Sabtu, 28 Februari 2015
Harga Pinang Meroket PDF Cetak Surel
Senin, 11 April 2011 01:05

PAINAN, HALUAN — Harga komoditas pinang di Pesisir Selatan meroket menjadi Rp9.500-Rp10.000 per kilogram. Melampaui harga karet yang hanya bertahan dilevel Rp8.000 saja.

Dari harga Rp4500 pada awalnya, lalu naik menjadi Rp6.000-Rp7.000/kg. Berselang lima hari saja, yakni pada  Minggu (10/4), harga pinang di tingkat pengumpul melesat menjadi Rp9.500 per kg.

“Ini merupakan harga yang fastastis untuk komoditi pinang. Dan ini merupakan kali kedua terjadinya kenaikan harga sebesar ini, kenaikan pertama terjadi pada tahun 1999 dimasa pemerintahan Habibi, kemudian yang kedua pada tahun sekarang,” ujar Irul (30), petani pinang di Kampung Tebing Tinggi Kambang, Ke­camatan Lengayang.

Pada tahun 1999 menurut Irul, harga tertinggi yang pernah ia peroleh terhadap pinangnya sebesar Rp11 ribu/kg. “Meski sekarang harga pinang belum menyamai harga tahun 1999, tapi setidaknya sudah mendekati harga tersebut. “Mudah mudahan harga ini bertahan,” kata Irul lagi.

Sementara Idos (30) yang ber­profesi sebagi touke di Kam­bang mengatakan, ia memang be­rani mengambil seharga Rp 9.500/kg. Harga tersebut meru­pa­kan harga terendah untuk kua­litas pinang nomor dua dengan ka­dar air paling banyak tujuh per­sen.

“Sementara jika kadar air dibawah lima persen ia akan membeli dari petani seharga Rp10 ribu. Jadi harga pinang memang bervariasi, tergantung kualitas pinang dimaksud,” kata Idos.

Dari pembelian Rp9.500 tersebut, ia bisa  mengambil keuntungan sebesar Rp2000 setiap kilonya. “Saya menjual pinang di Padang seharga Rp12 ribu saja, atau Rp11.500 ribu. Keuntungan itu telah bisa menutup biaya operasional saya dan ongkos angkut ke Padang,” kata Idos lagi.

Sementara terkait dengan penye­bab kenaikan harga pinang tersebut, Idos menyebutkan, saat ini permin­taan komoditi pinang sangat tinggi, sementara produksi pinang dari petani sangat sedikit. Kemudian menurutnya penyebab kedua adalah, tidak terjadi lagi monopoli pembe­lian komoditi pinang di Padang.

“Jadi yang menguasai pasar pinang di Padang tidak lagi orang India, akan tetapi sudah banyak pemain lokal, dengan demikian harga pinang dengan sendirinya naik,” ungkap Idos menjelaskan soal kenaikan harga. Sementara itu, warga di mudik Surantih, Sutera yang selama ini hanya merawat gambir saja kembali serius merawat pi­nang. Selama ini buah pinang dibiarkan saja jatuh ketanah tanpa dipungut karena harganya murah.

“Harga pinang kini sedang di atas, untuk sementara saya tinggal­kan dulu kebun gambir. Saya tidak menyangka harga pinang bisa melejit seperti sekarang,” ujar Ujang saat hendak menuju ladang­nya di  Surantih. (h/har)