Minggu, 26 Oktober 2014
Aku (Tidak) Cinta Film Inonesia PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 03 April 2011 00:44

Film Indonesia dicinta dan dibenci, sekaligus juga menjadi harapan agar bisa bangkit dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

“Aku sedih mendengar berita film impor Amerika menarik diri dari Indonesia,” ujar Nurul Zikri, mahasiswa UPI suatu kali. “Itu artinya aku nggak bisa nonton film lagi.”

Pernyataannya ini menarik perhatian. Seolah-olah, selama ini film-film yang ada di Indonesia cuma berasal dari luar negeri. Bukankah anak bangsa juga membuat film sendiri? “Aku bosan nonton film Indonesia,” lanjut Nurul Zikri, “Gak bermutu!” Mem­bincang film Indonesia me­mang menarik. Pada tahun 70-80-an, film-film Indonesia membanjiri pasaran. Film-film semisal Ramadhan dan Ramo­na, Nagabonar, Cinta di Kam­pus Biru, Ponirah Terpidana menjadi favorit dan lama hidup dalam perbincangan. Selain film-film cinta, juga hadir film-film laga. Pada masa itu film-film laga semacam Misteri Gunung Merapi yang ‘mele­jitkan’ nama Mak Lampir, Tu­tur Tinular dan Brama Kumbara yang berasal dari sandiwara ra­dio, Si Buta Dari Gua Hantu dan Wiro Sableng menjadi war­na tersen­diri. Film-film yang mem­bangkitkan duka cita semacam Ari Hanggara juga turut diminati. Film-film berbagai genre itu mempunyai penggemar masing-masing dan menjadi box office. Namun, gairah itu perlahan memudar. Puncaknya, mula tahun 90-an, kebanyakan bioskop Indonesia banyak menayangkan film-film vulgar.

Era Rahma, mahasiswa UNP mengingat, waktu kecil ia sering lewat di depan bios­kop yang hanya memajang pos­ter film panas.

“Toko orangtua saya ada di pasar, jadi setiap kali hendak ke toko orangtua, saya selalu lewat bioskop. Waktu itu, kalau bukan film India yang diputar ya film-film begituan,” tuturnya mengenang.Setelah sempat meredup, film-film Indonesia mulai bangkit. Pemantiknya adalah Petualangan Sherina. Semenjak itu makin banyak film-film bermutu Indonesia yang lahir. “Aku suka film Merantau,” ungkap Ezra, mahasiswa Bung Hatta. “Flm itu bercerita tentang filosofi silat Minang­kabau. Aku juga suka Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta,” ujarnya

Abian, mahasiswa Unand mengaku juga cukup suka menonton film-film Indonesia.

“Kalau bagus, aku suka nonton. Misalnya Jamila dan Sang Presiden,” tuturnya. “Aku juga suka film Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Sang Pen­cerah. Flm Merah Putih juga bagus. Sangat heroik. Namun, film-film Indonesia yang s­eperti itu tidak banyak. Jadi pilihan tontonan juga terbatas,” ujarnya.

Lebih jauh ia meng­ungkap­kan, betapa berbedanya film-film Indonesia dengan film luar. Contohnya film-film  Hollywood. Selalu ada kera­gaman tema. Ada film yang bercerita soal kehidupan seo­rang sastrawan, anak jalanan yang jenius, konflik rasial, dan lain-lain.

“Ada ratusan film dengan tema beragam. Bandingkan dengan Indonesia. Dari lima film, empat di antaranya berke­mungkinan besar memiliki kesamaan tema. Latah!”

Budaya latah dalam me­ngambil tema ini juga disa­yangkan oleh Nur Azizah, ma­ha­siswa IAIN IB.

“Coba lihat film-film di pasaran. Kebanyakan bertema hantu-hantuan dan seronok. Trus, ketika film Ayat-ayat Cinta populer, muncul film-film serupa itu. Hanya sedikit film yang berani mengambil tema beda. Misalnya film silat Merantau, atau film tentang pendiri Muhammadiyah, Sang Pencerah.”

Ketika ditanya apa yang mereka kehendaki dari film-film Indonesia. Nurul Zikri berkata: “Aku ingin film Indo­nesia seperti film-film luar itu. Temanya beragam. Ada kebe­ranian produser membuat film yang baik dan mendidik. Film Nagabonar Jadi 2 itu bagus, film Laskar Pelangi juga bagus. Tapi jumlah film sepert ini kan sedikit.”

Menurutnya, para produser film sebaiknya berhenti mem­buat flm-film semacam Hantu Puncak Datang Bulan, Tali Pocong Perawan, Suster Kera­mas, dan yang semacamnya.

“Tetapi kalau hanya ber­harap pada produser film-film itu, tentu sulit,” ujar Era Rahma, “Sebaiknya, kita mulai saja membuat film sendiri yang lebih baik. Di luar negeri sekarang sedang trend film-film independen. Bahkan film-film semacam ini banyak diminati para bintang film terkenal.”

Mahasiswa Bimbingan Kon­seling Islam IAIN Imam Bonjol Padang, Dodi Putra menambahkan, film luar itu lebih berbobot dari film-film Indonesia.

“Penayangan film tersebut yang seolah-olah bentuk nyata padahal itu tidak. Sebenarnya yang dimainkan dengan sistem komputer dan terkadang jalan cerita (alur) filmnya tidak pernah terbayangkan dipikiran kita karena film-film luar itu dibuat dengan menggunakan teknologi yang canggih,” kata Dodi.

Suci Adyani Putri, maha­siswi UNP Jurusan PGPAUD,  mengaku menyukai film Harry Potter.  Ia mengatakan film luar alurnya bagus dan mene­gangkan sehingga membuat penonton jadi penasaran.

“Apalagi film-film luar menggunakan teknologi canggih dan ada nilai ilmu pengetahuan di dalamnya. Berbeda dengan film Indonesia yang bergenre horor banyak menayangkan pornografi yang tidak ada unsur pendidikan di dalamnya,” terang Suci.

Hal senada dikatakan Yoan Suriyadi Putami, mahasiswa Tetsu Jurusan PGSD UBH. Ia  mengaku lebih suka film Indo­nesia karena sekarang dunia perfilman di Indonesia sudah akan mencapai puncak kema­juan.“Tetapi disayangkan juga ma­sih ada film-film Indonesia yang tidak ada unsur pendi­dikannya seperti film horor sensualisme,” katanya menye­salkan.

Rizki Diana Rangkuti, mahasiswa Jurusan Jurnalistik mengatakan, industri perfilman Indonesia banyak mem­per­bodoh bangsanya sendiri, seperti film-film Indonesia yang ber­genre horor sen­sua­lisme.

“Itu banyak tersebar di Indonesia yang tidak ada unsur pendidikannya sama sekali sehingga film-film itu tidak berbobot untuk ditonton oleh masyarakat malahan akan merusak masyarakat sendiri,” kata Rizki.

Menarik juga ide Rahma. Daripada menggerutui film, lebih baik membuatnya, se­bagai­mana yang dilakukan berbagai komunitas film inde­penden di Sumatra Barat. Setidaknya, dengan begitu kita sudah berusaha berbuat. Nah, bagaimana dengan kamu. Ingin membuat film juga? (Laporan Mahreen Majida dan Devarisa)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy