Kamis, 23 Oktober 2014
Akhlak Remaja dan Tantangan Berat di Masa Depan PDF Cetak Surel
Jumat, 08 April 2011 02:06

Masalah besar umat hari ini memasuki era globalisasi terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas melalui media massa yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Gejala ini merupakan penyim­pangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah me­munculkan berbagai bentuk krimi­nalitas, sadisme, krisis moral secara me­luas.

Dunia pendidikan akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan terlihat dari banyaknya terjadi tawuran pelajar, pergaulan a-susila dika­langan pelajar dan mahasiswa, kecabulan pornografi tak terben­dung, sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekua­tan gaib belajar sihir, mencari jawaban dari paranormal me­nguasai kekuatan jin, bertapa ketempat angker menyelami black-magic dan mempercayai mistik.  Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas sex ittiba’ syahawat (runtutan hobi nafsu syahawat), indivi­dualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan per­missi­vesness dan anarkis.

Budaya sensate memuja nilai rasa pancaindera, menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton), di dengar, dirasa, di sentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, meng­uta­makan kesenangan badani (jas­mani). Orientasinya hiburan melulu, terlepas dari kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, dan tercerabut dari budaya dan nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s sake, sensual, eksotik, erotik, horor, ganas, yang lazimnya melahirkan klub malam, night club, kasino dan panti pijat. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular ke kota (urban popular culture) yang hedonistik (mulai ber­kembang 1960), dan ber­kembang lagi US culture impe­rialisme (Uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global, world wide sing (Madonna, Michael Jak­son, dll) sejak tahun 1990 di saat memasuki era globalisasi.

Prilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities, pribadi yang terbelah too much science too little faith, lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama, berkembangnya paham ni­hilisme budaya senang lenang (culture contenment).

Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan bolos sekolah, minu­man keras, kecanduan ectasy (XTC), budak kokain dan morfin, kesukaan judi dalam urban popular culture, musro, world-wide sing, dan sejenisnya. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih ter­hempas dipantai menjadi dzur­riyatan dhi’afan  suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta di dalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi.

Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. Kondisi seperti itu telah mem­berikan penilaian buruk ter­hadap dunia pendidikan pada umumnya.

Remaja akan menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan (millenium ketiga), karena itu generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti ke­majuan di era globalisasi. Budaya adalah wahana kebang­kitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan himpunan institusi masyarakat yang memiliki kapasitas berke­mam­puan dalam memper­satukan seluruh potensi yang ada. Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh pera­nan remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan  ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosia­lisasi guna menggerakkan kelan­jutan  sur­vival kehidupan ke­depan.

Kecemasan atas penyim­pangan prilaku kemunduran moral dan akhlak, kehilangan kendali para remaja, sepatutnya menjadi kerisauan semua pi­hak. Ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya rema­ja. Saya tidak senang meng­generalisasi kenakalan remaja terjerumus ke dalam lembah dekadensi moral dan kena­kalan remaja. Analisa realitas objektif menunjukkan bahwa tidak seluruhnya remaja rusak. Dengan berpikiran positif tidak pula harus ditunggu setelah semua remaja terpuruk keda­lam lumpur a-moral barulah upaya perbaikannya dilaksa­na­kan dengan intensif.

Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistem, pola dan politik pen­di­dikan. Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan orang tua, luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat, impotensi dikalangan pemang­ku adat, hilangnya wibawa ula­ma, bergesernya fungsi lembaga pen­didikan menjadi lembaga bis­nis, dan profesi guru dile­ceh­kan.

Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan siste­matik, melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi. Aqidah umat memang sudah bertauhid namun akhlaknya tidak mencer­minkan akhlak Islami, eko­nominya bersistem Yahudi, muamalahnya tidak sesuai dengan muamalah yang dia­jarkan Islam, politiknya Machia­vellis, budayanya hedonistik, materialistik dan sekularistik. Mengatasi penyakit kronis umat perlu gerakan jihad.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sungguh-sungguh. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. Ikutilah millah (agama) orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslimin dari dahulu (yakni sudah tertera didalam kitab-kitab suci yang telah diwah­yukan sebelumnya), dan begitu juga di dalam Al Quran ini; supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu menjadi saksi atas sumua manusia. Maka dirikanlah shalat,  bayarkanlah zakat, dan berpegang teguhlah pada tali Allah (artinya tetaplah men­jalankan perintah-perintah Allah). Dia adalah pelin­dung­mu, maka Dia-lah sebaik-baik Pe­lindung dan sebaik-baik Pe­nolong”.

Generasi muda Islam mesti tampil dengan citra ibadah yang kokoh, serta teguh (istiqamah) di dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar,  “yaitu orang-orang yang jika, kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, me­nu­naikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan men­cegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

Proses pembinaan umat dengan mengukuhkan kecintaan kepada negeri, memperkaya potensi percaya diri dan men­jauhkan isolasi diri, dan memu­puk kemandirian sesuai bim­bingan agama, amar makruf na­hi munkar.

Generasi ke depan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu penge­tahuan yang segar dengan tradisi luhur dan aqidah shahih kepada generasi pelanjut ber­tumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlaq akan melahirkan saintis tak bermoral agama, konsekwensinya ilmu banyak dengan sedikit kepedulian.

Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, penyayang dan adil dalam memelihara hu­bu­ngan harmonis dengan alam, memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan, istiqamah pada agama yang dianaut, teguh politik, kukuh ekonomi, mela­zimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam  yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Ketahanan umat bangsa terletak pada kekuatan ruhaniyah keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Bila pen­duduk negeri beriman dan ber­taqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi.

“Jikalau sekiranya pen­duduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan membukakan (melim­pahkan) kepada mereka keber­katan-keberkatan dari langit dan dari bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS.7,al-A’raf:96).

 

H. MAS’OED ABIDIN

Comments (1)Add Comment
0
...
written by string, November 08, 2012
smilies/smiley.gifsmilies/wink.gifsmilies/cheesy.gifsmilies/grin.gif

Write comment

busy