per­kem­bangan ilmu pe­nge­tahuan dan teknologi. Sadar atau tidak, perkembangan iptek tersebut telah menciptakan manusia menjadi pembunuh makhluk hidup lainnya melalui pupuk dan pestisida.

Secara ilmiah maupun secara religius semua manusia memahami akan kondisi ter­sebut. Tetapi desakan eko­nomi, desakan hidup me­wah dan desakan nafsu keserakahan telah menjadikan sebagian manusia menjadi makhluk penghancur dan makhluk perusak alam. Mereka seolah tidak peduli dengan segala himbauan, segala ancaman, segala peringatan dan segala teriakan para ilmuwan, ahli konservasi maupun komu­nitas pencinta alam. Mereka asyik mengumpulkan rupiah dari hasil produk yang mereka ciptakan.

Sementara pikiran untuk meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan dengan mengolah dan memprosesnya didalam negeri dianggap tidak penting. Pada hal melalui pengembangan dan peningkatan upaya industri pengolahan, perekonomian masyarakat akan lebih cepat tumbuh dan ber­kembang. Lapangan kerja akan terbuka, nilai tambah akan diperoleh untuk masyarakat kita sendiri, serta ke­ter­gan­tungan akan produk luar akan semakin berkurang.

 

MOEHAR DANIEL

(Peneliti Sosial Ekonomi/Kebijakan Pembanguan Pertanian BPTP Sumatera Barat)

Comments (2)Add Comment
0
pertanian konvensional
written by string, November 02, 2013
saya ingn bertanya Mengapa Pertanian Konvensional Tidak Sustainable?
0
...
written by string, Maret 09, 2012
terimakasih banyak ...smilies/smiley.gifsmilies/smiley.gifsmilies/smiley.gifsmilies/smiley.gif

Write comment

busy